blog dokter taura big ad

CACAR MONYET: BIKIN RESAH WARGANET

Belum usai pandemi Covid-19, belakangan dunia dihebohkan oleh penyakit Heptitis Akut yang belum diketahui penyebabnya dan meningkatnya kasus penyakit HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) alias Flu Singapura. Kini, ada lagi satu penyakit yang namanya sangat ear-catching dan tak kalah menghebohkan. Iya betul, penyakit Cacar Monyet atau Monkeypox telah mengguncang dunia. 

Cacar Monyet atau Monkeypox ternyata bukan penyakit baru.

Mengapa Dinamai Cacar Monyet?

Cacar Monyet atau Monkeypox pertama kali ditemukan tahun 1958 saat terjadi outbreaks penyakit mirip cacar yang terjadi pada beberapa koloni monyet yang saat itu dipelihara untuk penelitian. Karena itulah penyakit ini dinamai Cacar Monyet atau Monkeypox. Namun belakangan diketahui bahwa reservoir utama penyakit ini adalah hewan pengerat seperti tikus.
Jadi nama "cacar monyet" berasal dari:

  • Penampakan penyakitnya mirip cacar
  • Pertama kali ditemukan pada hewan monyet

Penyakit "cacar" disini yang dimaksud adalah Variola atau smallpox, bukan cacar air atau bahasa medisnya: Varicella atau chicken pox! Dua penyakit yang namanya mirip, namun berbeda!

Variola sendiri sudah tereradikasi sejak 1980. WHO sudah menyatakan bahwa penyakit "cacar" atau Variola sudah musnah dari muka bumi ini sejak 1980.

Cacar Monyet pertama kali ditemukan pada manusia tahun 1970 di Democratic Republic of the Congo.
Dari sejarah di atas, diketahui bahwa Cacar Monyet bukan penyakit baru. Namun, selama ini hanya endemis di pedesaan, wilayah hutan tropis Congo Basin dan Afrika Barat.

Beberapa waktu terakhir, penyakit Cacar Monyet ini mengguncang semesta karena ditemukan di tempat yang tidak biasa, yaitu di beberapa negara di Eropa, Amerika, Australia, Singapura dll.

Penyebab Cacar Monyet

Penyakit Cacar Monyet disebabkan oleh virus yang bernama Virus Monkeypox (MPXV) yang tergolong dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus Variola (penyebab smallpox).

Monkeypox adalah penyakit virus zoonosis (virus yang ditularkan dari hewan ke manusia).

Seseorang bisa terpapar jika melakukan kontak fisik dengan air liur, cairan bintil, darah dari hewan sakit, hingga benda yang terkontaminasi. Hanya saja, pada cacar monyet penularannya jauh lebih lambat dibandingkan cacar biasa.

Gejala dan Tanda Klinis Cacar Monyet

Sebelum memberikan gejala klinis, terlebih dahulu terjadi yang namanya Masa Inkubasi yaitu interval dari mulai terjadi infeksi virus Monkeypox sampai timbulnya gejala. Masa inkubasi cacar monyet biasanya 6 – 16 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 – 21 hari.

Selanjutnya akan terjadi masa infeksi dapat dibagi ke dalam 2 fase, yaitu:

  1. Fase akut atau prodromal (0 – 5 hari)
  2. Fase erupsi (sekitar 1 – 3 hari setelah timbul demam)
Konfirmasi monkeypox hanya dapat dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, diantaranya menggunakan uji Polymerase Chain Reaction (PCR) pada spesimen swab tonsilar, swab nasofaringeal, cairan lesi dan serum. 

Fase Akut

Pada fase ini terjadi demam, sakit kepala hebat, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan kelelahan yang terus menerus. 

Pembesaran kelenjar getah bening dapat dirasakan di leher, ketiak atau selangkangan atau lipatan paha.

Pembesaran kelenjar getah bening ini yang membedakan dengan cacar biasa atau variola atau smallpox

Fase Erupsi

Pada fase ini akan muncul ruam atau lesi pada kulit yang biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap. 

Ruam mulai dari bintik merah seperti cacar, lepuh kecil berisi cairan bening, lepuh kecil berisi nanah, kemudian mengeras atau krusta lalu rontok
Sumber: Centers for Disease Control and Prevention

Ruam paling banyak muncul pada wajah (95% kasus), telapak tangan dan telapak kaki (75% kasus).

Ruam atau lesi ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh kecil berisi cairan bening (vesikel), lepuh kecil berisi nanah (pustula), kemudian mengeras atau krusta lalu rontok.

