blog dokter taura big ad

ANEMIA KEKURANGAN ZAT BESI: Akibat Kesalahan Nutrisi


Seharian tadi, Bunda Wina galau memikirkan si kecil Rafi yang baru berusia 14 bulan dan dinyatakan oleh dokter menderita Anemia kekurangan zat besi (AKB). Sebenarnya penyakit Rafi ditemukan secara tidak sengaja. Waktu itu, dua minggu yang lalu, Rafi menderita demam tinggi selama dua hari. Setelah menjalani pemeriksaan fisik dan cek laboratorium, dokter menyatakan Rafi menderita radang tenggorokan. 

Anemia paling sering pada anak adalah anemia akibatd efisiensi zat besi

Namun hasil laboratorium menunjukkan hemoglobin mencapai 9,1 (kadar normal: 11). Dokter pun meminta tes laboratorium lanjutan berupa pemeriksaan kadar zat besi, dan hasilnya positif AKB. Kegalauan Bunda Wina makin bertambah saat googling dan menemukan fakta bahwa 

AKB merupakan salah satu bentuk tersering dari suatu defisiensi nutrisi yang bisa berdampak fatal bagi tumbuh kembang anak karena bisa mengganggu perkembangan mental, motorik serta perilakunya.

Kapan Dikatakan "Anemia"?

Anemia atau istilah awamnya "kurang darah" adalah manifestasi klinis akibat rendahnya kadar HEMOGLOBIN atau kurangnya sel darah merah pada tubuh manusia. 

  • Pada anak umur 6 bulan hingga 5 tahun, dikatakan anemia jika kadar hemoglobin < 11,0 g/dl, 
  • Pada anak 5-11 tahun dikatakan anemia jika kadar hemoglobin < 11,5 g/dl. 
  • Pada anak 12-13 tahun, batasan anemia jika hemoglobin < 12 g/dl. 

Rendahnya kadar hemoglobin ini juga digunakan untuk membedakan derajat anemia. 

  • Anemia ringan jika hemoglobin 10-11 g/dl, 
  • Anemia berat jika hemoglobin < 7 g/dl. 
  • Anemia sedang untuk anak < 6 bulan jika hemoglobin < 9 g/dl 
  • Anemia sedang pada anak 6 bulan - 5 tahun jika hemoglobin < 10 g/dl.

Anemia bisa terjadi karena pembentukan sel darah merah yang tidak mencukupi, terlalu banyak sel darah merah yang mengalami kerusakan atau kehilangan darah akibat perdarahan.

Mengapa Sampai Terjadi Anemia?

Pabrik pembuatan sel darah merah terjadi di sumsum tulang dan tergantung bahan dasar, termasuk zat besi. Jika bahan dasar pembentuknya tidak cukup, maka akan mengganggu pembentukan sel darah merah. 

Anemia akibat kekurangan zat besi merupakan anemia tersering pada anak. Hampir separuh anak Indonesia menderita anemia akibat kekurangan zat besi (berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 2007)

Gejala utama Anemia adalah "pucat". Kondisi pucat biasanya bisa dilihat pada kelopak mata, bibir, telapak tangan dan dasar kuku. Bisa juga kita sebagai orang tua membandingkan derajat kemerahan telapak tangan anak dengan dirinya sendiri. Jangan sampai orang tua menganggap anaknya "berkulit putih" padahal sebenarnya "pucat". Jangan pula orang tua menganggap enteng kondisi pucat.

Selain pucat, anemia bisa menyebabkan gejala lesu, mudah lelah, sering mengantuk, pusing, atau sulit berkonsentrasi untuk belajar. Anak yang anemia juga cenderung memiliki denyut nadi yang lebih cepat dibanding anak normal.

