blog dokter taura big ad

PENGARUH GADGET BAGI TUMBUH KEMBANG ANAK

Fenomena gadget (gawai, smartphone, pad, tablet, laptop) tidak hanya melanda kaum dewasa, tapi juga mulai menindas anak-anak bahkan balita.

gadget-kawan-atau-lawan


Para orang tua dengan ikhlas memfasilitasi keberadaan gadget di tangan si kecil, dan dengan bangganya memamerkan kepiawaian mereka dalam memainkan gadget di depan umum.

Orang tua mungkin berpikir bahwa sudah selayaknya anak mereka berkenalan dengan kemajuan teknologi masa kini agar tidak ketinggalan jaman, tidak ketinggalan dengan teman-teman sebayanya. Alasan lain dari orang tua memperkenalkan gadget sejak dini adalah agar anak bisa duduk manis di rumah, sehingga sang mama-papa bisa bebas beraktifitas baik di dalam maupun di luar rumah.

Gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika, TANPA interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau kemampuan bahasa, motoric dan emosi

 Tapi tahukah Anda, bahwa gadget berdampak negatif terhadap tumbuh kembang anak?

Menurut para ahli tumbuh kembang anak, gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika, TANPA melibatkan beberapa eleman penting dalam proses STIMULASI, yaitu interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau kemampuan bahasa, motoric dan emosi

Selain “mal-stimulasi” diatas, gadget bisa menyebabkan beberapa dampak negatif, antara lain:

1. OBESITAS

Berbagai aplikasi baik itu game, media sosial dll, yang bisa bebas diunduh, hampir semuanya bisa dimainkan oleh anak-anak dengan hanya menggunakan gerakan jari tangan, tanpa membutuhkan banyak gerakan yang melibatkan otot-otot besar yang mendukung rangka tubuh. 

Ditambah lagi dengan aneka kudapan yang disediakan sebagai soulmate nya gadget. Ini akan meningkatkan resiko terjadinya obesitas pada anak dengan resikonya baik resiko jangka pendek maupun jangka panjang

2. GANGGUAN TIDUR

Seorang anak bisa berjam-jam memainkan gadget kesayangannya di kamar tanpa ada pengawasan dari orang tua. Karena terlalu asyik dengan dunia virtual nya, seorang gadget-holic bisa betah begadang dan lupa tidur atau bahkan mengalami kesulitan tidur dan berakibat pada kontra-produktif. 

Produktifitas anak akan menurun tajam ditandai dengan berkurangnya prestasi akademis, melemahnya semangat belajar

3. RADIASI

Setiap gadget memiliki paparan elektromagnetik yang dapat mempengaruhi tubuh. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja tidak disarankan untuk terpapar radiasi elektromagnetik dalam jangka waktu lama. Untuk anak 1-3 tahun yang saraf-sarafnya masih aktif berkembang, radiasi elektromagnetik dari lingkungan di sekitarnya dapat menghambat perkembangan tersebut. 

Akibatnya perkembangan kogintif anak berjalan lambat, anak susah berkonsentrasi dan akibat negatif lainnya. Selain itu radiasi yang dipancarkan oleh layar monitor gadget bisa menyebabkan keluhan seputar mata dan penglihatan yang disebut “Computer Vision Syndrome”

4. ADIKSI

Berbagai aplikasi dalam gadget selalu menyajikan sesuatu yang menarik, membuat penasaran dan merangsang anak untuk segera mencoba permainan baru yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. 

Anak akan tertantang untuk menyelesaikan berbagai “tantangan baru” yang ditawarkan oleh permainan di dunia maya yang biasa disebut "game".

Demikian juga dengan maraknya media sosial yang membuat anak selalu aktif update status, comment di grup ataupun sekedar chat dengan sahabatnya. Semua ini bisa menyebabkan anak mudah kecanduan gadget. 