Pada fase yang berlangsung sekitar 10 hari ini, seseorang berpotensi menularkan penyakit ini hingga semua krusta menghilang dan rontok. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai fase erupsi ini 

Penatalaksanaan Cacar Monyet

Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus Monkeypox. Pengobatan simtomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul

Bagian terpenting dari penatalaksanaan cacar monyet ini adalah isolasi penderita sebagai upaya memutuskan rantai penularan penyakit

Pencegahan Cacar Monyet

Dikutip dari buku "Petunjuk Teknis Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Monkeypox" yang diterbitkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, bahwasannya:

Penularan monkeypox dapat dicegah dengan beberapa cara, antara lain: 

  1. Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol. 
  2. Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi pajanan langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik. 
  3. Menghindari kontak fisik dengan penderita atau material yang terkontaminasi, termasuk tempat tidur atau pakaian yang sudah dipakai penderita. 
  4. Menghindari kontak dengan hewan liar atau mengonsumsi daging dari hewan hasil buruan (bushmeat) 
  5. Pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit agar segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejala demam tinggi mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit, dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan, dan menginformasikan riwayat perjalanannya kepada petugas kesehatan 
  6. Petugas kesehatan agar menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap meliputi baju pelindung, sarung tangan, masker, dan pelindung wajah saat menangani pasien atau binatang yang terinfeksi.
    Cacar Monyet atau monkeypox disebabkan oleh virus dan termasuk penyakit zoonosis
    Sumber: https://www.visualcapitalist.com/explainer-what-to-know-about-monkeypox/

Kesimpulan

Penyakit Cacar Monyet bukan penyakit baru, melainkan penyakit lama yang saat ini sedang merebak ke seluruh dunia

Penyebab Cacar Monyet adalah virus Monkeypox yang merupakan penyakit zoonosis yang bisa sembuh sendiri

Pembesaran kelenjar getah bening dan munculnya ruam kulit di hampir seluruh tubuh menjadi gejala khas dari cacar monyet

Ruam mulai dari bintik merah seperti cacar berubah menjadi lepuh kecil berisi cairan bening, kemuddian menjadi lepuh kecil berisi nanah, yang akhirnya mengeras lalu rontok.

Hingga saat ini belum ada obat khusus untuk mematikan atau melemahkan virus penyebab cacar monyet

Pencegahan dan kewaspadaan dini harus dilakukan oleh semua pihak terutama petugas kesehatan dan seluruh masyarakat Indonesia

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

39 komentar

  1. Terima kasih untuk pemaparannya nggih dokter mengenai Monkeypox atau Cacar Monyet ini.
    Meskipun sudah ada edaran kewaspadaan terhadap kasus Monkeypox namun belum ada laporan kasusnya, alangkah baiknya kita tahu bahwa dapat tertular monkeypox jika melakukan kontak fisik dengan air liur, cairan bintil, darah dari hewan sakit, hingga benda yang terkontaminasi. Selain itu, pada cacar monyet penularannya jauh lebih lambat dibandingkan cacar air biasa.
    Pada permulaan sakit, gejalanya tidak khas yaitu berupa demam, sakit kepala hebat, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan kelelahan yang terus menerus. Pembesaran kelenjar getah bening menjadi pembeda antara cacar monyet dan cacar air biasa. Kemudian pada tahapan lanjut, akan muncul ruam atau lesi pada kulit yang biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap.
    Untuk pengobatannya hanya mengurangi gejala saja. Belum ada pengobatan khusus. Namun tentu, mencegah lebih baik daripada mengobati. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol. Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata atau sumber penularan yang saya sebutkan diatas. 

    Saya izin menanyakan dokter, apakah kasus ini bisa diberikan antiviral ? Jika iya, tujuannya lebih untuk arah mengobati atau mencegah perburukan kondisi klinis (menahan agar ruam tidak banyak muncul) ? Pilihan antiviralnya apa nggih dokter ?
    Kemudian untuk obat topikalnya, bagaimana nggih dokter ? Terima kasih banyak dokter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Antivirus pada kasus ini tidak perlu diberikan karena self limiting disease.