Stadium Defisiensi Zat Besi

Anemia sendiri sebenarnya merupakan manifestasi lanjut dari kondisi kekurangan zat besi. Kondisi "kekurangan zat besi" mempunyai 3 stadium secara laboratoris, meliputi:

  1. Stadium I: Deplesi (Penurunan cadangan zat besi)
  2. Stadium II: defisiensi zat besi tanpa anemi
  3. Stadium III: anemia kekurangan zat besi
Tahapan kekurangan zat besi pada anak

Sumber: https://www.chegg.com/homework-help/questions-and-answers/2-iron-deficiency-progresses-iron-storage-depletion-stage-1-iron-deficient-erythropoiesis--q30556014

Stadium I: Deplesi atau Penurunan Cadangan Besi. 

Secara laboratoris, pada stadium ini terjadi penurunan kadar "ferritin" (yaitu protein peyimpan zat besi paling utama dalam tubuh) kurang dari 12 microgram/ml. 

Pada stadium ini kadar zat besi dalam serum masih normal dan hemoglobin juga normal.

Stadium II: Defisiensi Zat Besi tanpa Anemi 

Pada stadium ini terjadi penurunan kadar ferritin maupun kadar zat besi dalam serum, namun hemoglobin masih normal.

Stadium III: Anemia Kekurangan Zat Besi. 

Pada stadium ini terjadi penurunan baik ferritin, kadar zat besi dalam serum maupun hemoglobin.

Jika kadar zat besi di dalam tubuh tidak mencukupi, secara bertahap akan terjadi penurunan kadar hemoglobin. Cadangan besi di dalam tubuh disimpan di hati dan akan diigunakan jika tubuh mulai kekurangan besi. Tahap ini disebut deplesi besi yang merupakan tahap awal kekurangan besi. 

Jika kekurangan besi tahap ini tidak diatasi , selanjutnya akan terjadi defisiensi besi, yaitu besi yang beredar ke seluruh tubuh mulai berkurang dan lambat laun akan terjadi penurunan kadar hemoglobin karena jumlah besi tidak mencukupi untuk membentuk sel darah merah.

Jadi, jika anak Anda didiagnosis Anemia Defisiensi Besi, itu artinya si kecil sedang mengalami kekurangan zat besi stadium lanjut alias sudah parah. 

Metabolisme Zat Besi pada Bayi dan Anak

Untuk memahami terjadinya anemia defisiensi besi pada bayi, ada baiknya kita pahami dulu metabolisme zat besi pada bayi dan anak:

Bayi baru lahir memiliki kadar hemoglobin dan cadangan zat besi yang tinggi karena zat besi ibu mengalir aktif melalui plasenta ke janin.

Kadar hemoglobin menurun hingga 11 g/dl pada usia 6-8 minggu karena eritropoeisis (proses pembentukan sel darah merah di sumsum tulang) berkurang dan umur sel darah merah janin hanya sekitar 80 hari (Bandingkan dengan umur sel darah merah orang dewasa yang mencapai 120 hari)

Kadar hemoglobin meningkat hingga 12,5 g/dl pada usia 2 bulan, saat ini eritorpoeisis mulai meningkat dan cadangan besi mulai dipakai.

Diatas usia 4 bulan cadangan besi mulai berkurang dan dibutuhkan zat besi dari makanan.

Akibat Kekurangan Zat Besi

Apakah AKB merupakan satu-satunya dampak akibat kekurangan zat besi?

Tidak! 

Seperti dijelaskan diatas bahwa jika terjadi AKB, maka anak tersebut telah mengalami kekurangan zat besi level BERAT. Selain itu kekurangan zat besi bisa menyebabkan:

Turunnya sistem kekebalan seluler sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Kuman penyebab infeksi akan menggunakan zat besi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya.

Kekurangan zat besi dapat menyebabkan berkurangnya asam lambung, gastritis, hingga kerusakan dinding (bagian dalam) lambung. Kondisi ini akan menyebabkan gangguan penyerapan lemak hingga perdarahan saluran pencernaan.

Berdampak buruk pada tumbuh-kembang anak. Gangguan otak akibat kekurangan zat besi besar artinya bila terjadi pada masa bayi atau balita karena pada masa itu terjadi pertumbuhan otak yang progresif.

