blog dokter taura big ad

KEJANG DEMAM VS EPILEPSI: AWAS JANGAN SALAH PAHAM

Orang tua mana yang tidak panik jika anak kesayangannya mengalami kejang? Apalagi didahului demam tinggi?

Pada saat kejang, terjadi kekakuan otot di hampir seluruh tubuh, sehingga anak akan sulit untuk bernafas dan akhirnya terjadi sianosis atau kebiruan di sekitar bibir dan ujung jari kaki/ tangan. Sianosis merupakan salah satu tanda kegawatdaruratan pada anak.

Iya betul, anak yang sedang kejang itu kondisinya antara hidup dan mati.

Semua anak berpotensi terjadi kejang saat demam tinggi, sehingga semua orang tua juga harus tahu bagaimana cara mengatasinya.

Nah lho, wahai para orang tua… Sedalam apa pengetahuan Anda tentang perkejangan pada anak?

Yuk kita belajar bareng tentang kejang. Karena ada dua penyebab kejang tersering pada anak, yaitu kejang demam dan epilepsi, maka kita akan membahas head to head antara kejang demam dan Epilepsi.

Siapkan secangkir kopi biar bisa fokus ya, ditambah kudapan juga oke kok. Dari pada nonton drakor, mending menimba ilmu kan?

epilepsi-beda-dengan-kejang-demam

Kejang dan Demam

Apakah setiap kejang yang didahului oleh demam itu disebut Kejang Demam?

Tidak,

Tidak semua kejang yang didahului atau disertai demam itu selalu Kejang Demam.

Kejang Demam adalah bangkitan kejang yang terjadi saat suhu tubuh mencapai 38°C atau lebih, yang disebabkan oleh proses “diluar otak” (extra-cranial). Sebagian besar kejang demam terjadi pada usia diatas 6 bulan, dibawah 5 tahun.

Ciri khas Kejang Demam adalah

  1. Demamnya mendahului kejang
  2. Saat kejang, anak masih demam
  3. Setelah kejang, anak langsung sadar kembali
  4. Umur 6 bulan hingga 5 tahun
  5. Tidak ada Riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.
ciri-khas-kejang-demam

Epilepsi dan Kejang Demam

Benarkah Epilepsi itu berhubungan dengan kejang demam?

Antara Kejang Demam dan Epilepsi sebenarnya adalah dua penyakit yang berbeda dan tidak mempunyai hubungan sebab akibat secara langsung.

KEJANG DEMAM terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun, sedangkan epilepsi bisa terjadi pada semua usia.

Setelah usia 5 tahun, KEJANG DEMAM biasanya akan "sembuh" sendiri. Sedangkan epilepsi bisa berlanjut hingga dewasa.

Epilepsi, Kejang Demam dan Demam

Apakah terjadinya Kejang Demam dan Epilepsi selalu didahului oleh demam?

Kejang Demam selalu didahului demam, sedangkan epilepsi bisa terjadi tanpa pemicu apapun.

Dari beberapa penelitian didapatkan hasil bahwa Epilepsi terjadi pada kurang dari 5 persen anak kejang demam, dan biasanya pada anak-anak ini terdapat faktor risiko lain.

Pengertian Epilepsi

Kata "Epilepsi" berasal dari bahasa Yunani: Epilambanmein yang berarti serangan.

Epilepsi didefinisikan sebagai gangguan kronis (berlangsung lama) yang ditandai adanya "serangan" berulang akibat lepas muatan listrik abnormal dari sel-sel otak (neuron).

"Serangan" yang dimaksud tidak melulu KEJANG tapi bisa dalam bentuk lain seperti tiba-tiba melamun atau bengong dll.

Jadi KEJANG karena epilepsi bersifat:

  1. Spontan, dengan atau tanpa pemicu (unprovoked)
  2. Berulang
  3. Dengan atau tanpa disertai penurunan kesadaran

Apa dan Bagaimana Seorang Anak Didiagnosis Epilepsi?

