blog dokter taura big ad

PETUALANGAN TAK TERLUPAKAN DI KOTA SUCI YERUSALEM (PART 2)

Yerusalem, Palestina adalah sebuah kota yang sarat jejak sejarah dan sangat misterius. "Kota Lama" sebagai kawasan yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia, merupakan bukti sejarah dengan banyak cerita masa lalu. 

Seperti yang saya ceritakan pada part 1, untuk bisa sampai di kota suci ini, dibutuhkan perjuangan yang cukup mendebarkan dan melelahkan. Tapi semuanya terbayar lunas ketika saya untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di kawasan Al Aqsa ini.

Kupercepat langkah hingga setengah belari, begitu melihat pagar kompleks Al-Aqso. Seperti anak sekolahan yang tergesa memasuki pintu gerbang sekolah karena bel sudah berbunyi.

Dari kejauhan tampak sebuah masjid berkubah emas, persis seperti yang sering kita lihat di gambar atau televisi.

Yes, itu pasti masjidil Aqsa, MasyaAllah... 

Aku bergumam kegirangan dengan senyum terkembang.

Menyusuri jalan menuju pelataran masjid berkubah emas itu, tampak sebuah taman yang cukup luas dengan banyak pepohonan tinggi dengan daun yang cukup rimbun tapi minim tanaman perdu semacam rumput di Indonesia.

Pelataran di sekitar masjid berkubah emas Yerusalem
Inilah pelataran di sekitar masjid berkubah emas.
Di area masjidil aqsa ini, di setiap pintu masuknya dijaga
oleh tentara Israel lengkap dengan senjata laras panjangnya. 

Assalamualaikum, Al Aqsa...

Sementara itu beberapa burung elang berwarna hitam kelam saling berkejaran sambil menyalak, memecahkan keheningan di penghujung malam. Sekelebatan kucing Persia berwarna gelap mengagetkanku. Bulunya yang halus dan tebal, ekornya yang mungil serta suaranya yang manja, membuat rasa kantuk hilang seketika.

Kususuri tapak demi tapak menuju masjid berkubah emas yang terkenal dengan sebutan "Dome of the Rock", makin dekat... makin deg-degan... Kulirik jam tanganku, setengah jam lagi waktu sholat subuh. Tapi tak terlihat ada tanda-tanda akan diselenggarakan sholat jamaah. Tak ada satupun alas kaki di depan pintu utama.

Sepi...

Ada apa gerangan?

Berdasarkan informasi dari seorang yang konon penduduk asli Palestina yang kebetulan lewat untuk sholat subuh berjamaah, ternyata masjid berkubah emas sudah lama tidak digunakan untuk penyelenggaraan sholat jamaah kecuali untuk sholat jumat khusus untuk kaum hawa. Sehari-hari masjid yang bernama asli Masjid Al Sakhra ini ramai dikunjungi untuk ziarah. Dan Alhamdulillah penulis berkesempatan berziarah ke dalam Dome of the Rock ini. Ada banyak sekali sejarah menarik yang terukir disini

Al-Aqsa sendiri secara harfiah berarti "terjauh", maksudnya terjauh dari Mekkah . Selama berabad-abad yang dimaksud dengan Masjid Al-Aqsa sesungguhnya tidak hanya masjid saja, melainkan juga area di sekitar bangunan itu yang dianggap sebagai suatu tempat yang suci.

Kemudian terjadi perubahan penyebutan, dimana area kompleks di sekitar masjid (termasuk pelatarannya) disebut sebagai Al-Haram Asy-Syarif, sedangkan bangunan masjid yang didirikan oleh Umar bin Khattab disebut sebagai Jami' Al-Aqsa atau Masjid Al-Aqsa atau Masjid Qibli yang terletak sebelah selatan dari Masjid Al-Sakhrah. Selain masjid Al-Sakhrah dan Masjid Qibli ada juga Masjid Buraq dan Masjid Marwani. Dua masjid terakhir berada di bawah tanah dan masih bisa diziarahi hingga saat ini.

Masjid dome of the rock Yerusalem
Ada beberapa masjid di area Al Aqsa ini.
Semuanya punya sejarah dan ceritanya sendiri-sendiri.
Semua bangunan dan ornamen di kawasan ini masih
terjaga keasliannya. 

Masjidil Aqsa yang Sesungguhnya

Lalu, manakah yang dimaksud "Masjidil Aqsa" sebagaimana disebut dalam Al-Quran dan Hadist?

Masjidil Aqsa yang sebenarnya adalah seluruh lingkungan Al-Haram Asy-Syarif, bukan merujuk pada salah satu masjid yang ada di kawasan suci itu. Hanya saja, dari 4 masjid, yang hingga kini difungsikan sebagai tempat sholat hanya masjid Qibli.

