blog dokter taura big ad

DIFTERI: SATU PENYAKIT DENGAN BANYAK KOMPLIKASI, BIKIN NGERI

Difteri dikenal sebagai penyakit yang SANGAT menular. Begitu ada satu penderita difteri, maka ia akan mencari mangsa berikutnya, terutama anak-anak yang belum pernah diimunisasi atau yang status imunisasinya tidak lengkap. 

difteri-penyakit-menular-bikin-ngeri

Apa Istimewanya Penyakit Difteri?

Penyakit difteri memang bukan sembarang penyakit menular. Dari perjalanan panjang peradapan manusia (epidemi difteri terjadi pertama kali pada 6 SM), penyakit difteri dikenal sebagai penyakit yang menular dan mematikan. 

Selain sumbatan jalan napas atas (tenggorokan), penyebab kematian karena difteri ini adalah komplikasi toksin difteri yang beredar ke seluruh tubuh dan bisa menyebabkan myocarditis (radang jantung), gagal ginjal akut dll. 

Setelah ditemukannya vaksin difteri, angka kejadian penyakit ini sebenarnya sudah sangat menurun dan di beberapa negara sudah tidak ditemukan lagi. Kemunculannya kembali, menunjukkan bahwa angka cakupan imunisasi masih harus ditingkatkan karena hingga kini diyakini bahwa imunisasi adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai penularan difteri, dan ini sudah teruji dan terbukti secara klinis.

Imunisasi adalah satu-satunya jalan untuk memutus rantai penularan difteri

Penyakit difteri adalah penyakit yang kompleks, butuh penanganan holistik yang melibatkan multiprofesi. Tidak hanya dokter spesialis anak (dan dokter spesialis penyakit dalam untuk penderita dewasa), tapi juga melibatkan dokter ahli bedah dan THT untuk melakukan tindakan tracheostomy (membuat jalan napas buatan pada dinding depan trakea), dokter ahli jantung anak untuk menangani radang jantung yang seringkali membutuhkan pemasangan alat pacu jantung, dan juga melibatkan ahli epidemiologi untuk memetakan jalur penularan penyakit difteri. 

Selain itu peranan jajaran paramedis, petugas laboratorium patologi klinik dan ahli mikrobilogi juga tidak boleh dianggap remeh. Koordinasi dan kerjasama tim tentu saja menjadi hal yang teramat penting.

Penanganan penyakit ini membutuhkan obat-obatan yang cukup mahal dan terkadang sulit dicari. Sedangkan kecepatan dan ketepatan penataksanaan menjadi salah satu kunci keberhasilan.

Difteri merupakan penyakit yang sangat menular. Begitu menularnya, hingga setiap penderita difteri harus dirawat di ruangan isolasi yang sangat ketat, yang kalau memasuki ruangan tersebut harus menggunakan gaun khusus, penutup kepala khusus, masker dan bahkan kacamata khusus. Orang dewasa sehat yang sudah kebal justru akan menjadi silent carrier yang berpotensi menularkan ke anak-anak disekitarnya.

Kenali Gejala dan Tanda Difteri

Sebagai penyakit yang menduduki peringkat atas dalam hal daya tular nya, difteri mempunyai gejala dan tanda klinis yang khas. Seorang dokter bisa membuat diagnosis difteri hanya dengan menganalisa gejala dan melakukan pemeriksaan klinis. Hanya saja kepastian diagnosis ditentukan dari pemeriksaan laboratorium yaitu kultur jaringan (uji usap tenggorok) atau PCR (Polymerase Chain Reaction).

Dimulai dengan gejala demam yang tidak terlalu tinggi, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri telan, suara serak hingga menunjukkan gejala sumbatan jalan nafas atas yang mula-mula ringan berupa mendengkur (padahal biasanya tidak pernah tidur mendengkur), mengeluarkan air liur alias ngiler atau ngeces, dan akhirnya memberat, berupa timbulnya suara stridor yaitu suara napas yang terdengar kasar seperti suara mendengkur.

Dari riwayat imunisasi didapatkan status imunisasi yang tidak lengkap atau bahkan tidak pernah diimunisasi sama sekali.

