blog dokter taura big ad

PROSEDUR PEMBERIAN IMUNISASI

Lagi-lagi pandemi Covid-19 mengharuskan beberapa acara ilmiah tahunan yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dilakukan secara daring. Salah satunya adalah Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA) XVIII yang doselenggarakan di Medan pada tanggal 15-19 Oktober 2021.

Meskipun digelar secara daring, namun tidak sedikitpun mengurangi kualitas dari materi kongres. Materi yang matang, dibawakan oleh para guru besar dan para dosen pengajar yang expert dibidangnya, ditambah panitia yang profesional, membuat acara kongres yang bertema "Children's Health is the Greatest Wealth" terselenggara dengan sukses.

Salah satu rangkaian acara ilmiah yang saya ikuti adalah workshop tentang Imunisasi. Salah satu materi yang sangat menarik dan sangat aplikatif adalah “Prosedur Pemberian Imunisasi”

Pemberian vaksin secara benar sangat penting untuk dilakukan demi mencapai potensi vaksin yang optimal dan mencegah terjadinya KIPI (Kejadian Ikutan Pasca  imunisasi) 

1. Highlight Materi workshop

Topik pembahasan pada workshop ini meliputi persiapan sebelum vaksinasi, proses vaksinasi , dan pasca pemberian vaksinasi. Persiapan sebelum vaksinasi dimulai dari mempersiapkan alat, vaksin dan pelarutnya.

Persiapan:

  1. Vaksin dan obat/alat untuk mengatasi gawat darurat
  2. Pasien
  3. Informasi vaksin untuk orang tua (IVO)

Pemberian vaksin:

  1. Pencegahan Infeksi
  2. Dosis dan cara melarutkan
  3. Rute (cara) dan tempat pemberian vaksin
  4. Posisi pasien dan cara mengurangi sakit

Setelah Pemberian Vaksin:

  1. Monitor KIPI (Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi)
  2. Pembuangan sisa alat dan vaksin
  3. Pencatatan dan pelaporan

2. Persiapan

Langkah-langkah persiapannya adalah sebagai berikut 

  1. Pastikan vaksin dan pelarut yang akan diberikan sesuai dan vaksin dalam kondisi baik. 
  2. Cara memastikan vaksin dalam kondisi baik ialah bisa dilihat dari VVM (vaksin vial monitor)
  3. Pastikan vaksin dan pelarut bersumber dari produsen atau pabrik yang sama (merk yang sama).
  4. Selanjutnya, siapkan spuit berbagai ukuran sesuai dengan jenis vaksin. Spuit 0,05mL untuk imunisasi BCG, spuit 3mL untuk imunisasi lainnya, dan spuit 5mL untuk melarutkan vaksin.
  5. Siapkan alat dan bahan lainnya 

Bagaimana cara memastikan apakah vaksin yang akan diberikan dalam kondisi baik?

vvm-vaccine-vial-monitor

Lihat lambang bulat dan kotak pada vial vaksin yang akan digunakan. Jika kotak lebih terang daripada lingkaran, maka kondisi vaksin masih bagus dan siap digunakan. Kemudian jika kotak mulai menggelap tetapi masih lebih terang dibandingkan lingkaran, kondisi vaksin belum kadaluarsa tapi sangat dianjurkan untuk segera digunakan. Jika kotak dan lingkaran memiliki warna yang sama, maka tandanya vaksin jangan digunakan dan segera lapor. 

Terakhir, jika kondisi kotak lebih gelap daripada lingkarang disekitarnya, maka vaksin sudah kadaluarsa, jangan digunakan dan segera lapor kebagian vaksin.

  1. Alat dan bahan yang harus disiapkan sebelum imunisasi, antara lain:
  2. Kapas dan plester hipoalergik
  3. Alcohol swab
  4. Kapas DTT
  5. Bak tempat suntikan
  6. Handscoen steril
  7. Safety box
  8. Tempat sampah medis dan non medis
  9. Emergency kit : adrenalin, dexametason, diphenhidramin, spuit berbagai ukuran, tabung oksigen, cairan kristaloid, infus set

Pada masa pandemi seperti ini selain mempersiapkan alat, bahan, vaksin dan pelarutnya, tetapi juga harus mempersiapkan dari fasilitas sarana dan prasarana tempat vaksinasinya.

