blog dokter taura big ad

TAK ADA AYAH YANG SEMPURNA

40 komentar

Peran ayah dalam pengasuhan anak sangatlah penting walaupun kadang dianggap sepele. Tugas ayah sebagai kepala rumah tangga bukan hanya mencari nafkah tetapi harus bisa jadi figur yang mengayomi, melindungi dan patut dijadikan teladan. Peran ayah sangat vital bagi pembentukan karakter anak. 

mari-berusaha-jadi-ayah-terbaik

Menjadi Suami Sekaligus Ayah

Begitu seorang pria memutuskan untuk menikah, saat itu pula statusnya berubah dari pria lajang menjadi seorang suami. Tentu saja perubahan status ini bukan sekadar bermakna sosial belaka, namun mengandung konsekuensi yang tidak mudah: menjadi kepala rumah tangga, menjadi nakhoda dalam sebuah bahtera yang harus tahu betul dimana tujuannya, kemana bahtera akan dilabuhkan, jalur mana yang akan ditempuh, apa yang harus dilakukan jika badai melanda, dll.

Salah satu tujuan mendirikan sebuah rumah tangga adalah untuk memperoleh keturunan. Ketika sepasang suami isteri dikaruniai seorang bayi lucu nan sehat, saat itu segalanya berubah. Status sebagai "suami" akan berubah atau tepatnya bertambah menjadi seorang "ayah", sebuah status yang teramat berat tanggungjawabnya, teramat suci amanah yang harus diemban. Mengutip apa yang dikatakan oleh ibu Elly Risman, seorang psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, bahwa: "Anak adalah titipan Allah, milik Allah. Kita selaku orangtua nya hanyalah baby-sitter. Kelak akan ada perhitungannya, ada pertanggungjawabannya, ada hisabnya"

Sungguh sebuah amanah yang sangat berat bukan?

Begitu si kecil lahir, tak hanya status yang berubah, pola pikir harus juga berubah, semua harus ditujukan untuk satu titik: memberikan yang terbaik untuk anak. Prioritas hidup seorang ayah pada fase ini harus berubah, bukan lagi untuk karir, bukan semata-mata berorientasi pada finansial dan investasi duniawi, tapi harus memikirkan investasi dunia-akhirat yang sudah ada di depan mata: ANAK.

Antara Ujian dan Kebahagiaan

Semua orang tua pastilah menginginkan anaknya kelak menjadi anak yang bermanfaat dan berguna bagi lingkungan sekitarnya sehingga bisa membuat orangtua nya bangga sekaligus bahagia. Namun, untuk menjadikan seorang anak menjadi individu yang tangguh dan berkualitas, tidaklah semudah membuat mie instan. Harus dipupuk sejak awal, harus dirajut sejak dini, harus diprogram sejak dalam kandungan, bahkan sejak sebelum menikah!
Kualitas hidup seseorang ditentukan oleh satu organ yang bernama OTAK yang didalamnya mengandung milyaran sel yang namanya NEURON. Semakin banyak jumlah neuron, semakin tinggi tingkat kecerdasannya. Selain itu kecerdasan seseorang (IQ, EQ, SQ dll) ditentukan pula oleh seberapa banyak dan rumit koneksi antar sel-sel neuron. Semakin tinggi jumlah koneksi, semakin rumit koneksinya, semakin tinggilah tingkat kecerdasan seseorang.
Proses pembentukan sel-sel neuron dan koneksi antar sel-selnya terjadi terutama pada awal masa kehidupan. Ketika lahir, otak bayi mencapai 25% ukuran otak dewasa. Hanya dalam waktu 1 tahun diawal kehidupan seorang bayi, otaknya telah mencapai 70% ukuran otak orang dewasa. Dan pada usia 2 tahun, jaringan otak akan terbentuk 80-90% seperti otak orang dewasa.

Use it or Lose it

Jadi Anda bisa bayangkan betapa pesatnya pertumbuhan otak pada 2 tahun pertama.
Pada masa inilah terbentang luas kesempatan bagi orangtua untuk membangun pondasi yang kokoh bagi kepribadian dan karakter anak. Jika pada masa ini anak mendapatkan hal-hal positip, maka akan berdampak positip pula bagi tumbuh-kembang anak selanjutnya. Jika anak menerima yang sebaliknya, maka hal negatip akan terjadi pada anak dan akan ditanggungnya seumur hidup! 
masa-keemasan-tumbuh-kembang-anak

Jadi pilihan ada pada Anda: use it or lose it. Jika fase "golden age" tumbuh kembang anak ini berlalu, sang waktu tidak akan berkompromi atau sekedar memberikan sedikit toleransi. Tidak! Sang waktu akan melambaikan tangannya ke Anda sembari memamerkan senyum dingnnya.