Bangunan Masjid Qibli berbentuk persegi, dan luasnya beserta area di sekitarnya adalah 144.000 m2, sehingga dapat menampung sampai dengan 400.000 jamaah. Panjang bangunan masjid adalah 83 m dan lebarnya 56 m, dan dapat menampung sampai 5.000 jamaah. 

Bandingkan dengan Masjidil Haram yang luasnya 656.000 m2. 

Kubah Masjidil Aqsa berwarna lebih gelap dan terkesan gahar, karena terbuat dari timah dan konon dibangun 40 tahun setelah ka'bah.

Suasana di dalam Masjidil Aqsa

Dengan sedikit terengah, kami pun berjalan ke selatan menuju Masjid berkubah hitam alias masjidil Aqsa yang asli.

Terasa bergetar dada ini saat memasuki masjid suci ini. Bukan lantaran kedinginan (suhu saat itu sekitar 6-8 derajat celcius), tapi lebih karena takjub bercampur kaget. 

Dalam bayangan saya, masjidil Aqsa adalah masjid yang megah, gemerlap, luas, ramai dan bernuansa modern seperti halnya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Namun yang ada di hadapan saya saat itu adalah sebuah masjid yang sederhana namun tetap indah, bersih walau tanpa sentuhan modernitas.

Elemen alam seperti kayu, batu dan logam mendominasi interior masjid. Jangan mencari tandon air minum seperti di Masjidil Haram, jangan mencari kantong plastik untuk tempat alas kaki disana seperti yang disediakan gratis oleh takmir masjid Nabawi.

Jangan pula membayangkan banyak Asykar berkeliaran, apalagi petugas kebersihan yang lalu lalang. Semua tidak akan kita temui di masjidil Aqsa. Semua serba terbatas dan serba sederhana.

Namun jangan tanya masalah kualitas azan dan suara imam saat memimpin sholat jamaah dan suasana syahdu serta kekhusukan saat menjalankan ibadah di masjid ini. 

Semuanya dijamin numero uno, kawan.

Memandang ke bagian atas dari kompleks Al-Aqsa ini, akan nampak empat menara gagah nan kokoh yang semuanya terbuat dari batu, iya... dari BATU! 

Menara pertama berada di sisi barat daya, bernama menara Al-Fakhariyyah yang diatasnya tedapat kubah berlapis timah. Menara kedua ada di sisi barat laut bernama Al-Ghawanimah yang tingginya 37 meter dan terkenal sebagai menara yang paling kokoh karena tidak terpengaruh oleh gempa yang beberapa kali terjadi. Menara ketiga adalah Bab Al-Silsilah. Dari menara inilah muadzin terbaik menngumandangkan adzan. Dan menara terakhir dikenal dengan Bab Al-Asbat

Keempat menara tersebut dibangun pada masa yang berbeda dan ditujukan untuk meyuarakan kumandang adzan. 

Masjid berkubah emas merupakan ikon masjidil aqsa Yerusalem

Dome of the Rock alias masjid berkubah emas hanya digunakan
 untuk sholat jumat bagi muslimah.
Sehari-hari banyak dikunjungi wisatawan laksana museum.
Salah satu bukti sejarah di dalam masji ini adalah
"batu besar yang setengah terbang". Masih ingat ceritanya kan?

"Allahuakbar Allahuakbar..." 

Lantunan kumandang azan subuh pun berkumandang merdu.

Setelah Sholat Subuh

Sholat subuh berjamaah di masjid Qibli telah usai, sebagian jamaah bergegas meninggalkan masjid, dan sebagian lagi masih khusu' berdzikir. Ada juga beberapa orang tengah fokus membaca Al-Qur'an.

Kusapukan pandangan di seputar tempatku bersila, tampak karpet merah marun berornamen minimalis yang cukup tebal, tapi tampak kurang terawat. Tak tercium bau harum Hajar aswad seperti di Masjidil Haram.

Kupandangi langit-langit masjid dengan seksama. Tampak ukiran yang rapi nan ringkas di setiap muara tiang yang gempal dan kokoh yang konon terbuat dari batu marmer. Keindahan khas timur tengah.

Langit-langit masjid masih kental dengan ornamen segi delapan yang ditumpuk melingkar membentuk formasi yang sedap dipandang. Semuanya masih didominasi warna merah, biru dan coklat keemasan hingga mengesankan suatu pemandangan yang segar dan megah.

