blog dokter taura big ad

PETUALANGAN TAK TERLUPAKAN DI KOTA SUCI YERUSALEM (PART 1)

Setelah berpetualang di Yordania selama tiga hari dua malam, kami pun bersiap melanjutkan petualangan ke Yerusalem, ibu kota Palestina. Selama di Yordania, saya beserta rombongan tur berkesempatan mengunjungi beberapa destinasi wisata yang sangat unik dan menarik. Selain PETRA, kami mengunjungi Wadi Rum, Aqaba, Gua Ashabul Kahfi dan Dead Sea alias laut mati. Selama “singgah” di Yordania kami menginap di sebuah hotel di kota Aqabah. Kota ini merupakan salah satu kota di Yordania yang berbatasan langsung dengan Israel. Kota yang bersih dan tentram ini dikenal juga dengan “Kota Pantai”

pemandangan-dari-atas-kapal-di-pantai-aqabah
Suasana senja di atas sebuah kapal di pantai Aqaba Yordania.
Kami bercengkrama, minum kopi panas, sembari menikmati pemandangan alam nan syahdu. 

Yerusalem, I am Coming

Sungguh! Belum pernah sekalipun saya membayangkan atau bahkan bermimpi untuk bisa mengunjungi tanah suci Yerusalem Palestina, sekaligus melaksanakan ibadah di Masjidil Aqsa, tempat dimana Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan ISRA. Atas kehendak Allah SWT jua, akhirnya kami berhasil menginjakkan kaki di kota tua nan suci ini selama 4 hari.

Rasa lelah, baik fisik maupun psikis membuat saya tak lagi berpikir apakah bisa menyelesaikan rangkaian proses pemeriksaan di imigrasi Israel di perbatasan Yordania, tempat dimana kami mendarat dari Jakarta setelah menempuh 12 jam perjalanan udara. Ditambah perjalanan wisata ke Petra, Wadirum dan Aqaba. Semuanya menyedot energi dan emosi. Kami semua pasrah!

Dari Aqaba, kami menempuh perjalanan darat dengan bus selama empat jam. Sepanjang perjalanan hanya gurun pasir dan bukit bebatuan berwarna coklat keemasan yang kami temui, sesekali ada petak-petak perkebunan sayur hijau nan segar. Perpaduan warna antara coklat keemasan dengan hijau segar menjadi pemandangan yang unik. Landscape yang bisa sedikit mengurangi kejenuhan dan kepenatan.

Dead Sea: Bukan "Laut" Biasa

Sampailah kami pada suatu tempat dimana kami bisa memandang laut mati yang letaknya 420 km DIBAWAH permukaan laut. 

Sebenarnya Dead Sea ini bukan suatu "lautan" tapi hanya sebuah danau yang teramat luas. Saking luasnya, hingga menyerupai laut! Sebagian laut mati masuk wilayah Kerajaan Yordania, dan sebagian lagi masuk wilayah Israel. Sekilas, warna laut mati tak jauh beda dengan laut biasa: Biru bersemu hijau. 

Namun jika kita cicipi rasanya, baru terasa bedanya. Air di laut mati berasa super-duper-asin. Ya, karena kandungan garam di laut mati ini mencapai lebih dari 30% (air laut biasa, normal mengandung 3% garam). 

Karena kadar garamnya yang sangat tinggi itulah, maka tidak memungkinkan bagi hewan dan tumbuhan untuk hidup di sana. Oleh karena itu laut ini disebut Laut Mati.

Suasana Perbatasan yang Menegangkan

Menegangkan. 

Ya, satu kata itu yang cocok untuk menggambarkan suasana di perbatasan. Entah berapa kali bus yang kami tumpangi harus menjalani pemeriksaan dokumen. Yang jelas, petugas pemeriksa selalu memasang muka sangar, dengan tatapan mata tajam laksana singa kelaparan yang sedang mencari mangsa untuk makan malamnya. Tentu saja mereka dilengkapi senjata laras panjang yang siap meletup.

Sebenarnya naluri keingintahuan saya mendorong untuk mengambil gambarnya. Satu kali cekrek saja sudah cukup. Tapi apa daya, pemandu wisata sejak awal mengingatkan supaya mematikan ponsel maupun kamera. Ya sudahlah, mending pilih selamat, daripada jadi santapan makan malam para singa kelaparan itu.

