blog dokter taura big ad

ADA APA DIBALIK “TIKTOK SYNDROME”?

Seorang wanita paruh baya datang ke tempat praktik saya dengan membawa salah satu anaknya yang baru berusia 11 tahun.

“Dok, tolong Dok, anak saya menderita TikTok Syndrome,” ujarnya.

“Maksud ibu?” balas saya dengan nada ingin tahu.

“Anak saya kecanduan TikTok, Dok. Hampir setiap saat dia nonton TikTok sambil joget-joget sendiri di depan cermin. Mau mandi, joged TikTok dulu, mau makan ..., joget TikTok lagi. Bahkan, di sela-sela pembelajaran daring, sempat-sempatnya dia berjoged TikTok.” 

ada-apa-dibalik-tiktok-syndrome

Fenomena TikTok memang tak bisa kita hindari. Banyak anak-anak usia sekolah maupun remaja mengalami kecanduan TikTok.

Benarkah ada penyakit yang bernama “TikTok Syndrome”? Bagaimana cara mengatasinya? Bisakah penyakit ini dicegah?

Dilansir dari Kompas.com, TikTok adalah aplikasi media sosial berbasis video pendek yang dimiliki oleh perusahaan teknologi China. Di TikTok, pengguna bisa membuat, mengedit, dan berbagi klip video pendek lengkap dengan filter dan disertai musik sebagai pendukung.

Sebagai sebuah media sosial, konten TikTok sebenarnya cukup bervariasi. Mulai dari tutorial resep masakan, aneka life hack, aktivitas keseharian para influencer dan tentu saja tarian singkat diiringi musik nge-beat yang sedang viral. Namun karena kebanyakan pengguna TikTok adalah anak-anak dan  remaja, maka yang menjadi favorit dan kemudian popular adalah konten yang berisi tarian singkat yang unik dan mudah ditiru.

TIKTOK SYNDROME: Fakta atau Dusta?

Beberapa bulan yang lalu, masyarakat sempat dikagetkan dengan video yang menggambarkan seorang remaja mengaku terkena sindroma TikTok. Dalam video singkat itu tampak seorang ABG yang mengalami kesulitan dalam mengontrol tubuhnya dan ketika berbicara kerap diiringi dengan gerakan anggota tubuh, misalnya tangan, yang menari menirukan tarian yang ada di TikTok.

Menyikapi berita yang kemudian viral itu, Kementrian Komunikasi dan Informasi RI (Kominfo) membuat disclaimer bahwa berita mengenai sindroma TikTok diatas adalah termasuk berita dengan kategori DISINFORMASI.

KOMINFO telah menelusuri langsung akun media sosial penyebar video pertama kali yaitu seorang pemuda bernama Kesar. Memang benar dia telah mengunggah video itu, namun dengan disertai caption “Kisah seorang remaja yang terkena TikTok syndrome. Komedi sarkas (awas konten sensitif)”.

Dengan demikian, sang pembuat video tersebut telah membuat disclaimer bahwa video itu hanya bersifat sarkasme atau sindiran dan tidak benar-benar mengalami sindroma atau sejenis sakit sebagaimana yang disalahpahami oleh beberapa warganet.

Di kamus kedokteran pun hingga saat ini tidak ada diagnosis “TikTok” syndrome.

Kendati demikian, kondisi tubuh bergerak sendiri di luar kendali memang ada dalam dunia kedokteran, tetapi namanya bukan TikTok Syndrome. Kondisinya pun berbeda dengan apa yang ditampilkan dalam video (bukan menampilkan potongan-potongan gerakan joget)

Beberapa Penelitian tentang Penyakit yang Mirip Sindroma Tiktok

Salah satu diagnosis kedokteran yang mirip dengan TikTok Syndrome adalah Tourette syndrome yang merupakan kondisi neuropsikiatri yang membuat penderitanya bisa mengeluarkan kata-kata atau gerakan spontan. Kata atau gerakan yang dikeluarkan sifatnya berulang dan tidak disadari.