      Hapus
  2. Hidup bersih adalah kunci terhindar dari penyakit.
    Hati yg bersih kunci kebagian hidup.
    Islam telah mengajarkan hidup sehat & bahagia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maturnuwun pak ustad atas ceramah singkatnya

      Hapus
  3. Terima kasih banyak dokter atas informasi terbaru dan ter update nya, menambah pengetahuan kami semua.
    Dengan adanya varian penyakit yg bermunculan saat ini apakah mungkin nggih dok nantinya akan ada vaksin² baru yang juga diciptakan sebagai upaya preventif?
    Kemudian untuk tatalaksana simptomatisnya bisa diberikan dengan apa saja nggih dokter ? Apakah ada salep/obat oral khusus untuk mempercepat penyembuhan lesi dari monkeypox ini ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terapi symptomatik tergantung gejala yang muncul. Kalau wabah semakin meluas, bisa saja mucul vaksin khusus monkeypox. Sementara WHO merekomendasikan vaksin variola untuk m onkeypox

      Hapus
  4. YA Allah ... ngeri ya.
    Saya beberapa hari terakhir mengikuti acara online Dokter Dewi Inong, beliau juga ada menyebutkan mengenai monkeypox.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mencegah jauh lebih baik... Yuk biasakan PHBS...

      Hapus
  5. kondisi saat ini memang belum baik-baik saja, pandemi covid baru saja mereda tapi sudah ada penyakit mulut dan kuku pada hewan padahal sudah mendekati hari raya idul adha, lalu ada lagi hepatitis akut, dll. jadi kita harus selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan, dan semoga Allah segera mengangkat segala penyakit dan musibah yang ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Tindakan pencegahan memang jauh lebih baik dan lebih murah. Sayangnya banyak orang masih abai thd PHBS dkk

      Hapus
  6. Pembesaran kelenjar getah bening dan munculnya ruam kulit biasanya jadi gejala awal tubuh diserang virus ya, dulu anak saya juga pernah punya gejala demikian, sampai didiagnosa kawasaki, untungnya bukan.
    Semoga kita semua terlindungi dari segala macam virus, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Semoga kita semua dijauhkan dari segala wabah dan bala...

      Hapus
  7. Wah akhir akhir ini banyak sekali penyakit yang bikin gempar ibu-ibu ya dok. Salah satunya Variola ini. Berarti sekarang kita harus lebih rajin lagi mengamalkan PHBS di kehidupan sehari-hari apalagi diketahui virus variola punya reservoir utama yaitu tikus, hewan yang sehari hari banyak kita temui di lingkungan sekitar. Apalagi monkeypox ini prnularannya zoonosis, jadi kita harus berhati hati bila melakukan kontak fisik dengan air liur, cairan bintil, darah dari hewan sakit, hingga benda yang terkontaminasi. Berarti penting juga menjaga kesehatan hewan peliharaan kita ya dok. Sungguh bahasan yang menarik dok. Penyakit sekarang banyak sekali yang erupsi lagi ya dok semenjak pandemi Covid-19 yang sampai sekarang belum dicabut status pandeminya. Semoga kita semua senantiasa dilindungi oleh Allah SWT. Aamiinn YRA.

    BalasHapus
  8. Saya termasuk orang tua yang resah juga nih dok, secara kedua putera saya ada di tahapan usia itu semoga dengan penerapan dalam menjaga keseha

    BalasHapus
  9. Saya termasuk orang tua yang resah juga nih dok, secara kedua putera saya ada di tahapan usia itu semoga dengan disiplin penerapan dalam menjaga kesehatan terhindar dari penyakit itu aamiin

    BalasHapus
  10. Aaah ... aku miris banget!

    Sudah ada edaran kewaspadaan terhadap kasus Monkeypox? OMG dok, seandainya ada, apa boleh vaksin duluan karena anak anak punya kucing yang diajak bobok siang selalu :(

    kita tahu bahwa dapat tertular monkeypox jika melakukan kontak fisik dengan air liur, cairan bintil, darah dari hewan sakit, hingga benda yang terkontaminasi. Selain itu, pada cacar monyet penularannya jauh lebih lambat dibandingkan cacar air biasa. jadi kan harus double waspada

    BalasHapus
  11. Dennise Sihombing30 Mei 2022 pukul 08.20

    Morning dr.Taura, cukup meresahkan ya cacar monyet ini. Tapi aku cukup tenang dengan pembahasan yang dokter berikan secara detail. Kebetulan dari penyebab yang dokter sebutkan tidak ada satupun yang aku alami

    BalasHapus
  12. Waah ternyata cacar monyet ini bukan penyakit baru nggih dokter, memang sudah ada sejak dulu namun hanya endemis di daerah tertentu. Untuk penularannya sendiri ternyata dari hewan ke manusia, melalui kontak fisik dengan air liur, cairan bintil, darah dari hewan sakit, dan juga benda yang terkontaminasi. Gejala khas yang harus diperhatikan adalah adanya pembesaran kelenjar getah bening dan munculnya ruam kulit di hampir seluruh tubuh. Dengan banyak nya varian penyakit yang bermunculan ini, salah satu bentuk pencegahan adalah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, seperti cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol. Terima kasih banyak dokter untuk informasinya mengenai cacar monyet atau monkeypox.