Pemandangan di depan masjid berkubah emas Yerusalem

Kucoba berdiri dan berjalan mengikuti jamaah satu rombongan yang mulai berjalan menuju pintu keluar. 

Setelah mengenakan alas kaki dan membenahi jaket tebal yang cukup berhasil menghalau udara yang super-duper dingin ini, tetiba ada suara lelaki tua menyapa: 

"Assalamu'alaikum... Are you from Indonesia?" 

Tak kusangka, seorang lelaki tua yang dari tadi jadi pusat perhatian dan banyak disorot kamera oleh jamaah dari berbagai belahan dunia itu, malah memilih menyapa kami, kontingen dari Indonesia.

Padahal, jangankan untuk berfoto, mendekat pun, saya tak berani! 

Ah, apalah saya dibandingkan dengan "lelaki tua" yang wajahnya tampak sangat berwibawa ini?

Lelaki Tua itu Ternyata...

Rahangnya yang dipenuhi jenggot yang memutih itu tak bisa menutupi pancaran sinar wajahnya yang mencerminkan kepasrahan tingkat expert. 

Sorban putih yang menutupi rambutnya itu, tak mampu menyembunyikan sorot mata tajam nan bersahaja yang mencerminkan ketegasan dalam membela kebenaran. 

Jubah hitamnya pun tak kan bisa menyelingkuhi senyum nya teduh yang tentu saja menggambarkan kesabaran yang seolah sudah mengerak menutupi semua pori-pori yang ada di sekujur tubuhnya.

Beliau malah menyapa kami duluan dan tentu saja mengajak berjabat tangan erat.

Sungguh suatu momen yang sangat bersahabat. Yang membuat kami makin terkaget-kaget, Beliau dengan ramahnya mengajak kami bertandang ke rumahnya yang masih berada di Baitul Maqdis.

MasyaAllah, ternyata "Lelaki tua" yang saya maksud adalah SYEIKH YUSUF ABU SNEINA

Kenangan bersama Syeikh Yusuf Abu Sneina di kediamannya di Yerusalem
Merupakan kehormatan besar bagi kami, bisa mengunjungi kediaman
dan foto bersama dengan Syeikh Yusuf Abu Sneina

Beliau adalah imam besar Masjidil Aqsa yang biasa menjadi imam dan khatib sholat jumat di Masjidil Aqsa. 

Lelaki tinggi besar yang lahir di Palestina tahun 1958 ini sudah menjadi salah satu ikon Masjidil Aqsa. Selain fasih berbahasa Arab, alumnus Medina University ini juga mahir berbahasa Inggris. Tak heran kalau beliau rajin keliling dunia untuk memberikan kuliah ataupun ceramah agama, termasuk ke Indonesia. Bahkan beliau pernah menjadi juri MTQ di Indonesia.

Dengan semangat 45, kami pun menguntit sang imam dengan sesekali mengobrol dalam bahasa Inggris. Setelah berjalan duaratuan meter (masih di lingkungan Al-Haram Asy-Syarif) tibalah kami di kediaman Syeikh Yusuf yang sangat sederhana. 

Begitu pintu dibuka, tampak sebuah "madrasah" dengan tak lebih dari 20 bangku beserta meja sederhana. Sungguh rumah ini terbilang sangat sederhana untuk ukuran seorang imam besar sebuah masjid besar!

Kami pun duduk rapi sambil mendengarkan kuliah singkat dari legenda hidup Masjidil Aqsa...

"Saya selaku imam Masjidil Aqsa mengucapkan banyak terimakasih atas kunjungan tuan-tuan dari Indonesia. Keberadaan kalian di sini yang jauh dari tanah kelahiran Anda, membuat saya... membuat kami semua semakin kuat, semakin yakin untuk tetap bertahan disini. Kehadiran bapak-bapak disini membuat kami merasa tidak sendirian dalam berjuang mempertahankan tempat suci ini. Masjidil Aqsa adalah tempat Nabi Muhammad SAW memulai perjalanan mi'raj menuju surga. Jadi tempat ini bukan hanya milik rakyat Palestina, namun milik seluruh umat Islam sedunia"

Itulah kalimat pembuka dari beliau yang entahlah... apakah ini sebuah sindiran halus atau bahkan sarkasme? Yang jelas membuat saya bermuhasabah, betapa kerdil jiwa saya. Setiap hari hanya berpikir kebahagiaan diri sendiri (dan keluarga) tanpa pernah peduli bagaimana nasib saudara-saudara kita sesama muslim di Palestina, di Aleppo, di Rohingya dan entah dimana lagi,
Saudara kita sesama muslim itu, bahkan untuk bertahan hidup saja, sangat sulit. 