Riwayat "kontak erat" dengan penderita difteri bisa menjadi petunjuk penting. Yang dimaksud kontak erat adalah orang serumah dan atau individu yang seruang dengan penderita dalam waktu > 4 jam selama 5 hari berturut-turut atau > 24 jam dalam seminggu, misalnya teman bermain, teman sekolah, teman mengaji, teman les dll.

Tanda klinis yang KHAS dari difteri ini adalah ditemukannya selaput putih keabuan di tempat infeksi. Karena 94% kuman difteri menyangkut di tenggorokan (sisanya bisa di hidung dan kulit yang terluka), maka selaput difteri ditemukan di tenggorokan, tepatnya di selaput lendir tenggorokan.
Selaput yang dimaksud disebut Pseudomembran

Selain berwarna putih keabuan, pseudomembran mempunyai ciri khusus yaitu: mudah berdarah jika diangkat, dan baunya khas.

Pada kasus yang berat dapat ditemukan tanda klinis yang juga khas yaitu bull neck yang ditandai dengan pembengkakan daerah leher disertai pembesaran kelenjar getah bening.

Jika seorang penderita dinyatakan positif difteri maka harus segera rawat inap di ruang isolasi khusus untuk dilakukan serangkaian pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan yang cukup rumit.

sign-and-symptom-diphtheria

Pemeriksaan penunjang yang penting adalah pemeriksaan swab tenggorokan atau uji usap tenggorokan, dimana tenggorokan dan hidung penderita akan di swab dengan alat khusus dan segera dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk dilakukan kultur. Swab tenggorokan dilakukan pada hari ke-1, ke-2 dan ke-7. Selain penderita, swab tenggorokan juga dilakukan pada semua anggota keluarga yang serumah dan mereka yang kontak erat.

Penyebab Difteri

Pembahasan tentang penyakit difteri tidak pernah lepas dari sosok makhluk yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop ini, yaitu Corynebacterium diphtheriae yang hanya bisa hidup di tubuh manusia tanpa memerlukan perantara.

Penderita difteri akan menularkan penyakitnya melalui percikan air ludah dan akhirnya terhirup oleh orang disekitarnya dan akan hinggap pada tenggorokan. Pada individu yang belum punya kekebalan (baca: belum pernah diimunisasi atau status imunisasinya tidak lengkap) terhadap bakteri berbentuk club-shape ini, maka kuman difteri ini akan hidup dan berkembang biak yang akhirnya mengeluarkan toksin atau zat racun. 

Toksin inilah sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap timbulnya pseudomembran maupun terjadinya berbagai komplikasi (radang jantung/ myocarditis, gagal ginjal akut dan gangguan syaraf tepi)

Penatalaksanaan Difteri

Setiap penderita difteri memerlukan penatalaksanaan yang cepat, cermat dan holistik. Secara garis besar, penatalaksanaan difteri dibagi 2 yaitu: penatalaksanaan umum dan khusus

Penatalaksanaan Umum 

Penatalaksanaan umum meliputi perawatan di ruang isolasi selama kurang lebih 2 minggu dan tirah baring. Pemberian cairan serta nutrisi yang seimbang.

Penatalaksanaan Khusus 

Penatalaksanaan khusus meliputi pemberian ADS (Anti Diphtheria Serum) untuk menetralkan toksin difteri, pemberian antibiotik untuk melemahkan dan membunuh kuman difteri, kortikosteroid untuk kasus difteri berat dimana didapatkan adanya sumbatan jalan napas atas dan pada kasus difteri yang disertai penyulit myokarditis.

Pada kasus difteri yang mengalami sumbatan jalan napas atas harus segera dilakukan tindakan trakeostomi

Penatalaksanaan Difteri tidak cukup hanya mengobati penderita, tapi juga mengobati para barrier. Mereka yang kontak erat dengan penderita difteri tanpa memandang status imunisasi sebelumnya, dilakukan: Uji usap tenggorokan

Jika hasil positif (karier) diberikan antibiotik Erythromycin selama 7 hari

Anak yang telah mendapat imunisasi dasar diberikan booster toksoid difteri, yang belum diimunisasi segera melengkapi imunisasi

Penatalaksanaan Difteri yang sangat rumit ini tidak selalu membuahkan hasil yang memuaskan.

