blog dokter taura big ad

NOMOPHOBIA: GARA-GARA GAWAI, BISA KENA MENTAL!

Pernahkah Anda merasa galau manakala berada di area yang no signal?

Pernahkah Anda tiba-tiba resah karena baterai ponsel habis dan Anda sedang tidak membawa powerbank maupun charger?

Pernahkan Anda menjadi risau manakala kuota atau paket data habis?

Pernahkah Anda merasa tidak nyaman gegara lupa tidak membawa gawai atau ketinggalan di rumah?

Jika Anda pernah mengalami minimal satu kondisi diatas, berarti Anda sedang mengalami yang namanya NOMOPHOBIA

nomophobia-bisa-sebabkan-gangguan-mental

Apa itu Nomophobia? 

Apa dampaknya bagi Kesehatan mental seseorang? 

Bagaimana cara mengatasinya?

Nomophobia: No Mobile Phone Phobia

Istilah Nomobia pertama kali muncul dalam suatu penelitian tahun 2008 di Britania Raya oleh YouGov (sebuah firma riset pasar dan analisis data yang berbasis Internet internasional yang bermarkas di Britania Raya)

Nomophobia: kondisi psikologis ketika orang takut terlepas dari konektivitas gawainya

Istilah Nomophobia atau “No Mobile Phone Phobia” digunakan untuk menggambarkan kondisi psikologis ketika orang takut terlepas dari konektivitas gawainya

Sebenarnya kata “phobia” disini kurang tepat, karena phobia bermakna suatu ketakutan yang luar biasa. Padahal mayoritas kasus yang terjadi adalah masalah kegelisahan, bukan ketakutan.

Nomophobia adalah gangguan kecemasan akibat gawai

Berikut ini adalah tanda-tanda Nomophobia:

  1. Cemas saat baterai gawai habis, di luar jaringan, atau kehabisan pulsa atau paket data.
  2. Tidak nyaman saat pergi tidak membawa gawai.
  3. Tidak nyaman ketika tidak bisa mengakses ponsel.
  4. Berkali-kali mengecek ponselnya saat mengobrol dengan orang lain
  5. Sering mengecek ponsel sekedar untuk melihat sesuatu yang update di media sosial.

Nomophobia: Benarkah Berdampak Negatif?

Dampak negatif dari nomophobia bisa mengenai siapa pun, tak terkecuali anak-anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang.

Sejumlah penelitian telah menyelidiki konsekuensi negatif dari penggunaan gawai yang berlebihan dan gejala nomophobia.

Kateb pada tahun 2015 melakukan penelitian terhadap 335 mahasiswa di Arab Saudi dan didapatkan data bahwa > 93% responden menggunakan gawai lebih dari 2 jam tiap hari. Durasi lamanya penggunaan gawai ini berhubungan erat dengan kejadian kecemasan, depresi ataupun stress.

Rahayuningrum dkk pada tahun 2018 melakukan peneelitian terhadap 147 pelajar SMU di Kota Padang. Didapatkan data bahwa 54,5% responden mengalami medium anxiety. Sementara itu 47,6% responden mengalami medium nomophobia. Didapatkan hubungan yang bermakna antara nomophobia dan kejadian kecemasan.

Efek Nomophobia pada Anak

Di era global seperti sekarang, apalagi ditambah adanya pandemi Covid, memaksa orang tua dan guru untuk mengenalkan anak pada gawai secara dini. Sedikit banyak hal ini akan meningkatkan risiko terjadinya ketergantungan akangawai pada anak, dan berujung pada nomophobia.

Bermain gawai membuat anak tidak peduli dengan sekitarnya karena sudah sangat asyik dengan dunia gawai nya, mulai dari media sosial, tik tok, you tube, game maupun musik. Lebih buruk lagi, karena anak-anak masih belum memiliki emosi yang stabil, sehingga anak bisa menjadi lebih tertutup dan bermain sendiri tanpa interaksi sosial.