2.1. Persiapan Ruangan

Persiapan ruangan dimasa pandemi mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu

    • Pencegahan transmisi virus Covid-19
    • Memisahkan anak yang akan diimunisasi dengan kunjungan anak sakit
    • Menerapkan physical distancing
    • Pengantar dan anak >2 tahun menggunakan masker
    • Melakukan skrining awal sebelum vaksinasi

2.2. Persiapan Petugas Vaksin

Berikut adalah persiapan petugas vaksin:

    • Petugas menggunakan APD (masker bedah, gown, penutup kepala, faceshild)
    • Cuci tangan dengan 6 langkah yang benar
    • Penggunaan sarung tangan tidak wajib dalam pemberian imunisasi, kecuali pemberian vaksin secara oral atau ada lesi pada tangan pasien.

 Penggunaan sarung tangan tidak wajib dalam pemberian imunisasi

Prinsip pemberian obat secara benar adalah sebagai berikut:

  • Benar pasien (right patient)
  • Benar vaksin (right vaccines)
  • Benar waktu (right time)
  • Benar dosis (right dosage)
  • Benar rute (right manner/ route)
  • Benar dokumentasi (right documentation)

2.3.  Persiapan Pasien 

Persiapan pasien meliputi meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik

2.3.1. Anamnesis

Anamnesis ini bertujuan untuk mengomunikasikan mengenai vaksin yang akan diberikan kepada pasien agar tidak ada keraguan dari pasien. 

Beberapa hal yang harus ditanyakan dalam anamnesis adalah sebagai berikut :

  • Identitas (nama dan umur pasien)
  • Jarak dengan vaksinasi sebelumnya
  • Riwayat KIPI, indikasi kontra, dan perhatian khusus
  • Memberi penjelasan/ informasi vaksin untuk orangtua (IVO) : vaksin yang diberikan, manfaat, kemungkinan efek samping/ KIPI
  • Jadwal imunisasi selanjutnya
  • Asuhan pediatrik umum : nutrisi, pertumbuhan, dan perkembangan

2.3.2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik ini bertujuan untuk memastikan anak dalam kondisi sehat, tidak ada kontra indikasi dan menentukan lokasi yang tepat untuk penyuntikkan vaksin.

2.4. Persiapan vaksin

Beberapa hal yang harus dilkaukan terkait persiapan vaksin adalah:

  • Penyimpanan vaksin : simpan dalam suhu 2-8 C
  • Memilih jenis vaksin dan pelarut yang akan digunakan (nama vaksin, tanggal kadaluarsa, Vaksin Vial Monitor/ VVM)
  • Shake test, dilakukan untuk mengetahui apakah vaksin pernah beku. Shake test dilakukan dengan cara dikocok, kemudian tunggu kemunculan endapan selama 60menit. Apabila ada endapan (+) maka vaksin sudah pernah beku tidak boleh digunakan
  • Persiapan pengambilan vaksin
  • Buka tutup vial pelarut dan ambil menggunakan spuit 5mL
  • Masukkan pelarut ke dalam vial vaksin
  • Homogenisasi vaksin dan pelarut, dengan cara memutar vial tidak boleh dikocok
  • Penulisan tanggal dan jam dilarutkan
  • Ambil vaksin sesuai dengan dosis yang dibutuhkan
  • Ganti jarum dengan jarum steril yang baru

3. Proses Pemberian Vaksin

Setelah melakukan persiapan, masuk ketahap selanjutnya yaitu proses vaksinasi. 