Untuk bisa tumbuh dan berkembang secara optimal, dibutuhkan 4 kebutuhan dasar, yang jika tidak dipenuhi bisa berdampak pada kegagalan mencapai tahapan tumbuh-kembang yang sesuai umurnya, bahkan bisa bertahan menjadi sebuah kecacatan permanen seumur hidupnya. Keempat kebutuhan dasar itu adalah: Asuh (kebutuhan fisik-biomedis, seperti nutrisi, imunisasi, kesehatan, pakaian, tempat tinggal, sanitasi lingkungan dll), Asih (kebutuhan kasih sayang) dan Asah (kebutuhan akan stimulasi mental)

PERAN AYAH

Sebagai kepala rumah tangga, tentu tugas utama ayah adalah mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Namun jangan pernah melupakan tugas penting seorang ayah yaitu berperan aktif dalam pengasuhan anak.

Dalam masalah pengasuhan anak, seringkali ayah dianggap "orang kedua" setelah ibu. Padahal peran ayah tidak kalah penting dengan ibunya. Salah satu pakar child psichiatry dari Yale University, Kyle D Pruett menjelaskan tentang manfaat keterlibatan aktif sang ayah dalam pengasuhan anak, antara lain

  1. Anak akan mempunyai tingkat intelegensia yang lebih tinggi.
  2. Anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang mudah bersosialisasi dan tidak mudah frustasi.
  3. Akan mempengaruhi pandangan anak terhadap lawan jenis. Anak laki-laki yang melihat cinta ayah kepada ibunya akan bertindak sama kepada pasangannya. Pada anak perempuan, kedekatan dengan ayah membantu mereka memahami laki-laki.
  4. Saat menginjak remaja, kecenderungan keterlibatan dengan masalah kenakalan remaja, lebih kecil
  5. Saat memasuki dunia kerja, mereka lebih konsisten dalam pekerjaannya dan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik

Seorang ayah akan memberikan suasana dan perspektif yang berbeda dalam hal merawat anak jika dibandingkan dengan cara pengasuhan ibu. Saat seorang ayah menggendong bayi, perhatikan cara menimangnya, cara berkomunikasi dan cara meletakkan kembali ke peraduan. Ayah akan memberikan sensasi dan pengalaman tersendiri bagi bayi. Saat bermain pun, seorang ayah cenderung mengajak bermain aktif mengejar, menggelitik, bermain monster, serta membantu anak belajar keseimbangan.

Seorang ayah biasanya cenderung memancing anak keluar dari zona nyamannya dan lebih berani mengambil risiko. Pendek kata, gaya komunikasi dan interaksi antara ayah dan anak, berbeda dengan pola interaksi ibu-anak yang cenderung didominasi oleh komunikasi verbal. Dengan bermain bersama ayah, anak akan merasa lebih bebas, lebih aman, lebih berani dan lebih percaya diri.

Jadi pengasuhan anak oleh ibu dan ayah yang masing-masing terlibat aktif, dapat saling melengkapi dalam rangka mencukupi kebutuhan dasar anak (Asah, Asih dan Asuh) agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.

Ayah vs Ibu

Lalu, kegiatan apa yang sebaiknya dilakukan ayah dalam berperan aktif dalam pengasuhan anak?
Sebenarnya semua kegiatan yang bisa dilakukan oleh ibu dalam hal pengasuhan anak, bisa dilakukan oleh ayah, kecuali menyusui!
Berikut adalah prioritasnya:
peran-ayah-dalam-parenting

Komitmen

Ayah harus berinisiatif membuat komitmen tentang parenting, tentang arah dan tujuan pengasuhan anak. Bersama pasangan, ayah harus banyak belajar tentang parenting, dan membangun bersama sebuah komitmen yang harus dijalankan dengan konsistensi tinggi. Tentu dengan melibatkan orang-orang yang terkait baik langsung maupun tidak langsung terhadap pengasuhan anak, seperti kakek, nenek, pengasuh dan pekerja rumah tangga.