Hal ini sangat mempengaruhi perkembangannya, baik secara psikologis maupun perkembangan otaknya.

Bagaimana pun, di era serba digital ini, pengaruh gadget bagi tumbuh kembang anak sangatlah besar dan sebagai orang tua, kita harus bisa mengendalikannya.

Ingin Lepas dari Nomophobia?

Jika Anda merasa sedang terjangkiti fenomena Nomophobia dan ingin lepas dari fenomena yang berdampak negatif ini, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah bebaskan diri Anda dari ketergantungan akan gawai. 
Tahukah Anda ada lima tanda Nomophobia?

Dengan kata lain, buatlah sedemikian rupa agar Anda tidak kecanduan gadget.

Pengobatan terhadap Nomophobia meliputi perilaku kognitif, dikombinasikan dengan intervensi farmakologis. Obat tranylcypromine dan Clonazepam cukup berhasil dalam mengobati tanda dan gejala nomophobia.

Intervensi lain yang menjanjikan telah muncul sebagai "Pendekatan Realitas," atau terapi Realitas. Pada terapi ini pasien disarankan untuk fokus pada perilaku (berkebun, melukis, bermain, dll) selain menggunakan ponsel.

Kesimpulan

Nomophobia adalah salah satu dampak negatif dari ketergantungan akan gawai. Gangguan mental yang diakibatkan oleh nomophobia bisa mencapai level berat dan memaksa kita untuk berkonsultasi ke Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa. Dampak negatif akibat nomophobia terhadap anak, akan membawa akibat yang lebih buruk karena anak masih dalah tahap tumbuh kembang.










DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

56 komentar

  1. Bangun F Baskara23 Desember 2021 08.18

    MasyaAllah terimakasih dokter atas artikelnya, sangat bermanfaat karena di era sekarang ini sangat banyak orang tua yg cenderung menenangkan anaknya secara instan dengan memberikan HP tanpa mempertimbangkan bagaimana dampaknya... banyak dampak yg dikhawatirkan ketika terlalu dini memberikan kekuasaan berlebih untuk memegang HP kepada anak contohnya anak menjadi cenderung malas bergerak, tidak peduli keadaan sekitar, ketika lepas dari HP cenderung menjadi agresif.
    Semoga sehat selalu dokter dan ditunggu artikel- artikel keren berikutnya nggih dokter

    BalasHapus
  2. Terimakasih dokter atas ilmunya, Kontennya menarik sekali dokter, sesuai dengan masa kini. Mohon izin bertanya dokter, apabila seorang yang memang sudah terpaksa dikenalkan gadget sejak dini dikarenakan pandemi dan akhirnya anak tersebut kecanduan dengan gadget, sebagai orang tua bagaimana cara membatasi dan memberi pemahaman tentang penggunaan gadget nya tersebut? Terimakasih, Wassalamualaikum wr.wb.

    BalasHapus
  3. Wahh konten kali ini dalam mengangkat tema nomophobia sangat menarik dan up to date dokter, di zaman sekarang baik tua hingga muda sudah tidak asing lagi dengan yg namanya gadget dan selalu dibawa kapanpun dan dimanapun. Saya ingin bertanya dokter, dalam masa pandemi ini tidak bisa dipungkiri sistem pendidikan sebagian besar beralih ke sistem daring/online utamanya pada anak sehingga tidak bisa dihindari terdapat penambahan dari durasi penggunaan gadget, bagaimana menyiasati agar anak tetap menggunakan gadget dalam kadar dan penggunaan yang efektif dan optimal tanpa menimbulkan efek adiksi dokter? Terimakasih sebelumnya dokter

    BalasHapus
  4. MasyaAllah benar sekali dokter, orang jadi jarang mengamati lingkungan sekitar, karena lebih tenggelam dengan gadget-nya.
    Izin bertanya dokter, kapankah kita perlu mencurigai nomophobia yang dialami seseorang ini perlu untuk kita periksakan kepada spesialis kedokteran jiwa atau langsung dilakukan intervensi pendekatan realitas saja seperti berkebun, melukis, dan lain-lain?