Epilepsi sebenarnya merupakan "diagnosis klinis", artinya: seorang dokter bisa mendiagnosis epilepsi hanya dari gejala, tanda klinis dan pemeriksaan fisik.

Beberapa pemeriksaan penunjang seperti EEG (Electro Encephalography, rekam otak), atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) mungkin dibutuhkan untuk menentukan fokus epilepsi nya, evaluasi pengobatan ataupun untuk menentukan prognosis.

kejang-karena-epilepsi-selalu-berulang

Ketika seseorang di diagnosis Epilepsi, maka harus menjalani pengobatan jangka panjang. Penderita epilepsi sering kali juga berhadapan dengan berbagai masalah antara lain: kesulitan belajar, gangguan perilaku, gangguan tumbuh kembang, yang semuanya akan menentukan kualitas hidup anak.

Disinilah pentingnya diagnosis dini, kepatuhan minum obat serta kewaspadaan orang tua dalam mengamati status tumbuh kembang.

Jika epilepsi ditemukan pada saat bayi, maka stimulasi merupakan hal penting untuk mengoptimalkan perkembangan anak.

Penyebab Epilepsi

Sebenarnya apa saja yang menyebabkan epilepsi?

Penyebab pasti dari epilepsi hingga saat ini masih belum diketahui (belum terbukti secara ilmiah). Yang jelas epilepsi bukan penyakit kutukan, bukan penyakit keturunan, bukan pula penyakit menular.

Faktor "keturunan" ini hanyalah satu dari sekian faktor resiko.

Beberapa faktor resiko epilepsi adalah: riwayat kehamilan dan persalinan (asfiksia, prematuritas, bayi kuning dll). Kejadian kejang demam yang berulang, trauma kepala, perdarahan otak, infeksi selaput otak, infeksi otak dll

Pertolongan Pertama Pada Anak yang Alami Kejang

Tindakan apa yang harus dilakukan jika anak mengalami epilepsi?

Dilansir dari lama Ikatan Dokter Anak Indonesia, berikut adalah Tindakan yang sebaiknya dilakkukan oleh orang tua jika anaknya kejang:Usahakan untuk tetap tenang dan tidak panik

  1. Letakkan anak di tempat yang aman, jauhkan dari benda-benda berbahaya seperti listrik dan barang pecah belah.
  2. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut. Memasukkan sendok, kayu, jari orangtua, atau benda lainnya ke dalam mulut, atau memberi minum anak yang sedang kejang, berisiko menyebabkan sumbatan jalan napas 
  3. Jangan berusaha menahan gerakan anak atau menghentikan kejang dengan paksa, karena dapat menyebabkan patah tulang.
  4. Amati apa yang terjadi saat anak kejang, karena ini dapat menjadi informasi berharga bagi dokter. Tunggu sampai kejang berhenti, kemudian bawa anak ke unit gawat darurat terdekat.
  5. Apabila anak sudah pernah kejang demam sebelumnya, dokter mungkin akan membekali orangtua dengan obat kejang yang dapat diberikan melalui dubur. Setelah melakukan langkah-langkah pertolongan pertama di atas, obat tersebut dapat diberikan sesuai instruksi dokter.
  6. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih
  7. Baringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan, atau benda lain yang ada dalam mulut akan keluar sehingga anak terhindar dari bahaya tersedak.