Menurut sebuah laporan dari International Parkinson and Movement Disorder Society, fenomena yang menyerupai Tourette Syndrome ini, meningkat di kalangan anak muda sejak awal pandemi covid-19. Peningkatan kasus ini terjadi berkaitan dengan penggunaan media sosial para penderita seperti penggunaan aplikasi TikTok. Usia rerata penderita TikTok Syndrome adalah 18 tahun dengan mayoritas penderitanya adalah perempuan.

Gerakan spontan tanpa disadari karena TikTok berbeda dengan sindroma Tourette. TikTok syndrome terjadi sebagai bentuk penyakit sosiogenik masal yang melibatkan perilaku, emosi atau kondisi yang secara spontan menyebar melalui suatu kelompok.

Seorang peniliti bernama Mariam melakukan penelitian mengenai penyebaran tic fungsional melalui media sosial. Tic adalah gerakan involunter dan berulang-ulang, stereotipikal, dan vokalisasi. Dalam penelitian ini terungkap bahwa mereka menemukan enam gadis remaja, masing-masing dengan gerakan seperti tic yang meledak-ledak. Rata-rata usia onset adalah 14 tahun. Memiliki gejala yang tidak sesuai dengan sindrom Tourette pada anamnesis dan pemeriksaan fisik sehingga mendorong diagnosis kearah tics fungsional. 

Semua pasien dalam penelitian ini melaporkan paparan penggunaan media sosial tertentu seperti penggunaan aplikasi TikTok sebelum timbulnya gejala.

TikTok Syndrome: Dari Halu Jadi Sungguh-Sungguh

Terlepas dari “TikTok Syndrome” itu sebuah kenyataan atau hanya sekadar kehaluan semata, fakta menuntun kita bahwa anak-anak muda zaman sekarang banyak yang diperbudak oleh sebuah platform sosial media bernama TikTok. 

tiktok-syndrome-dari-halu-jadi-sungguh-sungguh

Menari adalah kegiatan positip yang mengasah kemampuan motorik baik motorik kasar dan motorik halus. Menari juga melatih daya ingat sekaligus keseimbangan. Pun juga merupakan kegiatan rekreatif yang jauh lebih baik dibandingkan dengan membiarkan anak rebahan sambil bermain game atau berselancar di dunia maya tanpa tahu apa yang dinikmati.

Namun, jika aktivitas menari ini dilakukan secara berlebihan, hingga tidak menghiraukan lingkungan sekitarnya, hingga mengesampingkan rasa malu dan melupakan kegiatan lain yang lebih penting seperti beribadah, belajar dan membantu orang tua, tetap saja aktivitas ini menimbilkan keresahan di kalangan orang tua.

Anak Anda Ketagihan TikTok? Begini Cara Mengatasinya

Sebelum membahas lebih jauh tentang bagaimana cara menangani dan mencegah TikTok Syndrome, ada baiknya kita memahami tentang “10 Hal dari Keseharian Anak".

Pada dasarnya, TikTok merupakan aplikasi yang positif apabila digunakan dengan bijak. Hal ini karena platform media sosial tersebut bisa meningkatkan kreativitas anak.

Namun, sebagaimana media sosial yang lain, TikTok mempunyai dampak negatif, antara lain:
  1. Bisa menjerumuskan anak ke konten-konten yang sebenarnya dikhususkan untuk usia 18 tahun ke atas.
  2. Bisa jadi tempat di mana anak mendapatkan cyberbullying.
  3. Mengganggu waktu belajar dan beribadah
  4. Bisa membuat anak lupa makan
  5. Berpotensi menyebabkan kesulitan tidur 
    dampak-negatif-tiktok-syndrome

