blog dokter taura big ad

STIMULASI TUMBUH KEMBANG ANAK: PENTING TETAPI SERING MISSING

Seorang balita berumur dua tahun, dibawa oleh kedua orang tuanya ke tempat praktk saya dengan keluhan utama belum bisa bicara. Doni (bukan nama sebenarnya) hanya bisa mengucapkan tiga kata yaitu "mama", "papa" dan "ma'em".

"Padahal, anak-anak sebayanya sudah bisa bicara lancar, Dok," jelas ibu Doni, seorang wanita karier berusia 30 tahunan. 

Doni, bukan satu-satunya pasien dengan keterlambatan perkembangan bicara. Beberapa bulan terakhir semakin banyak balita yang dikeluhkan orang tuanya sebagai "Anak saya belum bisa bicara, Dok."

Pentingnya stimulasi anak demi tercapainya tumbuh kembang yang optimal

Selain faktor genetik, ada beberapa faktor yang akhir-akhir ini sering menjadi semacam "fenomena", yaitu fenomena gadget dan fenomena ibu bekerja. Di sini stimulasi anak seperti dianggap hal sepele.

Banyak orang tua menganggap bahwa dengan dipenuhinya kebutuhan nutrisi dan imunisasi, maka laju tumbuh kembang anak dijamin normal alias sesuai dengan umur kronologis.

Padahal ada satu kegiatan yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan bayi dan balita yaitu STIMULASI.

Kembali ke kasus Doni di atas, ternyata ibunya adalah wanita karier yang bekerja enam hari dalam seminggu, delapan jam sehari. Selama bekerja, Doni diasuh oleh baby sitter terpercaya. Selain itu, ada , "pengasuh" yang sangat setia dengan Doni, yaitu "gadget".

Kedua fenomena ini, sedikit banyak berkontribusi terhadap keterlambatan bicara seorang anak. Pada usia 18 - 24 bulan, normalnya anak mengalami ledakan bahasa. Hampir setiap hari ia memiliki kosakata baru. Ia dapat membuat kalimat yang terdiri atas dua kata (mama mandi, naik sepeda) dan dapat mengikuti perintah dua langkah. Pada fase ini anak akan senang mendengarkan cerita. Pada usia dua tahun, sekitar 50% bicaranya dapat dimengerti orang lain.

Berdasarkan perbandingan normal ini, jelas bahwa Doni (yang hanya bisa bicara "mama", "papa" dan "maem") mengalami keterlambatan bicara.

Berdasarkan wawancara dengan ibu Doni, wanita lulusan S2 ini merasa sudah memberikan nutrisi terbaik bagi bayinya termasuk ASI yang melimpah dan juga sudah melengkapi jadwal imunisasi. 

Inilah fenomena yang banyak saya temui di tempat praktik.

Rupanya ada pemahaman yang kurang pas (baca: keliru) mengenai perkembangan anak. Ada yang terlupakan dengan pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang bayi, yang ternyata bukan hanya nutrisi dan imunisasi saja.

Asah, Asih, Asuh

Untuk bisa tumbuh dan berkembang secara optimal, dibutuhkan 4 kebutuhan dasar, yang jika tidak dipenuhi bisa berdampak pada kegagalan mencapai tahapan tumbuh-kembang yang sesuai umurnya, bahkan bisa bertahan menjadi sebuah kecacatan permanen seumur hidupnya. Keempat kebutuhan dasar itu adalah: Asuh (kebutuhan fisik-biomedis, seperti nutrisi, imunisasi, kesehatan, pakaian, tempat tinggal, sanitasi lingkungan dll), Asih (kebutuhan kasih sayang) dan Asah (kebutuhan akan stimulasi mental)

Asah

Kebutuhan akan "asah" disebut juga kebutuhan stimulasi.

Anak perlu distimulasi sejak dini untuk mengembangkan sedini mungkin kemampuan sensorik, motorik, emosi-sosial, bicara, kognitif, kemandirian, kreativitas, kepemimpinan, moral dan spiritual anak

Asih

Kebutuhan akan "asih" disebut juga kebutuhan akan kasih sayang dan emosi.