Akhirnya sampai jualah kami di kantor imigrasi Israel. Namun nuansa ketegangan masih terasa kental. Kami harus melalui 4 kali pemeriksaan yang masing-masing harus antri syantik dengan dikawal beberapa penjaga bersenjata. 

Kondisi kantor imigrasi Israel memang kontras sekali dengan imigrasi Yordania yang fasilitasnya mewah, bersih dan (yang paling penting) free WiFi tanpa password tanpa batas waktu. Di kantor Imigrasi Israel fasilitasnya B aja dan suasananya tegang mencekam.

Pemeriksaan di Kantor Imigrasi Israel

Di pintu pertama, dilakukan pemeriksaan baggage yang berlangsung singkat dan Alhamdulillah lancar.

Di pintu dua, satu persatu diwawancarai dan dicocokkan antara foto yang tertempel di paspor dengan wajah kami secara langsung. Disini saya baru paham, kenapa foto paspor tidak boleh menggunakan aplikasi camera 360!

Di pintu 3 dan 4 pemeriksaan berlangsung relatif lancar karena hanya di cek kelengkapan dokumen keimigrasian secara computerized. Walau begitu pejagaan oleh petugas tetap berlangsung ketat dan menegangkan. Semua petugas, baik pria maupun wanita bertampang dingin dengan kulit putih, hidung mancung, pipi tirus, alis tebal, mata agak cowong, dan tatapan mata yang tajam, khas orang yahudi.

Selesai sudah serangkaian pemeriksaan di kantor Imigrasi. Lega rasanya. Kami semua satu rombongan dari travel Al Madinah Mutiara Sunnah Surabaya tetap lengkap.

Jam menunjukkan pukul 20.00 waktu Israel, Alhamdulillah akhirnya semuanya kelar, dan kami pun berangkat menuju kota Yerusalem. Meskipun sudah lelah tingkat dewa ditambah perut keroncongan, kami paksa mata ini untuk tidak terpejam dan mencoba menikmati pemandangan.

Baitul Maqdis: Kota Lama dan Eksotis

“Dan jangan mengencangkan pelana (melakukan perjalanan jauh) kecuali untuk mengunjungi tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjidku (Masjid Nabawi)," (HR Bukhari)
Hari masih gelap, azan subuh masih satu jam lagi. Sesuai kesepakatan bersama, kami kumpul di lobby hotel RITZ Yerusalem untuk bersama-sama menuju Masjidil Aqsa. Walau lelah masih terasa, tapi dengan semangat pantang menyerah kami berduyun menuju Masjidil Aqsa. 

Baru selangkah menginjakkan kaki keluar hotel, tiba-tiba ups! Hawa dingin disertai angin semilir menusuk-nusuk kulit hingga terasa sampai persendian bahkan menembus hingga urat nadi. Mau menggigil rasanya... Rupanya suhu saat itu mecapai 8 derajat celcius. Alamak, seperti di dalam freezer. Asap pun keluar dari rongga mulut saat kami menghembuskan udara.

Untuk mencapai Masjidil Aqsa, kami harus berjalan kaki sejauh dua kilometer, dari hotel kami menuju benteng kota lama. 

Foto di depan Benteng Kota Lama. Di sebelah kiri saya tampak 
gerbang HEROD's GATE yang dijaga oleh empat tentara Israel bersenjata api.

Al-Aqso yang merupakan kompleks tempat ibadah suci dikelilingi oleh BENTENG dengan 7 pintu gerbang (salah satunya adalah Herod's gate dan Damascus gate seperti terpampang dalam gambar), dan masing-masing pintu gerbang dijaga oleh tentara Israel lengkap dengan senjata laras panjang selama 24 jam. 

"Benteng kota lama" merupakan tembok setinggi 5-15 meter dengan ketebalan tembok mencapai 3 m di bagian dasarnya. Sedangkan panjang tembok mencapai 4,5 km.

