blog dokter taura big ad

“PHUBBING”: YAKIN, KAMU TIDAK PERNAH TERJEBAK DALAM FENOMENA INI?

Pernahkan Anda merasa tidak dihiraukan oleh lawan bicara Anda, gegara terlalu sibuk dengan gawainya?

Atau pernahkah Anda (tanpa disadari) tiap beberapa menit mengecek notifikasi walaupun tidak ada sesuatu hal yang penting?

Kalau pernah, berarti Anda sudah terjebak dengan fenomena “Phubbing” 
apa-itu-phubbing?

Apa itu phubbing? Bahayakah buat kehidupan sosial kita? Bisakah anak-anak terjebak dalam fenomena ini? Bagaimana tips keluar dari jeratan phubbing?

Tenang, sebentar lagi Blog Dokter Taura akan mengupas tuntas fenomena phubbing dan dampaknya bagi tumbuh kembang anak.

Dari “Kring” jadi Phubbing

Phubbing adalah tindakan acuh seseorang dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gawai ketimbang berinteraksi atau melakukan percakapan langsung dengan orang lain. Phubbing merupakan gabungan dari 2 kata berbahasa Inggris, yaitu “Phone” dan “Snubbing”. Snubbing sendiri menurut Kamus Besar Inggris Indonesia bermakna “mencerca”

Istilah "phubbing" pertama kali dikenalkan oleh agensi periklanan McCann lalu ramai dibahas media di seluruh dunia hingga akhirnya resmi terdaftar dalam kamus Macquarie.

Orang yang terjebak fenomena phubbing, biasa disebut dengan “phubber”

Istilah phubbing ini harus dibedakan dengan istilah “Ketegantungan Gawai”, yaitu kondisi dimana orang menghabiskan waktu yang berlebihan untuk menggunakan gawai.

Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Phubbing

Devey dkk (2018) melakukan riset terhadap remaja tentang faktor yang mempengaruhi terjadinya phubbing. Didapatkan hasil sebagai berikut:

  1. Kecanduan gawai
  2. Kecanduan internet
  3. Takut ketinggalan informasi
  4. Kurangnya kontrol diri

Beberapa mahasiswa Universitas Indonesia melakukan penelitian tentang penyebab dan dampak phubbing.

Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa penyebab phubbing adalah:

  1. Pemenuhan kebtuhan sosial, dimana banyak orang merasa takut ketinggalan informasi sehingga akan mengurangi rasa percaya diri
  2. Pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri, termasuk untuk update status, untuk kepeerluan bisnis online, untuk mendengarkan musik, menonton film, main game dan lain-lain dimana aktivitas ini memberikan rasa senang dan Bahagia
  3. Pengaruh lingkungan: Penggunaan gawai yang terus menerus bahkan saat individu berada dalam keramaian seperti berkumpul bersama teman atau keluarga dianggap telah menjadi hal biasa yang wajar dilakukan. Beberapa orang menganggap lingkungan teman dan keluarga yang fokus terhadap gawai justru mendorong semua orang dalam situasi tersebut ikut fokus terhadap gawai juga

Dampak Phubbing pada Tumbuh Kembang Anak

Liu dkk (2019) melakukan penelitian terhadap orang tua yang terjebak dalam fenomena phubbing terhadap perkembangan anak.

Didapatkan hasil bahwa:

Semakin sering anak menyaksikan orang tuanya menjadi phubber, semakin tinggi ketergantungan anak terhadap gawai. Perilaku phubbing yang dilakukan orang tua akan dijadikan contoh oleh anak-anaknya. Mereka akan cenderung mengembangkan perilaku phubbing ke dalam aktivitas sehari-hari.

Jadi, anak-anak bisa terjebak dalam fenomena phubbing, yang disebabkan karena mencontoh perilaku orang tuanya

Perilaku phubbing pada orang tua, dimana anak menjadi korban (anak tidak dihiraukan karena orang tua lebih fokus ke gawainya) tidak boleh dibiarkan, karena bisa mengganggu perkembangannya.

