blog dokter taura big ad

PUP BAYI NORMAL: FREKUENSI, KONSISTENSI DAN WARNA

Di dalam praktik sehari-hari di klinik kesehatan anak, banyak sekali pertanyaan yang mampir ke saya seputar pup bayi normal. Demikian juga pertanyaan yang masuk lewat media sosial (WA, instagram dll)

Ada beragam pertanyaan seputar pup atau feses bayi, diantaranya:

"Dok, bayi saya pup-nya kok hijau? Normalkah?"

"Bayi saya ASI eksklusif, berapa kali normalnya dia pup?"

"Dok, bayi saya kok pup nya sering tapi sedikit-sedikit? normalkah?"

Seperti pagi ini, salah satu sahabat saya, seorang bloger kondang asal Jawa Timur menghubungi saya lewat pesan singkat di whatsapp

[Dok, bayi saya seharian ini sudah pup empat kali sedikit-sedikit dan berbusa. Normalkah?]

Apakah Anda termasuk orang tua yang mudah panik, terutama jika melihat pup bayi kesayangan "tidak seperti biasanya"?

Mari kita bahas bersama, seputar pup bayi normal.

Pup bayi normal itu yang bagaimana?

Apa yang Dimaksud dengan Pup, BAB, atau Defekasi?

Defekasi atau Buang Air Besar atau "pup" adalah suatu proses evakuasi tinja dari dalam rektum (usus besar bagian bawah). 

Tinja atau feses adalah bahan yang tidak digunakan lagi dan HARUS dikeluarkan dari dalam tubuh

Pola defekasi pada anak sangat bervariasi tergantung dari fungsi organ, susunan saraf, pola makan serta usia anak. 

Pola defekasi tidak hanya menyangkut frekuensi defekasi, tapi juga masalah konsistensi (tingkat kepadatan tinja) dan warna pup bayi.

Pup Bayi Baru Lahir

Pup bayi baru lahir tentu berbeda dari bayi yang lebih tua usianya, baik dari segi frekuensi, konsistensi maupun warna. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif, pupnya juga berbeda dari bayi Non ASI eksklusif

Frekuensi pup bayi normal pada bayi yang baru lahir lebih sering dibandingkan bayi atau anak yang lebih tua usianya. Hal ini disebabkan oleh beberapa organ dan enzim yang berperan dalam proses pencernaan zat makanan (karbohidrat, lemak, dan protein) belum berfungsi secara optimal. Aktivitas enzim ini akan bertambah sesuai dengan bertambahnya usia.

Pup Bayi Mekonium

Mekonium adalah tinja yang berwarna hitam, kental dan lengket, yang merupakan campuran sekresi kelenjar intestinal dan cairan amnion. Pada keadaan normal, mekonium akan keluar pada 36 jam pertama setelah lahir sebanyak 2-3 kali setiap harinya.

Pup bayi baru lahir yang disebut mekonium  terdiri dari cairan ketuban, lendir, sel kulit dan benda lain yang tertelan ke dalam rahim. 

Dua hingga empat hari setelah lahir, akan terlihat 'BAB transisi' yang cenderung berwarna hijau dan tidak terlalu lengket dibandingkan mekonium.

Pup bayi normal mempunyai warna yang berbeda tergantung jenis pupnya.
Sumber: theasianparent.com

Enzim Pencernaan Bayi

Aktivitas amilase (enzim pencerna karbohidrat) yang optimal akan tercapai pada usia 12 bulan, lipase (enzim pencerna lemak) mencapai kadar seperti orang dewasa pada usia 24 bulan, sedangkan aktivitas tripsin (enzim pencerna protein) pada bayi baru lahir sudah sama dengan orang dewasa.

Pup Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif

Bayi normal lebih mudah mencerna dan menyerap lemak yang berasal dari ASI dibandingkan lemak susu sapi atau susu formula, disebabkan ASI mengandung lipase.

Selain lipase, ASI juga mengandung amilase dan protease. Oleh karena itu sangat penting dan bermanfaat untuk tetap memberikan ASI pada bayi. 

Pada bayi baru lahir, aktivitas laktase belum optimal sehingga kemampuan mencerna laktosa yang terkandung di dalam ASI maupun susu formula juga terbatas.

Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan osmolaritas di dalam lumen usus halus yang mengakibatkan peningkatan frekuensi defekasinya.