Adapun ciri-ciri kecanduan gadget antara lain:

  1. Total waktu yang digunakan untuk berkencan dengan gadget kesayangannya adalah 6 jam atau bahkan lebih
  2. Terobsesi dengan gadget. Jika saat gadget disita oleh orang tua atau saat orang tua menolak meminjami gadget, terjadi reaksi "marah yang berlebihan" dari anak
  3. Jika anak lebih cenderung tertarik dengan gadget dibandingkan bersosialisasi dengan teman-temannya
  4. Jika kegiatan bermain gadget sudah mengganggu rutinitas Harian (mandi, makan, belajar dll)
  5. Jika kegiatan bermain gadget menyebabkan anak lalai mengerjakan tugas sekolah
  6. Jika kegiatan bermain gadget menyebabkan waktu tidur berkurang

5. AGRESIF

Konten kekerasan yang ditawarkan oleh beberapa aplikasi dapat memicu anak untuk bertindak agresif baik saat dirumah maupun di sekolah. Muatan yang bernuansa kekerasan seperti perkelahian, penganiayaan, bahkan pembunuhan, menjadi santapan bebas bagi anak, sehingga anak akan menganggap bahwa tindakan kekerasan (seperti yang dicontohkan oleh aplikasi gadget) merupakan hal biasa yang bisa dia temukan di lingkungan sekitarnya. 

Sehingga dalam kehidupan nyata, dengan dalih untuk membela diri atau bahkan untuk alasan eksistensi, mereka dengan mudahnya meniru adegan-adegan kekerasan yang sering mereka lihat melalui layar gadget.

6. KEMAMPUAN PSIKOMOTORIK BERKURANG

Menghabiskan waktu dengan gadget membuat kemampuan anak yang lain kurang berkembang, salah satunya adalah kemampuan psikomotorik anak. Padahal semestinya usia anak-anak adalah usia untuk meng-explore seluruh bakat psikomotorik yang dimilikinya, seperti menggambar, bernyanyi, bermain bersama rekan sebaya dan kegiatan lainnya. 

Saat melakukan aktivitas fisik seperti ini, sejumlah kemampuan lain juga akan diasah sekaligus, seperti saat menggambar, anak juga belajar mengembangkan otak kanannya. Saat bermain bersama rekan sebaya, anak akan belajar mengasah keterampilan sosialnya.

7. GANGGUAN BELAJAR

Aplikasi-aplikasi dan sistem operasi pada gadget menyajikan interaksi multimedia yang memikat. Permainan warna, animasi ditambah suara membuat anak betah berlama-lama di depan layar gadget. Pada saat masa sekolah tiba, anak yang terbiasa berinteraksi dengan gadget akan menemui kesulitan untuk menyerap materi pelajaran sekolah yang cenderung statis. 

Teks hitam putih, tanpa animasi, tanpa suara. Apalagi berhadapan dengan guru yang kurang lihai mengemas mata pelajaran menjadi menarik. Ini bisa menurunkan minat belajar anak.

pengaruh-gadget-tumbuh-kembang


8. Computer Vision Syndrome

Adalah sekumpulan gejala pada mata dan leher yang timbul akibat penggunaan komputer dalam waktu lama. Semakin lama menggunakan komputer maka akan semakin meningkat rasa ketidaknyamanan pada mata.

9. Phubbing

Adalah tindakan acuh seseorang dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gawai ketimbang berinteraksi atau melakukan percakapan langsung dengan orang lain. Phubbing merupakan gabungan dari 2 kata berbahasa Inggris, yaitu “Phone” dan “Snubbing”. Snubbing sendiri menurut Kamus Besar Inggris Indonesia bermakna “mencerca”

10. Nomophobia

Istilah Nomophobia atau “No Mobile Phone Phobia” digunakan untuk menggambarkan kondisi psikologis ketika orang takut terlepas dari konektivitas gawainya

11. Text Claw

Adalah suatu kondisi dimana anak mengeluh jemarinya kram atau sakit karena terlalu sering mengirim pesan teks, menggulir, dan bermain game di gawai


DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger
Lebih baru Terlama

Related Posts

31 komentar

  1. Dokter ijin bertanya, untuk penggunaan gadget sebagai media belajar (Zoom meet) atau yang paling sering di lakukan video call, apakah itu juga bisa menjadi salah satu faktor yang membuat anak kecanduan? Sedangkan disana ada interaksi meski tidak bertatap muka langsung. Mohon penjelasannya dokter 😊🙏

    BalasHapus
  2. Latifa Nur Windari19 Juli 2021 10.38

    Assalamualaikum dokter, saya izin bertanya, pada masa pandemi ini anak sering melakukan video conference dengan menggunakan zoom, akhirnya diberikan fasilitas berupa gadget dikarenakan tugas dari sekolah juga secara daring, kemudian anak jadi terbiasa dengan gadget dan senang bermain dengan gadget, bagaimana caranya untuk mengatasi anak yang sudah terlanjur kecanduan dengan gadget seperti ini nggih dokter? Terima kasih dokter

    BalasHapus
  3. Fenomena penggunaan gawai di rumah bagi anak dan kontrol sering menjadi bahan diskusi di masyarakat, satu sisi gawai ada sisi positif namun di sisi lain smartphone bisa menimbulkan kecanduan

    BalasHapus
  4. Nggak semua orangtua mau mengerti kalau penggunaan gadget tanpa pendampingan, akan membawa dampak negatif. Mungkin edukasi pada orang tua masih terus dibutuhkan.