Terdapat 2 kemungkinan akibat dari anak yang menjadi korban phubbing (phubbed):

Anak merasa perannya dikucilkan dan diabaikan, sehingga si anak akan cenderung bertindak lebih aktif dengan 'menganggu' orang tuanya untuk mencari perhatian. Pada kondisi ini, biasanya reaksi orang tua adalah memberikan gawai ke anak sehingga anak menjadi lebih tenang. 

Ini merupakan tindakan yang tidak benar karena dapat menginisiasi perilaku phubbing pada anak secara dini.

Anak akan memiliki perilaku yang buruk dimana mereka hanya akan terfokus pada gawai dan tidak menghiraukan lingkungan sekitar bahkan nantinya akan jatuh ke arah adiksi gawai, yang akhirnya menjadi pemarah ketika mereka tidak mendapatkan hal tersebut.

Kemungkinan kedua adalah anak bertindak pasif dengan bersikap acuh dan mencari perhatian lain diluar.

Pada anak tipe ini, kelak membuat dia tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh orang tuanya dan cenderung marah jika dilarang untuk melakukan sesuatu yang tidak baik.

tips-cegah-anak-adiksi-gawai

Tips Cegah Anak Terhindar dari Fenomena Phubbing

Stop phubbing pada anak, generasi penerus kita, generasi penggerak peradaban ummat. Berubah menjadi lebih baik dan dimulai dari diri diri sendiri adalah kunci. 

Menbiarkan anak asyik bermain gawai hingga tidak menghiraukan sekitarnya adalah suatu kebodohan. Membangun kembali komunikasi secara langsung baik secara verbal maupun sentuhan fisik bisa menjadi gerakan pembaharu agar tehindar dari fenomena phubbing. Mari menciptakan quality time bersama anak tanpa gawai. 

Anak adalah Peniru Ulung

Jadilah orang tua sebagai teladan bagi anak sendiri. Jika orang tua masih terlilit fenomena phubbing, maka anak akan sulit menerima larangan yang kita berlakukan. Tanya pada diri sendiri “Apakah saya sudah memberikan contoh yang benar di hadapan anak?” 

Jangan berikan standar ganda pada anak, seperti melarang bermain gawai ketika diajak berbicara, sedangkan kita sebagai orang tua sering tidak menghiraukan saat ada yang berbicara dengan kita, hanya demi mencermati apa yang tertera dalam layar gawai.

Saat-Saat Penting, Saat Bebas Gawai

Berikan larangan penggunaan gawai pada waktu-waktu penting seperti saat makan bersama atau duduk bersama keluarga. 

Batasan-batasan tersebut bisa berupa pengumpulan gawai kedalam satu kotak selama waktu yang ditentukan bersama, kemudian diserahkan kembali kepada anak kita setelah waktu tersebut selesai.

Interaksi secara langsung

Sering-seringlah mengajak anak berkomunikasi secara verbal dan bersentuhan langsung secara fisik dalam keseharian. Ajak anak sholat berjamaah ke masjid dan ajaklah mengobrol sepanjang perjalanan pulang-pergi ke masjid. 

Mendongeng saat menjelang tidur sembari memijat bagian tertentu di wajah dan tubuhnya akan mempererat bonding

Mengantar jemput anak ke sekolah juga bisa menjadi cara meningkatkan kedekatan dengan anak. Yakilah bahwa selalu ada cerita baru yang menakjubkan tiap kali anak pulang dari sekolah. Dan cerita itu bisa menjadi bahan dongeng sebelum tidur

Phubbing: Aku tak Sendiri

Selain fenomena phubbing, ada 3 efek negatif dari akibat adiksi gawai pada anak dan remaja, yaitu:

gawai-itu-berbahaya-bagi-anak

Nomophobia

Adalah kondisi dimana anak merasa takut jika tidak ada gawai di tangannya atau merasa cemas karena tidak memiliki koneksi seluler.