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum wr wb dokter
    Terima kasih atas ilmu dan informasi yang diberikan melalui artikel kali ini, kontennya sungguh sangat menarik dan kekinian yang selalu kita jumpai di masa kini, karena bawasannya kecanduan smartphone bukanlah masalah yang dapat diabaikan apalagi pada anak anak , sebenarnya saya sering menjumpai anak yang kecanduan bermain hp seperti ini dokter, dan kecenderungan anak tersebut bila tidak dipeebolehkan bermain hp akan bersikap keras kepala merengek dan mengancam kepada kedua orang tuanya dengan tidak makan dan tidak mau sekolah, Bagaimana seharusnya sikap orangtua menyikapi perilaku anak tersebut nggih dokter? Terima kasih banyak sebelumnya dokter, wassalamualaikum wr wb

    BalasHapus
  6. Syukurlah belum dan jgn sampai pd tahap itu. Karena aku kalau sdh bersama keluarga boasanya malah lupa ga pegang HP. Karena kebanyakan main gadget nurut aku bikin insomnia juga, soalnya ada teman insomnia gegara mainan hp mulu. Kita saranin matiin hp saat tidur dia pun ga sanggup.

    BalasHapus
  7. Terima kasih sudah diingatkan tentang bahaya nomophobia ini,Dokter..Duh, beneran sulit selama pandemi membatasi interaksi anak dengan gawai.Apalagi saat sekolah PJJ kemarin, akhirnya molor dari jadwal zoom meeting ke mabar (main bareng) teman. Meski enggak sampai ketergantungan tapi durasi pegang gawainya jadi berlebihan. Meski lebih bijak nih, membatasi pemakaian gawai mengingat dampak negatif akibat nomophobia terhadap anak, akan membawa akibat yang lebih buruk karena anak masih dalah tahap tumbuh kembang.

    BalasHapus
  8. kalau saya untuk menghindari atau mencegah agar tidak sampai terkena nomophobia mungkin dengan cara meningkatkan hoby baca buku dok. cuman memang jika ada kuota internet memang agak susah sih ...

    BalasHapus
  9. Yups, kayaknya sejak lama saya sudah kena Nomophobia. Apalagi sejak resign kerja dan mutusin jadi freelancer. Seolah-olah ada aja yang menghubungi kalo gak lihat HP dalam 15 menit. Perlu dikondisikan lagi nih kayaknya dok.

    BalasHapus
  10. wah jangan-jangan saya terkena Nomophobia

    kerasa sewaktu saya pindah ke daerah yang sering gak ada sinyal internet

    Fifty-fifty sih kebutuhannya karena pekerjaan sebagai blogger

    tapi......, gak perlu internet setiap saat juga sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada atau gak ada sinyal, yang penting bisa nonton drama mandarin ya Cik?
      Hehehe,
      Salam sukses ya...

      Hapus
  11. Baru tahu saya dok, ada istilah ini. Tapi memang benar sih, sekarang mah lebih takut ketinggalan handphone dari pada ketinggalan dompet. Karena semua bisa diakses lewat handphone.
    Tapi kn memang sekarang zamannya serba digital plus didukung kecanggihan teknologi dok, apa semua orang yang pekerjaannya membutuhkan smartphone disebut nomophobia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran nih mbak Sendy lebih milih gawai daripada dompet?
      Sini dompetnya buat aku saja, hehehe....

