blog dokter taura big ad

PEKAN MENYUSUI SEDUNIA: STEP UP FOR BREASTFEEDING, EDUCATE AND SUPPORT

Manfaat dan keunggulan ASI (Air Susu Ibu) hingga kini tak tertandingi. Namun, masih banyak bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. Padahal ASI eksklusif merupakan hak bayi. Bayi, sebagai anugerah terindah sekaligus amanah terberat sudah sewajarnya mendapatkan yang terbaik, termasuk nutrisi terbaik. Melalui Pekan Menyusui Sedunia, diharapkan adanya upaya peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya ASI bagi kesehatan bayi, serta meningkatnya dukungan terhadap ibu menyusui (busui) agar dapat menyusui di mana saja dengan nyaman.

pekan menyusui sedunia adalah gerakan menyusui secara global yang mendukung para ibu agar dapat menyusui di mana saja dengan nyaman

Sejarah Hari ASI dan Pekan Menyusui Sedunia

Dilansir dari www.suara.com bahwa sejarah ditetapkannya pekan menyusui sedunia ini dimulai sejak pertemuan antara WHO dan UNICEF pada 1990 yang menghasilkan Deklarasi Innocenti.

Deklarasi Innocenti sendiri adalah pernyataan formal untuk memberikan perlindungan dan dukungan terhadap proses menyusui anak. Dalam dokumen deklarasi ini, juga diungkap manfaat dan pentingnya menyusui.

Tahun berikutnya, 1991, dibentuklah The World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) sebagai organisasi pelaksana Deklarasi Innocenti tersebut. WABA kemudian menjadi penanggungjawab Rumah Sakit Ramah Bayi dan sebagainya.

Sebagai kepanjangan tangan, tujuan WABA inilah yang akhirnya mencetuskan waktu khusus untuk mendedikasikan dalam kegiatan menyusui. Hingga akhirnya terbentuklah World Breastfeeding Week (WBW).

Akhirnya, WBW pertamakali dirayakan pada 1992, dan kini berkembang pesat dengan mengikutsertakan banyak negara dan organisasi di seluruh dunia. Hasilnya, dari tahun ke tahun kegiatan menyusui ibu dan anak semakin meningkat, dan juga menjadi lebih baik.

Angka ASI Eksklusif di Indonesia MENURUN

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2021, dari 2,3 juta bayi di Indonesia yang berusia kurang dari enam bulan, yang mendapat ASI eksklusif adalah sebesar 52,5 persen. Angka ini menurun 12 persen dari tahun 2019.

Angka Inisiasi Menyusu Dini (IMD) juga turun dari 58,2 persen pada tahun 2019 menjadi 48,6 persen pada tahun 2021.

Survei nasional yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan dengan dukungan UNICEF pada tahun 2021 menemukan bahwa kurang dari 50 persen ibu dan pengasuh anak di bawah dua tahun yang menerima layanan konseling menyusui selama pandemi. Situasi ini diperparah oleh tingginya pelanggaran terhadap Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI di Indonesia.

Seruan WHO dan Unicef

Sejalan dengan tema Pekan Menyusui Dunia tahun ini, Set Up for Breastfeeding: Educate and Support, WHO dan UNICEF menyerukan pemerintah, mitra, dan anggota masyarakat untuk mendukung ibu agar melanjutkan praktik menyusui yang optimal dan memperluas investasi yang dibutuhkan untuk mempromosikan pemberian ASI, termasuk:

  • Memastikan ketersediaan layanan konseling menyusui untuk semua ibu dan pengasuh bagi anak berusia di bawah dua tahun, baik secara tatap muka maupun melalui platform digital.
  • Memperbarui dan memperluas implementasi 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui di seluruh bagian sistem kesehatan yang menyediakan layanan persalinan.
  • Memperkuat implementasi dan pemantauan kepatuhan terhadap Kode Internasional Pemasaran Produk Pengganti ASI.

Pada masa pandemi, UNICEF dan WHO menyarankan agar ibu yang dicurigai atau terkonfirmasi positif COVID-19, serta sedang menjalani isolasi mandiri, untuk melanjutkan pemberian ASI dan tetap melakukan kontak kulit ke kulit dengan memperhatikan protokol kesehatan. Para ibu juga dianjurkan meneruskan pemberian ASI untuk bayi atau anak yang sedang sakit, baik yang kemudian dikonfirmasi positif COVID-19 maupun penyakit lainnya.