Text Claw

Adalah suatu kondisi dimana anak mengeluh jemarinya kram atau sakit karena terlalu sering mengirim pesan teks, menggulir, dan bermain game di gawai

Computer Vision Syndrome

Adalah sekumpulan gejala pada mata dan leher yang timbul akibat penggunaan komputer dalam waktu lama. Semakin lama menggunakan komputer maka akan semakin meningkat rasa ketidaknyamanan pada mata.


Referensi 

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

74 komentar

  1. Artikel ny sangat bagus dokter, jadi nambah ilmu dan informasi terimakasih, ditunggu tulisan dokter selanjut nya, sukses selalu dok.

    BalasHapus
  2. Sangat realistis dengan situasi saat ini dok.
    Sebagai self remaider juga ini dok..
    Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Self reminder juga buat aku. Pusing sudah jadi budaya dimana-mana, hiks

      Hapus
  3. bagus banget dokter artikelnya, mengungkit femomena yang terjadi di masyarakat saat ini, jadi nambah ilmu dan informasi terimakasih dokter, ditunggu tulisan dokter selanjut nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga tulisannya bermanfaat ya

      Hapus
  4. Pembahasan yang sangat cocok dengan kondisi saat ini, apalagi dimasa pandemi dan pembelajaran online. Bener bener ngerasa banget yang namanya nomophobia dokter. Izin bertanya juga dokter, apabila sudah ada efek adiksi bagaimana nggih dokter untuk penangannya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk baca disini Tips atasi kecanduan gadget: https://www.doktertaura.com/2021/06/gawai-itu-candu-begini-cara-mengatasinya.html

      Hapus
  5. artikelnya bagus dokter, sesuai dengan realitas saat ini dimana orang tua cenderung memberikan gawai untuk anak2 bahkan sejak balita karena merasa lebih nyaman ketika anaknya tidak rewel setelah main hp, fenomena tersebut tentu kelak dapat berdampak kurang baik terhadap anak tersebut sesuai dengan yg disampaikan di artikel ini, selanjutnya yg ingin saya tanyakan di umur berapakah sebaiknya anak dikenalkan dengan gawai dan diberikan kewenangan untuk menggunakannya dikarenakan tidak bisa dipungkiri di era teknologi seperti sekarang hampir semua aktifitas bersinggungan dengan gadget... terimakasih banyak dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelum era pandemi, masalah ini sudah jadi issue. Banyak ahli mengatakan bahwa anak boleh dikenalkan dengan gadget saat dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi era pandemi sudah mengubah banyak aspek. Kita tunggu rekomendasi dari para ahli ya

      Hapus
  6. Assalamualaikum Wr.Wb dokter. Terima kasih dokter ilmunya, bermanfaat sekali dan sesuai dengan fenomen yang sedang ramai terjadi. Mohon izin bertanya dokter, pada kondisi orang tua yang bekerja tak kenal waktu dan pekerjaannya bergantung pada gadgetnya. Kapan waktu yang tepat untuk orangtua menjelaskan kepada anaknya terkait kondisi tersebut?

    BalasHapus
  7. Informasi yang sangat bermanfaat dokter, izin bertanya dokter, bagaimana cara mengatasi anak yang sudah sampai mengalami text claw nggih dokter? Terima kasih dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada prinsipnya, kalo sudah terjadi "text claw" (next, akan kita bahas masalah ini ya di Blog Dokter Taura)< sudah tercadi adiksi. Begini cara mengatasinya:
      https://www.doktertaura.com/2021/06/gawai-itu-candu-begini-cara-mengatasinya.html

