blog dokter taura big ad

PNEUMONIA PADA BALITA: PENYEBAB KEMATIAN NOMOR DUA DI INDONESIA

Pneumonia adalah keradangan pada jaringan paru yang sebagian besar disebabkan karena infeksi. Penumonia merupakan penyebab kematian nomor dua di Indonesia. Pembunuh balita yang berkontribusi besar terhadap tingginya angka kematian balita si seluruh dunia.

Ratusan ribu balita di seluruh dunia meregang nyawa akibat terjangkit penyakit pneumonia. Orang rua mana yang hatinya tak hancur menyaksikan anak tercintanya tergolek lemah dan harus mendapatkan bantuan oksigen di hidungnya? 

Pembunuh balita nomor 2 itu bernama Pneumonia

Seperti yang dialami oleh Bunda Yuni yang sudah lima hari ini mendampingi anaknya, Queen (19 bulan) dirawat di Rumah Sakit karena batuk yang tak kunjung sembuh se­jak enam hari sebelum dirawat di RS, diikuti demam tinggi dan sesak napas yang makin lama makin memberat.

Bunda Yuni, tentu saja cemas melihat Queen yang tak kunjung membaik. Apalagi menyaksikan tubuh gadis cilik nan cantik itu  makin lemah, ditambah 2 selang yang berseliweran: selang infus dan selang oksigen.

Hasil diskusi dengan dokter spesialis anak menyimpulkan bahwa Queen menderita Pneumonia.

Tiap 34 Detik, Pneumonia Membunuh 1 Balita.

Betapa kaget Bunda Yuni manakala mencari informasi seputar pneumonia melalui Internet dan mendapatkan data dari WHO bahwa sepanjang tahun 2015 ada 920.136 balita meninggal akibat Pneumonia. lni berarti bahwa tiap 34 detik ada 1 kasus kematian balita akibat Pneumonia!

Pneumonia atau lebih dikenal dengan penyakit radang paru-paru·adalah proses keradangan pada bagian tertentu dari paru yang bernama "Alveoli" dan jaringan sekitarnya. 
Pneumonia karena bakteri merupakan yang tersering diderita balita
Sumber: www.stoppneumonia.id

Alveoli adalah struktur fungsional terkecil dari paru yang secara langsung menjalankan fungsi se­bagai alat pertukaran udara: oksigen vs karbondioksida

My Name is Pneumonia

Sistem respirasi (pernapasan) manusia tersusun mulai hidung hingga alveoli. Dari hidung berlanjut tenggorokan kemudian bronkus, yang akan bercabang dua: bronkus kiri dan kanan yang nantinya akan menjadi "paru kiri" dan "paru kanan". Masing-masing bronkus akan terbagi secara dikotomi, larnbat laun mengecil dan berdinding lebih tipis menjadi saluran napas yang berdiameter lebih ke­ cil, dinamakan Bronkiolus. Jaringan paru manusia terdiri dari ribuan bronkiolus yang pada tiap-tiap ujungnya berakhir pada alveoli.

Jika karena suatu sebab, terjadi proses keradangan pada alveoli sehingga mengganggu fungsi paru dalam pertukaran oksigen dengan karbondioksida, dinamakan Pneumoni. Sedangkan jika ker­adangan terjadi pada saluran napas diatas alveoli, dinamakan ISPA alias lnfeksi Saluran Pernapasan Akut ("Akut" berarti penyakit terjadi dalam waktu singkat, kurang dari 14 hari)

Pada pemeriksaan fisik, dengan stetoscope akan terdengar suara napas yang menurun dan didapatkan suara napas tambahan (ronkhi). Pada pemeriksaan laboratorium darah lengkap bisa terjadi peningkatan jumlah sel darah putih, tapi bisa juga memberikan gambaran darah lengkap yang masih dalam batas normal.

Pada pemeriksaan radiologi, foto polos dada menunjukkan adanya gambaran perkabutan (infiltrat) di area paru-paru.

Pneumonia vs Pneumonia Berat

WHO pada tahun 2014 dalam bukunya "Revised WHO classification and treatment of childhood pneumonia at health facilities" membedakan pneumonia menjadi 2 kategori, yaitu "Pneumonia" dan "Pneumonia Berat"

Kategori Pneumonia jika ditemukan batuk, kesulitan bernapas dan napas cepat dengan atau
tanpa disertai tarikan dinding dada bagian bawah ke arah dalam. Batasan napas cepat adalah se­bagai berikut :
  • Anak umur < 2 bulan : > 60 kali/menit 
  • Anak umur 2 - 11 bulan : > 50 kali/menit
  • Anak umur 1 - 5 tahun : > 40 kali/menit
  • Anak umur 2-5 tahun : > 30 kali/menit
Dikategorikan sebagai Pneumonia Berat apabila didapatkan gejala pneumonia diatas, ditambah salah satu atau lebih dari danger signs berikut ini:
  1. Tidak dapat menyusu atau minum/makan, atau memuntahkan semuanya
  2. Kejang
  3. Anak tampak lemah, gelisah, kesadaran menurun
  4. Terdengar bunyi stridor (suara mendengkur) saat menghirup napas 
  5. Sianosis (kebiruan) 
    Pneumonia pada balita memberikan gejala batuk, napas cepat dan sesak napas
    Sumber: www.stoppneumonia.id

Penyebab Pneumonia

Sebagian besar Pneumonia disebabkan karena infeksi, baik infeksi bakteri, virus maupun jamur. Penyebab tersering adalah bakteri, namun seringkali diawali oleh infeksi virus yang kemudian mengalami komplikasi infeksi bakteri.