Distrik atau wilayah yang dilingkupi oleh benteng inilah yang disebut "Kota Lama" (kota tua) alias Baitul Maqdis atau Al-Quds yang merupakan perkampungan tua yang hingga saat ini terjaga kesliannya. Kota lama ini diakui UNESCO sebagai situs warisan dunia. Jadi tidak boleh ada bangunan baru maupun pemugaran bangunan lama.

Distrik kota tua Yerusalem terbagi dalam empat wilayah yaitu Bagian Muslim, Kampung Yahudi, Kampung Kristen dan Kampung Armenia

suasana-perjalanan-dari-benteng-menuju-masjidil-aqsa
Beginilah suasana di dalam perkampungan "kota lama".
Nuansa vintage nan eksotis sangat kental. Kita berasa di planet lain.

Yerusalem: Kota Suci 3 Agama

Yerusalem merupakan kota suci bagi 3 agama, yaitu agama Islam, yahudi, dan nasrani.. Kompleks Al-Aqso merupakan tempat suci ketiga setelah Masjidil Haram (Mekkah) dan Masjid Nabawi (Madinah).

Ada 2 alasan penting mengapa Yerusalem menjadi kota suci bagi umat Islam. 

  • Pertama karena Al-Aqso adalah kiblat kaum muslim sebelum ka'bah (Ka'bah menjadi kiblat sejak bulan ke-17 setelah peristiwa hijrah), 
  • Kedua karena Masjidil Aqsa menjadi bagian penting dari peristiwa Isra' Mi'raj.
    tembok-ratapan-yang-selalu-ramai-dikunjungi-kaum-yahudi
    Gambar kiri atas adalah "Tembok Ratapan" yang merupakan tempat suci kaum Yahudi.
    Setiap tahunnya tempat ini selalu ramai dikunjungi penganut Yahudi

Yerusalem juga merupakan kota suci bagi kaum Yahudi karena disana terdapat "tembok ratapan" (lihat gambar) yang merupakan tempat terdekat bagi kaum Yahudi untuk berdoa ke Maha Kudus. Kaum Yahudi percaya bahwa lokasi ini merupakan lokasi batu pondasi penciptaan bumi, dan tempat dimana Ibrahim bersiap untuk mengorbankan anaknya Ismail. 

Setiap tahunnya jutaan orang Yahudi dari seluruh dunia melakukan ziarah.

Seperti halnya Islam dan Yahudi, Kristen pun menganggap suci tempat ini karena terdapat "Gereja Makam Kudus" dimana disana terdapat makam Yesus dan juga menjadi lokasi kebangkitannya.

Perjalanan Menuju Masjidil Aqsa

Memasuki pintu gerbang kota lama (kami masuk melalui salah satu gerbang: Herod gate), suasana berubah remang-remang cenderung gelap. Dengan jalanan yang semuanya berlantai batu kotak-kotak yang tersusun rapi, jalanan yang naik turun berkelok, bangunan bertingkat dengan batu yang hampir semua terbuat dari batu tanpa atap, tanpa pagar, tanpa serambi (apalagi taman), tanpa garasi dan tanpa cat dinding, semuanya memberikan sensasi tersendiri bagi kami. 

Belum lagi seliweran beberapa kucing yang memamerkan mata fluorescent nya. Perpaduan antara eksotis, vintage dan natural, membuat kami seolah-olah berada di negeri dongeng Abunawas, Alibaba dan entah dongeng apalagi.

Memasuki wilayah Al-Aqso, membuat saya menarik nafas panjang sembari mengucap syukur dan MasyaAllah... 

Bukan hanya tercengang, speechless...

BERSAMBUNG

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

40 komentar

  1. Rihlah menjadi penguat sejarah dan peradaban bagi pengunjung, mengetahui kisah dan salah satu tempat suci nabi dalam peristiwa Isra Mi'raj

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Pak. Sangat beruntung berkesempatan ke sana.... Pingin lagi bareng keluarga

      Hapus
  2. MasyaAllah, senang sekali pastinya ya pak. Saya pun sangat mengidamkan bisa beribadah dan mengunjungi masjid Al Aqsa. Semoga nanti bisa segera terwujud.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Saran saya kalau ke sana, ambil pas musim dingin berbarengan dengan liburan sekolah. Akhir desember bisa jadi pilihan utama. Pas musim salju. Harus siap bawa baju hangat + sepatu boot