      Hapus
  8. Indra Ardiansyah23 Oktober 2021 20.16

    Bagus sekali dokter artikelnya, saya merasa relate sama fenomena ini. Tanpa kita sadari, kita sdh terjangkit phubbing ini. Izin bertanya dokter, phubbing ini apakah sudah termasuk penyakit/sindrom sehingga butuh tenaga ahli seperti psikolog atau psikiater buat menanganinya ya dok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, kalau sudah sampai taraf kecanduan atau adiksi, sudah sampai mengganggu kenyamanan orang-orang disekitarnya ataupun terjadi penelantaran diri sendiri, harus segera ke psikiater. Yuk baca artikel yang relate dengan pertanyaanmu, hanya disini: https://www.doktertaura.com/2021/06/gawai-itu-candu-begini-cara-mengatasinya.html

      Hapus
  9. Terimakasih banyak dokter, tulisan di blog dokter memang top dan selalu up to date, menambah ilmu parenting khususnya untuk orangtua dan calon orangtua ya dok. Izin bertanya dokter, saya pernah mendengar tentang penerapan "screen time" pada saat anak diberikan gadget, nah sebetulnya apakah "screen time" ini bermanfaat untuk mencegah phubbing pada anak dan berapa idealnya "screen time" anak dalam sehari ya dok?

    BalasHapus
  10. Artikel yang sangat menarik dan bagus dokter. Terimakasih ilmu barunya dokter. Izin bertanya dokter, disaat pandemi seperti ini, orang tua lebih sering bekerja dirumah dan terkadang anak merasa terabaikan dan hiperaktif atau bahkan sudah addikasi gawai. sudah seperti itu bagaimana caranya nggih dokter yang harus dilakukan orang tuanya? Dan bagaimana orang tua ttp dapat bekerja tanpa anak merasa terbaikan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak cara yang bisa dilakukan agar orang tua bisa bekerja dengan baik di rumah tanpa harus mengabaikan pengasuhan anak. BAgaimana cara atasi kecanduan gadget pada anak? simak yuk disini: https://www.doktertaura.com/2021/06/gawai-itu-candu-begini-cara-mengatasinya.html

      Hapus
  11. Artikel yang sangat bermanfaat dokter. Dari sini dapat diidentifikasi bahwa ternyata hal yang saat ini dianggap biasa ternyata merupakan sesuatu yang bisa berdampak bagi anak kedepannya. Izin share ke grup sekitar nggih dokter.
    Izin bertanya juga dokter, apakah phubbing berhubungan dengan keterlambatan bicara pada anak nggih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan share ke grup sebelah. SEmoga bermanfaat ya. Gadget bukanlah alat stimulasi yang ideal buat bayi/anak karena tidak melibatkan beberapa unsur penting keterlibatan motorik kasar dan interaksi dengan orang lain. Terlalu asyik dengan gadget bisa menyebabkan speech delay... Yuk baca artikel ini: https://www.doktertaura.com/2021/06/ini-dia-12-tips-cegah-anak-kecanduan.html

      Hapus
  12. materinya relate dengan fenomena era sekarang dokter keren, terimakasih nggih dok serasa belajar parenting setiap baca blog dokter taura selalu disisipkan tips pemecahan problemnya 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fenomena zaman sekarang yang dampak negatipnya bisa kita panen beberapa dekade mendatang. Terima kasih sudah berkunjung ke Blog Dokter TAura

      Hapus
  13. artikel yang sangat bagus untuk dibaca oleh anak muda calon orang tua maupun orang dewasa yang sudah menjadi orang tua agar tidak terlena dengan kecanggihan tekhnologi sekarang, yang justru malah bisa menimbulkan efek negatif dikemudian hari. dan cocok juga dijadikan materi refleksi diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terina kasih sudah berkunjung ke Blog Dokter Taura. Ditunggu komen positipnya di next artikel ya...