Pada bayi yang mendapat ASI, kolostrum berperan sebagai laksatif alami yang membantu mendorong mekonium keluar dari tubuh. Kolostrum mulai diproduksi pada akhir kehamilan dan tetap bertahan hingga empat hari setelah kelahiran.

Selanjutnya kolostrum akan diganti oleh ASI peralihan yang berlangsung selama 7-14 hari, pada saat ini warna pup berubah menjadi coklat dan tidak lagi lengket sehingga bila mengenai kulit mudah dibersih- kan. Sedangkan frekuensi pup bervariasi antara 1-7 kali perhari.

Setelah ASI peralihan berubah menjadi ASI (yang sebenarnya) warna pup cenderung berubah lagi menjadi berwarna kuning dengan konsistensi lembek.

Pada bayi yang mendapat susu formula, pup bayi yang terbentuk biasanya lebih kental dan warnanya lebih kehijauan. Frekuensi pup relatif lebih jarang dibandingkan bayi yang hanya mendapatkan ASI saja

Pola Defekasi Anak Pra Sekolah

Pada anak usia prasekolah ke atas, pola defekasi tergantung pola makanannya. Anak yang banyak makan makanan berserat, defekasinya lancar, tidak keras, dan teratur. Sedangkan anak yang tidak suka makan makanan berserat, mempunyai pola defekasi dengan tinja yang keras. sehingga tidak jarang menimbulkan rasa sakit pada saat defekasi yang akhirnya dapat menyebabkan konstipasi.

Perubahan pola defekasi dapat merupakan petanda adanya suatu kelainan yang harus diwaspadai. Dua keadaan yang sering dihubungkan dengan perubahan frekuensi defekasi dan konsistensi tinja adalah konstipasi dan diare

Konstipasi vs Diare

Pengertian konstipasi atau sembelit adalah jika terjadi salah satu kondisi seperti di bawah ini: 

  1. Frekuensi defekasi kurang dari 3 kali seminggu, 
  2. Defekasi dengan tinja yang keras, 
  3. Teraba massa tinja pada perut kiri bawah, 
  4. Teraba tinja yang keras pada pemeriksaan colok dubur.

Istilah diare pada anak digunakan bila ditemukan perubahan pola defekasi yang ditandai dengan peningkatan frekuensi defekasi (lebih dari 3 kali sehari) dan konsistensi tinja yang cair

Bagaimana dengan Warna Tinja Bayi/Anak?

Warna tinja normal pada anak secara umum adalah kuning/coklat yang disebabkan oleh derivat bilirubin yaitu urobilin dan sterkobilin. Pada anak yang mendapat PASI tidak jarang tinjanya berwarna kehijauan.

Apabila seorang anak memperlihatkan warna tinjanya di luar seperti yang disebutkan di atas, perlu dipikirkan kemungkinan adanya suatu kelainan. Tinja dapat berwarna seperti dempul karena tidak adanya derivat bilirubin. 

Apabila keadaan ini terjadi, dapat dipikirkan kemungkinan adanya gangguan pada sistem hepatobilier. Tinja yang berwarna kemerahan atau kehitaman dapat diasumsikan adanya perdarahan saluran cerna. Warna tinja kehijauan ternyata tidak saja terjadi pada anak yang mendapat susu formula tetapi dapat pula terjadi pada anak yang menderita diare koleroik. Selain itu ada juga tinja yang menyerupai air cucian beras yang merupakan gejala khas untuk penyakit kolera

Pup Bayi ASI Eksklusif Berwarna Hijau, Wajarkah?

Pup bayi berwarna hijau tergolong wajar, tapi warna ini tidak boleh terus-menerus muncul. Ini berarti cara ibu memberikan ASI belum benar. 

Wajarkah jika pup bayi ASI eksklusif berwarna hijau?

Yang terisap oleh bayi hanya foremilk saja, sedangkan hindmilk-nya tidak. Kasus demikian umumnya terjadi kalau produksi ASI sangat melimpah.

Di dalam payudara, ibu memiliki ASI depan (foremilik) dan ASI belakang (hindmilk). 

Pada saat bayi menyusu, ia akan selalu mengisap foremilk lebih dulu. Bagian ini mempunyai lebih banyak kandungan gula dan laktosa tapi rendah lemak. Sifatnya yang mudah dan cepat diserap membuat bayi sering lapar kembali. 

Sedangkan, ASI belakang (hindmilk) akan terisap kalau foremilk yang keluar lebih dulu sudah habis. Hindmilk mengandung banyak lemak. Lemak ini yang membuat tinja menjadi kuning.