Foto bersama jamaah Al Madinah Mutiara Sunnah di Yerusalem

"Kami disini berusaha keras untuk membangun generasi syuhada' yang tak gentar membela Islam, yang ikhlas berjihad... Sekeras usaha Bapak-bapak semua dalam mencetak generasi anak sholeh di Indonesia yang saya yakin butuh perjuangan berat, ditengah gempuran globalisasi, sosial media yang begitu menggoda, dunia game yang sulit di rem, hingga dunia maya yang kadang membuat kita salah arah"

Terimakasih Syeh atas nasihatnya yang sarat makna...

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

38 komentar

  1. Masya Allah.. setelah membaca bagian part II, saya jadi merasakan jalan-jalan virtual melalui artikel dokter. Pun ikut merasakan bagaimana lelahnya saat diperjalanan, dan rasa kagum saat berada di masjid Al-Aqsa. Pasti sangat berkesan ya dokter setelah dari sana, dan pasti ada rasa ingin kembali berkunjung di lain waktu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Pingin banget balik kesana sekeluarga...

      Hapus
  2. Dari part I saya lanjut ke sini, Dok.. :D
    MasyaAllah, saya yang baca beneran mbrebes apalagi beneran bisa ke sana yaa..
    Lebih-lebih Dokter bisa bertegur sapa secara langsung dengan Imam Besar Syeikh Yusuf Abu Sneina :')
    Semoga perjalanan Dokter yang dibagikan ini bisa membawa keberkahan ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Memang betul-betul pengalaman yang sangat berkesan. Pingin rasanya balik ke sana bareng keluarga

      Hapus
  3. MasyaAllah Dokter beruntung sekali bisa bercengkeramah dengan imam besar Masjidil Aqsa.... setelah membaca ulasan diatas mulai dari part I, ikut merasakan betapa kentalnya sejarah islam dan budaya" yang tentunya bisa membawa kita untuk mengingat dan mengambil hikmah dari sejarah" tersebut dimana sekarang jaman milenial yang sangat tergantung dengan dunia gadget akibat dari penyelahgunaan teknologi yang kurang tepat khususnya bagi para anak dan remaja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kawasan kota lama memang sudah ditahbiskan menjadi warisan budaya dunia. Jadi tidaklah dipugar, ataupun dibangaun rumah baru, jadi rasanya tuh kayak masuk mesin waktu ke masa lalu...

      Hapus
  4. Dokter rihlahnya ke Masjidil Aqsa Palestina semoga menular ke pembaca bisa umroh sekaligus tadabur keimanan di saat berada di sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Suatu kenikmatan besar yang wajib disyukuri ya, Pak... Makasih sudah berkunjung ke blog dokter taura

      Hapus
  5. MasyaAllah dokter, dari cerita dokter terbayang bagaimana indahnya laut mati hingga masjidil aqsa. Bangunannya yang indah, sekaligus orang-orangnya yang ramah pasti menjadikan pengalamannya sulit terlupakan. Terimakasih dokter sudah berbagi pengalamannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mulai turun dari pesawat hingga naikpesawat balik Indonesia, semua menyuguhkan kenangan indah yang selalu membekas

      Hapus
  6. allahu akbar. dok, saya dari dulu setelah mekah dan madinah, kepengen banget ke palestina. cuma dengarw dri temen harus urus visa israel dulu, kok saya belom ikhlas buatnya ya dok. saya berpikir kok ya jdi nambah2 devisa israel begitu dok. semoga sampaikan umir saya dan keluarga bsa sholat di al aqsa sebelum nyawa diambil allah. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah diberi kesempatan sholat di 3 tempat suci. Semoga yang lain juga ya....

      Hapus
  7. Masyallah diberi kesempatan bertemu dan bertegur sapa dok, pasti pengalaman yang tidak pernah akan terlupakan ya dok, Anak-anak ketika mendengar ceritanya pasti nagih ikutan kesana ya dok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, Bu. Saya pingin balik ke sana bareng keluarga besar,,,

      Hapus
  8. MashaAllah Mas Taufiq. Allah sungguh memberikan rezeki yang luar biasa. Mempertemukan Mas dan rombongan dari tanah air disapa dan bersilaturahmi dengan Imam Besar Masjid Al Aqsa. Saya loh sampai merinding. Pasti hati bergetar tak terkira ya Mas. Pengalaman yang gak bakalan terlupakan seumur hidup.