Pada tahun-tahun pertama kehidupannya (bahkan sejak dalam kandungan), anak mutlak memerlukan ikatan yang erat, serasi dan selaras dengan ibunya untuk menjamin tumbuh kembang fisik-mental dan psikososial anak

Asuh

Kebutuhan fisik-biologis (Asuh) meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan seperti: nutrisi, imunisasi, kebersihan tubuh & lingkungan, pakaian, pelayanan/pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, olahraga, bermain dan beristirahat.

Stimulasi: Hal Penting tetapi Sering Missing

Pada kasus anak Doni, perkembangan motoriknya masih cukup baik, dimana sudah mulai belajar berjalan sendiri saat usianya menginjak 15 bulan. 

Ibu Doni juga menganggap bahwa stimulasi anak bisa dilakukan oleh nenek atay baby sitter yang sudah berpengalaman. 

Apa sebenarnya stimulasi itu? Bagaimana sih prinsip stmulasi yang baik dan benar itu? Bolehkan stimulasi diwakilkan oleh pengasuh atau bahkan terkadang diambil alih oleh benda pipih belabel smartphone?

Pengertian Stimulasi

Stimulasi adalah kegiatan merangsang kemampuan dasar anak umur 0-6 tahun agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Setiap anak perlu mendapat stimulasi rutin sedini mungkin dan terus menerus pada setiap kesempatan. 

Kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap.

Kemampuan dasar anak yang dirangsang dengan stimulasi terarah adalah kemampuan gerak (motorik) kasar, kemampuan gerak (motorik) halus, kemampuan bicara dan bahasa serta kemampuan sosialisasi dan kemandirian

Prinsip Dasar Stimulasi

Dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang anak, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan, yaitu:
  1. Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang
  2. Selalu tunjukkan sikap dan perilaku yang baik karena anak akan meniru tingkah laku orang-orang yang terdekat dengannya
  3. Berikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak
  4. Lakukan stimulasi dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi, bervariasi, menyenangkan dan tanpa paksaan dan tidak ada hukuman
  5. Lakukan stimulasi secara bertahap dan berkelanjutan sesuai umur anakterhadap ke-4 aspek kemampuan dasar anak
  6. Gunakan alat bantu/permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar anak
  7. Berikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan perempuan
  8. Anak selalu diberi pujian, bila perlu diberi hadiah atas keberhasilannya

Kegiatan stimulasi sesungguhnya bukanlah kegiatan yang rumit yang membutuhkan pembelajaran khusus. Kegiatan stimulasi bisa saja dilakukan dengan sederhana namun edukatif. Beberapa contoh aktivitas stimulasi untuk si kecil adalah: bernyanyi sambil menari, pengenalan warna dan bentuk, membaca buku cerita bersama, belajar memasak bersama dan lain sebagainya. 

Sederhana dan mudah dilakukan sendiri di rumah, bukan?

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan bahwa perkembangan kemampuan dasar anak mempunyai pola yang tetap dan berlangsung secara berturutan. Dengan demikian stimulasi yang diberikan kepada anak dalam rangka merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak dapat diberikan oleh orang tua/ keluarga sesuai dengan pembagian kelompok umur.

Gadget = Alat Stimulasi yang Baik?

Menurut pengasuh Doni, gadget merupakan kebutuhan utama baginya. Tiap kali si anak menangis, senjata utama untuk menenangkannya adalah gadget. 

Gadget bukan alat bantu stimulasi anak yang baik

Selama ini ibu Doni beranggapan bahwa gadget juga merupakan alat stimulasi yang baik bagi Doni karena berisi konten yang sesuai umur dan edukatif.

Benarkah gadget termasuk alat stimulasi tumbuh kembang anak?

Menurut para ahli tumbuh kembang anak, gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika, TANPA melibatkan beberapa eleman penting dalam proses STIMULASI, yaitu interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau kemampuan bahasa, motorik dan emosi



DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

56 komentar

  1. Terimakasih dokter, ilmu pagi ini bermanfaat sekali mengenai stimulasi tumbuh kembang pada anak. Mohon izin bertanya dokter, hal ini tentunya sangat berkaitan dengan nomophobia, melihat anaknya sangat ketergantungan sekali dengan gadget smartphone, bagaimana stimulasi yang tepat untuk mengurangi kecanduan sang anak agar tidak tergantung dengan gadget lagi nggih dokter?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cek postingan lain di blog dokter taura ya... Ada yang membahas tentang tips atasi anak kecanduan gawai