    BalasHapus
  5. Wow, ga main-main dampak negatif dari gadget nih. Bisa-bisa generasi semakin tidak baik semakin ke sini. Hanya tumbuh intellektual, tapi emosional dan spiritualny abisa-bisa ga ada sama sekali.

    BalasHapus
  6. Hai dokter,aku selalu suka deh baca pembahasan dokter dari berbagai aspek. Anak ABG ku termasuk yang tidak bisa lepas dari gadget. Suatu hari gadgetku rusak, dia sempat uring-uringan menahan diri 3 harian tidak bersentuhan,anak sekarang ya dok

    BalasHapus
  7. teman2 pengajian saya kalo sedang ngumpul pasti pada curhat:

    sekarang ngumpul bareng anak tapi kaya ga ngumpul

    rencananya mau makan bersama, tapi di meja makan malah asyik dengan gadget masing2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget. Gawai memang bisa mendekatkan yang jauh. Tapi bisa juga menjauhkan yang dekat

      Hapus
  8. Memang gawai bikin anak jadi adiktif ya. Tidak bisa dipungkiri kalau gawai tetap dikenalkan ke anak agar tetap ikut perkembangan jaman. Hanya saja kendali penggunaan gawai memang ada di orangtua. Baik itu tontonan, jam penggunaan dll. Kalau kendali di anak. Ortu cuek yaa.. Bablas semua yang fisebut diatas bisa terjadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget kak, orang tua harus pegang kendali... Harus sadar bahwa gawai itu ratjoen

      Hapus
  9. Gawai ini memang nyandu banget y Pak. Apalagi masa pandemi serba dari layar begini gimana cara membatasi ya Dok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya sih pengendalian diri. Coba perbanyak aktivitas yang melibatkan orang lain...

      Hapus
  10. sebagai orang tua memang harus bijak nih memberikan batas screen time untuk anak untuk mengurangi dampak buruk gadget yaaa

    BalasHapus
  11. kasih gadget ke anak tuh emang harus diplan baik-baik ya, harus kasih rules biar gak seharian liat HP melulu dan risikonya banyak banget, terimakasih sharing nya

    BalasHapus
  12. Artikelnya bagus banget dok. Semoga banyak yang baca deh,. Ini sangat bermanfaat,. Gadget itu sangat membahayakan utamanya pada anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak orang tua yang gak tahu apa bahaya gadget bagi tumbuh kembang anaknya. Malah mereka bangga melihat anaknya terlihat kekinian dan modern...

      Hapus
  13. Salam kenal dok..
    Ih, ngeri juga ternyata dampak dari penggunaan gadget pada tumbuh kembang anak. Peran orang tua sangat penting dan Semoga orang tua pintar' mengawasi anak saat menggunakan gadget agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ya dok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal balik, Kak Syahri. Iya betul, kalau tidak waspada, gadget membawa dampak buruk bagi tumbuh kembang anak

      Hapus
  14. Radiasi ini paling tampak dan banyak dampaknya terhadap anak ya kak.

    Kalau aku sih mensiasatinya dengan screen time

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, screen time dibatasi dan harus disiplin.
      Akibat radiasi ini bisa menyebabkan kejang lho. Sebahaya itu...

      Hapus
  15. Thank dok atas infonya...Saya setuju radiasi pada pancaran gadget terutama Hape memang cukup berbahaya. Ortu perlu mengawasi penggunaan gadget pada anak apalagi pas maen gadget anak sambil tiduran, oh itu big no karena bisa menyebabkan gangguan pada mata baik rabun jauh maupun rabun dekat.