      Hapus
  12. Waah sangat bermanfaat dokter. Saya baru tau ada istilah nomophobia dok.. apakah ada tips dok supaya anak tidak selalu minta main hp ? kan melihat orangtua nya yg main hp mungkin untuk pekerjaan dan kakaknya yg main hp untuk daring jadi si anak yg balita kadang jg minta untuk sekedar melihat video² anak ataupun kartun dok..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di bawah usia 2 th tidak direkomendasikan menonton TV, gadget dll, utamakan interaksi dg orang lain di sekitarnya. Diatas 2 th, boleh... Asal pilih acara yang sesuai umur dan harus didampingi orang dewas

      Hapus
  13. Achmad fahruddin ichsan24 Desember 2021 06.25

    Alhamdulillah dari baca judulnya pasti sudah bisa di tebak fenomena ini pasti banyak di alami oleh kita ya dok,
    Terlebih semua tentang kerjaan ada di handphone semua, semoga dg artikel yg bermanfaat ini kita lebih menggunakan handphone dg bijak ya dok, trimakasih banyak atas artikel nya dok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget... Bijak dalam berbagai adalah koentji agar kita terhindar dari dampak negatifnya

      Hapus
  14. Terima kasih dok, informasi yang menarik dimana fenomena tersebut adalah kondisi yang banyak terjadi saat ini dimana banyak diantara kita yg terjebak dalam kondisi candu tersebut, perlahan kebiasaan tersebut harus kita latih untuk mengurangi efek buruk dari kecanduan ponsel.

    Terima kasih artikelnya dok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, setuju. Gadget itu seperti candu! Harus bisa kita kendalikan supaya tdk merugikan

      Hapus
  15. Bismillahirahmanirahim..
    baru tau dok kl ad nomophobia,.
    sangat bermanfaat sekali artikel dr taura..
    di era digital skrg,semua kalangan anak maupun dewasa sdh sangat ketergantungan akan gadget nya..
    semoga setelah membaca artikel di atas,lebih memperhatikan bahaya efek nya.. bagi kita pribadi & anak2 kita..
    terima kasih sblm nya dok
    semoga sehat selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak atas kunjungannya ke Blog dokter taura. Gawai memang seperti pisau bermata dua. Bermanfaat banget tapi kalo berlebihan bisa bahaya

      Hapus
  16. Alhamdulillah dokter artikel nya bermanfaat sekali,Semoga kita dapat mengontrol dan memperhatikan penggunaan gadget secara bijak.terima kasih dokter semoga sehat selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih kak sudah berkunjung ke Blog Dokter Taura. Betul, semoga kita makin bijak dalam bergawai

      Hapus
  17. Kalau saya biasanya galau karena kehabisan kuota data atau hilang sinyal jika ada pekerjaan yang urgent yang harus segera diselesaikan dengan media ini. Kalau nggak ada pekerjaan urgent, santai aja sih, malah kek yang tenang nggak ada gangguan bunyi gawai. Etapi jangan lama-lama juga, biar ngga ketinggalan info, hehe... kalo kek gini masih normal nggak sih?

    BalasHapus
  18. Sesuatu yang berlebihan memang kurang baik, tapi di kehidupan serba digital seperti sekarang rasanya agak sulit utk berjauhan dari gadget terlebih kini beberapa keperluan pun ada di smartphone

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget kak, semua yg berlebihan itu gak baik. Cara pingin tahu apakah kita sudah bijak atau bahkan berlebihan dalam bergawai, ya dengan nomophobia ini...

      Hapus
  19. Pagi dokter. Thanks banget nih untuk infonya.Beruntungnya aku termasuk yang tidak seperti itu.Seringkali baterai habis, nyantai saja. Ya habis di tengah jalan kalau masih bisa di charge hayoo, enggakpun tidak apa. Tidak panikanlah

    BalasHapus
  20. Mungkin aku termasuk dalam kriteria nomophobia. Tapiiiii ga banget sih, karena kalau sedang hangout atau acara keluarga atau hal2 penting justru aku matikan mobile datanya. Untuk apa? Hp buat motret2 hahahaha. Ketika traveling ga melulu upload ke socmed, sengaja karena ingin menikmati suasana kebersamaan dg keluarga. Lagipula takut lekas habis betrainya hahaha thanks dokter :)