Jika bayi hanya mendapat foremilk yang mengandung sedikit lemak dan banyak gula, kadang-kadang terjadi perubahan pada proses pencernaan yang akhirnya membuat pup bayi berwarna hijau. Bahkan sering juga dari situ terbentuk gas yang terlalu banyak (sering kentut), sehingga bayi merasa tak nyaman (kolik).

Mestinya yang bagus itu tidak hijau terus, tapi hijau kuning, hijau dan kuning, bergantian. Ini berarti bayi mendapat ASI yang komplet, dari foremilk sampai hindmilk supaya kandungan gizinya komplit.

Kesimpulan

Mengenal pup bayi normal itu penting. Baik itu jenis-jenis pup bayi, frekuensi pup bayi dan konsistensi pup bayi, dan juga warna pup bayi. Ini adalah bagian dari ketrampilan seputar perawatan bayi baru lahir.

Frekuensi, konsistensi dan warna pup bayi sangat tergantung dari umur bayi, nutrisi bayi dan juga sifat ASI yang diproduksi oleh ibu

Jadi, jika pup bayi Anda berwarna hijau padahal hanya minum ASI saja, jangan panik. Pelajari penyebabnya.


DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

27 komentar

  1. Makasih Dok, ulasannya menjawab pertanyaan jadinya. Duh berapa nih biaya konsul ke Dokter Taura

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat ya, Pak. Saya yang harusnya berterima kasih karena pertanyaan Anda memicu minat nulis artikel di blog dokter taura... SEmoga berkenan ya Pak...

      Hapus
    2. Masya Allah dokte ryang rendah hati, tidak sombong, pintar, suka menolong

      Hapus
  2. Orang tua baru yang baru dikaruniai bay bisa mudah panik karena memang menghadapi bayi baru challenging banget ya. Tapi itu bisa diatasi jika orang tua membekali diri dengan pengetahuan yang memadai, seperti yang dituliskan oleh Dokter Taura ini.

    BalasHapus
  3. Baca ini jadi teringat drama si Adik pas newborn - 6 bulan.
    Astagaaaa bikin stres banget dah.
    Pas lahir pupnya berbusa, sampai ke dokter anak, katanya nggak apa-apa.

    Nggak lama, emang sih busanya hilang, jadi normal, tapi sehari bisa sampai 10 kali hiks.

    Untungnya BBnya naik terus, jadi dicuekin aja, meski stres banget, popok boros banget.

    Alhamdulillah pas 6 bulan, kenal MPASI, frekwensi pupnya jadi normal.
    Tapiii drama masih berlanjut dulu, hahaha.

    Pas kenal makanan, kayaknya perutnya butuh waktu banget buat adaptasi.
    Dari yang biasanya pup keseringan, lah kok berganti nggak mau pup sampai kadang 2 hari.

    Dan ketika pup, udah bisa ketebak, banyaknyaaaaa huhuhu.
    Sampai kewalahan bersihinnya wkwkwkw.

    Sungguh deh, bersyukur banget masa drama melelahkan bin ngakak itu bisa lewat wkwkwkw

    BalasHapus
  4. seperti biasa tulisan dokter Taura selalu 'berdaging'

    saya jadi teringat sewaktu survey di pedalaman Jabar, ibu2 punya istilah (saya lupa namanya) untuk perubahan feses yang terjadi ketika kemampuan bayi meningkat.

    jadi misalnya bayi tumbuh gigi, maka fesesnya berubah. Demikian juga jika bayi bisa duduk dst

    BalasHapus
  5. Jadi ingat masa-masa awal menyusui 3 tahun lalu. Anak lapar terus dan kalau atas diisi ASI, bawah keluar juga. Wkwkwk. Saya perhatikan benar warna pup-nya. Kebetulan sudah baca-baca informasi tentang pup bayi sehingga tetap pede aja.

    BalasHapus
  6. Perlu banget tau tanda kesehatan bayi dari pupnya, ya. Kadang, gara2 itu pupnya bayi selalu dinanti sang ibu. Hihihi ...

    BalasHapus
  7. Olala, Dok ternyata berwarna warni juga ya itu pada akhirnya. Hihihi...
    Terimakasih semua ilmunya. Ini kalau konsultasi udah habis berapa coba, hahaha

    BalasHapus
  8. Wah jelas banget pemaparannya dok, terima kasih banyak ya ilmunya sekarang aku jadi lebih memperhatikan kebutuhan serat si kecil

    BalasHapus
  9. Wah, jelas dan lengkap banget pejelasannya dok.
    Oh iya dok, kalau kirang minum air putih apa ada pengaruhnya dengan bab? Jadi sulit dan keras gt dok?