      Hapus
  2. Nabil Ikraam Fauzan8 Februari 2022 08.14

    Terimakasih sudah mau berbagi ilmunya dokter, orang tua harus memahami agar dapat menciptakan generasi emas maka aspek stimulasi pertumbuhan harus tidak luput dari mata orang tua, saya izin bertanya dokter apabila anak itu mengalami keterlambatan perkembangan akibat kurangnya stimulasi, maka berapa banyak waktu sisa yang dimiliki oleh sang anak agar tetap bisa mengejar keterlambatan nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ada istilah "waktu sisa" dalam kamus tumbuh kembang anak. Intervensi dilakukan sedini mungkin...

      Hapus
  3. Terimakasih dokter atas ilmunya. Jadi ASI dan imunisasi belum cukup untuk tumbuh kembang anak, dibutuhkan adanya stimulasi yang baik dan benar untuk melatih kemampuan anak agar bisa sesuai dengan usianya. Izin bertanya dokter, saya pernah membaca sedikit tentang mendongeng yang bisa membantu menstimulasi kemampuan bicara anak, apakah benar nggih dokter? Dan jika iya, bisa dimulai sejak anak usia berapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul, mendongeng atau "read aloud" sangat bermanfaat bagi perkembangan bayi terutama perkembangan bicara...

      Hapus
  4. Muhammad Jefri Pasenda8 Februari 2022 18.33

    Terimakasih banyak dokter atas ilmu yang bermanfaat ini. Memang banyak sekali orang tua menganggap apa yang dilakukannya sudah benar. Termasuk menggunakan "pengasuh" sebagai senjata untuk menenangkan anak sekaligus mengurangi beban orang tua agar anak tidak rewel. Bukan hanya pemberian asi eksklusif, tapi asah asih asuh juga harus terpenuhi semua. Sebagai tenaga medis saya izin bertanya nggih dokter, jika orang tua sibuk bekerja dan dirawat oleh kakek nenek atau baby sitter apakah bisa juga nggih dilakukan stimulasi? Jika bisa apakah sama maksimalnya walaupun bukan dengan orang tuanya? Sekian pertanyaan dari saya. Sekali lagi terimakasih nggih dokter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Stimulasi yang baik itu, dilakukan oleh orang tuanya sendiri, terutama ibunya. Bonding itu penting

      Hapus
  5. Terima kasih nggih Dokter telah mepaparkan beberapa ilmu yang sangat bermanfaat dan mengedukasi sekali.....sekarang memang banyak yang kurang memperhatikan tumbuh kembang anak seperti ibu bekerja dan gadget sebagai solusi apabila anak rewel. Memang gadget merupakan media yang baik dan lengkap untuk metode belajar, tetapi jika terlalu sering dan monoton tanpa diimbangi oleh stimulasi berupa tindakan akan menimbulkan sesuatu yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan dari anak itu sendiri. Semoga dengan adanya penjelasan ilmu dari Dokter, banyak yang termotivasi untuk lebih memperhatikan tumbuh dan kembang anak 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, setuju. Terima kasih sudah berkunjung ke blog dokter taura. Semoga bermanfaat ya

      Hapus
  6. saya ingat tetangga waktu di kampung. bener, itu yang terjadi. kurang memberikan stimulasi. nggak ngerti juga sih, apa ngga pernah dapat pembelajaran sebelumnya. ngga baca-baca, atau pengetahuan turunan dari orang tua. padahal ketika itu belum ramai gadget.

    semoga makin berkurang calon orang tua yang abai terhadap persoalan tumbuh kembang anak ini ya, dok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju... Anak adalah amanah yang wajib kita jaga. Gak boleh abai dg tumbuh kembangnya. Harus prepare dg banyak belajar

      Hapus
  7. Seketika tersentil membaca ini Dok, hehehe.
    Anak kedua saya dulunya juga menunjukan tanda-tanda speech delay, tapi untungnya cuman kurang stimulasi aja.

    Biar kata saya di rumah, tapi memang jarang bisa menemani anak bermain bareng dengan fokus.
    Dan juga, punya pengasuh terbaik, gadget, ups, hehehe.