Prosedur Vaksinasi yang harus dilakukan yaitu :

3.1. Pastikan jenis injeksi tepat dan jadwal sesuai dengan seharusnya. Jadwal vaksinasi menurut IDAI, adalah sebagai berikut

3.2. Tentukan lokasi  yang tepat sesuai program

proses-vaksinasi-pentabio

  • BCG: Diberikan di lengan kanan atas dengan teknik Intradermal/ intrakutan
  • Pentabio: diinjeksikan intramuscularvdi muskulus vastus lateralis kiri
  • IPV: diineksikan intramuscular di muskulus vastus lateralis kanan
  • MR (Campak Rubella): diberikan secara "subkutan dalam" di muskulus deltoid kiri
  • Rotavirus: diberikan peroral

Vaksin harus diberikan dengan injeksi yang tepat (baik itu intrakutan, subkutan maupun intramuscular) dan di lokasi sesuai dengan yang disepakati (oleh program)

3.3. Buang spuit dan jarum ke safety box dengan cara tidak melakukan recapping. Jadi, spuit yang sudah terpakai dibuang ke safety box dalam kondisi terbuka (penutup needle dibuang terpisah di safety box)

3.4. Pencatatan pemberian vaksin : nama vaksin, tanggal pemberian vaksin, nomor batch vaksin, jenis vaksin, dan lokasi penyuntikan

3.5. Observasi pasien selama 30 menit setelah imunisasi untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi reaksi anafilaktif atau KIPI


Pemberian vaksin ini dapat diberikan kepada siapapun yang tidak memiliki kontraindikasi. Dalam hal ini, masyarakat harus mengetahui mengenai kontraindikasi dan false kontraindikasi. 

False kontraindikasi ini dimaksudkan jika terjadi suatu kondisi yang mengharuskan petugas berhati-hati dalam melakukan penyuntikkan vaksin, jika petugas salah maka dapat menyebabkan kehilangan kesempatan. Kondisi tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Penyakit ringan dengan/ tanpa demam ringan
  2. Reaksi ringan/ demam ringan setelah vaksinasi sebelumnya
  3. Riwayat KIPI pada keluarga
  4. Dalam terapi antibiotik, terpapar penyakit, masa penyembuhan, riwayat menderita infeksi pertusis, campak, mump
  5. Malnutrisi
  6. Bayi prematur tidak perlu ditunda
  7. Alergi terhadap bukan komponen vaksin
  8. Kelainan neurologi yang stabil : CP, simdroma Down
  9. Asma, eksim
  10. Pemberian steroid topical/ inhalasi
  11. Usia di atas usia yang telah direkomendasikan (kecuali untuk vaksin tertentu seperti DPT setelah usia 7 tahun

Kontraindikasi pemberian vaksin, adalah sebagai berikut:

  • Kontraindikasi Absolut (tidak boleh diberikan vaksin): Syok anafilaksis setelah pemberian vaksin sebelumnya, Memiliki Riwayat ensefalopati
  • Kontraindikasi Sementara (pemberian imunisasi ditunda): sedang mengalami sakit sedang/ berat. Untuk Vaksin hidup : penderita imunodefisiensi, setelah transfusi/ terapi immunoglobulin

Precaution/ perhatian khusus.

  1. Vaksin dapat diberikan selagi manfaat lebih besar dari risiko terjadinya reaksi simpang.
  2. Vaksinasi harus dilakukan di rumah sakit oleh dokter spesialis anak

  • Hipotonik hiporesponsif episode
  • Menangis terus menerus 3 jam
  • Suhu >40,5 C dalam 48 jam
  • Kejang dalam 3 hari, SGB dalam 6 minggu setelah pemberian DPT sebelumnya



DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

36 komentar

  1. Trimakasih banyak dokter untuk ilmunya, insyaAllah bermanfaat. Izin bertanya dokter, apakah ada batasan jumlah pemberian vaksin dalam satu hari nggih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa 2 injeksi di 2 lokasi yang berbeda, namanya imunisasi simultan

      Hapus
  2. Terimakasih banyak atas materinya dokter. Sangat bermanfaat, dokter. Permisi dokter izin bertanya, saya pernah mendengar mengenai istilah BCG-itis, itu bagaimana nggih dokter?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Vaksin BCG dibuat dari kuman Mycobacterium bovinum (bukan mycobacterium tuberculosis). Jika M. Bovinum menyebabkan itis, namanya BCG-itis. Tidak berat kok, hanya keradangan lokal

      Hapus
  3. Assalamualaikum wr. wb. dokter. Wah bermanfaat sekali dokter. Mohon izin bertanya dokter, untuk pemberian BCG diatas 3 bulan. Jika hasil tes mantouxnya positif, pemberian BCG nya di tunda berapa lama nggih dokter? terima kasih dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau Mantoux test poaitif, berikan OAT. Imunisasi BCG dalam hal ini tidak diperlukan karena sudah timbul kekebalan alami