Proses menyusui adalah stimulasi terbaik

Pentingnya ASI

ASI adalah nutrisi terbaik dan terlengkap. Nilai nutrisi ASI lebih besar dibandingkan susu formula, karena mengandung lemak, karbohidrat, protein, dan air dalam jumlah yang tepat untuk pencernaan, perkembangan otak, dan pertumbuhan bayi. 

Kandungan nutrisinya yang unik menyebabkan ASI memiliki keunggulan yang tidak dapat ditiru oleh susu formula apapun. Susu sapi mengandung jenis protein berbeda yang mungkin baik untuk anak sapi, tetapi bayi manusia sulit mencernanya

Dilansir dari laman resmi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), bahwa banyak penelitian yang menilai pengaruh jangka pendek dan panjang dari menyusui terhadap kesehatan bayi dan anak. 

Menyusu eksklusif selama 6 bulan terbukti memberikan risiko yang lebih kecil terhadap berbagai penyakit infeksi (diare, infeksi saluran napas, infeksi telinga, pneumonia, infeksi saluran kemih) dan penyakit lainnya (obesitas, diabetes, alergi, penyakit inflamasi saluran cerna, kanker) di kemudian hari.

Bayi yang mendapat ASI lebih sedikit memerlukan rawat inap dibanding bayi yang mendapat susu formula. Zat kekebalan yang berasal dari ibu dan terdapat dalam ASI akan ditransfer ke bayi untuk membantu mengatur respons imun tubuh melawan infeksi.

Selain itu, ASI juga memberikan manfaat dalam hal:

Kesehatan Saluran Percernaan

Saluran cerna bayi yang mendapat ASI mengandung banyak bakteri Bifidobacteria dan Lactobacillus; bakteri menguntungkan yang dapat mencegah pertumbuhan organisme yang merugikan dan banyak dilaporkan mempunyai efek terhadap peningkatan sistem imun (kekebalan) tubuh.

Disamping itu, bayi yang mendapat ASI eksklusif mempunyai kadar SIgA lebih tinggi dibanding bayi yang mendapat susu formula. Data tersebut dapat menjawab mengapa bayi yang mendapat ASI mempunyai daya tahan tubuh alami yang lebih besar.

Meningkatkan Intelegensia Bayi

Bayi yang mendapat ASI mempunyai nilai IQ 3-5 lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula. Makin lama bayi menyusu, makin besar efek positif pada IQ bayi. Tingkat IQ lebih tinggi dikaitkan dengan kandungan nutrisi yang ditemukan pada ASI.

Rasa nyaman dan hangat selama menyusui

Bayi dapat menikmati rasa aman, kehangatan, dan keberadaan ibunya, khususnya bila terjadi kontak kulit-ke-kulit selama menyusu. Perasaan tersebut mungkin kurang diperoleh oleh bayi yang mendapat susu botol.

ASI dan Stress

Salah satu hal yang mempengaruhi produksi ASI adalah kondisi psikologis ibu yang "negatif" alias stres. Selain rasa khawatir akan kurangnya produksi ASI atau rasa ketidakpercayaan pada diri sendiri akan lancarnya produksi ASI, beberapa hal di bawah ini adalah jenis stres yang umum dialami oleh ibu menyusui:

  1. Merasa kualitas ASInya tidak cukup baik untuk sang bayi, 
  2. Takut bentuk tubuh atau payudaranya berubah (faktor estetika), 
  3. Stres akibat perubahan gaya hidup terutama bilamana menyusui anak pertama, 
  4. Takut terjangkit penyakit selama masa ASI eksklusif 6 bulan, 
  5. Stres karena merasa pemberian ASI kurang praktis bagi ibu yang bekerja, 
  6. stres dari kurang tepatnya dukungan suami bagi kegiatan memberikan ASI sebagai makanan terbaik bagi bayi.

Semua stres secara otomatis mempengaruhi produksi hormon oksitosin yang tidak boleh dianggap remeh perannya dalam produksi ASI berkualitas. Sayangnya, selama ini tidak semua orang memahami pentingnya mengelola stres.