Tips Pengobatan Epilepsi

Masih dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, berikut ini adalah tips pengobatan epilepsi:

  1. Pastikan anak anda minum obat secara teratur. Penghentian obat tiba-tiba akan mengakibatkan timbulnya kejang atau status epileptikus.
  2. Jika satu dosis terlewat/lupa, segera minum obat tersebut begitu teringat kembali.Tanyakan pada dokter anda apa yang harus dilakukan jika anak lupa minum satu dosis obat.
  3. Diskusikan obat-obat atau vitamin lain yang diberikan dengan dokter anda apakah bisa mempengaruhi kerja OAE (Obat Anti Epilepsi). Obat seperti dekongestan, asetosal dan obat herbal bisa berinteraksi dengan OAE.
  4. Jangan ganti OAE dari merk paten ke obat generik tanpa berkonsultasi dengan dokter, karena perbedaan pemrosesan obat dapat mempengaruhi metabolisme OAE dalam tubuh.
  5. Anak penderita epilepsi sebaiknya memakai tanda pengenal
  6. Jika OAE diminum ketika anak berada di sekolah, beritahukan guru maupun pengawas mengenai hal tersebut.
  7. Hindari habisnya persediaan OAE dengan menyediakan obat cadangan untuk 2 minggu.
  8. Simpan OAE di tempat yang sulit dijangkau anak kecil.
  9. Untuk anak yang sudah besar, jam dengan alarm pengingat waktu minum obat dilengkapi dengan kotak obat akan sangat bermanfaat.
  10. Bagi OAE dalam beberapa dosis untuk pemakaian seharí, hal ini memudahkan ketika anak menginap di luar rumah.

Sangat penting untuk mengetahui dan mengenali pencetus kejang pada anak anda sehingga serangan kejang bisa dihindari. 

Pencetus yang sering dialami : 

  1. Lupa minum obat, 
  2. Kurang tidur,
  3. Terlambat atau lupa makan, 
  4. Stres fisik dan emosi, 
  5. Anak dalam keadaan sakit atau demam, 
  6. Kadar obat antiepilepsi yang rendah dalam darah, 
  7. Cahaya yang berkedip-kedip yang dihasilkan komputer, TV, video game dll (pada pasien epilepsi fotosensitif)




DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

54 komentar

  1. Terima kasih dokter lewat postingan kali ini kita dapat lebih aware mengenai kejang dan epilepsi. Izin untuk share nggih dokter
    Izin bertanya dokter, apabila memiliki riwayat kejang demam sebelumnya dan sudah mendapat obat kejang yang dimasukkan lewat dubur, namun saat itu anak ini mengalami diare, untuk itu bagaimana nggih dokter?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika anak mengalami diare saat kejang, pemberian diazepam supp tetap diberikan, sembari menunggu akses intravena

      Hapus
  2. Terimakasih banyak dokter atas ilmunya, mohon izin bertanya dokter pada kasus neonatus, bagaimana sebagai orang tua mendeteksi adanya kejang pada neonatus, dimana biasanya tipe kejang pada neonatus bersifat subtle sehingga sulit untuk dikenali. apakah ada hal hal yang perlu diwaspadai? terimakasih, wassalamualaikum wr.wb.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agak sulit memang untuk mencegah kejang pada bayi baru lahir. Edukasi terhadap faktor risiko bayi, itu penting.

      Hapus
  3. Terimakasih atas ilmunya dokter, kasus kejang dan epilepsi ini sering sekali dijumpai dokter, sebenarnya saya masih bingung terkait prinsip pemberian obat epilepsi dokter kapan sebaiknya terapi kombinasi diberikan dokter dan obat apa yang paling di rekomendasikan karena pemakaian karbamazepin ada potensi terjadi efek samping berupa SJS? kemudian pertanyaan kedua apabila pasien anak tersebut kejang demam namun dengan diare, apakah diazepam rektal bisa diberikan?

    terima kasih banyak dokter sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika diberikan 1 jenis obat anti epilepsi dengan dosis standar, masih kambuh, maka dosis dinaikkan pelahan, hingga mencapai dosis maksimal. Jika sudah dosis maksimal tapi masih kambuh, berarti saatnya diberikan 2 obat anti epilepsi.
      Kejang + diare? Gpp berikan diazepam supp

      Hapus
  4. Terimakasih dokter atas informasinya sangat menambah wawasan dan pengetahuan khususnya tentang epilepsi, izin bertanya dokter apakah setelah 2-3 thn anak bebas kejang, pengobatan epilepsi dapat langsung dihentikan? Jika tidak bagaimana tahapan tappering off nya dokter? Terimakasih dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemberhentian obat anti epilepsi tidak boleh dilakukan secara mendadak. Dosis obat harus dikurangi sedikit demi sedikit.