Walaupun dilakukan pengobatan, 1 dari 10 pasien difteri kemungkinan meninggal. 

Tanpa pengobatan 1 dari 2 pasien difteri meninggal

Pencegahan Difteri

Imunisasi adalah perlindungan terbaik terhadap kemungkinan tertular penyakit difteri, dan dapat diperoleh dengan mudah di berbagai fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta.

Berikut adalah himbauan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) terkait pencegahan menularnya kasus difteri:

Lengkapi imunisasi DPT/DT/Td anak anda sesuai jadwal imunisasi anak Kementerian Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi difteri lengkap adalah sebagai berikut:

  • Usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT).
  • Anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali.
  • Anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.
Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa. Apabila status imunisasi belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.

Begitulah penyakit Difteri, yang sepanjang sejarah menjadi penyakit yang menakutkan dan menjadi momok bagi tenaga kesehatan. Timbulnya penyakit difteri di wilayah tertentu, cepat sekali menjadi wabah yang membahayakan yang banyak menelan korban dan paling sering terjadi pada anak-anak.

Penggunaan masker bagi mereka yang sedang batuk, ataupun perubahan gaya hidup yang lebih baik, BELUM cukup berhasil mengerem laju penularan penyakit ini. IMUNISASI adalah jalan terbaik dan satu-satunya dalam mencegah penyakit difteri. Sudahkah anak Anda diimunisasi difteri, sebagaimana himbauan WHO (World Health Organization): 

"All children worldwide should be immunized against diphtheria"


DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

25 komentar

  1. Masyaallah artikel yang sangat informatif dan sangat membuka wawasan dokter, kali ini saya ingin bertanya, apakah pada anak yang sudah diimunisasi DPT lengkap masih ada kemungkinan terinfeksi difteri? dan pada anak yang sudah terinfeksi apakah masih perlu diberikan imunisasi DPT?
    terimakasih atas ilmunya, izin share nggih dokter..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bayi yang sudah diimunisasi difteri, bisa terkena sakit difteri, tapi biasanya ringan.
      Pada penderita difteri yang sudah sembuh, tetap diberikan imunisasi sesuai jadwal

      Hapus
  2. Artikel yang sangat informatif dan bahasa yang digunakan mudah dipahami oleh awam juga, dokter izin bertanya bagaimana mengetahui gejala "silent difteri" pada orang dewasa karena takutnya di orang dewasa tidak bergejala akan tetapi malah menularkan kepada anak, sekiranya kapan perlu dicurigai bahwa orang dewasa itu carrier difteri dan apakah pemeriksaannya akan sama seperti diagnosis pada anak?
    Terima kasih dok, izin share nggih biar para orang tua tidak terlewat jadwal imunisasinya khususnya DPT sehingga terhindar dari difteri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan dishare...
      Sent difteri terjadi pada orang dewasa yang kontak erat dengan penderita. Deteksinya dengan swab tenggorokan

      Hapus
  3. wah, baru tahu dok kalo difteri penyakit menular dan penyakit komplek.
    terima kasih edukasinya dok, bermnafaat sekali. terutama untuk yang tidak mmberikan imunisasi pada anak-anaknya, harus baca ini sih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Sendy... Difteri itu seperti zombie zaman now.
      Alhamdulillah salah satu dampak positip pandemi korona ini adalah makin meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya imunisasi

      Hapus
  4. Baru paham kalau difteri sebegitu mengerikannya, dok. Terima kasih untuk informasinya.

    Semoga sebagai orang tua bisa lebih menjaga kesehatan keluarga, khususnya anak-anak agar terhindar dari penyakit, termasuk difteri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga anak-anak Indonesia terjaga dari penyakit menular yang berbahaya.
      Difteri ini salah satu penyakit yang sangat dibenci oleh dokter anak. Urusannya panjang pak... Makan waktu, tenaga dan pikiran... Emosi juga sih.