Tip Atasi Kecanduan TikTok

Berikut beberapa tips mengatasi kecanduan TikTok pada anak:
  1. Batasi bermain gadget
  2. Buat aturan dan kesepakatan dengan anak tentang penggunaan ponsel
  3. Pastikan Anak Berpenampilan Baik
  4. Dampingi Anak Saat Bermain TikTok
  5. Matikan Notifikasi
  6. Cari Hobi Baru yang Lebih Bermanfaat
  7. Bersihkan Daftar "Teman" dan "Follows" di Akun TikTok
  8. Perbanyak Bersosialiasi dengan Teman atau Keluarga Sendiri
  9. Menerapkan Aturan Memegang Handphone
  10. Bijak dalam Menggunakan Media Sosial



DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

61 komentar

  1. Zaman sekarang anak2 sudah harus diajari cerdas dalam memilih dan memilah ya dok.

    Duh, saya baru aja nyobain upload video pertama di tiktok. Tiba2 banyak yg ngelike dan ngeliat. Takut jadi candu juga. Mau nerapin saran dokter buat diri sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. MAin tiktok boleh untuk sekadar refreshing... jangan sampai kecanduan ya.... Malu sama ponakan...

      Hapus
    2. Assalamu'alaikum wr wb.
      Terima kasih pak dr. Taura, pencerahannya. Alhamdulillah kami sekeluarga dak ada yang TIK TOK an.

      Hapus
  2. wahh pembahasan kali ini sangat kekinian, bagaimana tidak, saat-saat ini tiktok menjadi trending dengan penggunannya tidak hanya pada kalangan remaja dewasa tetapi kini pun juga usia anak-anak sudah banyak yang memainkan, tapi dirasa lama kelamaan juga dirasa tidak baik, terlebih bermain gadget secara berlebihan atau melebihi batas waktu, yang menjadi pertanyaan saya dokter, meskipun sudah melakukan tips-tips yang diatas, tapi bila mana orang tua susah memberikan contoh, dalam artian ini, ortu nya sendiri selalu bergantung pada gadget, karena semua pekerjaan dan urusan semua nya pada gadget, kalau seperti itu bagaimana nggih dokter?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, keteladanan orang tua merupakan salah satu kunci kesuksesan seorang anak bebas dari kecanduan tiktok atau gadget. Jika gadget sangat membantu pekerjaan orang tua, sebaiknya dilakukan tidak di depan anaknya, dan beri pengertian ke anak bahwa pekerjaan kita sedikit banya tergantung dg gadget. JAdi anak sejak dini bisa membedakan gadget untuk bekerja, untuk sekolah dan gadget untuk bermain

      Hapus
  3. MasyaAllah alhamdulillah konten yang sangat menarik, cocok sekali untuk edukasi di era tik tokers. Maturnuwun dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya ke Blog Dokter Taura. Silakan share di grup sebelah ya... Semoga bermanfaat

      Hapus
  4. Tulisan yang sangat menarik dokter, yang membahas tentang isu isu yang sangat berhubungan dengan fenomena saat ini. Izin share nggih dokter 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya ke Blog Dokter Taura. Silakan share di grup sebelah ya... Semoga bermanfaat

      Hapus
  5. Wahg menarik sekali dokter pembahasannya. Terima kasih dokter atas informasinya. Dokter, mohon izin men-share informasi ini di beberapa grup nggih dokter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya ke Blog Dokter Taura. Silakan share di grup sebelah ya... Semoga bermanfaat

      Hapus
  6. MasyaAllah sangat sesuai dengan kejadian saat ini, banyak anak2 maupun remaja dewasa yg terkena tiktok syndrome ini
    terimakasih banyak dokter atas ilmunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya ke Blog Dokter Taura. Silakan share di grup sebelah ya... Semoga bermanfaat

      Hapus
  7. Pembahasan yang sangat menarik dan kekinian, dokter. Sangat cocok dengan keadaan saat ini. Pemakaian gadget memang banyak mudhorotnya bagi anak. Berbagai aplikasi juga tidak sesuai umur, salah satunya tiktok. Izin share nggih dokter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya ke Blog Dokter Taura. Silakan share di grup sebelah ya... Semoga bermanfaat

