blog dokter taura big ad

APA SIH BEDANYA VAKSIN “DPT” DENGAN EFEK DEMAM DAN TIDAK?

Demam pasca imunisasi, sering kali menjadi momok bagi para orang tua. Apalagi kalau demamnya tinggi dan bisa berisiko terjadi kejang demam.

Apakah semua imunisasi menyebabkan demam? Mengapa imunisasi DPT sering kali menyebabkan demam? Adakah vaksin DPT yang tidak memberikan efek demam?

Banyak sekali pertanyaan yang timbul terkait efek demam karena imunisasi ini. Demam memang bikin geram. Suhu tubuh si kecil yang meningkat akan berbanding lurus dengan kegalauan orang tua. Obat anti galau memang belum ada ya, tapi setidaknya sekarang sudah ada Blog Dokter Taura yang akan mengurangi kegalauan Anda semua. Simak baik-baik ya…

Sebelum membahas lebih jauh, akan saya share jadwal imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terbaru, tahun 2020.

jadwal-imunisasi-kemenkes-terbaru

Demam Bikin Geram

Demam yang merupakan salah satu KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) sebenarnya bukan suatu kondisi yang perlu ditakuti, tapi harus tetap diwaspadai. 

Dokter biasanya akan memberikan obat untuk mengobati demam pasca-imunisasi. 

Paracetamol merupakan pilihan utama, yang bisa diberikan dalam sediaan syrup ataupun drop (tetes). Obat paracetamol ini diminumkan (ke bayi) hanya jika terjadi demam. Jika tidak demam, tidak usah diberikan, karena paracetamol bukan obat untuk mencegah demam, tapi untuk menurunkan demam.

Selain meminumkan obat paracetamol, lakukan hal-hal seperti ini: 9 Tips Atasi Demam pada Anak
Apakah Semua Vaksin Memberikan Efek Demam
Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh orang tua pasien adalah “Apakah vaksin yang akan disuntikkan menyebabkan demam?”
Hampir semua vaksin menyebabkan demam pasca imunisasi, tinggal seberapa besar kemungkinannya. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain respons imun bayi, dosis vaksin, jadwal dan jenis imunisasinya.

Mengapa Demam?

Vaksin mengandung suatu zat (kuman, toksin kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan) yang merangsang sistem imun untuk memproduksi antibodi yang sifatnya:

  1. Spesifik untuk penyakit menular tertentu
  2. Bertahan untuk jangka waktu lama karena adanya sel memori
Jadi, imunisasi memanfaatkan mekanisme pertahanan alami dari tubuh, untuk membentuk pertahanan spesifik dalam melawan infeksi virus/bakteri penyebab penyakit menular.

Ketika anak mendapatkan suntikan imunisasi, tubuh anak menerima virus/bakteri yang sudah sudah diolah sedemikian rupa sehingga bayi yang menerimanya tidak menderita penyakit tersebut, tetapi respons imunnya terangsang untuk membentuk antibodi.

Antibodi yang terbentuk inilah yang akan memberikan respons dengan cepat terhadap virus/bakteri untuk mencegah penyakit tersebut berkembang.

Pada saat respons imun bayi bekerja membentuk sistem kekebalan baru, hasil dari vaksin yang masuk ke dalam tubuh inilah, menyebabkan suhu tubuh meningkat (demam).

Selain demam, reaksi alami yang ditunjukkan bayi dalam rangkaian pembentukan antibodi adalah nyeri di sekitar tempat suntikan, rasa tidak nyaman yang mengakibatkan bayi menjadi rewel.

Vaksin DTwP versus DTaP

Imunisasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus) yang beredar di Indonesia saat ini ada 2 jenis, yaitu
  1. DTwP
  2. DTap
Yang membedakan keduanya adalah komponen vaksin Pertusis. Pada DTwP, komponen Pertusis nya merupakan “Whole Cell” (Huruf “w” kepanjangan dari whole).

Istilah whole cell artinya, pembuatan vaksin menggunakan seluruh sel kuman Pertusis yang telah dilemahkan. 

Akibatnya, anak berisiko demam mulai demam ringan (sumer) hingga demam tinggi.