      Hapus
  4. Terimakasih banyak atas ilmunya pagi ini dokter. Izin bertanya pada false kontraindikasi apakah vaksinasi dapat terus diberikan di hari itu atau ditunda dulu nggih dokter?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Imunisasi bisa dilakukan saat itu juga dengan persetujuan dari orang tua

      Hapus
  5. MasyaAllah terimakasih banyak ilmunya pagi ini dokter, semoga memberikan banyak manfaat dan amal jariyah, mohon maaf izin bertanya dokter penundaan pemberian vaksin itu dalam jangka waktu berapa lama nggih dokter apabila pasien terdapat kontraindikasi sementara? terimakasih banyak dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai kondisi yang menyebabkan dia kontraindikasi, teratasi

      Hapus
  6. Sampai tidak kita temukan kontraindikasi sementara

    BalasHapus
  7. Terima kasih banyak atas ilmunya dokter. Dokter ijin bertanya, untuk emergency kit prosedur penggunaannya bagaimana nggih dok? Lalu apakah diperlukan pasien MRS? Terima kasih dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau imunisasi tidak perlu MRS. Emergensi kit biasanya berisi adrenalin, diphenhidramin, dexametasone. Jangan lupa sedia oksigen

      Hapus
  8. Terima kasih dokter atas ilmunya ini sangat bermanfaat terutama bagi saya yg sering lupa tentang prosedur imunisasi jadi sekaranv tinggal buka dan baca postingan ini deh, oh ya dokter ada titipan pertanyaan dari saudara saya yang sekarang jadi ibu muda. Sebenernya waktu ibu menyusui itu baik nya boleh di imunisasi atau tidak ya dokter? Adakah efek nanti pada si buah hati saat menyusui?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibu yang sedang menyusui BOLEH dilakukan imunisasi (terutama imunisasi covid-19). Bayi yang sedang menyusu juga BOLEH dilakukan imunisasi

      Hapus
    2. Baik terima kasih dokter atas jawabannyaa

      Hapus
  9. Muhammad Razardi15 November 2021 10.28

    Assalamu'alaikum dokter, terimakasih atas ilmu yang sudah dokter bagikan. Mohon izin bertanya dokter, seperti yamg dokter jelaskan untuk vaksinasi di masa pandemi perlu persiapan sarana dan prasarana tempat vaksinasinya, lalu bagaimana dengan program vaksinasi di sekolah nggih dokter, seperti contohnya campak-rubella, apakah tetap dapat dilaksanakan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap dilaksanakan. Jika perlu, siswa datang ke sekolah hanya untuk vaksinasi terjadwal dan dg memperhatikan prokes

      Hapus
  10. Terima kasih dok, ilmunya. Izin bertanya, saat bayi usia 4 bulan, ada 6 jenis imunisasi sesuai rekomendasi IDAI. Seperti komentar diatas, maksimal sehari 2 injeksi di 2 tempat yang berbeda. Nah, untuk 4 imunisasi yang belum diberikan itu dapat diberikan dalam jeda berapa hari dok?

    BalasHapus
  11. Alhamdulillah terimakasih banyak dokter atas ilmunya. Mohon izin bertanya dokter, jika pada lokasi yang akan diimunisasi sedang terjadi luka, misalnya daerah deltoid kanan sedang luka padahal sudah waktunya imunisasi BCG, kemudian bagaimana nggih dokter?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa di lokasi lain, tapi harus tetap intracutan ya. Jangan lupa edukasi ke orang tua

      Hapus
  12. Sangat lengkap informasi ny terkait imunisasi dok, sangat setuju sekali bahwa imunasi memang harus di lakukan oleh ahli yang tepat , mari kita selamat kan anak anak generasi penerus kita dari penyakit yang bisa di cegah dengan vaksinasi.
    Terima kasih dokter

    BalasHapus
  13. Kebetulan banget bentar lagi anakku mau di vaksin, aku jadi mau perhatiin lambang pada botol vaksin nantinya. ilmu banget baca artikel di sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekalian intip tanggal kadaluarsa mbak... Terima kasih sudah mampir di blog dokter taura