Bakteri tersering penyebab Pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae (pneumokokkus), Haemophilus influenzae type B (HiB), Staphylococcus aureus

Sedangkan virus yang sering menye­babkan pneumonia adalah virus Influenza dan RSV (Respiratory Syncytial Virus)

Penularan Pneumonia

Bakteri maupun virus diatas masuk ke tubuh anak melalui sistem pernapasan hingga sampai ke alveoli. Bakteri dan virus tersebut menular melalui jalur air borne, terutama saat penderita batuk ataupun bersin.

Pencegahan Penularan Pneumonia

Untuk mencegah penularan ini, sebaiknya bagi anak atau orang tua yang sedang batuk atau flu atau common cold, melakukan hal hal seperti dibawah ini:
  1. Tinggal di dalam rumah dan istirahat
  2. Saat batuk atau bersrn,tutuplah mulut dan hidung dengan tissue atau dengan kedua tangan/lengan
  3. Menjauhlah dari orang-orang sekitarnya saat batuk/bersin
  4. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir,atau bisa juga dengan hand sanitizer sesaat setelah bersin, batuk maupun membuang ingus
  5. Hindari kontak yang terlalu dekat orang lain, misalnya berjabat tangan, memeluk, mencium. 
  6. Bersihkan secara berkala benda·benda yang sering dipegang misalnya mainan, handle pintu, kran air dll

Pengobatan Pneumonia

Untuk kategori "Pneumonia", WHO pada tahun 2014 merekomendasikan pemberlan antibiotik Amoxicillin oral (obat minum) selama 5 hari dan disarankan untuk rawat jalan

Pada kategori Pneumonia Berat, WHO merekomendasikan pemberian antibiotik injeksi Ampicillin dan Gentamicin selama minimal 5 hari

Selain itu penatalaksaan umum kasus pneumoni berat adalah sebagai berikut:
  • Pemberian cairan rnfus dan asupan nutrisi sesuai kebutuhan 
  • Pemberian oksrgen
  • Pemberian obat penurun demam (antipiretik/ analgesik)
  • Untuk mempermudah pengeluaran dahak, bisa dilakukan terapi uap atau nebulisasi

Pencegahan Pneumonia

Tindakan prevensi berikut ini terbukti bisa mencegah dan mengurangi risiko terjangkitnya Pneumonia pada balita:
  1. Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi terutama imunisasi HiB, pneumokokkus, pertussis dan campak
  2. Pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan terbukti bisa menurunkan angka kejadian pneumonia
  3. Mengendalikan faktor lingkungan seperti mengurangi polusi udara terutama asap rokok 
  4. Meningkatkan hygiene pribadi terutama bagi masyarakat di daerah padat dan kumuh. 
    Pneumonia pada bayi dan balita di Indonesia
    Sumber: www.mediaindonesia.com
WHO dan UNICEF mengembangkan program GAPPD (Global Action Plan for Pneumonia and Diarrhoea) yaitu suatu program yang bertujuan untuk menekan angka kejadian dan kematian akibat pneumonia yang berisi langkah-langkah untuk proteksi, pencegahan dan pengobatan pneumo­nia, meliputi:

  1. Lindungi (Protect) anak dari bahaya Pneumonia dengan ASI eksklusif dilanjutkan MPASI yang benar dan supplementasi vitamin A
  2. Cegah (Prevent) anak dari pneumonia dengan imunisasi, cuci tangan dengan sabun, sanitazer, safe drinking-water dan menurunkan kadar polusi udara terutama di dalam rumah.
  3. Obati (Treat) Pneumonia dengan dengan TEPAT

Program ini juga dikenal dengan program: 
Protect, Prevent and Treat

Fun Facts About Pneumonia

  1. Data WHO tahun 2015 menunjukkan bahwa 15% kematian balita di seluruh dunia diakibatkan oleh Pneumonia. Total ada 920.136 kasus kematian balita di seluruh dunia akibat Pneumonia. lni berarti ada tiap 34 detik terjadi 1 kasus kematian balita karena pneumonia sepanjang tahun 2015 di seluruh dunia.
  2. Jika angka kematian balita akibat campak,malaria dan AIDS dijumlah, maka angka itu belum bisa mengalahkan jumlah kematian balita akibat Pneumonia. Wajar jika WHO menyebut Pneumonia sebagai pembunuh utama balita di seluruh dunia.
  3. Karena tingginya angka kematian balita akibat pneumonia ini, UNICEF dan WHO (2016) menyebut pneumonia sebagai "the forgotten killer of children"
  4. Bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif berisiko tinggi terjadinya pneumonia. Selain itu, gizi buruk, polusi udara dalam ruangan, kepadatan penduduk, BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dan kurangnya imunisasi campak adalah faktor resiko yang mempermudah terjadinya pneumonia
  5. Di Indonesia, Menurut hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2007, pneumonia merupakan pembunuh nomor dua pada Balita (13,2%) setelah diare (17,2%)
  6. Tanggal 12 Nopember diperingati sebagai hari PNEUMONIA sedunia