Kekurangan zat besi bisa mengganggu metabolisme otak, sehingga bermanifestasi sebagai terganggunya fungsi kognitif (pemusatan perhatian, kemampuan belajar dan kemampuan intelektual umum), timbulnya kelainan non-kognitif (kurang responsif, mudah tersinggung dan kecemasan) serta aktifitas sehari-hari terbatas.

Kekurangan zat besi menyebabkan gangguan pertumbuhan organ. Sering kali didapatkan fakta bahwa berat badan bayi yang menderita kekurangan zat besi lebih rendah daripada bayi normal.

Kekurangan zat besi juga akan menyebabkan berkurangnya enzim yang berfungsi untuk metabolisme otot jantung, sehingga berdampak pada terjadinya gangguan kontraktilitas otot jantung hingga penurunan curah jantung

Balita: Rentan Terjadi AKB

Mengapa kelompok usia balita merupakan kelompok resiko tinggi terjadinya kekurangan zat besi?

Pada orang dewasa, 95% kebutuhan zat besi untuk produksi sel darah merah diambil dari pemecahan sel darah merahnya sendiri, dan 5% kebutuhan zat besi diambil dari luar (makanan). 

Sedangkan pada balita, 70% kebutuhan zat besi diambil dari pemecahan sel darah merah, dan 30% diambil dari luar.

Pada periode balita terjadi pertumbuhan yang sangat cepat sehingga terjadi peningkatan progresif sel darah merah dan tentunya disertai peningkatan jumlah hemoglobin. 

Karena itu kebutuhan akan zat besi meningkat untuk pembuatan hemoglobin.

Adanya peningkatan kebutuhan akan zat besi seringkali tidak diimbangi dengan peningkatan asupan zat besi dalam nutrisi sehari-hari. 

Orang tua lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan nutrisi macronutrient seperti karbohidrat, lemak, protein dan air tanpa memperhatikan kecukupan zat nutrisi micronutrient seperti zat besi. 

Anggapan bahwa pada anak diatas usia 1 tahun minum susu sapi bisa menggantikan makanan utama sehingga beranggapan "tidak masalah anak saya tidak doyan makan, asalkan minum susunya cukup" sangat merugikan bagi anak, karena berpotensi besar terjadi kekurangan zat besi. 

Ingat, pada anak diatas 12 bulan, susu hanya bisa memenuhi 20% kebutuhan nutrisi anak, yang 80% harus dipenuhi dari makanan utama berupa nasi, lauk, sayur dan buah.

Pada anak > 12 bulan, susu hanya bisa memenuhi 20% kebutuhan nutrisi, yang 80% harus dipenuhi dari makanan utama

Ditambah lagi kondisi balita yang sering mengalami infeksi dan investatasi parasit (misalnya cacingan) akan menambah resiko terjadinya kekurangan zat besi.

Pencegahan defisiensi zat besi itu mudah

PENCEGAHAN AKB

Upaya pencegahan kekurangan zat besi meliputi pencegahan primer dan sekunder. 

Pencegahan primer dengan memberikan makanan sehat terutama yang mengandung tinggi zat besi (hati ayam, daging sapi, daging ayam, ikan salmon, ikan tuna dll) pada balita. 

Sedangkan pencegahan sekunder melalui proses uji saring dan pengobatan. Berikut merupakan poin-poin penting pencegahan kekurangan zat besi :

Pemberian ASI eksklusif sampai 6 bulan merupakan cara pencegahan yang paling efektif

Larangan pemberian susu sapi segar pada bayi umur kurang dari 12 tahun. 

Selain kandungan zat besi dalam susu sapi segar kadarnya sangat rendah, kandungan kalsiumnya akan menghambat penyerapan zat besi dari sumber lain

Pada bayi usia 1 hingga 2 tahun, pemberian susu sapi segar masih menjadi masalah karena rendahnya kandungan zat besi. Batasi penggunaannya maksimal 500 ml dalam 24 jam.