Keteladanan

Sebagai kepala rumah tangga, ayah adalah pusat rujukan dari segala hal-hal baik dan positip yang akan diingat dan ditiru oleh anak. Dalam fase tumbuh-kembang nya, anak dibawah usia 5 tahun adalah peniru ulung yang akan menggunakan orangtuanya sebagai role model. Jika ayah mengajarkan seorang anak agar selalu menggosok gigi sebelum tidur, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah memberi contoh perintah tersebut dengan menggosok gigi setiap malam sebelum tidur dan dilakukan di depan anak. Bukankah keteladanan itu lebih bermakna dari pada 1000 nasihat?

Disiplin

Kebiasaan melaksanakan kebiasaan baik harus dimulai sejak dini. Kedisiplinan harus ditanamkan sejak bayi. Tak perlu dengan cara represif. Latihlah anak disiplin dengan cara persuatif disertai penjelasan logis dengan bahasa yang mudah diterima oleh anak. Disiplin memerlukan contoh nyata. Ayahlah figur yang tepat untuk diteladani. Beberapa hal yang bisa kita jadikan latihan disiplin dan melatih kebiasaan baik antara lain: mengucapkan terimakasih, meminta maaf, meminta tolong dengan santun, berdoa sebelum dan sesudah makan, menggosok gigi sebelum tidur, mencium tangan orangtua, makan dan tidur tepat waktu dll. Semua tergantung kesepakatan awal dan komitmen yang dibangun oleh orangtua.

Bonding

Sebagai seorang ayah, Anda sebaiknya terlibat aktif dalam kegiatan yang sarat bonding, misalnya mengganti popok, memandikan bayi, memijat bayi, menggendong, menyuapi makan, bermain bersama dll. 

  1. Lakukan kegiatan diatas dengan ikhlas dan penuh kasih sayang 
  2. Jangan sekali-kali melakukan kegiatan diatas karena terpaksa, karena takut dengan istri, karena takut dengan mertua, ataupun demi mendapatkan pujian.
  3. Jaga agar selama berkegiatan terjadi kontak mata dengan bayi. 
  4. Singkirkan segala bentuk gadget, televisi maupun media lain saat melakukan kegiatan diatas.
  5. Saat berkomunikasi dengan bayi, perhatikan bahwa sebelum umur 6 bulan, jarak pandang bayi adalah sekitar 30 cm. Oleh karena itu dekatkan wajah anda 30 cm dari mata bayi saat memanggil atau bermain cilukba dengan bayi.

Dongeng sebelum tidur

Media televisi dan gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika, TANPA melibatkan beberapa eleman penting dalam proses stimulasi, yaitu interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau kemampuan bahasa, motorik dan emosi. 

Banyak orang tua yang membiarkan anaknya terlelap dengan bantuan televisi ataupun gadget. Selain paparan gelombang elektromagnetik dari layar monitor yang kurang baik bagi kesehatan, juga karena media televisi dan gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika, TANPA melibatkan beberapa eleman penting dalam proses stimulasi, yaitu interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau kemampuan bahasa, motoric dan emosi. 

Dongeng sebelum tidur jauh lebih bermanfaat dari pada perangkat digital apapun. Mendongeng bisa menggunakan alat bantu buku-buku yang full colour, boneka tangan atau menegandalkan gaya bertutur, intonasi dan ekspresi wajah.

peran-ayah-parenting-mendongeng

Mendongeng tidak hanya menidurkan tapi juga mengandung berbagai manfaat, antara lain: meningkatkan kemampuan mendengar sekaligus kemampuan verbal anak, menghidupkan daya imajinasi, mengajarkan nilai-nilai kehidupan, meningkatkan kreativitas, meningkatkan kecerdasan emosional, membangun minat baca anak, meningkatkan rasa empati, melatih daya ingat anak, dan memperbaiki kemampuan berkomunikasi. Sebaiknya mendongeng dilakukan oleh ayah sambil memijat lembut bagian tubuh si kecil (kaki, tangan, punggung dll)

Mendongeng tidak hanya menidurkan tapi juga mengandung berbagai manfaat

Antar jemput sekolah.

Mengantar-jemput anak, walaupun membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, namun bisa meningkatkan bonding antara ayah dan anak. Lakukan kegiatan ini walaupun hanya seminggu sekali. Kalau bisa, buatlah jadwal tetap dan kontinu, maka anak akan menantikan saat kebersamaan ini. Pada saat perjalanan dari rumah ke sekolah, ayah bisa bernyanyi bersama dengan bantuan musik di dalam mobil, bisa juga bermain tebak-tebakan, atau sekedar menceritakan pengalaman lucu. Lakukan komunikasi dua arah dan buatlah suasana yang menyenangkan.