    BTW, disana ada shalat jum'at untuk muslimah ya? Kalau dikita kan sholat Jum'at hanya untuk laki-laki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seingatku ada mbak... Tapi masjidnya beda walau masih dalam 1 kompleks yang sama

      Hapus
  9. Beruntung dokter melakukan perjalanan relegi yang bisa mengisi relung hati. Aku ikut terkagum dengan adanya 4 menara di komplek Al-Aqsa, menjulang megah dan terbuat dari batu.Wow...luar biasa indahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, memang segala sesuatu yang ada di kompleks "kota lama", unik semua... Serba natural.

      Hapus
  10. Subhanallah..
    Senang bgt ya dok, bisa berkunjung ke tempat bersejarah bagi umat Islam di Yerusalem. Semoga saja suatu saat nanti saya pun dapat mengunjunginya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Sensasinya beda banget dengan di masjidil haram ataupun masjid nabawi...

      Hapus
  11. Masya Allah dok, ceritanya bikin terharu dan ngiri. Kepengen sekali bisa menjejakkan kaki di Al Aqsa. Aamiin, semoga terwujud. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Saya sebenarnya juga tidak menduga bisa menjejakkan kaki di Yerusalem... Alhamdulillah semua karena Allah

      Hapus
  12. alhamdulilah bisa ke Palestina ya

    sewaktu masih beragama Katolik, banyak kisah yang saya baca/dengar tentang Palestina

    sesudah menjadi muslimah, semakin banyak kisah Palestina yang saya baca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, jadi Ambu muallaf? MasyaAllah... Semoga istiqomah ya Ambu... Yerusalem memang kota suci kaum muslim, kristen dan yahudi

      Hapus
  13. Indahnya suasana di dalam Masjidil Aqsa, meskipun sederhana membawa aura yang luar biasa kelihatnnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, sederhana tapi indah dan khusyuk... Beda banget auranya dengan masjidil haram dan masjid nabawi

      Hapus
  14. Bergetar hatiku saat membaca ceritamu dok, berasa ikut di dalam perjalanan juga. Apalagi ketika bertemu imam masjid, masyaallah sambutannya luar biasa dan sepak terjang berdakwah beliau patut diancungi jempol. Ada rasa iri dengan amalannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak Lia. Semoga kak Lia sekeluarga diberi kesempatan juga untuk ke sana

      Hapus
  15. Wajar Pak Dokter kalau masuk ke dalam masjid pasti bergetar.
    Daku pun merasakan begitu juga, sebagai tanda takjubnya akan baitullah yang istimewa. Apalagi di kompleks Al Aqsa, makin menjadi pastinya ya

    Semoga suatu saat daku bisa ziarah masjid ke sana, aamiin

    BalasHapus
  16. Palestina dengan Masjid Aqsa salah satunya merupakan destinasi impianku untuk bisa ke sana. Seneng banget berkesempatan bisa ke sana. Mudah2an saya juga ada takdirnya bisa ke sana.

    BalasHapus
  17. Kalau melihat negeri suci yang satu ini hanya bisa takjub dan merinding. MasyaAllah. Semua para mujahid di sana, InsyaAllah masuk surga terbaik. Malu rasanya kalau masih mengeluh dengan masalah yang saya hadapi tak seberapa dibandingkan jihadnya saudara di Palestina. Semoga kami juga bisa berkunjung ke sana, aamiin.

    BalasHapus
  18. Membaca tulisan ini, saya jadi membayangkan kondisi masjidil Aqso.

    Sebuah kehormatan ya, diundang ke kediaman Syeikh Yusuf Abu Sneina. Padahal awalnya mau mendekat aja sungkan, eh malah Beliau yang menghampiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, beliaunya tuhdown to earth banget. Luar biasa ya... Waktu itu setelah rombongan indonesia, masih menanti si luar: rombongan dari inggris

      Hapus
  19. Makasih sudah menuliskan perjalanan yang sangat indah ini, Dok. Walau belum pernah ke sana, tapi membaca artikel ini (dan part sebelumnya) dan melihat foto-foto yang Dokter bagikan, membuat saya seolah ikut berpetualang juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung ke blog dokter taura. Semoga bermanfaat ya....

      Hapus

  20. Ikut terharu... Sungguh anugrah luar biasa dapat mengunjungi Al-Aqsa. Cerita yang dikisahkan sangat menarik. Membuat rasa ingin tahu dan penasaran sedikit terobati. Semoga suatu saat saya dan keluarga diberi kesempatan untuk mengunjunginya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga disana aman tentram selamanya ya

      Hapus
  21. dok, aku ikut terharu loh bagian bertemu imam besar Masjidil Aqsa di Masjidil Aqsa, MashaAllah. Semoga akupun berkesempatan bisa mengunjungi bumi Allah di masjid berkubah emas ini. Bismillah shalawatin dulu :)

    BalasHapus

Posting Komentar