    BalasHapus
  21. Aduh, aku nomophobia ga ya? tapi kalau cuma sinyal yg jelek, aku sih masih bisa lepas hape. tapi kalau baterai yg tiba2 habis itu yg bikin panik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh... Tanda-tanda awal nomophobia tuh, hehehe... Salam kenal ya kak

      Hapus
  22. Informasi seperti diatas akan membekali bagaimana memposisikan penggunaan handphone dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju kak. Harus bijak dalam bergawai. Oleng dikit, bisa berdampak negatif

      Hapus
  23. Gawai itu laksana dua sisi mata uang. Ada sisi positif dan juga negatif, dan ternyata lumayan mengerikan juga ya dok sisi negatif termasuk nomophobia ini.
    Semoga kita bisa lebih bijak dalam hal menggunakan gawai dalam kehidupan.
    Terima kasih dok untuk informasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget pak, gawai itu laksana candu, bisa bikin orang lupa segalanya

      Hapus
  24. Aku nomophobia ga ya? Semoga tdk. Ttp sejauh ini masih bisa alihkan ke hal lain sih kalau lagi jelek jaringan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hati-hati ya kak, nomophobia bisa kena mental lho... Hehehe...

      Hapus
  25. Saya sadar terkena nomophobia..
    Tetapi tidak bisa apa2..
    Karena memang tidak bisa lepas dari HP
    Sudah pernah berusaha lepas dari HP dan tidak bisa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hati-hati ya Pak... Nomophobia bisa kena mental lho... Hehehe... Yuk semangat yuk

      Hapus
  26. Artikel nya sangat bermanfaat dok,terima kasih.
    Mengingat zaman sekarang anak anak sangat susah lepas gadget.
    Termasuk anak saya...,melakukan aktivitas serba terburu buru dan tidak fokus, karena pengen segera bersama gadget .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh kan, mulai ada perubahan perilaku akibat gawai kan?
      Hati-hati ya kak....

      Hapus
  27. salam kenal dok
    baru tau blog dokter yang informatif ini
    memang sekarang penggunaan gawai meningkat pesat bahkan mulai anak-anak
    saya sendiri merasakan gejala nomophobia ini
    rasanya kurang konsentrasi ketika lama gak pakai gawai
    solusi dari dokter akan coba saya terapkan
    terima kasih ya Dok

    BalasHapus
  28. Ya Alloh gak taunya se-grup sama dokter. Akibat jarang nongol, ini. Saya gak punya anak kecil lagi. Tqpi ponakan klo diajak pergi keluar rumah buat ngunjungin neneknya. Mereka gak mau, karena di rumah neneknya gak ada wifi. Dan ibunya nggak kasih kuota klo buat di luar rumah. Masuk nomophobia gak ya, ini, dok?

    BalasHapus
  29. Kalau gelisah karena duitnya yang ilang atau dompetnya kosong apa namanya Dok, hehe, canda Dok..

    Khawatir juga nih, jangan2 kena nomophobia, karena suka kurang nyaman saat sinyal ilang.

    BalasHapus
  30. sepertinya saya udah kena deh dok! wduh ngeri juga.
    penyakit mayoritas deh inimh

    BalasHapus
  31. Sangat bermanfaat dok, persis seperti keponakan saya yang sampai saat ini masih belum sembuh dari nomophobia

    BalasHapus
  32. Aku akhir-akhir ini ngerasa addict banget sama hp. Tetiba dapat artikel ini ngerasa terbantu bangett.. Terima kasih sharing nya ya dok..

    BalasHapus
  33. kayaknya ini jadi masalah baik orang dewasa ataupun anak-anak ya. uda banyak nerima keluhan soal anaknya yang udah ga cemas lagi dok udah masuk parno kayaknya kalo ga megang hape. kayaknya emang perlu trapi ya orangtuanya supaya bisa "sapih" dari hp.