      Hapus
  14. Dari materi kali saya belajar bahwa orang tua benar2 merupakan cermin bagi anaknya. Menjadi orangtua yang baik memang banyak ilmu yang harus dipelajari.
    Terimakasih banyak dokter atas ilmunya 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teladan yang baik itu jauh lebih berharga dari pada 1000 nasihat

      Hapus
  15. pembahasan kali ini sangat menarik, dan menjadi perhatian khusus buat orang tua, terhadap anak didiknya, terlebih cara berkomunikasi yang benar tanpa terus ketergantungan dengan gadget atau laptop dari waktu ke waktu, yang ingin saya tanyakan, kadang susah dokter, semua dokumen pekerjaan di laptop atau gadget, saat bareng anak atau komunikasi dengan anak masih kadang belum bisa memberi contoh, tips untuk pelan2 supaya bisa rileks, dengen kesemua waktu saya untuk anak didik saya bagaimana nggih dokter

    BalasHapus
  16. Terimakasih banyak dokter atas ilmunya sangat bermanfaat sekali terutama untuk calon orang tua. Izin bertanya dokter terkait penggunaan gadget pada anak SD yang saat ini pelajar sudah mulai banyak dilakukan lewat gadget bagaimana cara mengatur penggunaan gadget pada anak agar tidak mengalami phubbing nggih dokter ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, baca disini: https://www.doktertaura.com/2021/06/gawai-itu-candu-begini-cara-mengatasinya.html

      Hapus
  17. Ilmunya sangat bermanfaat dokter untuk calon orang tua terkadang agar anak diam diberi gawai, lalu anak terjebak dalam fenomena phubbing. Dan memang anak peniru ulung yang akan meniru apa yang orang tuanya lakukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pelajaran buat para calon ibu dan calon ayah: gawai hanya alat bantu untuk memudahkan pekerjaan manusia. Selebihnya jangan tergantung dengannya.

      Hapus
  18. Related banget sama kehidupan anak-anak jaman sekarang, Dok. Setuju banget semua efek dari phubing ini. Duh memang ya harus berjabat tangan erat buat menyelamatkan anak-anak terutama yang masih muda biar nggak terlanjur kecanduan gadget dan berujung sakit :/ terima kasih sharingnya Dok :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya kak sudah berkunjung ke blog dokter Taura yang cupu ini. Phubbing memang membawa dampak negatip yang luar biasa, terutama bagi tumbuh kembang anak. Yuk, kita basmi bersama.

      Hapus
  19. Nah, perlu jadi perhatian bersama kondisi ini. Selain merubah cara hidup, juga berdampak tidak baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget Pak Gik. Harus bijak dalam bergawai...

      Hapus
  20. ini yang sering kulihat di beberapa keadaan dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang aku pun juga pernah melakukan phubbing ini. Dokter juga kah wkwkwk??
    Beruntung anak-anakku lebih suka 'beberes rumah' dibandingin mainan gawai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya? Terjebak phubbing? Ya enggak lah... Enggak salah maksudku, hihihi... Kadang suka cuek kalau pas balas konsulan dari RS...

      Hapus
    2. Hahaha

      Untung udah baca artikel ini, jadi makin sadar. Kapok deh. Sekarang belajar memanajemen gadget buat duri sendiri saya, Dok.

      Hapus
  21. Fakta !! Mudah sekali nyari org orang yg berprilaku phubbing, tinggal balik lagi ke kita, seberapa besar niat kita untuk mengurangi ketergantungan pada gawai dan phubbing.

    Nomophobia...? Pernah sih ... He he

    BalasHapus
  22. Ini akibat si ortu yang kecanduan gadget. Ada beberapa kali memang Bunda melihat anak yang di abaikan karena ortu nya asyik sendiri dengan gawai, padahal sedang berlangsung acara keluarga. Alih-alih mendengar apa yang di tanya atau kata ananda, ech anaknya malah kena bentak karena dianggap mengganggu konsetrasi. Walhasil, si anak melakukan hal yang sama pada adiknya. Ada juga kejadian yg sama antara duani istri, dimana istri hanya dibelikan HP jadul tanpa internet, dengan alasan nanti istrinya ke asyikan bermedsos, padahal sang suami malah yang sering kebablasan. Akhirnya istrinya malah stress karena selalu merasa di abaikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. HArus bijak dalam bergawai ya bunda... Jangan sampai ada pihak yang merasa tersingkirkan...