Quality Time

Merayakan libur akhir pekan bersama anak-anak merupakan quality time yang selalu dinanti-nantikan oleh seluruh keluarga. Tidak harus dirayakan di luar rumah, kegiatan indoor pun bisa jadi alternatif yang menyenangkan, asal melibatkan anak-anak sejak fase perencanaan. Kegiatan berkebun, memasak bersama, bersepeda keliling perumahan, menonton film anak-anak, jalan-jalan ke mall, makan bersama di restoran, ataupun mengunjungi toko buku, bisa dijadikan pilihan. Libatkan anak sejak dalam proses pemilihan jenis kegiatan, perencanaan, pemilihan tempat hingga membeli bahan-bahan keperluan akhir pekan. Jangan lupa untuk menon-aktifkan gadget Anda sampai anak-anak tertidur pulas.

Ayah dan Ibu: Peran Utama

Peran ayah dalam pengasuhan anak ternyata memegang peran utama bersama-sama dengan sang Bunda. Ayah bukanlah figuran apalagi cameo yang hanya numpang lewat sebagai pelengkap.
Di era yang serba digital seperti sekarang ini, tentu saja gawai dan perangkat elektronik lain yang menyajikan gambar hidup, menjadi tantangan utama, bukan saja terhadap anak, orangtua pun bisa kena dampak negatifnya. Disinilah keteladanan, kedisiplinan dan konsistensi melaksanakan komitmen parenting sangat dibutuhkan. 

Tantangan lain yang dihadapi oleh orangtua terutama ayah adalah bagaimana menciptakan komunikasi yang efektif dengan anak. Setelah sekian jam fokus ke dunia kerja, ditambah dengan perjalanan pulang yang macet dan melelahkan, tentu keluarga mendapatkan waktu "sisa" yang sempit. Disinilah para ayah harus belajar berkomunikasi efektif dengan anak. Tidak mudah bukan?

Mari belajar dan terus belajar tentang parenting, ilmu dan seni pengasuhan anak, yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah maupun kuliah, bahkan di Fakultas Kedokteran sekalipun. Belajar secara otodidak tidak ada salahnya. Belajar dari cara pengasuhan orangtua kita, harus hati-hati, karena situasi dan kondisi jaman kita kecil berbeda dengan era sekarang.

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

40 komentar

  1. Memang tidak ada ayah yang sempurna nggih dokter, butuh belajar dan terus belajar terkait masalah parenting ini, izin meminta saran dokter, bagaimana caranya bila seorang ayah tinggal jauh dari anaknya dikarenakan alasan tuntutan pekerjaan, kiranya hal apa yang bisa dilakukan agar ayah tetap berperan dalam hal pengasuhan anak nggih dokter?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seorang ayah sebaiknya selalu dekat dengan anak secara fisik. Jika karena situasi yang terpaksa, sempatkan untuk komunikasi setiap hari atau beberapa kali sehari melalui sambungan telepon ataupun vidocall

      Hapus
  2. Terimakasih banyak dokter atas ilmu parentingnya. Kemudian izin bertanya dokter untuk pemberian punishment kepada anak itu bagaimana nggih dokter, apakah dibenarkan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaiknya tidak memberikan punisment. Kalo reward atas prestasi yang dibuat anak, boleh. Istilahnya bukan punishment ya, tapi lebih pada "pelanggaran komitmen" yang dibuat oleh kedu belah p[ihak (ortu dan anak)

      Hapus
  3. Masya Allah jatuh cinta sama ilustrasinya.

    Kuat banget dok. Jadi semakin hidup tulisannya
    Aku melow nih kangen abah di rumah.

    Sekaligus bisa merefresh ilmu.

    Hahaha harusnya buat suamiku hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul bunda. Tulisan ini saya persembahkan khusus untuk para ayah... Bisa juga dibagikan ke grup keluarga lo bun

      Hapus
  4. Menarik sekali dokter topiknya, izin bertanya dokter bagaimana cara mendisiplinkan anak tampa memakai kekerasan, dan izin bertanya Sejauh mana/sebatas apa orangtua boleh memberi reward pada anak agar tidak jadi kebiasaan anak melakukan sesuatu atau disiplin karena ada rewardnya nggih dokter? Terimakasih dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya komunikasi yang efektif. Semua harus dikomunikasikan dengan terbuka, diberikan pengertian kenapa haru gosok gigi sebelum tidur (misalnya), kenapa harus bangun pagi untuk sholat subuh berjamaah di masjid dll. Reward diberikan untuk merangsang keaktifan anak. Selama tidak berlebihan dan tidak terus menerus, it's OK