      Hapus
  8. Keren sekali dok tulisannya. Pembahasan seperti ini penting, tapi jarang ada yang membahas👌🏻
    Biasanya kalau si anak dikasih atau dikenalkan hobi baru, rata rata pengalihan fokusnya dari bermain gadget/tiktok ke hobi baru berapa lama ya dok? Apakah kalau pengalihan dari gadget ini lebih susah daripada kecanduan menonton tv? Terima kasih dok, ijin share nggih🙏🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo dishare mom... Semoga bermanfaat ya. Kecanduan gadget dan kecanduan TV sama bahayanya. Alihkan anak pada kegiatan yang melibatkan unsur "interaksi sosial", artinya libatkan anak ke permainan yang membuutuhkan interaksi dengan orang (anak) lain dalam memainkannya. Permainan tradisional dalam hal ini sangat mendukung upaya pengalihan terhadap gadget

      Hapus
  9. Wah mantap dok bahasan blog nya menarik dan bener bener up to date. Izin bertanya dok, dalam usaha mengurangi fenomena yang dibahas dokter ini, sebetulnya apa ada batasan usia kapan anak layak untuk memegang gadget ya dok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum ada rekomendasi mulai usia berapa anak boleh pegang gadget. Saat anak sudah benar-benar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, saat itu anak boleh diberi kepercayaan utk memainkan HP. Tapi melihat kondisi pandemi, dimana kegiatan belajar mengajar berbasis daring, rasanya tidak mungkin utk diterapkan.

      Hapus
  10. Terima kasih dokter untuk ilmunya. Permisi dokter ingin bertanya, dalam sehari sekiranya anak diperbolehkan main media sosial berapa lama ya dok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di bawah usia 2 th, sebaiknya no gadget no TV...

      Hapus
  11. Terima kasih dokter atas ilmu dan informasinya ini sangat mengena dijaman tiktokers saat ini saya pun kadang juga liat tiktok sesekali, tapi ada 1 pertanyaan dokter ijin untuk bertanya dokter baiknya peraturannya yg bagaimana dokter yg bagus diterapkan pada anak untuk memegang hp? Terima kasih banyak wassalamualaikum wr.wb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk baca artikel di link berikut ini:
      https://www.doktertaura.com/2021/06/ini-dia-12-tips-cegah-anak-kecanduan.html

      Hapus
    2. Baik terima kasih banyak dokter

      Hapus
  12. masyaAllah informatif dan detail sekali dok. orangtua harus ekstra hati-hati dengan pergaulan anak ya dok. karena biasanya yang begini ini nular. awalnya ga suka karena lingkungan pemain semua, jadi ikutan deh yang awalnya hanya diajak atau nyoba. terima kasih sharingnya dok, sangat bermanfaat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Sendy. MAri kita jaga anak-anak Indonesia dari bahaya sosial media... Kembali ke permainan tradisional yuk...

      Hapus
  13. informatif sekali dok, sangat bermanfaat sekali bagi sy yg terjun didunia pendidikan. Bagian penangannhya ini yang butuh ekstra ya, karena tidak bisa memilih, hp tetap jadi dewa selama daring. semoga liburan semesteran nanti tidak banyak yang panen masalah gegara medsos

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peran guru disini sangat penting dalam mengedukasi anak-anak akan bahaya gadget, bahaya sosmed dan bahaya tiktok...

      Hapus
  14. Langkah yang pasti adalah dengan membatasi anak bermain gadget.. Setuju banget dok, karena dampat gadget untuk anak jaman sekarang banyak negativenya.. Khususnya dengan media sosial seperti tiktok yang kontennya belum bisa dibatasi sesuai umurnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain membatasi anak akan gadget, peran keteladanan orang tua dan orang2 dewasa disekitar anak, sangat penting lo.