      Hapus
  5. Salsabilla Rihadatul Aisy - L3410 Desember 2021 14.07

    Terimakasih banyak dokter atas ilmunya, kontennya bermanfaat sekali dokter. Mohon izin bertanya dokter sekiranya pada anak yang sudah terkena difteri apakah ada kemungkinan untuk terinfeksi lagi? Lalu bagaimana apabila anak telat melakukan imunisasi, bagaimana jadwal imunisasi yang diberikan selanjutnya? Apakah langsung diberikan saat itu juga? Terimakasih, Wassalamualaikum wr.wb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Re-infeksi bisa terjadi walaupun jarang
      Segera, kapan pun ortu ingat. Better late than never

      Hapus
  6. MasyaAllah terima kasih banyak dokter atas ilmu yang diberikan, ini merupakan artikel yang sangat menarik dan bermanfaat sekali dokter, izin saya share ke keluarga terdekat nggih dokter, namun sbelumnya saya mohon izin ada 2 pertanyaan dokter yang pertama (1) apabila keluarga pasien (carier) tidak ada ditemukan gejala apapun dan ditemukan swab tenggorok/hidung negatif apakah masih tetap diberikan eritromisin nggih dokter ? (2) mengapa pada pemberian ADS harus dilakukan pemeriksaan tes hipersensitivitas terlebih dahulu nggih dokter? terima kasih banyak dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Tidak perlu
      2. Mencegah terjadinya reaksi alergi terutama anafilaktik

      Terima kasih ya pertanyaannya... Good question

      Hapus
  7. Waduh, mengerikan sekali penyakit ini ya, Dok. Btw, tuh makhluk Corynebacterium diphtheriae bakteri atau virus ya, dok?

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah dokter selalu menambah ilmu lagi lewat postingan artikel dari panjenengan dokter, apalagi di Indonesia beberapa tahun yang lalu sempat marak2nya terjadi wabah difteri lagi. Izin share nggih dokter untuk menambah wawasan.

    Izin bertanya dokter, apabila bayi sudah menerima dosis pertama vaksin difteri, namun saat itu terjadi wabah di daerahnya, apakah dosis selanjutnya sesuai jadwal vaksin dosis kedua ataukan diberikan lebih cepat, yakni bersamaan dengan program imunisasi saat ada wabah tersebut nggih dokter?
    Terima kasih sebelumnya dokter

    BalasHapus
  9. Makanya ada imunisasi DPT itu ya pak Dokter? Bener nggak sih?
    Sebagai ortu memang kudu aware ya sama penyakit2 yang mudah menular kepada anak. Apalagi balita yang masih rentan banget.

    Ditunggu sharing2 selanjutnya Dok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget Coach... Tiap orang tua harus tahu tentang ini...

      Hapus
  10. subhanalloh jadi begidik, gejala awalnya sangat umum dan bisa membuatki tertipu jika tidak awas ya dok. nah mendengkur ini. kayaknya jadi lebih detil untuk diamati saat anggota keluarga tidur biar kita lebih aware ya

    BalasHapus
  11. semoga anak2 selalu diberi kesehatan selalu dan himbauan buat ortu agar tidak meninggalkan imunisasi

    BalasHapus
  12. Aamiin... JAngan lupa imunissi dan makan makanan dengan gizi berimbang ya...

    BalasHapus
  13. Artikel yang informatif dan lengkap. Membantu mereview kembali tentang materi ini. Terimakasih dokter. Izin share nggih. Agar lebih banyak yang membaca artikel ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya atas kunjungannya ke blog dokter Taura. Silakan dishare... Semoga bermanfaat

      Hapus
  14. Sangat informatif dan bermanfaat dokter. Izin share nggih, dokter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya atas kunjungannya ke blog dokter Taura. Silakan dishare... Semoga bermanfaat

      Hapus
  15. Terimakasih atas informasinya dokter izin share untuk ke group keluarga nggeh dokter banyak ibu" mudah

    BalasHapus
  16. Informatif sekali dokter, pembahasan yang dibalut penyampaian yang mudah dimengerti pembaca. baca baca santai pas hujan sambil mereview materi pediatri hehe

    BalasHapus

Posting Komentar