Pendek kata, seorang ibu menyusui (busui) tidak hanya membutuhkan kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental, demi meningkatnya kuantitas dan kualitas ASI 

Posisi Menyusui dan Ayah ASI 

Posisi menyusui dan cara menyusui yang benar merupakan salah satu kunci keberhasilan menyusui eksklusif. 

Agar proses menyusui dapat berjalan lancar, maka seorang ibu harus mempunyai ketrampilan menyusui agar ASI dapat mengalir dari payudara ibu ke bayi secara efektif. Keterampilan menyusui yang baik meliputi posisi menyusui dan perlekatan bayi pada payudara yang tepat.

Ketrampilan menyusui ini bisa dipelajari dan dilatih. Salah satu bentuk support suami adalah dengan berdiskusi atau berkonsultasi dengan konsultan laktasi.

Sebagai Ayah ASI, suami juga bisa melakukan pijat oksitosin dan dilanjutkan mendampingi busui dalam mengasah ketrampilan menyusui di kamar kenangan.

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger
Terbaru Lebih lama

Related Posts

32 komentar

  1. Baru ngeh kalau pekan menyusui sedunia.
    Anak saya dua, satu ASI plus sufor, yang satunya ASIX.
    Dan emang keliatan banget bedanya.

    Si Kakak dulu, astagaaaaaa.... bolak balik sakit, paling sering pencernaan, waktu bayi bahkan di ranap di RS gegara muntaber, hiks.

    Sementara si Adik, Alhamdulillah selalu kuat daya tahan tubuhnya, lebih aktif, lebih nggak pantang makan apapun.
    Luar biasa memang anak ASIX itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Kak Ray... Di dalam ASI mengandung ratusan komponen hidup yang tidak bisa ditiru oleh susu formula. Salah satunya zat kekebalan ini...

      Hapus
  2. Hallo dok. Puji Tuhan kedua anak saya Rachel dan Glory mereka mendapatkan ASI ekslusif semua. Bahkan Glory minum ASI hingga satu tahun. Dan terbukti ya anak ASI itu hingga besar mereka tidak mudah sakit ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bundanya nih yang hebat... Anak ASi memang lebih kuat, lebih tahan dari penyakit menular, obesitas, kencing manis dll

      Hapus
  3. Ternyata mengalami penurunan, ya. Penyebabnya apa, dok? Semoga aja persentasenya bisa naik lagi. Manfaat memberi ASI banyak sekali. Salah satunya berasa banget bonding dengan anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. penurunan angka menyusui eksklusif 2 tahun ini disebabkan karena pada saat pandemi, ibu yang positif tidak menyusui bayinya.

      Hapus
  4. kok jadi inget momen menyusui kemarin ya. beruntungnya dulu suami aware banget soal ini juga pak, jadi dukungan suami untu busui ini nggak kalah pentingnya selama proses menyusui

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya, para suami punya kepentingan terselubung lho akan keberhasilan menyusui. Dengan keberhasilan menyusui eksklusif, bisa hemat puluhan bahkan ratusan juta lho...

      Hapus
  5. Anak2 saya cuma sampe 6 bulan dikASIhi, setelah itu asi saya ngga keluar lagi. Kering ...

    Biar begitu tetep ada bedanya. Si kakak fisiknya lebih kuat dan si adek gampang sakit.

    Semoga para ibu disini sehat selalu dan bisa berikan ASI ekslusif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, semoga semua ibu se Indonesia raya sadar akan pentingnya menyusui dan berhasil memberikan ASI eksklusif. Anak Indonesia pun jadi sehat, kuat dan berkualitas

      Hapus
  6. Aku yang belum punya anak melihat ada bayi di sekitar rumah nggak diASIhi sangat menyayangkan banget. Pas ditanya ke si ibu katanya ASInya nggak keluar. Kayak gitu mungkin nggak sih Dok?
    Tapi, si ibu yang nggak menyusui ini juga kayaknya nggak ada inisiatif sih buat usaha biar ASInya lancar. Kayak misal minum suplemen atau mengonsumsi daun katu gitu.