Di Indonesia, yang digunakan dalam Program Imunisasi Nasional oleh pemerintah adalah vaksin jenis whole cell buatan PT Bio Farma di Bandung, Jawa Barat, yaitu vaksin PENTABIO.

Vaksin Pentabio merupakan vaksin kombinasi terdiri dari:

  1. DTwP (Difteri Tetanus dan “whole” Pertusis
  2. HiB (Haemophilus influenzae tipe B)
  3. Hepatitis B.
    jadwal-imunisasi-untuk-anak-kurang-dari-satu-tahun

Vaksin DTaP merupakan vaksin yang menggunakan acellular pertussis, maksudnya hanya bagian-bagian tertentu saja dari kuman pertusis yang diambil. 

Huruf “a” kepanjangan dari “acellular”, artinya komponen vaksin pertusis yang digunakan bukan whole cell, namun hanya beberapa bagian dari sel yang diambil. 

Bagian yang dipilih untuk dimasukkan dalam vaksin adalah bagian dari kuman Pertusis yang bersifat antigenic, yaitu bisa merangsang timbulnya antibodi.

Karena jumlah antigennya yang sedikit inilah, maka efek demam pasca imunisasi DTaP ini sangat minim. Tapi tetap mengandung resiko demam, walaupun kecil dan biasanya hanya demam ringan.

Merek vaksin DTaP yang beredar di Indonesia saat ini adalah Infanrix Hexa (produksi GSK; GlaxoSmithKline) dan Hexaxim (produksi Sanofi Pasteur)
Kedua vaksin ini masih impor.

Mengapa Harganya Mahal?

Pertanyaan ini cukup sering ditanyakan oleh orang tua pasien. Sebagai dokter, saya kadang hanya menjawab dengan senyum sembari menggerutu dalam hati: “Maaf ya bu, saya juga kulakan, bukan bikin vaksin sendiri”

Baiklah, karena Blog Dokter Taura adalah blog anti-galau khususnya buat emak-emak yang hobi riting kiri tapi beloknya ke kanan, dalam artikel ini saya akan jelaskan mengapa vaksin DTaP mahal:

Karena komponen Pertusisnya acellular, jadi membuatnya jauh lebih sulit, membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dan biaya produksinya pun jauh lebih tinggi. Selain itu, vaksin DTaP hingga saat ini masih impor.

Profesor dr Kusnandi Rusmil, SpA(K) dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung menjelaskan "Vaksin yang aseluler bikinnya lebih sulit dan mahal,"

Selanjutnya beliau menegaskan bahwa Kemampuan vaksin whole cell maupun aseluler untuk membuat tubuh kebal terhadap penyakit tersebut pun sama baiknya.






DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

37 komentar

  1. Terimakasih banyak dokter atas tambahan ilmu nya hari ini, bahasa artikel nya juga fresh banget dok, bacanya jadi enjoy tapi ilmunya tetap tersampaikan dengan baik, semangat terus dokter blogging-nya! Izin bertanya nih dok, sering saya temui ibu ibu super galau yang ketika anaknya selesai imunisasi, belum panas pun sudah diberikan paracetamol. Nah, padahal sesuai dengan penjelasan dokter kalau paracetamol bukan obat pencegah panas. Kira-kira apakah pemberian paracetamol sebelum anak panas ini memengaruhi proses terbentuknya antibodi dari vaksin yang diberikan atau tidak ya dok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemberian paracetamol tidak berpengaruh terhadap terbentuknya antibodi ya

      Hapus
  2. terima kasih dokter atas ilmunya, ternya ada vaksin yang memiliki sedikit kipi, saya ingin bertanya mengebai efektivitas kedua vaksin tersebut apakah masih sama nggih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak sama persis, tapi keduanya sudah cukup untuk mencegah terjadinya Penyakit menular

      Hapus
  3. Indra Ardiansyah19 Oktober 2021 20.24

    Terima kasih banyak dokter untuk artikel mengenai perbedaan vaksin. Izin bertanya dokter, untuk vaksin DTaP, apakah vaksin tsb memiliki KIPI(mual muntah, reaksi anafilaktik dsb) yg ringan juga dibanding vaksin DTwP ya dok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Pada prinsipnya, tidak ada satu jenis vaksin pun yang bebas KIPI