      Hapus
  5. Setuju, peran ayah mendidik anak ga kalah pentingnya, justru lebih penting menurutku..
    Krna anak itu lebih gampang copas sikap dan sifat ayah daripada ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, betul. AYah adalah figur teladan bagi anak. Sementara anak adalah peniru ulung. Kadang ayah tidak menyadari lho... Yuk saling mengingatkan ke pasangan masing2

      Hapus
  6. Ternyata begitu pentingnya ya dok peran ayah yang selama ini hanya dikira sebatas pencari nafkah ternyata tak kalah penting perannya dalam perkembangan si kecil, saya terlintas pertanyaan... menurut dokter sekiranya bagaimana ya dok supaya anak patuh dan bisa mengikuti tuntunan orang tua, karena terkadang banyak sekali contoh di masyarakat orang tuanya sopan santun alim tapi anaknya mungkin kurang begitu meniru kebiasaan baik orang tuanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain keteladanan orang tua, kemampuan orang tua dalam berkomunikasi dan kemudian membangun komitmen bersama anak, juga penting. Terbuka aja sama anak...

      Hapus
  7. Ternyata peran ayah sangat penting dalam mendidik anak, ayah dan ibu mempunyai peran masing masing yang porsinya sama pentingnya, karena tulisan dokter mata saya jadi terbuka peran ayah sangat penting karena sebagai kepala rumah tangga, benar kata orang ayah merupakan cinta pertama untuk anak perempuan yang tidak terganti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget kak. MAkanya buat para jomlowati, jangan salah pilih pasangan ya... buat para jomlowan, mari memperbaiki diri sendiri....

      Hapus
  8. Setuju Pak Dokter, memang peran ayah itu sangat penting , dan peran ayah beserta ibu pun menjadi bentuk yang sempurna dalam membantu tumbuh kembang anak, ah jadi rindu papa saya :'D

    BalasHapus
  9. MasyaAllah ini rimender banget sih, pak. terima kasih sudah berbagi..

    BalasHapus
  10. Sangat menginspirasi dok tulisan nya,
    Dok.ijin bertanya , bagaimana jika ada perbedaan cara mendidik antara ayah dan ibu, misal seperti dalam hal belajar si anak
    Bagaimana solusi ny?

    BalasHapus
  11. Peran kedua orang tua tentu sangat besar dalam pengasuhan anak-anak di rumah..Tak ada ortu yang sempurna memang..tapi begitulah kita semua sebagai ortu tetap berusaha menjadi yang terbaik..Tetap semangattt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget kak. Butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menjadi yang terbaik

      Hapus
  12. Pengasuhan anak yang baik akan berimplikasi positif pula pada keluarga, attachment positif akan terbangun, anak akan meniru orang tua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget kak... Peran KEDUA orang tua sangat besar

      Hapus
  13. Iya ya peran ayah memang begitu penting sepenting peran ibu dalam pengasuhan anak. Saya merasakan sendiri bagaimana peran ayah dulu sangat berpengaruh. Beruntung punya suami yang dekat dengan anak-anak. Alhamdulillah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sini baru saya sadar betapa beratnya tugas seorang ayah... Semangat buat para ayah Indonesia

      Hapus
  14. Bangga nih kalau para suami bisa membaca artikel ini dan bisa mempraktikkan nya.
    Meski ada bunda, peran ayah tentu saja tidak bisa dikesampingkan. Salut dengan ayah yg tidak gengsi mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan para bunda

    BalasHapus
  15. MasyAllah kak tulisannya lengkap sekali. Andaikan semua ayah tipe pembelajar dan mau belajar seprti tulisan kakak di atas pasti banyak para ayah yang jadi cinta pertama bagi anak perempuannya dan belajar menjadi lelaki sejati bagi anak laki lakinya. Oh ya salam kenal ya Kak Taura. Aku baru baca profil kakak. Ternyata kaka dokter anak ya. MasyAllah berkah untuk ilmunya ya Kak

    BalasHapus
  16. Ini nih banyak para ayah yang melupakan tugas tentang pengasuhan anak. Bagi mereka, ayah hanya akan bertugas sebagai pencari nafkah sementara urusan pengasuhan akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu. Padahal ayah juga memiliki porsi pengasuhannya sendiri. Dan harus dilakukan dengan bekerja sama dengan ibu.