      Hapus
    2. Wah berarti harus tapering off ya dok untuk pemberian obat epilepsi gak boleh langsunh stop mendadak karena takutnya nanti bisa membahayakan nyawa. makasih infonya ya dok.

      Hapus
    3. Iya betul, harus asering off

      Hapus
  5. Makasih dok. Anak saya pada usia 3 tahun pernah alami kejang demam. Kebetulan kala itu dia sedang pergi liburan di Jakarta. Pulang dari rumah dia tidur disamping ibunya. Dia kejang Demam, Syoknya minta ampung. Mata putih naik dan untungnya rumah sakit berjarak kurang lebih 500 meter dari rumah.

    Pertanyaan saya, apa langkah pertama yang harus dilakukan apabila anak mengalami hal ini jika saja kita berada jauh dari rumah sakit dan apakah hal ini bisa kembali menyerang sang anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertolongan pertama jika anak Anda kejang sudah ada di pembahasan artikel ya...
      Kejang demam bisa berulang hingga anak berusia 5-6 th. Sebaiknya sedia obat anti kejang yang dimasukkan lewat anus (maaf), namanya Stesolid

      Hapus
  6. Ah, lama g mampir ke rumah Pak Dokter ini. Jadi kangen, *eh.

    Setelah baca artikel yang ini, jadi inget temen deketku kemarin abis kehilangan putra pertamanya Pak. tepat ulang tahunnya ke-empat. Pagi-siang masih main-main sama adiknya lah kok sore demam, maghrib kejang. Tapi g sampai rumah sakit udah meninggal TT. Jadi ikutan nyesek. Pak dokter g dulu-dulu buat artikel ini sih Pak TT

    BalasHapus
    Balasan
    1. Turut berbela sungkawa ya... Semoga temannya tabah menghadapi ujian terberat ini. Ayo mbak, request artikel apa seputar kesehatan anak?

      Hapus
  7. Terima kasih dok, jadi tahu perbedaan kejang demam dan epilepsi. Memang suka kuatir banget ibu-ibu seperti saya, terlebih yang baru perdana punya anak.

    Dulu saya kalo tahu anak demam udah 38 buru-buru ke dokter. itu anak pertama. Sekarang udah punya anak tiga, pernah demamnya sampai 40 derajat, alhamdulillah masih bisa ditangani mandiri di rumah. Hihihi. Maaf dok kalo saya kesannya tega.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi orang tua memang butuh pengalaman, sang guru terbaik. Anak demam gak perlu geram, cukup basa-basi di blog dokter taura. Blog yang bisa mengubah panik jadi epik...
      Astaghfirulloh, kok malah promosi sih...

      Hapus
  8. Malam dok, untuk seorang yang mengalami epilepsi apakah penderitanya seumur hidup /ada kemungkinan untuk sembuh? Dok anak yang kena epilepsi bisakah berprestasi dalam pendidikan? terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Epilepsi bisa berpotensi kambuh seumur hidup. Karena itu perhatikan dan hindari faktor pemicu kambuhnya epilepsi.
      Jangan lupa kontrol teratur ya.
      Penyakit epilepsi ini jenisnya macam2, mulai dari yg ringan hingga berat. Kalau epilepsi yang ringan, bisa kok berprestasi di bidang akademik. Tapi jangan kesampingkan kecerdasan bidang lain ya. Terus gali potensi anak hingga ketemu potensinya dimana...