    Tapi syukurlah saya senang nulis dan sering baca, jadinya kadang dengan membaca kayak gini, seketika tersadarkan bahwa anak itu amanah, lalu mulai deh lebih serius menanganinya.

    Alhamdulillah si Adik nggak sampai benar-benar terlambat bicara, terlebih selama pandemi ini, dia ada teman lain di rumah selain saya, yaitu kakaknya, jadinya makin cerewet.

    Padahal dulunya, udah 2 tahun sukanya main tunjuk doang, nggak mau bicara hehehe.
    Kalau gadget, memang dilema sih, Dok, nggak menampik juga, kadang gadget adalah penolong banget, terutama untuk ibu yang mengurus anak sendirian kayak saya.

    Tapi ya gitu, kudu bisa tegas terhadap batasannya, biar anak mengerti :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata tugas orang tua itu tidak ringan kak... Berat banget malah. Sejatinya kita para orang tua itu adalah pengemban amanah terbesar.
      Harus sering-sering mawas diri... Harus bisa jadi contoh baik...

      Hapus
  8. Hai dok aku baru tau loh kalau keterlambatan bicara ini ada juga dari faktor genetik ya? anak aku dulu yang pertama bicara sudah mulai dari usia 9 bulanan tapi jalan baru lancar kadang masih kaya robot dan jatuh-jatuh diusia 24 bulan. Wajar gak ya dok? katanya antara jalan dan berbicara itu tidak sejalan salah satu dulu yang duluan, benar gak sih dok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perkembangan motorik dan bicara tidak selamanya tidak sejalan, banyak kok yang bisa jalan dan bisa bicaranya dalam waktu yang hampir bersamaan.
      Untuk perkembangan secara umum dipengaruhi faktor intrinsik dan ekstrinsik. Yang intrinsik ini didalamnya termasuk faktor keturunan atau genetik.

      Hapus
  9. Waktu anak-anak saya masih kecil, mereka belum kenal gadget. Tetapi, mengenal berbagai tontonan anak lewat tv kabel. Berdasarkan pengalaman saya sebagai ibu, memang sebaiknya juga jangan hanya mendiamkan anak hanya karena mereka terlihat tenang saat menonton. Saya sering banget ajak ngobrol ketika sedang menonton. Selain itu dibatasi juga waktunya. Karena saya setuju dengan dokter. Interaksi terbaik memang tetap dengan orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak diperkenankan menonton tayangan tv ataupun media lain. Interaksi dan sosialisasi dengan orang lain, terutama dengan orang tuanya adalah yang utama

      Hapus
  10. kuncinya stimulasi ya?

    bisa dipahami, dulu aktivitas ortu gak terganggu gadget, mereka fokus merawat anak-anaknya

    sekarang, anak dibikin "diem" dengan gadget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Gadget dijadikan sarana untuk membuat anak jadi anteng. Padahal itu gak bener! Yuk, bikin gerakan "bebaskan anak dari kecanduan gadget"

      Hapus
  11. Gadget bikin anak minim bersosialisasi ya Mas. Beda jauh saat saya masih kecil. Main bareng tuh di lapangan, jejeritan, seseruan dan keringetan. Sekarang mah tinggal duduk, pencat-pencet, duduk berlama-lama gak bergerak, dan makan fast food. Bagaikan bumi dan langit banget.

    BTW, anak sulung saya juga sempat mengalami keterlambatan bicara. Baru bisa lancar bicara itu di usia 2.5tahun. Sebelum itu dia cuma nunjuk-nunjuk kalau ingin sesuatu, mengangguk dan menggeleng sebagai ungkapan setuju atau tidak. Padahal stimulasinya, menurut saya, sudah cukup.

    Sampai hingga suatu hari, saat saya cuti dan mengajak dia berlibur, pas lagi saya suapin makan, mendadak dia nyerocos ngomong. Kata-katanya gak ada yang cadel. Sempurna seperti orang yang lancar bicara. Dan takjub nya lagi, dia ngobrol seperti bukan anak kecil. Suami sampe ketawa ngakak dengan perbendaharaan katanya. Setiap saya ceritakan peristiwa ini sama anak saya ini (yang sekarang berusia 22 tahun), dia juga gak pernah berhenti tertawa.