    BalasHapus
  13. Baca tulisan dokter menambah khasanah pengetahuan kesehatan monkeypox, pencegahan mulai membiasakan phbs sampai penanganan menggunakan apd

    BalasHapus
  14. Sukanya kalau setiap profesi punya blog itu ya, begini kayak dokter taura. Setidaknya kita bisa menambah khasanah soal penyakit seperti cacar monyet ini. Mulai dari penyebab sampai bagaimana mengatasinya. Makasih dokter

    BalasHapus
  15. kebetulan banget saya (sambil berbaring karena flu berat) saya buka2 channel yang bahas cacar monyet ini
    dan betul seperti dugaan saya,
    paska pandemi kita nih jadi parnoan ya?
    tapi ya gakpapa dok, dengan tahu kita bisa melakukan tindakan preventif

    BalasHapus
  16. Jadi, untuk kawasan Asia Tenggara, Cacar Monyet ini sudah ada di Singapura? Wiiih udah dekat ke Indonesia, mana orang kita wara wiri ke sana kayak ke warung depan rumah aja, jangan sampe menular dan menyebar di negara kita. Dilihat dari penampakan cacarnya, serem juga ya, kasihan kalau ada yang kena :( Terima kasih infonya, pak dokter.

    BalasHapus
  17. Kenapa banyak nama penyakit yang mengambil nama hewan ya?
    Duh skr heboh cacar monyet, baru tau nih aku. Dulu taunya cacar api. Notes sudah baca poin-poin cara penularannay supaya bisa waspada

    BalasHapus
  18. Terwajib dibaca oleh para ortu.
    Edukasi ini bikin kita aware tapi engga panik.

    Thanks much ya

    BalasHapus
  19. Lagi seksama membaca penjelasan pak dokter, dikejutkan dengan gambar berintilan sepanjang tubuh, aduh merinding banget. Dulu waktu lagi hamil aku kena cacar air, tersiksa bukan main, gak demam, tapi sesak nafas. Gimanaa ini yang kena monkeypox. Semoga kita dijauhkan dari berbagai penyakit mengerikan ya, aamiin

    BalasHapus
  20. ngeri kali dok, wabah covid belum juga usai sudah ditambah wabah lainnya. semoga Indonesia selalu aman lahhh

    BalasHapus
  21. Baru aja kemaren lalu baca tentang berita penyakit ini. Aduh serem ya. Semoga kita semua selalu sehat wal afiat ya.

    BalasHapus
  22. waduh ngeri banget ya, jadi harus lebih waspada lagi ini..

    BalasHapus
  23. Nabilah Fauziyah1 Juli 2022 pukul 18.58

    Terima kasih banyak dokter untuk ilmu nya yang bermanfaat ini. Izin bertanya dokter untuk pengobatan penyakit cacar monyet ini apakah perlu dilakukan MRS atau bisa dengan pengobatan rawat jalan saja dokter? Terima kasih banyak dokter

    BalasHapus
  24. Terima kasih banyak dokter atas informasi terbaru dan ter update nya, menambah pengetahuan kami semua. Mau bertanya dokter, untuk kasus self limiting disease seperti ini apa bisa menyebabkan komplikasi berat yang mengancam jiwa ya dok? Terima kasih sebelumnya dokter

    BalasHapus
  25. Assalamualaikum wr.wb dokter terima kasih banyak dokter menyajikan penyakit cacar monyet ini terima kasih atas ilmu dan informasinya, berarti untuk saat ini tatalaksananya sama dengan penyakit HFMD nggeh dokter untuk cacar monyet itu sendiri, terapi simptomatik aja nggeh? Waasalamualaikum wr.wb

    BalasHapus
  26. Terima kasih banyak dok, ilmunya sangat berguna.. dok izin bertanya, pada fase erupsi, ruam ruamnya itu apakah ada rasa gatal atau rasa panas nggih dok? Terima kasih dok

    BalasHapus
  27. Alhamdulillah, terimakasih dokter atas sharing ilmu yang diberibakan. Izin bertanya dok, untuk penegakan diagnostik sebnarnya seberapa penting sih tok pemeriksaan PCR ini? Bagaimana misalnya jika kita berada pada tempat dengan keterbatasan dan tidak dapat melakukan tes PCR ini? Terimakasih dokter.

    BalasHapus
  28. Makin ke sini makin serem ya sama penyakit-penyakit yg muncul. Semoga saja imunitas kita bisa terbentuk untuk bisa menangkal virus/kuman/bakteri dari luar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Semoga kita semua dilindungi dari segala marabahaya dan segala penyakit...