      Hapus
  9. Terima kasih atas ilmunya dok, sekarang bisa lebih tau kapan dikatakan kejang demam dan kapan dikatakan epilepsi karena terkadang masih rancu dikeduanya, izin bertanya dokter apakah ada perbedaan kriteria pemulangan rawat inap pasien dengan kejang demam dan epilepsy? Dan apakah sekiranya boleh ketika anak imunisasi DPT diberikan profilaksis panas agar mencegah kejang demam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Obat penurun panas (Paracetamol) diminumkan hanya jika terjadi panas ya. Tidak ada istilah profilaksis untuk demam. Kriteria pulang utk px yang MRS karena kejang, kurang lebih sama. Edukasinya yang berbeda

      Hapus
  10. saya pengidap epilepsi dok

    berawal jatuh dari pohon di usia taman kanak kanak ( 5 tahunan), 6 tahun kemudian tiba-tiba kejang dan menurut dokter, saya epilepsi

    sayang gak langsung diobati karena dulu di Sukabumi belum ada neurolog, sehingga sampai sekarang saya harus minum obat agar tidak kambuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga gak kambuh lagi ya kak... Semoga Kak Maria sekeluarga selalu sehat...

      Hapus
  11. Literasi kesehatan dan review mengenal diferensiasi epilepsi dan kejang menjadi bahan edukasi ke masyrakat utamanya keluarga sebagai bagian terkecil masyarakat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Kak Ferry. Meringankan beban dokter anak juga, hehehe...

      Hapus
  12. Saya pernah mengajari seorang anak belajar dulunya. Memang waktu itu saya tidak memahami bahwa ada anak yang tidak bisa menangkap pelajaran meskipun seberapa banyak ia belajar. Jadi, terus saja saya suruh ia untuk belajar, membacalah misalnya. Setelah tidak belajar lagi, terus sekitar umur 12 tahunlah dianya. Ternyata ia mengalami epilepsi. Nah, yang menjadi pertanyaannya, itu mungkin nggak dok bisa sembuh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Epilepsi bisa sembuh (insyaallah). Asal minum obat teratur selama minimal 2 tahun. Harun rutin, harus tepat waktu, harus tepat dosis...

      Hapus
  13. Kejang demam dan epilepsi ternyata hal yang berbeda ya. Daku pikir akan terjadinya epilepsi karena didahului sama kejang demam.
    Maka penanganan pun berbeda ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, kejang demam dan epilepsi adalah dua penyakit yang berbeda walaupun keduanya sering overlaping

      Hapus
  14. Bermanfaat sekali dok, awalnyasaya pikir kejang itu yg bisa memicu epilepsi, ternyata tidak juga ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa kondisi kejang demam, bisa menjadi epilepsi di kemudian hari...

      Hapus
  15. Jangan memasukkan benda apa pun ke mulut.
    Berarti "nasihat" yang beredar turun-temurun tentang "memasukkan sendok ke mulut biar lidah nggak tergigit" ketika sedang kejang itu salah, ya? Dari duluuu sering denger begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tujuannya untuk mencegah lidah tergigit, gak masalah.
      Kalau masukkan makanan atau minuman, itu yg harus dihindari

      Hapus
  16. Makasi dok sudah berbagi pengetahuan. maklum saya memiliki banyak saudara dan ponakan yg masih kecil2. butuh sekali pengetahuan seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, semoga sebentar lagi punya anak ya... Biar makin seru, hehehe.... Salam sehat selalu ya

      Hapus
  17. Dokter, terima kasih saya jadi tahu apa yang seharusnya dilakukan jika anak kejang demam. Juga perihal epilepsi. Kedua anak saya, kini 17 dan 12 tahun dulunya tidak pernah mengalami ini jadi saya enggak punya pengalaman terkaitnya. Ternyata butuh kewaspadaan orangtua ya dan ada tips menghadapinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga artikel-artikel di blog dokter taura bermanfaat ya... Salam sehat

      Hapus
  18. Nice info, dok!
    Suami beserta 2 adik ipar saya dulu waktu kecil kata bumer kalo demam pasti kejang dan setelah beranjak dewasa sudah tidak pernah kejang. Berarti termasuk kejang demam ya dok? Dan apakah ada pengaruh dok, sering kejang saat demam dg perkembangan kognitif seseorang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kejang demam adalah penyakit dengan gejala "kejang" yang paling bagus prognosisnya.
      Iya, semakin sering kejang, semakin lama kejang, semakin berefek buruk terhadap kognitif....