    BalasHapus
  12. Very nice story, Mbak Annie... Berarti keterlambatan bicaranya karena kurang piknik dong....
    Anak saya pas masuk play group juga belum lancar ngomongnya... Eh sekarang kelas 3 SMU malah sering disuruh jadi MC sama gurunya...

    BalasHapus
  13. Terimakasih banyak dokter atas ilmunya. Menjadi reminder buat aku agar lebih sering mengajak anak bicara dan memberikannya mainan yang edukatif ketimbang gadget. Semoga anakku mendapatkan semua asah, asuh, dan asihnya dengan baik dari kedua orang tuanya. Aamiinn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu tips membebaskan anak dari gadget adalah memberikan tauladan. Hindari bergadget saat bareng sama anak ya

      Hapus
  14. Tiga kebutuhan yang sering missing, asah, asih, asuh...di antara kesibukan orang tua gadget dianggap bisa jadi penggantinya. Pengingat buat semua ini, Dok
    Tantangan pengasuhan di era digital ya seperti ini ya. Tips yang disebutkan di artikel ini bisa jadi panduan orangtua agar tak ada lagi kendala dalam tumbuh kembang buah hatinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul setuju banget. Semoga makin banyak orang tua yang sadar akan pentingnya stimulasi demi tumbuh kembang anak yang normal

      Hapus
  15. Wah senang bisa mendarat di blognya dokter. Sekalian mau tanya dok, cara menstimulasi anak agar bisa beradaptasi cepat di lingkungan sosialnya bagaimana caranya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ajak anak tiap hari jalan-jalan keliling kompleks, nyata tetangga, ke warung sebelah, kenalan sama anak-anak setempat. Kasih dia reward tiap mau main dengan teman2 kompleksnya.
      Kalau anak cowok, ajak ke masjid untuk sholat jamaah

      Hapus
  16. Ah benar sekali dokter, selain nutrisi sangat penting memberikan stimulasi agar anak tumbuh dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk bisa bertumbuh kembang dengan baik, kebutuhan "asah, asih dan asuh" nya harus terpenuhi...

      Hapus
  17. Kedua anak saya baru pada telat jalan dan telat bicara Dokter. Yang pertama baru bisa jalan pas usia 14 bulan, sementara yang kedua 15 bulan. Trus kalau bicara, yang pertama 3 tahunan baru lancar ngomongnya, tapi sudah bubbling terus. Kalau yang kedua dua tahunan bisa bicara tapi sebelumnya ya benar-benar diam, nggak ada bubbling. πŸ˜…πŸ˜…

    BalasHapus
  18. Stimulasi tumbuh kembang anak menjadi perhatian orang tua dan lingkungan agar anak tumbuh sesuai harapan

    BalasHapus
  19. Bonding anak masa golden age dengan kedua ortu tuh penting banget ya dok, soalnya anak sepupu saya ditinggal bapaknya sering dinas luar kota dari lahir ampe gede jadi takut banget gitu kalo ada bapaknya ampe pernah nagis histeris gitu. Gimana ya cara atasinya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai segitunya ya... Harusnya sejak awal, anak dibiasakan video call secara rutin dengan ayahnya.... Tapi masih bisa dikejar kok... Pelan2 si anak pasti tahu siapa ayahnya

      Hapus
  20. saya sempat bingugn gmn mengkondisikan gadget buat anak saya yang umur 3 tahun. krena memang menurut ahli gadget bsa diberikan pada anak selama 1 jam per hari. tetapi sempat berfikir gimana menyiasati gadget ini tanpa berdampak ke indera penglihatannya kelak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku biasanya perhatikan waktu penggunaan, jarah penglihatan, layar besar. Gitu sih hehehe karena akupun masih kasih gadget ke anak-anak, terutama untuk case edukasi. Sambil diajak ngobrol juga biar gak 1 arah banget :) semanga untuk kita ya Mom

      Hapus
    2. Rekomendasi AAP (american academy of Pediatric), sebelum umur 2 th, anak tidak boleh terpapar media (televisi, gadget dll)

      Hapus
  21. Semoga tidak ada lagi kasus-kasus Doni yang lain yang membuat kita miris dengan tumbuh kembang anak yang soyogianya menjadi waktu emas dalam proses tumbuh kembang mereka dan semoga kita sebagai orang tua semakin bijak dalam hal memberikan pola pengasuhan kepada anak agar perkembangan mereka dapat berjalan dengan maksimal sebagaimana mestinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan semoga para ayah bisa mengambil peran dengan baik dalam pengasuhan anak, tidak larut dalam tugas sebagai pencari nafkah, dan tidak terbuai dengan me-time nya demi hobby nya yg kadang tidak murah!