      Hapus
  15. Alhamdulillah anak anak di rumah belum pernah tik tok an..
    Makasih informasi lengkap dan detailnya Dok..
    Aku baru tau ada istilah tiktok syndrome..
    Mamak kudet ini..wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya mbak Zulmi... Semoga keluarga sehat semua yaa...

      Hapus
  16. sebenarnya media sosial apapun itu bagai mata pisau bermata dua ya dok, tergantung bagaimana kita bisa mengatur dan memanfaatkan media tsb. tapi krna tiktok dari awal emang dah kental bgt ma joged2 ya imagenya jdi seperti itu, katanya sih udah banyak juga konten yg bermanfaat disana, cuma saya belum liat sndiri krna tidak pake tiktok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama mbak, saya juga gak instal tiktok. Tapi kalao reels IG iya, sering nonton

      Hapus
  17. Suka deh kalau main kesini, terasa kayak kuliah gitu. Selalu dapet ilmu baru. Ku pikir beneran ada penyakit baru bernama tiktok syndrom wkwk

    Untung aku bukan pengguna medsos ini, meski tawaran campaign gila-gilaan pake media ini. Tapi ku pikir geli juga, liat emak-emak joget2 wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Sama, saya juga geli sendiri liat jogetan saya...

      Hapus
  18. Dari seluruh medsos, aku paling tidak biasa dan tidak bisa menggunakan yang edit video. Jadi cukup aman tidak ketagihan tiktok dsn sejenisnya.😆

    Anyway, makasih banyak sudah menulis ini Dok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, saya juga. Kalau saya mungkin karena faktor usia ya. Sejauh ini fenomena tiktok di masyarakat lumayan banyak sih

      Hapus
  19. aku tertarik denganpe,bahasan tourette syndrom. Sebab pernah menonton sebuah film yangdiangkat dari kisah nyata di India. Tourettenya ini adalah cegukan. Apalagi jika dalam kondisi gugup, tertekan maka muncullah suara2 itu. Dan film korea tapi lupa judulnya tidak diangkat dari kisah yata sih, namun juga mengangkan sindrom yang sama yakni Tourette ini. Dia bisa. mengeluarkan suara yang sama bahkan meracau kalo dalam kondisi gugup, cemas dan tertekan.

    ulasan tiktok sindrom ini bisa jadi dua bahasan yang menarik dok. banyak ortu perlu diedukasi tentang hal-hal semacam ini . sebab tiktok sindrom ini sudah marak dibicarakan yang ternyata disinformasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film india yang ttg Tourette syndrome itu judulnya Hicuup (lupa ejaannya gimana). Film ttg seorang guru yang dipandang rendah karena menderita Tourette syndrome. Tapi dia berhasil membuktikan dg prestasi murid-murdnya. Film yg edukatif banget menurut saya.
      Yuk mbak, bikin artikel ttg ini, terus bikin backlink buat blog dokter taura dong....

      Hapus
  20. wah penjelasan yang menarik menggabungkan medical dengan parenting, jadi komplit ya dok membahas dampak secara bio-psiko-social nya. terimakasih dok, semoga anak-anak Indonesia terhindar dari dampak buruk candu tiktok ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Mya... semoga anak2 indonesia terbebas dari pengaruh buruk medis ya

      Hapus
  21. memang harus benar-benar membatasi gadget pada anak-anak ya dok, selain itu pun jika memberi gadget wajib banget buat di pantau. terimakasih infonya dok
    btw galfok sama infografisnya suka sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mbak Manda. Harus bijak menggunakan gadget. Biar gak dicontoh sama anak-anak. Btw, infografisnya pakai canva