      Hapus
  19. Ini artikelnya sangat menarik. Menambah wawasan dan sangat menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Kak Maria, semoga artikel nya bermanfaat... Semoga keluarga kita dijauhkan dengan yang namanya kejang

      Hapus
  20. Terimakasih dokter atas ilmunya, Alhamdulillah saya mendapatkan ilmu tambahan lagi terkait kejang demam pada anak. Untuk kasus penyakit ini ternyata perlu perhatian yang lebih dan pengawasan ekstra dari orangtua, melihat dari tips pengobatan yang disarankan oleh dokter, mulai dari tata cara konsumsi obat saja harus tepat waktu dan diminum setiap hari pada jam yang sama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Diperlukan effort dan komitmen yang tinggi. Dokternya juga harus teliti

      Hapus
  21. Muhammad Jefri Pasenda30 Januari 2022 09.24

    Terimakasih banyak dokter atas ilmunya. Ternyata memang kejang yang didahului demam dengan kejang yang tanpa didahului demam itu berbeda. Jika ada riwayat kejang demam maka harus mendapat perhatian lebih. Jangan sampai terjadi kejang demam berulang. Sedangkan untuk epilepsi pengobatannya memang harus dengan jangka panjang. Agar kualitas hidup anak lebih baik lagi. Sekali lagi terimakasih atas ilmunya nggih dokter, saya izin share.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga artikelnya bermanfaat ya... Silakan dishare jika perlu

      Hapus
  22. Terimakasih dokter atas ilmunya. Saya lebih mengerti tentang kejang demam dan epilepsi berkat artikel dokter. Jadi meskipun gejalanya sama, epilepsi dan kejang demam dua hal yang berbeda. Perlu digali lebih lanjut untuk menemukan penyebabnya jika anak kejang, sehingga setelah dilakukan pertolongan pertama, bisa dilakukan terapi yang tepat sesuai penyebab kejangnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget. Thanks resume nya... Selamat belajar

      Hapus
  23. Terima kasih Dokter atas ilmunya tentang kejang demam dan epilepsi. Dari paparn diatas jadi lebih tenang dan tidak panik mengahadapi anak yang sedang kejang. Pada saat anak kejang banyak mitos" yang diterapkan, yang salah satunya adalah memasukkan sendok ke mulut, padahal hal tersebut dapat mengganggu jalan napas. Banyak orang tua yang panik ketika anaknya kejang sehingga acuh dengan keadaan anak pada saat kejang, padahal mengetahui kondisi saat kejang berlangsung dapat menjadi info penting yang akan disampaikan ke dokter untuk menentukan diagnosis. BLOG DOKTER TAURA memang bermanfaat sekaliii 👍

    BalasHapus
  24. Nabil Ikraam Fauzan31 Januari 2022 04.00

    Informasi yang sangat menambah wawasan dan sangat bermanfaat. Secara informatif sudah dijelaskan bagaimana perbedaan antara kejang demam dan epilepsi, tidak jarang juga dikalangan masyarakat sering disalahartikan, bahwa kejang demam harus ada pertanda demam terlebih dahulu sementara epilepsi kejang bersifat tanpa didahului adanya demamnya. Izin bertanya dokter pada pengobatan jangka panjang apabila sang anak sudah tidak mengalami bangkitan kejang apakah obat harus tetap dilanjutkan atau perlu penyesuaian dosis sampai sang anak tidak perlu mengkonsumsi obat lagi?