    BalasHapus
  7. Benar ya dok, posisi menyusui dan stimulasi penting agar bisa menyusui secara ekslusif. Kadang dukungan atau support orang terdekat juga penting buat kesehatan mental ibu. Jadi, ibu memang harus bahagia biar bisa menjalani perannya dengan baik.

    BalasHapus
  8. Melawan kapitalisme yang mendominasi pasar susu formula ya dok?
    banyak teman saya yang jadi ayah ASI nih, dan saya salut banget (sekaligus iri hehehe)
    karena bayi sufor gak hanya didominasi masyarakat kelas atas, juga masyarakat bawah yang masih percaya agar bayi sehat/gendut ya harus minum sufor

    BalasHapus
  9. Wah baru tau saya ada pekan menyusui sedunia semoga semua bayi dapat haknya untuk diberikan ASI terbaik ya

    BalasHapus
  10. Hak anak selain pendidikan dan perlindungan, salah satu hal penting lainnya adalah mendapatkan ASI ya.
    Alhamdulillah dapat contoh dari kakak daku yang mengASIhi anaknya, sehingga saat nanti daku di fase tersebut bisa menerapkannya

    BalasHapus
  11. Wah, udah breastfeeding week lagi ya. Sejak beres menyusui si bungsu, 6 tahun lalu, aku jadi lupa dengan pekan ini. Dulu tiap ada, selalu ikut. MInimal dengan nulis atau cuma bikin status di media sosial. Biar para ibu semangat menyusui anak-anaknya. Dan semua orang jadi support system yang baik untuk para busui.

    BalasHapus
  12. ASI merupakan asupan terbaik bagi bayi karena mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan bayi dalam tumbuh kembangnya. Pekan ASI ini sangat bagus untuk lebih meningkatkan dan memotivasi para Ibu MengASIhi

    BalasHapus
  13. Jadi ingat kalau saya punya teman yang selama mempromosikan program ayah asi. Beruntungnya para istri yang suaminya mendukung penuh pemberian ASI untuk anaknya. Karena ASI memang gak tergantikan.

    BalasHapus
  14. Saya salah satu pendukung pemberian ASI ekslusif, selama ada masalah dengan Ibu da bayi ASI wajib diberikan. Dan dukungan keluarga memang penting ya mom, apalagi suami.

    BalasHapus
  15. Salut buat yang memperjuangkan dicanangkan hari ASI, mengingat pentingnya ASI buat bayi. Sementara di luaran, hegemoni produk susu pabrikan dan produk kecantikan perempuan begitu mempengaruhi.

    BalasHapus
  16. kesuksesan memberikan ASI memang harus peran serta banyak pihak ya dok, termasuk peran suami/ayah ya, biar anak-anak di Indonesia bisa sukses asi eksklusif yang memang bagus manfaatnya

    BalasHapus
  17. Miris membaca tentang angka pemberian ASI eksklusif yang menurun datanya, Alhamdulillah, beruntung putra-putri di keluarga kami mendapatkannya.
    Setuju sekali tentang peran ayah yang harus menjadi ayah Asi untuk menjadi support system terbaik untuk pemberian ASI eksklusif

    BalasHapus
  18. Sedih, angka ibu menyusuinya malah turun. Saya dulu nggak bisa menyusui karena emang nggak bisa. Cuma tiga bulan aja bisanya. Semoga ibu-ibu semakin banyak sadar ASI. Jadi angkany naik lagi melebihi angka semula.

    BalasHapus
  19. Kemarin sempat ikutan di WAG tentang fakta dan mitos seputar menyusui. Teenyata banyaks ekali mitos yang beredar selama ini. Pentingnya literasi ya

    BalasHapus
  20. Anakku jelas beda banget antara yang asix sama yang suforx. Dan bener banget sih bahwa posisi menyusui dan cara menyusui yang benar adalah kunci keberhasilan menyusui eksklusif.

    Anakku pertama minim ilmu, akhirnya mastitis parah, ga jadi asi Dok. Sedih banget. Nah pas anak 2 dan 3 baru pinter haha. Blog ini aku rekomendasikan ke keluarga aku lho tentang memberi ASI yang benar Dok.

    BalasHapus
  21. semoga nanti kalau sudah menjadi ibu, saya bisa memberikan ASI eksklusif kepada anak saya, karena fenomena di sekitar sudah terlihat banyak ibu-ibu yang enggan memberikan ASI meski ASI nya masih ada.