      Hapus
  23. Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Kalau orang tuanya saja sudah tak bisa lepas dari gawai, bagaimana dengan nasib sang anak. Astagfirullah, terima kasih dok untuk ulasannya untuk remainding ke saya sebagai orang tua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Pak, reminder juga buat saya... Phubbing memang sungguh menggoda namun juga menyiksa

      Hapus
  24. Sering liat fenomena phubbing ke anak, sedih sih.. smoga makin byk ortu yg bijak dalam penggunaan gadget ya Dok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak Iva atas kunjungan dan komennya. Yuk share artikel ini di grup emak-emak

      Hapus
    2. Sama2 Pak Dokter,
      Terima kasih atas kepercayaan jasa share artikelnya kepada saya ya pak, xixixixi

      Hapus
  25. masya allah lengkap sekaligus dengan sumbernya makin keren inforgarfisnya juga. aku jadi merasa bersalah nih meski tidak acuh sih, melainkan ijin dulu ke anak kalo lagi ngerjains esuatu di hp apa ini masuk phubbing yak hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekali-kali tanyakan ke suami dan anak, pernah gak terganggu dengan aktivitas Anda dalam bergawai. Kalau iya, berarti perlu dikurangi aktivitas gawainya

      Hapus
  26. kebetulan kami sudah sepakat untuk tidak menggunakan gawai di depan anak dok, salah satu yang memang sangat terlihat adalah dia juga tidak terbiasa dengan gawai. benar sekali, anak adalah peniru dan orang tua adalah teladan

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebuah keteladanan jauh lebih baik dari pada 1000 nasehat. Betul gak kak?

      Hapus
  27. wah, baru tahu istilah ini pak dokter. tapi emang sekarang fenomenanya gini ya dok. bahkan biar bisa sama-sama anteng, si anak pun di beri gadget. nice artikel, dok! jadi reminder diri sendiri.. thank you.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya aku pun baru tahu istilah ini mbak, dan meski sudah ijin buat makai gadget buat nulis gtu tapi rasanya ada perasaan bersalah saat anak main sendiri

      iya artikel ini reminder banget dah

      Hapus
    2. Tuh kan, menjadi ibu bergawai itu susah. Harus tetap menomersatukan suami, harus tetap bisa jadi madrasah pertama bagi anak-anak. Urusan blog dan endorse, nomer sekian... Hayuk tobat tobat.... hihihihi... #justakidding

      Hapus
  28. Iya nih suka sebel kalau dicuekin gara-gara gadget padahal aku sendiri juga melakukannya. Duh :")

    Makasih udah nulis tentang phubbing dok, jadi tau istilah ini hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak Zakia atas kunjungannya ke Blog cupu ini... Ditunggu masukannya ya

      Hapus
  29. Apalagi kalau anaknya lelaki, waduh....kalau sudah depan gadget, nggak bisa kalau hanya disentuh. Harus dikeplak dikit...heheheh

    Infonya berguna banget nih dok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak lelaki biasanya suka main game, bunda. HArus lebih aware lo. Kecanduan game jauh lebih bahaya

      Hapus
  30. Dok kayaknya aku kena phubbing deh, soalnya suka cek gawai padahal gak ada apa2 hihi...
    Tapi kalau udah sibuk yang lainnya gak fokus ke gawai sih. Perlu perbanyak aktivitas nih hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekali-kali tanyakan ke orang-orang terdekat, pernah gak terganggu dengan aktivitas Anda dalam bergawai. Kalau iya, berarti perlu dikurangi aktivitas gawainya

      Hapus
  31. Tulisan yang selalu ku tunggu²
    Makasih ya dok ilmunya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak, sudah berkunjung ke Blog Dokter TAura...