      Hapus
  3. Saya baru tau loh dok kalau Dead Sea disebut Laut Mati karena kadar garamnya yang 30% asin banget ya.Panteslah tidak ada kehidupan mahluk hidup disana.Beruntunglah dok bisa berkesempatan wisata religi ya banyak yang dikenang dengan catatan sejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan, kalau kita tidak bisa berenang pun, bisa langsung lo... Karena berat jenis airnya tinggi...
      Hayuk nabung yuk, biar bisa ke sana lagi.

      Hapus
  4. MasyaAllah, bisa sampai ke tanah Suci Palestina. Akh, salah satu cita-cita saya berkunjung ke masjidil aqsa. Terbayang rasa tegang saat harus diperiksa setiap saat. Jadi penasaran, kenapa harus mematikan kamera dan telepon seluler? Semoga saya bisa berkunjung ke tanah suci ini kelak, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga gak tahu, kak.... Kejadiannya th. 2016 desember. Pokoknya waktu itu kita semua harus taat aturan, talenta gak berani macem-macem....

      Hapus
  5. duh destinasi empian semua: Laut Mati, Yerusalem,

    walau harus lewat penjagaan ketat, tapi justru menjadi pengalaman tak terlupakan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah, Ambu... Insyaallah terwujud cita-cita ke sana.
      Saya dulu juga gak nyangka sih... Mulanya diajak sahabat ikutan program umroh plus...
      Tapi memang bener sih... Pengalaman nya sulit dilupakan

      Hapus
  6. Muhammad Jefri Pasenda3 Februari 2022 22.49

    Subhanallah, saya juga berkeinginan kesana bersama keluarga besar dok. Tapi untuk sekarang aksesnya bagaimana ya? Apa harus melewati israel terlebih dahulu? Karena sekarang kondisi semakin memanas disana dok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan "melalui" Israel, tapi Palestina (negara tempat masjidil aqsa berada) sedang diduduki oleh Israel. Satu-satunya jalan: masuk via jalur darat dari Yordania.
      Makasih ya sudah berkunjung ke blog dokter taura

      Hapus
    2. Muhammad Jefri Pasenda3 Februari 2022 22.59

      Terimakasih kembali dokter atas pengalamannya. ��

      Hapus
  7. Masya Allah.. pasti jadi pengalaman yang sangat berkesan ya dokter, meskipun perjalanan menuju kesana sangat melelahkan, tapi pasti sangat seru.. semoga saya dan keluarga bisa menyusul kesana seperti dokter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Semoga segera terkabul. Kuatkan niat utk ibadah dan mencari ridlo-Nya

      Hapus
  8. Kelihatannya damai disana ya? Tidak terlihat pertikaian yang biasa dilihat di TV

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, masih damai dan aman, kala itu... Semoga selalu aman tentram sentosa

      Hapus
  9. its my dream bisa kesana. Dengan berbagai pemeriksaan yg ketat tentu jadi tantangan tersendiri. Apalagi masa pandemi gini ya. Makasih shring pengalamannya

    BalasHapus
  10. Masyaallah banget yaa, Dok. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Jadi penasaran sama kelanjutan ceritanya nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Part 2 nya sudah tayang lo kak... Yuk buka beranda yuk...

      Hapus
  11. MashaAllah Mas. My dream list banget ini ke Masjidil Aqsa. Ingin banget sholat di salah satu masjid yang ada disana. Menikmati feel sejarah Isra Mi'raj dan tentu saja menyaksikan sendiri "megahnya" Yerusalem yang menjadi kota bagi 3 kekuatan agama di dunia. BTW, foto-fotonya ditampilkan lebih besar dong Mas. Biar bisa lebih merasakan suasana disana meskipun hanya lewat sebuah foto

    BalasHapus
  12. Masya Allah, indah banget yah. Duh jadi ingin ke Masjidil Aqsa nih, ingin merasakan nikmat shalat disana, semoga Allah mudahkan. Aamiin.