      Hapus
  22. Sebagai emak anak 2 yang punya anak cepet bicara, sebetulnya Ibu Doni bisa aja cari pengasuh yang sudah terdidik untuk menstimulasi si Doni dengan baik dalam hal bicara. Saat screen time juga sebaiknya ditemani dan diajak komunikasi aktif agar fungsi dari gadget gak hanya 1 arah. Sungguh pembelajaran jika udah delay begitu ya dok :) makasih dok, artikelnya selalu menginspirasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih bunda.... Semoga makin banyak emak-emak yang sadar akan pentingnya bonding, dan stimulasi anak

      Hapus
  23. Asah asih asuh rasanya lama sekali tak mendengar kosakata ini. Di sini aku seakan merefresh kembali ttg peran sebagai ortu.

    Betul, masih banyak di masyarakat kita mindset mengasuh adalah memenuhi kebutuhan "yang terlihat" padahal proses stimulasi ini seringnya adalah kebutuhan yang dilakukan secara berkala dan kadang suka terlewat karena merasa anak baik2 saja termasuk anggapan kalo anak jalan duluan biasanya bicaranya belakangan.. atau sebaliknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga makin banyak orang tua yang sadar akan pentingnya bonding dan stimulasi.

      Hapus
  24. Ow iyaaa ini kok ku banget dulu.. Anakku juga pas bgt mengalami ini. Kok kayak kisahku ini, anakku dulu teman setianya gadget. Emang penting banget stimulasinya.

    BalasHapus
  25. aku dulu kerja, ngajar sampai sore oleh pengasuh anakku diajarin makan mie instan, sedih banget padahal usianya dulu belum 2 th dan sejak bayi aku mengenalkan MPASI Homemade

    BalasHapus
  26. Ilmu penting sebelum punya anak ya, Dok. Bagaimana mau menstimulasi anak dengan baik kalau tidak tahu ilmunya. Terima kasih atas ilmunya, Dok.

    BalasHapus
  27. Bener sih, bahwa aktivitas stimulasi bukanlah kegiatan yang rumit. Tapi bagi ibu bekerja itu sesuatu yang prestisius, aku pernah di posisi ini. Pulang ke rumah sudah lelah duluan, alhasil stimulus ke anak jadi berkurang.

    inilah salah satu alasan klasik ibu bekerja akhirnya lebih memilih resign dan berkarir di rumah.

    BalasHapus
  28. Nah itu dia, sepertinya masih banyak ortu yang belum paham tentang pentingnya memantau tumbuh kembang anak. Dikiranya anak akan bisa tumbuh baik dengan sendirinya.

    BalasHapus
  29. Kalau anak terlambat bicara gini, nanti dokter spesialis anak seperti Bapak mengarahkan ke dokter tumbuh kembang anak atau diberi petunjuk seperti artikel ini? kalau kebutuhan anak bukan soal pemenuhan kebutuhan fisik aja tapi juga 3A.

    BalasHapus
  30. Sangat edukatif dan menjadi reminder yang baik dok,, matur nuwun dok ilmunya 😁

    BalasHapus
  31. Masih ingat dulu dokter pernah bilang waktu ngasih tentiran tumbuh kembang anak, mungkin skrang ilmu ini terkesan menjenuhkan tapi nanti kalian akan terasa ilmu ini bakal sangat bermanfaat ketika kalian sudah punya anak, dan ternyata benar dok. 😭, nyesal dulu ga fokus 🀣, untung ada web ini dok jadi sekarang saya bisa baca seputar tumbuh kembang anak lewat sini😁