    BalasHapus
  17. Menarik banget dokter pembahasannya. Harus dibaca para ayah nih, karena pengasuhan anak memang bukan hanya tugas Ibu. Dan yap, tidak ada ayah yang sempurna, sama seperti Ibu, tidak ada ibu yang sempurna. Tapi tentunya kita selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarga

    BalasHapus
  18. status suami dan ayah itu emang nggak mudah. apalagi pas udah ada anak gimana kita bisa jadi role model buat anak. banyak orang di usia pernikahan lama akhirnya fokusnya ke anak saja bukan pasangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow.... Aku merasa terhormat dapat komen dari suhu... Bloger kondang, langganan juara... Makasih ya kang Deddy. Salam kenal dari saya...

      Hapus
  19. bahkan setelah anak2 saya besar, rasa bersalah karena gak mampu memaksimalkan golden age selalu membututi

    akhirnya saya nyalahin ayah mereka karena gak pernah bantuin. Dia merasa tugasnya cukup cari uang.
    Karena itu jangankan nyuapin (yang butuh kesabaran luar biasa), dongengin anak2, mengganti popok anakpun gak mau bantu. Padahal saya gak punya ART.

    Hehehe.....cari pembenaran, hiks

    BalasHapus
  20. Mengasuh anak itu urusan bersama ya, dok
    Ibu dan ayah sama sama punya peran penting
    Makanya keduanya harus menjalankan peran pengasuhannya
    Semoga makin banyak ayah yang sadar akan peran pengasuhannya

    BalasHapus
  21. Asa takjub eui aya bapak-bapak nulis ginian. Tos dok, kalau bagi saya dan suami, kita tidak bisa menjadi orang tua yang sempurna. Tapi kita bisa banget berjuang menjadi orang tua yang bahagia.

    BalasHapus
  22. Betul banget dokter, saya setuju. Memang tak ada ayah sempurna, ibu yang sempurna pun tak ada, tetapi yang kita butuhkan sebagai orang tua hanyalah berusaha menjadi orang tua yang terbaik untuk anak-anak. Intinya pada kata berusaha, yang berarti adanya keinginan untuk itu.

    BalasHapus
  23. Pagi dokter,setuju banget ayah dan ibu berperan utama dalam membesarkan anak.Saya termasuk yang beruntung dibesarkan oleh kedua orangtua lengkap.Walaupun kadang ibu suka tidak cocok ya dengan ayah yang lebih memberikan kelonggaran dalam disiplin,he...he...he

    BalasHapus
  24. Baca poin antar jemput sekolah, jadi ingat hari ini PTM hari pertama semester dua, anak sulungku - SMA kelas XI- diantar Bapaknya ke sekolah sekalian berangkat ke kantor. Dulu jarang bisa begini karena sekolahnya berlawanan arah sama kantor Bapaknya, kini bisa tiap hari bareng berangkatnya, Alhamdulillah bisa jadi bonding bagi Bapak-Anak sekitar 20 menit tiap pagi.
    Memang tak ada ayah yang sempurna tapi setiap ayah mesti mencoba menjadi sosoknya

    BalasHapus
  25. setuju banget nih Dok, peran Ayah itu juga sama pentingnya dengan Ibu, bahkan Ayah harus memberi contoh yang baik untuk semua anggota keluarga, termasuk Ibu.
    tugas Ayah memang sungguh berat, semangat para Ayah :)

    BalasHapus
  26. Masyaa Allah, saya terenyuh sekali tentang pembahasan sosok ayah ini. Mengingat saya dulu juga ditinggalin sejak belasan tahun yang lalu. Jadi, memang benar-benar beda gitu dengan yang lain. Baik dari segi kepribadian saya dengan yang lainnya di saat masa anak-anak hingga menuju dewasa. Traumanya inikah dok, dengan sosok ayah? Saya harap tidaklah begitu saat ini. Buktinya saya sudah menganggap kalau lelaki itu ada sosok yang baik.

    BalasHapus

  27. Setuju. Meski ayah tak sempurna tapi kehadiran nya penting bagi keluarga. Peran ayah tidak tergantikan.

    BalasHapus
  28. Tumbuh kembang anak selayaknya didamingi kedua ortu ya dokter. Lalu untuk anak yg kebetulan ortunya tidak lengkap apakah akan berpengaruh pada psikologis si anak kelak di masa depan?

    BalasHapus
  29. Setuju nih, peran ayah juga penting dalam pengasuhan, tumbuh kembang anak salayaknya didampingi kedua orangtuanya. Hal itu tugas dan tanggung jawab bersama.

    BalasHapus

Posting Komentar