    BalasHapus
  10. Ya Allah, Pak Dokteeer... untung baca ini lagi puasa. Eta bececeran pup sepanjang tulisan.. hahaha... tapi memang ilmu mempelajari pup bayi begini wajib dimiliki para calon ibu ya. Biar ga mudah panik. Dulu waktu punya anak pertama, asli ga punya ilmu kek gini.. agak panik juga dengan pup mekonium. Dipikir kenapa-kenapa.. ga taunya ya normal aja. Ma kasih sharingnya ya, Dok

    BalasHapus
  11. Ilmu banget ini buat daku nanti diterapkan pas fasenya.
    Yang diinget sih, pup nya ponakan daku waktu masih bayi, Alhamdulillah normal seperti ciri-ciri di artikel

    BalasHapus
  12. Nah ilmu penting banget ini. Emang mesti diketahui oleh calon ibu, jangan sampai kayak saya dulu. Bingung pas pertama bayi pup, kok hitam sih? Kok si bocah sering banget pup dan encer, tapi bocahnya nampak ceria, pas pup juga nggak kelihatan kesakitan. Sampai panik bawa ke bidan langganan.

    BalasHapus
  13. kalau warna pup cenderung hijau lumut gelap untuk bayi new born itu apa karena si bayik minum kolostrum dari ibuknya, benar begitu dok ?

    BalasHapus
  14. Jadi intinya. Warna pup bayi itu yergantung dari usia dan asupan yang masuk yang dok.

    Wah bermanfaat sekali artikel nya. Terima kasih

    BalasHapus
  15. Terimakasih atas sharing-nya, bermanfaat banget tertama bagi ibu2 muda yang masih punya bayi.. Walaupun saya tidak muda lagi dan tidak punya bayi setidaknya informasiini bisa saya bagikan kepada yang membutuhkan..

    BalasHapus
  16. Siap dokter, putra putri kami dahulu informasinya persis artikel yang disampaikan. Penting ya mendapatkan informasi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang umurnya sudah berapa tahun mas, anaknya? Salam sehat dan semangat ya...

      Hapus
  17. Wah baca ini inget zaman anak anak masih bayi
    Aku selalu memperhatikan pup mereka
    Karena dari pup itu kita tahu apakah bayi baik baik saja apa tidak ya dok

    BalasHapus
  18. Jadi ingat ketika anak-anak saya masih kecil. Selalu memperhatikan warna pup hingga hingga frekuensinya. Dokter juga suka tanyain itu kalau kami sedang konsultasi.

    BalasHapus
  19. Pantas aja sejak pertama kali punya anak, ibu saya udah berpesan untuk perhatikan betul jadwal dan bagaimana pup anak. Karena ya dari situ bisa tahu apakah normal atau tidak, ada salah makan atau tidak, dan lainnya. Terus kalau pas ibu (neneknya) lihat ada yang salah dari pup cucunya, siap-siap deh sayanya bakal diinterogasi tadi ada salah makan apa yang ngaruh ke ASI sehingga pup si anak gitu.

    BalasHapus
  20. Wahh baca artikel-artikel di blog dokter Taura bikin saya jadi makin tahu tentang kesehatan anak nih, bener-bener saya butuhkan.

    BalasHapus
  21. Artikel yg dulu sangat ingin kutahu nih.. Masa" punya new baby sudah terlewati.. Semoga klo ada baby ke2 udah gak lupa lagi karna ada artikel ini.. Mkasih dok remindernya..

    BalasHapus
  22. alhamdulillah dapat pencerahan tentang pup bayi. Aku yang paling apal sih mekonium aja wkwk...anak saya pernah mengalami intoleransi lakstosa pak dan pupnya cair tanpa ampas..akhirnya direkomen ganti susu. Bahas ini juga pak

    BalasHapus
  23. Ini wajib disimpan artikelnya buat ibu2 yang masih punya balita kayak aku. Makasih sharingnya dok.

    BalasHapus
  24. jadi ingat masa anak masih kecil, perlu banget ilmu ini agar semakin bisa mengetahui kesehatan pencernaan anak melalu warna pup

    BalasHapus

Posting Komentar