    BalasHapus
  32. Wah sangat menarik dokter ilmu yang dibagikan kali ini. Memang sering kali orang tua apalagi yang bekerja kurang memberikan stimulasi pada anak dan hanga diberikan gadget gadget dan gadget padahal stimulasi yang diberikan pada anak bisa berupa hal-hal yang mudah untuk dilakukan seperti yang dokter contohkan di artikel yaitu: bernyanyi sambil menari, pengenalan warna dan bentuk, membaca buku cerita bersama, serta belajar memasak bersama. Dengan memberikan stimulasi juga membentuk bonding yang kuat antara anak dan orang tua dan sepatutnya orang tua memanfaatkan hal terbebut karena waktu bersama anak juga tidak dapat diulang kembali

    BalasHapus
  33. Terima kasih banyak dokter untuk ilmu yang sangat bermanfaat ini. Beberapa kali saya menemui anak yang terlalu fokus pada gadget nya dan orang tua nya malah senang karena anak nya jadi anteng. Setelah membaca artikel dokter saya jadi mengetahui jika gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika tanpa adanya stimulasi untuk berinteraksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau bahasa, motorik dan emosi. Asah, asih, asuh juga menjadi kebutuhan dasar penting yang harus diketahui para orang tua dan calon orang tua dalam menstimulasi tumbuh kembang anak.

    BalasHapus
  34. Alhamdulillah dokter, terima kasih informasi yang diberikan. Dokter telah memaparkan pentingnya stimulasi pada anak yang beberapa tahun kebelakang sedikit diabaikan oleh orang tua dengan alasan sibuk bekerja dan lain sebagainya, padahal stimulasi pada anak sangat penting untuk pertumbungan dan perkembangan sang anak. Banyak yang kurang memperhatikan seperti memberikan gadget sebagai solusi apabila sang anak lagi rewel. Kita tau bahwa gadget merupakan media yang lengkap untuk metode belajar, tetapi jika terlalu sering dan tanpa diimbangi adanya stimulasi dari orang sekitar khususnya orang tua maka hal tersebut dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan dari sang anak. Oleh karena itu dari paparan informasi ini dapat mengingatkan kepada orang tua dan calon orang tua untuk dapat membatasi penggunaan gadget kepada anak. Terima kasih banyak nggih dokter informasinya.

    BalasHapus
  35. Mantap sekali dokter untuk artikel ini. Menjadi "sentilan" kecil pada kehidupan di masa sekarang mengenai pemberian "stimulasi" kepada anak. Fenomenanya, gadget sudah menjadi hal yang "sepertinya sangat" dibutuhkan. Meskipun gadget tidak 100% salah, tapi seperti yang sudah dijelaskan diatas, stimulasi yang diberikan tidak mencakup semua hal. Mungkin ada tips dan trik atau sharing singkat pengalaman panjenengan dokter, sebagai sosok yang Ayahable yang berprofesi sebagai seorang dokter spesialis Anak hits, pengajar, sekaligus penulis, bagaimana cara dokter dalam membagi waktu memberikan Asah, Asih, Asuh di era yang serba teknologi sekarang. Mungkin bisa menjadi wawasan tersendiri bagi orang tua dan calon orangtua, yang berkarir. Terimakasih banyak nggih dokter.

    BalasHapus
  36. Pemaparan yang sangat menarik dokter, terima kasih banyak πŸ™πŸ»
    Ternyata menjadi orang tua itu tidak mudah nggih, banyak tugas dan tanggung jawab pada diri beliau berdua terhadap anak-anaknya.
    Setelah membaca tulisan dokter ini, saya jadi terharu, teringat orang tua yang jauh disana, dengan begitu banyak asah asih asuh yang sudah diberikan beliau kepada saya hingga sebesar ini, mashaAllah... 😭 Semua terhitung pahala besar bagi orang tua yang dapat menjalankan tugas asah asih asuh dan stimulasi sejak dini dengan baik dan tepat.

    Ternyata stimulasi tumbuh kembang anak itu sangat penting dan dapat dipraktekkan dengan mudah serta banyak caranya nggih dokter. Kata orang² yg sudah berkeluarga biasanya begini "jadi ortu itu harus banyak omong (re: menyanyi/menunjukkan hal hal baru/menyebutkan benda² ataupun warna dll)" hehe ternyata itu semua benar nggih dokter, termasuk salah satu dari stimulasi yg diberikan.

    BalasHapus

Posting Komentar