Bayi yang sejak awal mendapatkan susu formula atau ASI-nya digantikan dengan susu formula, sebaiknya diberikan susu formula yang difortifikasi dengan besi. Dalam 1 cangkir susu formula fortifikasi zat besi terkandung 3 mg, bandingkan dengan kandungan zat besi dalam 1 cangkir susu sapi segar yang hanya mencapai 0,1 mg.

Makan makanan yang mengandung tinggi zat besi, setidaknya 2 kali sehari, misalnya daging yang berwarna merah, hati ayam, ikan tuna, ikan salmon dll. 

Sayuran hijau juga mengandung zat besi yang tinggi tetapi hanya diserap sekitar 3-8% dibandingkan dengan sumber hewani yang diserap sebesar 23%.

Perbanyak konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin C, seperti jeruk, jambu biji, kiwi, mangga, nanas, stroberi, paprika, brokoli dll. Vitamin C dapat meningkatkan absorpsi zat besi dari serealia dan sayuran sebanyak 2 kali lipat.

Hindari minum susu sapi atau teh pada saat makan utama. Kandungan kalsium dalam susu dan tannin dalam teh akan menurunkan penyerapan zat besi dalam usus halus. Sebaiknya minum susu atau teh di luar jadwal makan makanan utama (nasi).

IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) merekomendasi pemberian suplementasi zat besi pada bayi cukup bulan sejak umur 4 bulan hingga 2 tahun sebesar 2 mg/ kg berat badan per hari. 

Sedangkan untuk bayi kurang bulan (prematur), suplementasi zat besi diberikan sejak umur 1 bulan hingga umur 2 tahun dengan dosis 3 mg/ kg berat badan per hari


DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

24 komentar

  1. Menarik sekali dokter, jadi menambah info saya tentang anemi karena kekurangan zat besi, izin bertanya dokter apakah ada efek jika anak kelebihan zat besi misalnya pada kasus orang tua yang takut jika anaknya anemia kekurangan zat besi lalu orang tuanya memberikan suplemen zat besi terus menerus, atau misalnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi secara berlebih
    Terima kasih dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bisa, namanya hemosiderosis, tapi jarang sekali

      Hapus
  2. Sangat informatif dokter sehingga ayah dan bunda lebih aware terhadap zat gizi dari mikronutrient pada nutrisi anak terutama zat besi. Izin bertanya dokter, pada anak yang sering mengalami infeksi (infeksi kronis) apakah pemberian dosis zat besi tetap sama dengan lainnya dokter?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemberian zat besi ada dua indikasi: untuk terapi dan suplementasi. Masing-masing dosisnya berbeda

      Hapus
  3. Wah bahasan kali ini sangat menarik sekali dokter karena tak jarang anak kecil menderita Anemia defisiensi besi, Saya Ghina Syafira ingin bertanya dokter, dirumah saya memiliki keponakan yang suka sekali minum es teh terutama setelah makan. saya khawatir dia dapat menderita hal yang sama seperti anak bu wina, sebenarnya apakah ada batasan maksimal asupan teh perhari yang sebaiknya tidak boleh dikonsumsi bagi anak kecil? Terimakasih dokter

    BalasHapus
  4. Salsabilla Rihadatul Aisy5 Desember 2021 18.43

    masyaAllah terimakasih banyak dokter atas ilmunya, penjelasannya menjadi lebih mudah dipahami dokter. Mohon izin bertanya dokter apabila ditemukan anak dengan ADB dengan Hb 7 mg/dL, mana yang didahulukan antara memberikan transfusi atau pemberian suplementasi zat besi nggih dokter? Terimakasih, Wassalamualaikum wr.wb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hb Di bawah 8, indikasi transfusi darah. Namun jika kondisi anak baik, bisa dicoba memberikan terapi zat besi terlebih dahulu. Kalaupun transfusi, harus tetap dibarengi dengan pemberian zat besi

      Hapus
  5. Auto ngecek susu formula anakku, apakah ada fotifikasi zat besinya tidak.
    Aku pernah baca ya kalau usia 6mo iti, asi sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan zat besi pada bayi. Makanya MPASI butuh banyak kandungan zat besi.
    Menarik bahasannya, aku jadi tahu AKB yg terdeteksi pada anak, artinya sudah masuk stadium lanjut.. Huu sedih.