    BalasHapus
  25. Terima kasih banyak untuk ilmunya ini dokter. Perlu sekali para Ibu memahami tentang kejang, baik itu kejang demam dan epilepsi. Kejang demam dan epilepsi merupakan suatu hal yang berbeda. Terlepas dari itu semua, para orang tua wajib mengetahui cara pertolongan kejang pada anak, apa saja yang harus diamati ketika anak kejang karena informasi tersebut akan memiliki manfaat untuk dokter menegakkan diagnosis dan terapi berikutnya. Selain itu, apabila anak terdiagnosis epilepsi orang tua harus mengenali dan mencegah pencetus serta mengawasi pemberian obat pada anaknya agar tidak kehabisan.
    Sekali lagi terimakasih banyak dokter. Semoga dokter terus dapat menulis seputar kesehatan bayi dan anak lainnya, yang informatif dan terkini sesuai keadaan yg hits dikalangan masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, ada beberapa orang tua yang beranggapan bahwa kejang yang tanpa didahului demam itu, "lebih ringan" dari pada kejang yang disertai demam. Dua-duanya sama bahayanya jika tidak segera mendapat pertolongan yang adekuat

      Hapus
  26. Terima kasih nggih dokter atas ilmu yang sudah diajarkan.
    Terkadang cukup membingungkan saat ada anak datang dengan keluhan utama kejang. Apakah anak ini kejang demam atau epilepsi. Jangan sampai salah mengira ataupun mendiagnosis pasien anak dengan keluhan kejang, karena 2 hal ini memiliki pengobatan dan pengawasan yang sangat berbeda. Oleh karena itu, kita harus tau poin-poin penting yang ada pada dua diagnosis ini serta penggalian informasi yang tepat.

    BalasHapus
  27. Terima kasih banyak dokter untuk informasinya mengenai kejang demam dan epilepsi. Penting sekali bagi para orang tua untuk mengetahui pertolongan pertama ketika anak kejang. Memang sulit untuk tetap tenang ketika anak kejang, tetapi ketika orang tua tenang akan lebih mudah untuk mengamati apa yang terjadi pada anak ketika kejang, sehingga akan lebih banyak informasi yang dapat disampaikan ke dokter.
    Mohon maaf dokter izin bertanya, cara membedakan antara anak menggigil atau kejang bagaimana nggih dokter? Karena beberapa kali saya menemukan, orang tua hanya mengatakan anak nya hanya menggigil, bukan kejang.

    BalasHapus
  28. Alhamdulillah saya mendapatkan ilmu tambahan terkait kejang demam pada anak. Dari artikel panjenegan ternyata perlu perhatian yang lebih dan pengawasan ekstra dari orangtua nggih dokter, Mulai dari Tips pengobatan yang disarankan oleh dokter, tata cara konsumsi obat saja harus tepat waktu dan diminum setiap hari pada jam yang sama. Saya izin bertanya nggih dokter, jika pasien dengan keluhan diare disertai dengan dehidrasi sedangkan anak tersebut terkena kejang apakah dapat diberikan obat suppositoria nggih dokter? Apakah ada tatalaksana lain nggih?. Terimakasih dokter atas ilmunya.

    BalasHapus
  29. Wah sangat membuka wawasan sekali tulisan dokter kali ini mengingat cukup banyak kejadian kejang pada anak di RS nggih dokter sehingga orang tua sebaiknya mengetahui apasih kejang demam dan epilepsi serta perbedaannya nggih dokter. Izin bertanya nggih dokter, apakah anak dengan riwayat trauma kepala bila sudah membaik dan stabil sebaiknya dilakukan pemeriksaan EEG untuk melihat apakah trauma tersebut menyebabkan kerusakan otak dan bisa diketahui dengan cepat bila anak tersebut mengalami epilepsi sehingga anak segera dilakukan pengobatan dan mencegah terjadinya kejang karena sudah diberikan pengobatan begitu dokter?

    BalasHapus

Posting Komentar