      Hapus
  29. Hani Mufidatul Khoiriah L-3813 Agustus 2022 pukul 13.03

    Terima kasih untuk penjelasan nya mengenai Monkeypox atau Cacar Monyet ini. Karena memang akhir-akhir ini sempat dihebohkan dengan kasus cacar monyet yang telah menyebar di 75 negara. Seyogyanya kita tahu bahwa dapat tertular monkeypox jika melakukan  kontak fisik dengan air liur, cairan bintil, darah dari hewan sakit, atau benda yang terkontaminasi. Penularan cacar monyet ini cenderung lamabat, karena adanya Masa Inkubasi (fase sebelum memberikan gejala) kurang lebih 5-22 hari.
    Pada fase akut, gejalanya berupa demam, sakit kepala hebat, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan kelelahan yang terus menerus. Pembesaran kelenjar getah bening menjadi pembeda antara cacar monyet dan cacar air biasa. Kemudian masuk pada fase erupsi, akan muncul ruam atau lesi pada kulit yang biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap.
    Belum ada pengobatan khusus untuk cacar monyet ini. Karena penyebabnya adalah virus sehingga sifatnya self limiting disease (dapat sembuh sendiri). Pencegahan dapat dilakukan dengan mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol. Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata atau sumber penularan.

    BalasHapus
  30. Terima kasih dokter penjelasannya. Ternyata penyakit Cacar Monyet ini bukan sebuah penyakit baru, tetapi penyakit lama yang saat ini menyebar ke seluruh dunia. Sampai saat ini tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk penyakit Cacar Monyet sehingga semua masyarakat dan petugas kesehatan harus mencegah dan menerapkan kewaspadaan dini agar tidak tertular penyakit Cacar Monyet ini. Dalam terapi penyakit Cacar Monyet, pengobatan simtomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul.



    Hingga saat ini belum ada obat khusus untuk mematikan atau melemahkan virus penyebab cacar monyet

    Pencegahan dan kewaspadaan dini harus dilakukan oleh semua pihak terutama petugas kesehatan dan seluruh masyarakat Indonesia

    Kesehatan Anak

    BalasHapus
  31. Beberapa waktu lalu memang heboh tentang monkeypox ini sudah masuk Indonesia. tidak salah lagi, penderita menyampaikan riwayat kepergiannya mengunjungi daerah endemik monkeypox. sampai saat ini memang belum diketahui pengobatan khusus monkeypox atau vaksinasi untuk virus jenis ini. semua upaya pengobatan yang dilakukan sekarang kembali ke prinsip bahwa semua penyakit yang disebabkan virus bersifat self-limiting disease sehingga penting nya peningkatan sistem kekebalan tubuh penderita. juga dapat diringankan dengan pengobatan-pengobatan simptomatik terkait gejala yang dikeluhkan oleh penderita. tidak lupa untuk selalu ingat akan keselamatan dan kewaspadaan diri sendiri dan keluarga, sehingga dapat meminimalisir terkait hal yang tidak diharapkan.

    BalasHapus
  32. Terima kasih dokter atas penjelasannya mengenai Monkeypox yang memang beberapa bulan terakhir ini sedang gembor-gembornya dibicarakan.
    Ternyata Monkeypox atau Cacar Monyet ditemukan pada manusia tahun 1970 sehingga dapat disimpulkan bahwa Cacar Monyet bukan merupakan penyakit yang baru, hanya saja selama ini ditemukan didaerah endemis di pedesaan, di wilayah hutan tropis Cngo Basin dan Afrika Barat.
    Penyebab Cacar monyet adalah virus Monkeypox (MPXV). Monkeypox termasuk dalam penyakit virus zoonosis sehingga seseorang dapat terpapar jika melakukan kontak fisik dengan air liur, cairan bintil, darah dari hewan yang sakit, hingga benda-benda yang sudah terkontaminasi, tetapi penularannya lebih lambat dibandingkan dengan cacar biasa.
    Gejala dari Monkeypox diantaranya yaitu demam, sakit kepala hebat, pembesaran KGB (leher, ketiak, selangkangan atau lipatan paha), nyeri punggung, nyeri otot, dan kelelahan yang terus menerus. Lalu muncul ruam mulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya secara bertahap. Ruam mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh sedikit berisi cairan bening (vesikel), lepuh berisi nanah (pustula), kemudian mengeras (krusta) lalu rontok
    Penatalaksanaan Monkeypox diberikan pengobatan simptomatik dan suportif untuk meringankan keluhan yang muncul.

    BalasHapus

Posting Komentar