      Hapus
  14. Masha Allah dokter lengkap bgt. Insightful sekali artikelnya. Ada video lengkapnya juga ;) kalau yg ak ingey mang BCG ini beda ya letak nyuntiknya. Laya di permulaan. Selebihnya ga paham gmn. Cuma itu yg membekas hehe. Makasih dok ulasannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Imunisasi BCG diberikan secara intra cutan. Orang jawa bilang "jungkit"

      Hapus
  15. Sepertinya selama mendampingi anak2 imunisasi untuk IVO hanya dijelaskan "mungkin nanti kalo demam kasih ini".

    Nyaris tak dapat informasi terkait ini knpa harus imunisasi ini. Tujuan dan manfaatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi bidannya tahu kalau mbak Hamim adalah bloger kondang, jadi dianggap sudah tahu...

      Hapus
  16. terimakasih banyak dokter untuk ilmunya, sangat bermanfaat dan membantu sekali untuk memahami secara detail bagaimana metode dan cara pemberian imunisasi kepada anak. Mohon izin bertanya dokter, pada pasien dengan riwayat KIPI sebelumnya bagaimana dengan imunisasi yang akan diperoleh anak tersebut seterusnya ? apakah bisa pada anak tersebut diberikan dosis imunisasi menggunakan dosis terbagi atau bagaimana nggih dokter? terimakasih, wassalamualaikum wr.wb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika riwayat imunisasi DPT menggunakan pentabio dan terjadi kipi, sebaiknya next imunisasi DPT ganti yang DTaP. Tidak dianjurkan pemberian imunisasi dengan dosis terbagi

      Hapus
  17. Terimakasih dokter untuk penjelasannya mengenai imunisasi pada anak. Bahasa yang sangat mudah dipahami dan ringkas dokter. Saya izin menanyakan dokter, misalnya pasien usia 5 bulan datang untuk BCG, kemudian mantoux negatif namun ada riwayat kontak TB bagaimana nggih dokter ? Terimakasih banyak dokter

    BalasHapus
  18. Terima kasih dokter atas penjelasannya mengenai teknik pemberian imunisasi pada anak, cukup mudah untuk dipahami.
    Izin bertanya dokter, pada anak yg imunisasinya telat, mengapa pemberian vaksin hidup BCG, OPV dan Campak tidak boleh diberikan secara bersamaan nggih ? Apakah karena maksimal sehari 2 injeksi di 2 tempat yang berbeda atau ada alasan lain nggih ?
    Terima kasih dokter

    BalasHapus
  19. Alhamdulilah terima kasih banyak dokter untuk ilmunya. Ternyata banyak sekali yang harus diperhatikan dalam pemberian imunisasi pada anak, mulai dari persiapan sebelum imunisasi (persiapan alat, vaksin dan pelarutnya), saat pemberian vaksin (dosis vaksin, rute pemberian vaksin, dan posisi pasien), dan setelah pemberian vaksin (monitor kipi, pembuangan alat vaksin dan pelaporan). Penting untuk memberikan vaksin secara benar demi mencapai vaksin yang optimal.

    BalasHapus
  20. Alhamdulillah mendapatkan ilmu lagi dari blog Dokter Taura, Terima kasih dokter atas informasinya, Terkait dengan imunisasi yang dilakukan rutin sesuai dengan jadwalnya jika terjadi hal yang tidak terduga seperti terjadi adanya luka pada daerah yang seharusnya digunakan untuk imunisasi apakah dapat dilakukan ditempat lain nggih dokter? Apakah menunggu luka tersebut kering(membaik)/ ditunda terlebih dahulu nggih dokter?. Terima kasih banyak nggih dokter atas informasinya🙏.

    BalasHapus
  21. Terimakasih banyak atas ilmunya pagi ini dokter. Izin bertanya dokter, dijelaskan bahwwa kontraindikasi pemberian vaksin absolut salah satunya yaitu syok anafilaksis. Apakah yang dimaksud pemberian vaksinnya semua vaksin atau vaksin yang pernah memiliki respon syok anafilaksis saja nggih dokter?

    BalasHapus

Posting Komentar