      Hapus
  4. Terimakasih banyak dokter atas ilmunya, artikel sangat menarik dan bahasa yang digunakan sangat mudah diterima oleh orang awam. Izin bertanya dokter untuk demam pasca kipi biasanya berlangsung berapa lama nggih dokter ? Terimakasih banyak dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demam pasca imunisasi biasanya terjadi 2 x 24 jam

      Hapus
  5. wihh mantan sekali artikelnya pak dokter, terima kasih banyak sudah memberikan pencerahan. bisa untuk bekal anak kedua nih :D
    artikel ini wajib dibaca para orangtua yang mau vaksinkan dpt anaknya, sangat detail informasinya. jazakallahu khoir, dok!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya mbak... Demam pasca imunisasi sering kali menjadi momok buat emak-emak untuk imunisasikan anaknya... Semoga bermanfaat ya

      Hapus
  6. Izin nanya,,, tidak sedikit orang tua yang menolak anaknya divaksin di sekolah, mrk lebih memilih divaksin sendiri ke dokter pribadi,,, apakah beda tingkat efektifnya antara vaksin yang diberikan dari puskesmas secara gratis dgn vaksin yang berbayar di dokter ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya, untuk anak di atas 5 tahun, saya sarankan imunisasi di sekolah.
      Banyak ibu2 yang menolak anaknya divaksin di sekolah, mungkin alasan sugesti aja pak, atau bisa jadi karena gengsi

      Hapus
  7. Insyaallah sama pak. Mungkin sugesti saja penyebabnya. Atau bisa juga (maaf) gengsi. Kalau saya untuk anak2 di atas 5 th, saya anjurkan imunisasi di sekolah. Biar bisa merasakan senasib sepenanggungan dengan teman-teman sekolahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dokter itu disebutkan pentabio di indonesia yang umum digunakan dpt nya menggunakan DPwT, namun apa ada nggih dok pentabio yg DPTnya menggunakan DPaT ? sehingga mengurangi risiko kipi demamnya

      Hapus
    2. Hingga saat ini, belum ada kak...

      Hapus
  8. Dok untuk efikasinya mana yang lebih tinggi ? apakah DTwP atau
    DTap nih?
    seneng nih baca ginian,berasa ngilmu lagi di sekolah aku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini pertanyaannya kayak pertanyaan dosen penguji S2 deh... Ntar ya, cari referensi dulu

      Hapus
  9. jadi lebih memahami ya dok, nggak hanya ikuta protes dengan isu yang belum tentu kebenarannya. blog yang menjadi referensi ketika emak bingung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Blog anti-panik, anti-galau buat emak-emak semuanya

      Hapus
  10. blog Bokter Taura memang ciamik, lengkap dan menenangkan terutama mamah muda yang gampang panik kalau ananda demam. Tambah ngefans nih sama Pak Dokter. Semangat berkarya Dok, demi kesehatan anak Indonesia plus kesehatan mamah juga sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih bunda Dina... Semoga bermanfaat ya artikel2 di Blog Dokter Taura

      Hapus
  11. Oh gitu ya dok, dari anak pertama sampe anak ketiga emang bikin galau sih si DPT ini kalo udah demam, 😆

    BalasHapus
  12. Saya kepo dengan jadwal imunisasi terbarunya nih dok..
    Bedanya apa ya dengan jdwal imunisasi sebelumnya dgn yg baru tahun 2020?

    BalasHapus
  13. Nah, bermanfaat sekali ini dok. Sebagai orang tua tetap hadapi dengan tenang dan tidak panik ya dok saat panas setelah vaksin.