      Hapus
  32. Blogpost pak dokter selalu manfaat nih, apalagi bijak digital ini harus benar-benar ditanamkan pada anak. Hanya alat yang harusnya bermanfaat dan meminimalisir dampak negatifnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju bunda... Bijak digital harus ditanamkan sejak dini. Keteladanan dari ortu adalah koentji

      Hapus
  33. Bener sekali ya dokter... Ngeri banget deh akibat dari gawai ini.. terimakasih atas ilmunya dokter..

    BalasHapus
  34. Duh, serasa diingatkan kembali.. Sring kali kita lupa karna terlalu sibuk dgn urusan kita sendiri :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Reminder juga buat penulis. Termasuk juga saat reply komen ini juga menggunakan gawai....

      Hapus
  35. dok, kalau kasusku malah aku nih sbg ortu yg phubbing. sedih deh pengen bgt break dr dunia maya.

    BalasHapus
  36. aku tertohok dok, masih PR banget banget belum bisa membagi waktu antara gawai dan kebutuhan anak. kadang suka gak sadar kalau anak lagi nungguin ibunya lepas gawai

    BalasHapus
  37. Hehehe fenomena ini bukan hanya pada anak dok, tp pada yang dewasa juga iya. Fenomena seperti ini terjadi pada anak-anak, akan membuat anak terlihat apatis ya dok...Acuh pada lingkungan sekitarnya. Apalagi jika ternyata lingkungan anak itu sendiri saling acuh. Hal tersebut mungkin akan menyebabkan anak tidak menghirauan orang tua, tidak peduli pada lingkungan sekitarnya.
    Terima kasih banyak dokter untuk tulisannya mengenai phubbing. Informasi yang sangat penting, sesuai dengan real life.

    BalasHapus
  38. Terima kasih banyak dokter atas informasinya, dunia digital memang sangat berpengaruh belakangan ini apalagi 2 tahun terakhir pada saat pandemi, pelajar, orang kantoran semua tidak jauh dari gadget termasuk anak anak. Fenomena ini memang sangat nyata adanya akibat dari penggunaan media online untuk sekolah, hali berpengaruh sehingga anak banyak alasan untuk bermain gadget, nah sehingga terkadang fenomena phubbing ini menjadi persoalan orang tua. Oleh karena itu kita harus pintar pintar dalam memanajemen anak untuk membatasi penggunaan gadget agar komunikasi yang baik tetap berjalan, tetap menghiraukan sekitar dan anak juga tidak kcanduan terhadap gadget. Terimakasih dokter atas informasi yang menarik ini.

    BalasHapus
  39. Informasu yang sangat relate dokter, benar adanya.
    Saya sangat setuju dengan kalimat panjenengan "sering-seringlah mengajak anak berkomunikasi secara verbal dan bersentuhan langsung secara fisik dalam keseharian. Ajak anak sholat berjamaah ke masjid dan ajaklah mengobrol sepanjang perjalanan pulang-pergi ke masjid" efek yang dihasilkan dari cara tersebut akan mudah tampak pada sifat dan perilaku anak. Selain itu, sesuai dengan penjelasan dokter bahwa orang tua jangan sampai terjerumus pada fenomena phubbing sehingga dapat mempengaruhi anak-anakya juga.

    BalasHapus
  40. Betul sekali dokter, beberapa kali saya melihat orang tua yang terlalu fokus pada gadget nya dan terkadang mengabaikan atau merespon anak seadanya. Sering kali orang tua memberikan gadget juga agar anak anteng atau lebih tenang. Padahal banyak dampak negatif akibat kecanduan gadget, seperti phubbing, text claw, nomophobia, comptuer vision syndrome. Terima kasih banyak dokter untuk informasinya.

    BalasHapus

Posting Komentar