    BalasHapus
  34. wah setuju banget nih, terima kasih infonya ya dok :D

    BalasHapus
  35. Sepertinya masalah nomophobia terdengar asing, tapi faktanya banyak orang yang sedang mengalami hal tersebut ya dokter. Tidak hanya pada orang dewasa tapi pada anak-anak pun sudah banyak terlihat, saya sering lihat anak balita saat berada di rumah makan, kemudian rewel menangis tidak berhenti, tetapi setelah diberi handphone oleh orangtuanya, anaknya langsung berhenti menangis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asing tapi ternyata sehari-hari kita lakukan ya?
      Yuk sama-sama jaga diri, batasi ketergantungan dg gadget

      Hapus
  36. Terimakasih dokter tambahan ilmunya. Selain mendapat ilmu baru, sekaligus juga merasa diingatkan untuk tidak terlalu bergantung pada gadget. Meskipun banyak manfaatnya, tapi ada efek buruk yang juga harus diperhatikan, terutama bagi anak-anak yang belum memiliki emosi stabil. Harus benar-bernar diperhatikan penggunaan gadget untuk anak, agar tidak berlebihan penggunaannya sehingga tidak terkena nomophobia dan tidak mengganggu tumbuh kembang anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Efek negatif dari gadget itu yang harus kita hindari. Bisa kok kalau kita punya tekad yang kuat

      Hapus
  37. Terimakasih dokter sudah mau berbagi informasi yang penting ini, jujur saya baru tau ada yang namanya nomophobia dan tidak dipungkiri pada zaman sekarang gadget sudah melekat dikehidupan masyarakat sehingga apabila gadget yang dimaksud ini tidak ada dengan berbagai alasan, rasanya seperti ada yang hilang. Informasi ini sangat penting untuk meningkatkan awareness kita terhadap pembatasan waktu penggunaan gadget agar tidak terlalu bergantung kepada gadget.

    BalasHapus
  38. Nabil Ikraam Fauzan5 Februari 2022 18.48

    Terimakasih dokter sudah mau berbagi informasi yang penting ini, jujur saya baru tau ada yang namanya nomophobia dan tidak dipungkiri pada zaman sekarang gadget sudah melekat dikehidupan masyarakat sehingga apabila gadget yang dimaksud ini tidak ada dengan berbagai alasan, rasanya seperti ada yang hilang. Informasi ini sangat penting untuk meningkatkan awareness kita terhadap pembatasan waktu penggunaan gadget agar tidak terlalu bergantung kepada gadget

    BalasHapus
  39. Saya sangat setuju Dokter dengan anak anak milenial jaman sekarang yang lebih memilih menghabiskan waktunya dengan gadget. Tidak hanya anak, remaja dan dewasapun sekarang juga kecanduan atau dapat dikategorikan nophobia. Pada anak yang tentunya masa tumbuh dan kembangnya akan terganggu dengan adanya nomophobia terhadap gadget. Menurut saya sangat penting dilakukan edukasi kepada para orang tua agar tidak membiarkan anaknya terlena dengan yang namanya gadget karena banyak orang tua yang mengatasi kerewelan anak atau membuat anak menjadi diam dengan mengenalkannya dengan gadget. Terima kasih Dokter atas pemaparan diatas, semoga banyak orang tua yang mengubah kebiasaan buruk tersebut dalam memperlakukan si buah hati 😊

    BalasHapus
  40. Saya sangat sangat setuju dokter. Anak jaman milenial sekarang memang seharusnya tidak dipegang i handphone dulu. Karena banyak dampak negatifnya. Salah satunya anak jadi malas dan tidak tau waktu saat bermain gawai. Apalagi dengan teknologi internet yang ada sekarang. Apapun bisa dilihat oleh anak. Kita sebagai calon orang tua harus aware terhadap hal ini. Terimakasih banyak dokter atas informasinya. Saya izin share nggih.

    BalasHapus

Posting Komentar