    BalasHapus
  13. Bagaimana rasanya ibdah disana? Apa ada kenikmatan tersendiri? Menunggu edisi sambungannya ya dok

    BalasHapus
  14. MasyaAllah Tabarakallah Dokter Taura, senang sekali ini bisa ke tempat bersejarah seperti ini. Salah satu destinasi impian saya juga...

    BalasHapus
  15. Masya Allah liat fotonya aja udah berasa perjuangannya rihlah ke wilayah yerussalem. Banyak cerita menarik di kota ini ya Kak

    BalasHapus
  16. Tentunya Pak Dokter, sampai di sana jadinya speechless, karena jejak sejarah peradaban dan kehidupan terus terjaga dengan baik

    BalasHapus
  17. wah seru ya Dok berziarah ke dua daerah konflik, semoga kelak di sana ada kedamaian yaa, bersyukur bisa napak tilas sampai ke sana ya Dok

    BalasHapus
  18. MasyaAllah, perjalanan yang sangat mengesankan banget, Mas. Saya ikut deg-degan membaca bagian pemeriksaan di imigrasi Israel.

    Kalau jalan-jalan ke luar negeri, saya suka malas berhadapan dengan imigrasi. Padahal mah gak ada salah apa-apa. Tapi, perasaannya tegang melulu. Kayaknya kalau saya yang ke sana, bisa deg-degan banget hehehe

    BalasHapus
  19. Its my dream mas ...!
    Ya Allah sampaikan kami ke tempat ini dan bumiMu yang lain.
    Amin ya Allah.
    Sambil mengahafalkan pintu-pintunya dulu lewat cerita dokter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Berdoa sambil menabung ya... Semoga segera terwujud...

      Hapus
  20. Masya Allah, kereeeen..
    Ini berangkat ke sananya paket jasa traval atau mandiri pak??
    Share akomodasi dan biayanya juga dong pak, mana tahu bisajadi referensi buat nabung niih, hehheheh Smoga bisa ngikut jejaknya pak dokter nih Aamiin

    BalasHapus
  21. MasyaAllah....membaca dari ulasan diatas sudah terbayang betapa Indahnya beberapa kota suci yang tentunya suasana disana berbeda dari Indonesia, meskipun banyak ketegangan disetiap waktu pengecek.an di pintu masuk. Terima kasih nggih Dokter sudah memaparkan beberapa destinasi disana, bisa buat gambaran bila nanti bisa kesana Aminnn, InsyaAllah 😊

    BalasHapus
  22. Masya Allah, beruntung skali dok sudah menginjakan kaki ke palestine
    Smoga suatu saat bsa kesana jga, ditunggu cerita lanjutannya ya dok

    BalasHapus
  23. Wah menegangkan banget ya sepertinya mengingat konflik yang terjadi huhuhu. Tapi keteganganku mencair saat dokter menyimpulkan kenapa paspor fotonya nggak boleh pakai 360 hahahaha bener juga sih. Dan aku penasaran se-asin apa laut mati. Ah menyenangkan bgt pengalamannya dok. Ditunggu selanjutnya...

    BalasHapus
  24. Cerpenis terasa banget ya, babak akhir pun di tulis layaknya cerbung. Ayoo ditunggu sambungannya tentang Al Aqso ya.

    BalasHapus
  25. Ini nginep ya pak dokter? Masya Alllah, salah satu wishlistku pengen ke palestina terus ke masjidil Aqsa. Semoga suatu saat diberikan kesempatan dan rezeki biar bisa menjejakkan kaki di sana seperti pak dokter.

    BalasHapus
  26. Menyenangkan sekali ya pak, jadi rindu pengen kesana lagi, tegang tapi seru

    BalasHapus
  27. Masyaallah Pak Dokter... hanya bisa mupeng bacain pengalaman berharga pak dokter ini. Cus baca lanjutannya nih

    BalasHapus
  28. Masya Allah ini ulasan yang lebih lengkap lagi ya, Dok. Dulu sempat baca perjalanan Pak Dokter yang ini, bagian paling menarik itu yang di imigrasi Israel. Bayangin gimana mencekamnya sikon nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Pak... Sangat mencekam. Jangan lupa baca yang part 2 ya pak...

      Hapus

Posting Komentar