    BalasHapus
  6. Jadi gejala yang bisa dilihat adalah kondisi pucat saja y dok.

    Tak ada gejala lain yang terlihat? Karena menyimak pemaparan di atas kondisi anak disebut mengalami anemia itu diukur dr kondisi hemoglobinnya. Artinya haris test dulu.

    Ehm,, jadi kalo liat anak tampak putih harus waspada nih

    BalasHapus
  7. Wah mesti auto cek kandungan susu anakku..
    Masih doyan banget minum susu formula ini dok, hiks..
    Makasih infonya ya dok..
    Kayaknya emaknya juga perlu cek anemia ga ini..

    BalasHapus
  8. Ilmu yang sangat bermanfaat, dokter. Ngapunten dokter izin bertanya. Beberapa ibu ada yang mengeluh anaknya mengalami konstipasi setelah konsumsi zat besi, apakah benar nggih, dokter? Jika benar, bagaimana cara mengatasinya, dokter?

    BalasHapus
  9. Ilmunya sangat bermanfaat dok, terlebih selama pendidikan koas di rumah sakit sering sekali bertemu anak kekurangan zat besi, biasanya selain karena ibunya kurang memahami adanya anemia ini sehingga memberi makanan dengan kadar besi yang tidak cukup, kadang juga karena anaknya yang memang tidak mau makan🙏 terima kasih dokter telah diberi penyegaran tentang anemia

    BalasHapus
  10. Sangat informatif sekali Dokter...... nahh penjelasan seperti ini yang sangat diperlukan karena hal" seperti ini sering dikesampingkan atau diacuhkan terhadap anak. Banyak yang mengamati tumbuh kembang anak hanya melihat dari ukuran fisik (tumbuh) dan kembang dari sisi motorik kasar serta halusnya saja. Tidak hanya karbohidrat, protein, dan lemak saja yang harus diperhatikan, tetapi kebutuhan akan zat besi juga sangat penting untuk diperhatikan agar tidak terjadi hal" yang dapat mengganggu bahkan menghambat tumbuh kembang anak. Terima kasih nggih Dokter.

    BalasHapus
  11. Nabil Ikraam Fauzan10 Februari 2022 04.15

    Penjelasan yang sangat terperinci, informatif serta menambah wawasan, mengenai anemia yang diakibatkan kekurangan zat besi. Hal ini jarang disadari bahwa salah satu mikronutrient yang sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang sang anak salah satunya adalah zat besi, terkadang orang tua sempat luput untuk memberikan suplement tambahan seperti zat besi ini kepada sang buah hati sehingga muncul gejala yang beragam hingga menyebabkan terganggunya proses tumbuh kembang sang anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, kadang orang tua terlalu fokus pada pemberian susu tanpa memperhatikan kecukupan zat besi. Padahal zat besi itu penting banget

      Hapus
  12. Masya Allah.. dapat ilmu tambahan lagi dari dokter, terkait anemia defisiensi besi pada anak-anak. Ternyata tidak hanya terjadi pada orang dewasa ya dok, pada anak-anak juga perlu perhatian khusus dalam pemberian nutrisi agar kandungan zat besinya terpenuhi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, karena zat besi ini termasuk micronutrient yang vital bagi tumbuh kembang anak

      Hapus
  13. Menarik sekali dokter pembahasannya. Alhamdulilah dapat tambahan ilmu lagi dari dokter. Meskipun jarang diperhatikan kebutuhannya, zat besi merupakan hal yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak, jadi harus dipenuhi kebutuhannyannya baik dari suplemen atau makanan

    BalasHapus
  14. Muhammad Jefri Pasenda10 Februari 2022 20.43

    Ilmu yang sangat bermanfaat sekali dokter. Saya mengira bahwa pemberian ASI eksklusif sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi hingga 6 bulan. Ternyata bayi umur 4 bulan sudah mulai membutuhkan zat besi hingga berumur 2 tahun. Bahkan sangat berdampak bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Terimakasih banyak nggih dokter saya izin share grup keluarga.