      Hapus
  22. Pentingnya kasih t&c ke anak tentang penggunaan gadget & internet termasuk medsos tiktok penting bgt ya dok. Karena butuh landasan yg kuat agar anak ga selalu ikut2an (dengan berlebihan). Di tiktok byk jg konten edukasi sih. Semoga anak2 Indonesia makin aware mana konten bermanfaat agar bs digunakan dg bijak :) informasinya kekinian nih dokter, menarik hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak Widya. Semoga anak-anak Indonesia bisa terhindar dari segala pengaruh buruk dari gadget

      Hapus
  23. Pembahasan yang sangat bermanfaat dan mengedukasi dokter, karena saat ini penggunaan sosmed khususnya dalam ini tiktok semakin banyak bahkan mendunia akan tetapi memang sesuatu yang mengkhawatirkan apabila sampai menjadi "tiktok syndrome" apalagi pada anak-anak mungkin sebagian beralasan karena pandemi di rumah saja mencari hiburan dengan bersosmed bertiktok, semoga dengan tulisan dokter ini menyadarkan akan pentingnya penggunaan sosmed yang baik dan benar serta perlunya pengawasan orang tua lebih di tingkatkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah berkunjung ke blog dokter taura... Kalau menarik, silakan dishare ke teman dan keluarga ya

      Hapus
  24. bahasan kali ini sungguh menarik dokter, karena tidak bisa dipungkiri hampir semua kalangan dari berbagai usia memiliki aplikasi tiktok di gadgetnya, terutama pada usia anak kecil perlu bimbingan dan pengawasan khusus oleh dari orang tua, apalagi banyak konten tiktok yang tidak seharusnya ditonton oleh anak kecil. Artikel ini sangat bermanfaat dan informatif terutama bagi para ibu agar dapat memahami bagaimana cara menghadapi dan mencegah "TikTok Syndrome" di era millenial ini. Nah saya ingin bertanya dokter, kapan kita perlu mengkonsultasikan anak dengan tiktok syndrome ke dokter? apakah ada warning sign tertentu supaya para ibu lebih aware terhadap dampak negatifnya?
    terimakasih dokter....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komunikasi antara orang tua dengan dokter sangat penting. Begitu ada hal-hal yang mencurigakan dan membuat orang tua khawatir, segera komunikasikan dg dokter

      Hapus
  25. Pembahasan yang masih hangat di kalangan netizen nggih dokter karena TikTok saat ini masih menjadi salah satu medsos yang menjadi favorit di antara beberapa medsos lainnya karena kemudahannya yang tinggal scroll ke atas ke bawah sudah dapat banyak info-info maupun hiburan. Izin bertanya dokter, apabila orang tua sudah berupaya maksimal melakukan tips mengatasi kecanduan yang sudah dipaparkan di atas namun sampai beberapa waktu anak masih belum ada perubahan, sebaiknya apa yang perlu orang tua lakukan untuk itu nggih dokter?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terus dicoba ya, jangan putus asa. Jangan lupa berdoa

      Hapus
  26. Assalamualaikum wr.wb. MasyaAllah kontennya menarik sekali dokter, sangat sesuai dengan keadaan yang lagi marak saat ini. Mohon izin bertanya dokter, bagaimana bila seorang anak sudah terbiasa menonton video tiktok apabila mau makan. Jadi anak menolak untuk makan kalau tidak dibarengi dengan menonton video tiktok, apa yang harus orang tua lakukan nggih? terimakasih, Wassalamualaikum wr.wb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesekali sih gpp nonton tiktok sembari makan. Tapi tidak untuk kebiasaan.