    BalasHapus
  14. penjelasannya masuk dok, jadi tau saya

    ya walopun emak-emak sebagian akan tetap memakai pengingat sederhana,

    pake panas=lebih murah, ga pake panas= lebih mahal, kaya mau pesen kopi ya hehehe
    *ini mungkin yang suka rating kiri belok kanan wkwkwkwk

    BalasHapus
  15. Wah menarik sekali pembahasannya .aku jadi baru ngeh "DTwP" dsn DTaP"


    Jadi mahalnya harga itu untuk membayar efek demam yg ditimbulkan ya..jadi kekhawatiran akan anak rewel pasca imuniasi ini

    Bahasa sederhana orang awam gtu kali ya hehee

    Ehm iya emang kalo impor rerata mihil. Selain karena biaya produksi namun ada tax juga terbebani ke pembeli scara ydk lasg

    Gtu ya

    BalasHapus
  16. Jadi inget jaman awal jadi emak2 kalau di RS ada pilihan DPT demam sama DPT minim demam (bahakn ga demam). Ternyata begini to uraiannya. Makasih dok ;) informatif bgt.

    So far anak2ku pakenya pentabio jadi paska imunisasi deg2an sama kipinya wkwkwk

    BalasHapus
  17. Sangat clear sekali penjelasan nya dokter, sangat membantu sekali buat orang tua yang takut akan vaksinasi putra putri nya karena efek demam.
    Semoga makin banyak orang tua Yang aware terhadap vaksinasi.
    Terimakasih infonya dok
    Sukses selalu dok��

    BalasHapus
  18. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog Dokter Taura. Ditunggu komen2 selanjutnya ya

    BalasHapus
  19. Terimakasih banyak dokter atas ilmunya, artikel yang sangat lengkap dan dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Mohon izin bertanya nggih dokter, jika pada anak sekolah menolak booster vaksin DPT apakah antibodi yang terbentuk saat vaksin ketika balita masih bisa membantu mencegah anak tertulard nggih dokter? 🙏

    BalasHapus
  20. Assalamualaikum wr.wb. dokter. Terima kasih dokter untuk ilmunya. Mohon izin bertanya dokter, jika imunisasi pertama menggunakan vaksin yg DTwP untuk booster selanjutnya apakah boleh menggunakan yang DTaP atau harus selalu DTwP nggih dokter?

    BalasHapus
  21. Alhamdulillah terimakasih banyak ilmunya dokter, menambah wawasan di pagi yang sejuk ini, mohon izin bertanya dokter mengenai efek nyeri pada tempat suntikan yang menyebabkan bayi / anak rewel bagaimana cara mengatasinya nggih dokter? terimakasih banyak dokter

    BalasHapus
  22. Terimakasih banyak dokter atas informasinya yang sangat bermanfaat dan menambah wawasan kami

    BalasHapus
  23. terimakasih banyak dokter atas tambahan ilmunya, yang ingin saya tanyakan dokter, mungkin lebih secara umum kepada kalayak masyarakat umum yang masih tidak minat untuk anaknya divaksin terlebih vaksin DPT, mungkin karna perspektif mereka kok malah bikin demam dan lain sebagainya buat efek samping, edukasi yang tepat bagaimana nggih dokter untuk meyakinkan

    BalasHapus
  24. Terima kasih banyak atas penjelasan tambahan ilmunya nggih dokter. Informasi ini menjadi jawaban sekaligus pertimbangan dan edukasi kepada orang tua untuk mempertimbangkan pemilihan vaksin untuk buah hati. Tapi perlu diingat juga nggih dokter untuk para orang tua bahwa tidak ada vaksin yang 100 persen bebas KIPI.

    BalasHapus
  25. Terima kasih atas penjelasan yang sangat informatif ini nggih dokter. Dari sini dapat dipahami bedanya antara vaksin DPT dengan panas dan tanpa panas. Namun sesungguhnya tidak ada satu jenis vaksin pun yang bebas KIPI nggih dokter.

    BalasHapus
  26. Alhamdulillah terima kasih banyak dokter atas ilmunya, izin bertanya nggih dokter, untuk nyeri di sekitar tempat suntikan sehingga menyebabkan rasa tidak nyaman yang mengakibatkan bayi menjadi rewel apakah bisa dilakukan pengompresan dingin nggih dokter? sekiranya bisa dikompres berapa lama dan berpa kali nggih dokter?

    BalasHapus

Posting Komentar