    BalasHapus
  15. Informasi yang sangat bermanfaat dokter, alhamdulillah mendapat ilmu baru lagi dari dokter. Ternyata dampak kekurangan zat besi itu banyak nggih, tidak hanya anemia kekurangan zat besi, tapi sampai dapat mengganggu tumbuh kembang anak dan gangguan otak.

    BalasHapus
  16. Terima kasih banyak nggih dokter untuk penjelasannya menganai Anemia defisiensi Fe. Hal ini sangat penting diketahui oleh para orang tua, bahwa Fe merupakan mikronutrisi yang vital bagi anak. Selain itu, Fe yang tidak mencukupi akan mengganggu metabolime otak dan otot jantung. Disamping itu, Defisiensi Fe sangat mempengaruhi tumbuh kembang si kecil.
    Perlu juga Orang tua semuanya memahami bahwa >4 bulan sudah membutuhkan asupan Fe tambahan dari konsumsinya, terutama jika sudah MPASI maka perlu memperhatikan sumber-sumber makanan yang mengandung Fe tinggi. Terima kasih banyak dokter, untuk penjelasannya. Semoga selalu bisa menulis hal-hal bermanfaat untuk para pembaca.

    BalasHapus
  17. Terima kasih bnyak dokter sangat bermanfaat sekali ilmunya dokter. Ternyata balita lebih rentan terjadi anemia defisiensi besi akibat peningkatan progresif sel darah merah serta peningkatan jumlah hemoglobin, akibatnya kebutuhan zat besi meningkat untuk pembentukan hemoglobin. Ketidakseimbangan antara kebutuhan zat besi yang tinggi dan asupan zat besi yang rendah dapat mengakibatkan anemia. Zat besi bisa di dapatkan dari sumber hewani maupun sayuran hijau, tetapi zat besi yang berasal dari sayuran hijau hanya diserap 3-8% sedangkan zat besi yang berasal dari hewani diserap sebesar 23%.

    BalasHapus
  18. Terima kasih banyak dokter atas ilmu yang telah disampaikan ternyata kebutuhan akan zat besi sangat penting bagi tubuh nggih, apa lagi jika anak Kekurangan zat besi maka bisa mengganggu metabolisme otak, yang akan berefek terhadap terganggunya fungsi kognitif (pemusatan perhatian, kemampuan belajar dan kemampuan intelektual umum), timbulnya kelainan non-kognitif (kurang responsif, mudah tersinggung dan kecemasan) serta aktifitas sehari-hari terbatas. Oleh karena itu sangat penting kebutuhan zat besi ini. Dengan informasi yang telah dijabarkan dengan bahasa yang menarik dan mudah dipahami maka insyaAllah bagi mom and dad dapat meminimalisir kejadian anemia def. Besi ini. Terima kasih dok informasi yang bermanfaaat ini. Izin share nggih.

    BalasHapus
  19. MasyaAllah terimakasih banyak dokter atas ilmunya, penjelasannya menjadi lebih mudah dipahami dokter. Ternyata anemia memiliki dampak yang luar biasa ya terhadap tumbuh-kembang anak. Apalagi di usia 0-2 tahun sewaktu otak anak berkembang dengan progresif, anemia dapat menjadikan gangguan otak pada anak akibat kekurangan zat besi. Tidak terlintas dipikiran saya bahwa anemia pun dapat menghambat kecerdasan dan produktifitas anak nantinya di masa depan

    BalasHapus

Posting Komentar