      Hapus
  27. masyaAllah sangat informatif sekali dokter ulasan kali ini, semoga dengan tulisan dokter kali ini menyadarkan para orang tua betapa pentingnya penggunaan gadget pada anak yang baik dan benar , apakah anak ada batasan usia tertentu dalam penggunaan gadget pada anak dokter ? terima kasih banyak dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rekomendasi AAP (American Academy of Pediatric): umur dibawah 2 th "tidak boleh sama sekali" berinteraksi dg media elektronik (TV, gadget dll). Usia prasekolah (balita) hanya boleh maksimal 1 jam sehari, itu pu materinya harus sesuai usia anak dan harus didampingi orang tua atau pengasuh

      Hapus
  28. Mantap dokter. Pengangkatan topik yang sangat sesuai dengan realita di masyarakat. Hal ini bisa menjadi sebuah ilmu pengetahuan baru dan mawas diri bagi para orang tua dan anak. Di era yang sekarang, memang sosial media tidak hanya digunakan oleh orang tua tapi juga para anak. Tiktok sendiri menjadi salah satu sosial media yang banyak sekali penggunanya, dok. Saya rasa penggunaan Tiktok oleh anak-anak harus berada dalam pantauan orangtua, karena mungkin tidak semua konten pantas dan memberikan efek yang baik untuk anak-anak. Sedikit banyak, hal ini akan memberikan pengaruh untuk kehidupan sosial anak-anak. Semoga tulisan ini, bisa banyak dibaca orang lain dan 10 tipsnya bisa menjadi saran dan dilakukan oleh para orang tua. Terimakasih banuak dokter.

    BalasHapus
  29. MasyaAllah bermanfaat sekali dokter informasinya, sangat sesuai dengan keadaan saat ini. Banyak anak-anak saat ini diberikan gadget oleh orang tua nya tanpa ada nya pengawasan lebih lanjut, sehingga memungkinkan anak melihat konten-konten yang tidak sesuai usianya. Tidak ada nya pembatasan penggunaan gadget juga bisa membuat anak jadi lupa waktu, sehingga banyak waktu terbuang di depan gadget dan dapat mengganggu waktu belajar, beribadah, makan, dan tidur. Terima kasih banyak dokter untuk informasinya.

    BalasHapus
  30. Pembahasan yang cukup menarik dokter. Era saat ini memang tidak bisa dipungkiri, hampir semua kalangan dari berbagai usia memiliki aplikasi tiktok di gadgetnya, terutama usia anak kecil. Anak-anak pemilik aplikasi tiktok sanget perlu bimbingan dan pengawasan khusus dari orang tua, apalagi banyak konten tiktok yang tidak seharusnya ditonton oleh anak kecil (konten dewasa 18+). Tulisan ini bermanfaat dan informatif terutama bagi para orang tua agar dapat memahami bagaimana cara menghadapi dan mencegah "TikTok Syndrome" di era millenial ini.

    BalasHapus
  31. Alhamdulillqh terima aksih bqnyak dokter atas sharinh sharing ilmunya. Sangat keren dan kekinian sekali dan pastinya dicari cari oleh orang tua masa kini mengingat anak-anak muda zaman sekarang banyak yang diperbudak oleh sebuah platform sosial media bernama TikTok dan mengalami TikTok syindrome seperti yang dokter jelaskan pada artikel ini nggih dokter. Memang pembatasan penggunaan gadget dan sosial media sangat perlu dilakukan selain tidak terlalu penting, peran orang tua jadi sangat minim untuk membentuk karakter dan akhlak yang baik bagi anaknya nggih dokter

    BalasHapus
  32. Alhamdulillah dokter pembahasan artikel selalu up to date terhadap realita sekarang yang saat ini memang penggunaan sosmed khususnya tiktok semakin mendunia sehingga sedikit banyak akan berdampak pada perubahan ber media sosial terlebih mengkhawatirkan apabila sampai menjadi "tiktok syndrome" khususnya pada anak-anak mungkin sebagian orang tiktok menjadi hiburan akan tetapi jika anak anak yang pada dasarnya masih mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi maka perlu adanya pendampingan khusus agar tidak membuka atau melihat hal hal yang belum waktunya. Semoga dengan tulisan dokter ini menyadarkan akan pentingnya penggunaan sosmed yang baik dan benar serta perlunya pengawasan orang tua lebih di tingkatkan.

    BalasHapus

Posting Komentar