    BalasHapus
  16. Salam kenal Dokter Taura. Baru pertama BW ke blognya dokter nih. Jangankan anak kecil, sepertinya orang dewasa juga akan menerima dampak negatif ya dok ketika bermain gadget berlebihan. Membaca artikel Dokter, saya jadi kuatir dengan para anak yang saya lihat terlalu aktif dengan gadget mereka. Bahkan nangis jejeritan kalau gadget diambil ortunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Kak Maria. Wah, seneng nih dikunjungi bloger senior.
      Iya betul, kadang prihatin gitu lihat anak kecil hanya fokus ke ponselnya tanpa peduli sama lingkungan nya

      Hapus
  17. Anak sekolah online ini bikin pola didik minimal gadget jadi berantakan. Semoga setelah PTM anak-anak bisa seminimal mungkin pegang gadget. Duh serem ya kalau anak sudah kecanduan gadget. Susah sekali mengobatinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Pak. Saya juga mengalami hal yang sama. Semoga pandemi covid-19 segera berlalu ya

      Hapus
  18. Terima kasih dokter atas informasi yang disampaikan. Memang benar adanya. Saat ini banyak anak kecil yang diberi gadget dengan alibi "biar anteng, ngga rewel, mau makan". Ternyata hal tersebut tidak baik ya untuk tumbuh kembang anak. Gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika, tanpa melibatkan beberapa eleman penting dalam proses stimulasi, yaitu interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau kemampuan bahasa, motoric dan emosi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, betul. Sayangnya banyak orangtua yang memilih jalan ninja biar anaknya anteng dan gak rewel. Parahnya, kadang ibunya juga main ponsel sendiri. Berdekatan tapi rasanya jauh

      Hapus
  19. Terima kasih banyak dokter untuk ilmunya mengenai pengaruh gadget mengenai tumbuh kembang anak. Ternyata banyak sekali dampak negatif akibat penggunaan gadget pada tumbuh kembang anak. Stimulasi yang didapat dari gadget juga hanya sebatas stimulasi visual, pendengaran dan logika tanpa adanya stimulasi untuk interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau bahasa, motorik dan emosi.

    BalasHapus
  20. Betul sekali dokter, saya setuju dengan ulasan dokter dalam artikel ini. Banyak sekali anak sekarang justru diasuh oleh gadget. Bahkan gadget lebih dekat dengan anak dibandingkan anak dan orangtua, terlebih jika orang tua juga fokus berkarir. Perlu menjadi pengetahuan penting bagi orang tua bahwa gadget hanya memberikan stimulai visual, pendengaran dan logika. Sementara lainnya tidak terstimulasi. Selain itu perlu dijelaskan kepada orang tua dan anak, banyak dampak buruk seperti yang dijelaskan disini. Dampak-dampak yang memberikan pengaruh juga terhadap masa depan anak. Terutama secara psikologis, menjadi lebih temperanen apatis sulit mendengarkan orangtua atau lawan bicaranya.
    Semoga ini bisa jadi pembelajaran berharga untuk kami, dan orang tua lainnya agar lebih aware dalam memberikan gadget kepada anak. Terimakasih banyak nggih dokter sudah memberikan informasi ini.

    BalasHapus
  21. Alhamdulillah terima kasih dokter atas informasinya, saya setuju dengan informasi yang disampaikan. Pada zaman milenial sekarang banyak entah remaja,anak-anak, bahkan ibu ibu muda telah kecanduan akan gadget. Hal ini dapat berdampak pada perubahan tingkah laku antar sosial yang cenderung asik dengan dunianya sendiri. Padahal orang tua dan anak harus ada keterikatan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan si anak, akan tetapi hal ini diabaikan sehingga anak cenderung “mendewakan” gadget, sehingga ketergantungan akan gadget tinggi, belum lagi jika sudah dikenalkan dengan game yang dapat melupakan segalanya. Yang menarik perhatian saya adalah tentang radiasi, dimana radiasi berpengaruh dalam perkembangan dari syaraf-syaraf sang anak selain itu akibatnya juga perkembangan kogintif anak berjalan lambat, anak susah berkonsentrasi. Sehingga menurut saya sebaiknya ibu ibu muda lebih bijak untuk membatasi sang anak bermain gadget, agar kedepannya tidak menyesal terhadap pertumbuhan dan perkembangan sang anak.

    BalasHapus
  22. Terima kasih banyak dokter atas informasi yang sangat berharga, saya ingin bertanya dokter bagaimana nggih cara untuk anak yang terbiasa berinteraksi dengan gadget mengembalikannya kebiasaannya agar tidak kesulitan untuk menyerap materi pelajaran sekolah nggih?

    BalasHapus

Posting Komentar