    BalasHapus
  22. Kandungan ASI ga akan tergantikan dgn susu formula manapun ya Dok. Padahal campaign asi eksklusif makin marak tpi kok angkanya justru menurun. Sepertinya klo di daerah2 kecil masih krg pengetahuan soal ini dok, masih byk yg merasa klo bayi rewel atau sering nangis krna asi ibunya krg jdi ditambah sufor. Padahal newborn sering nangis kan emang wajar dan ga cuma krn efek krg kenyang tpi byk faktor lain T.T

    BalasHapus
  23. aku baru saja belajar tentang teori perkembangan dan mendapati ilmu batu terkait psikologi perkembangan anak khususnya pada tahap menyusui dampaknya luar biasa, yups, khususnya kemampuan koginitif yang berkaitan dengan intelegency

    BalasHapus
  24. Hani Mufidatul Khoiriah13 Agustus 2022 12.44

    Begitu besarnya manfaat ASI untuk sang bayi. ASI adalah nutrisi terbaik, terlengkap (lebih baik daripada susu formula merek apapun), dan memberikan kekebalan yang lebih untuk bayi, hal ini terbukti bahwa bayi dengan ASI ekslusif memiliki risiko yang lebih kecil terhadap berbagai penyakit infeksi, maupun non infeksi. ASI juga meningkatkan intelegensia (IQ) bayi. Selain itu, dengan pemberian ASI skin to skin bayi dapat menikmati rasa aman, kehangatan, dan keberadaan ibunya. 
    Oleh karena itu sudah seharusnya setiap ibu memberikan ASI EKSKLUSIF kepada bayi nya, karena ASI adalah seriap bayi. Agar pemberian ASI lancar hendaknya sang ibu tidak boleh merasa stress karena psikologi ibu sangat berpegaruh terhadap produksi ASI.

    BalasHapus
  25. Terima kasih dokter sharing ilmunya. ASI (Air Susu Ibu) merupakan hal yang sangat penting bagi bayi karena ASI memiliki kandungan nutrisi yang terbaik dan lengkap. Kandungan nutrisi pada ASI sangat baik bagi kesehatan pencernaan bayi, perkembangan dan pertumbuhan bayi serta meningkatkan intelegensi bayi.
    Dalam mendukung pemberian ASI pada bayi, kondisi psikologis ibu harus diperhatikan karena stres dapat mempengaruhi produksi hormon oksitosin yang berperan dalam produksi ASI berkualitas. Tapi, terkadang stress pada ibu menyusui sering diabaikan dan tidak diperhatikan sehingga dapat memengaruhi ASI. Oleh karena itu, peran seorang suami dan juga keluarga sangat dibutuhkan dalam mendukung dan mendampingi ibu yang menyusui.

    BalasHapus
  26. SubhanAllah maha suci Allah dengan segala ciptaan Nya. menyusui memang terdengar sangat familiar bagi semua ibu. tetapi belum semuanya memahami yang semestinya seperti yang dokter sampaikan. ASI sudah sangat luar biasa baik nutrisinya bagi sang bayi. terdengar mudah tetapi memang faktanya banyak orangtua yang masih menyepelekan terkait hal ini. tentunya peran seorang ayah nyata nya benar benar dibutuhkan sebagai support system ibu untuk sang bayi itu sendiri.

    BalasHapus
  27. Terima kasih dokter atas ilmunya. ASI (Air Susu Ibu) adalah nutrisi terbaik dan terlengkap yang memiliki banyak manfaat pada kesehatan saluran pencernaan bayi, meningkatkan intelegensia bayi, dan dapat memberikan perasaan nyaman dan hangat pada sang bayi.
    Stress merupakan salah satu hal yang mempengaruhi produksi ASI karena stress mempengaruhi produksi hormone oksitosin yang memiliki peran dalam produksi ASI yang berkualitas sehingga penting sekali ibu menyusui untuk mengelola stress dan mendapatkan support terutama dari suami dan juga keluarga saat fase menyusui. Selain itu Ketrampilan menyusui harus dimiliki seorang ibu agar proses menyusui dapat berjalan dengan lancar.

    BalasHapus

Posting Komentar