Kesimpulan

Pneumonia adalah keradangan pada jaringan paru yang bisa disebabkan karena infeksi maupun non-infeksi. Penyebab tersering pneumonia pada balita adala infeksi bakteri

Pneumonia merupakan penyakit yang sering menyumbang tingginya angka kematian pada balita

Pneumonia bisa dicegah dengan imunisasi dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)

Pengobatan pneumonia, selain diberikan antibiotik, juga diberikan terapi supportif dengan memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan



DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

30 komentar

  1. Oh, pneumonia ini penyakit yang paling menyeramkan nomor 1 du dunia terutama bagi bayi dan anak ya, dok? Gara-gara infeksi yang menyerang paru dan sebagainya sesuai penjelasan di atas, tentu kita mesti pandai2 menghindarkan diri dari penyebabnya. Program GAPPD mudah2an berkesinambungan dilakukan untuk menekan jumlah penderitanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul Kak Nurul. Pneumonia adalah pembunuuh balita. Harus ada upaya edukasi yang massive dan terstruktur kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia...

      Hapus
  2. Sering banget nih ya penumonia pada anak-anak/balita. Terutama yang saya amati dari lingkungan saya tinggal adalah seorang ayah yang merokok dengan sembarangan misalnya sambil gendong anaknya. Beberapa rekan saya juga yang aktif merokok menyebarkan asap ke anaknya hingga mengalami pneumonia. Akhirnya dirawatlah si anak sambil batuk2 kecil gitu. Kasihan ngelihatnya waktu itu saat saya menjenguknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asap rokok, walaupun bukan merupakan penyebab pneumonia, tapi dia yang membuat pneumonia makin parah dan menjadi faktor risiko terjadinya pneumonia pada balita. Yuk berhenti merokok demi anak-anak kita...

      Hapus
  3. Alhamdulillah anak aku ASI Eksklusif, berjuang banget dulu untuk ngasih ASI karena dampaknya besar bagi kesehatan dan imun anak untuk meminimalisir dan mencegah terjadi berbagai resiko penyakit termasuk penyakit pneumonia bagi bayi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat ya Bu Dessy. Keberhasilan memberikan ASI eksklusif adalah awal dari kehidupan sehat yang lebih baik... Semoga Bu Dessy sekeluarga selalu dikaruniai kesehatan yang paripurna...

      Hapus
  4. Mumtadz yang disampaikan dokter, pneumonia penyakit berbahaya, pola hidup bersih dan sehat akan meminimalir tersebarnya pneumonia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pneumonia adalah penyakit yang berbahaya (baca: mematikan), tapi bisa dicegah kok... Yuk sebarkan artikel ini biar makin banyak yang sadar akan bahaya penyakit ini

      Hapus
  5. ASI Eksklusif memang sangat baik untuk perkembangan bayi sehingga dengan ASI dapat menjaga imun dan meminimalisir terjadinya berbagai resiko penyakit terutama bagi penyakit pneumonia bagi bayi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Selain daya tahan tubuh menjadi lebih kuat, perkembangan sel-sel otak juga lebih pesat. Jadi bisa meningkatkan kecerdasan anak. Juga bisa meringankan beban ayah... (baca: hemat)

      Hapus
  6. Saya kok ngilu bacanya. Apalagi setelah tahu bahwa radang paru masuk kedalam kategori silent killer. Pemilihan 2 kata ini aja sudah bisa dijadikan warning bagi orang tua untuk lebih memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan agar bayi dan anak bisa terhindar dari bakteri pemicu radang paru.

    Oia, btw, asap rokok dari orang dewasa dan udara yang lembab apakah juga bisa jadi penyebab radang paru ini Mas? Saya menduga ini bisa jadi salah satu penyebab yang cukup akut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asap rokok buka menjadi penyebab langsung, tapi membuat fungsi paru-paru anak jadi berkurang sehingga menjadi mudah terinfeksi, mudah terjadi pneumonia. Yuk, semua orang tua di Indonesia: berhentilah merokok, setidaknya demi kesehatan anak-anak kita...

      Hapus
  7. Pneumonia pada bayi dan anak termasuk penyebab kematian nomor 2 di Indonesia saat ini? Doh, semoga orangtua yang memiliki bayi dan anak2 lebih aware agar bayi dan anak jangan sampai terpapar pemicunya dan semangat memberikan ASI ekslusif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ASi eksklusif, imunisasi lengkap, pola hidup sehat dan peningkatan hygiene pribadi maupun kebersihan lingkungan.... itu dia kunci pencegahan pneumonia

      Hapus
  8. Anak saya usia 9 tahun kalau tidur selalu mengeluarkan stridor. Berbahaya gak ya? Selama ini saya pikir karena ayahnya pun suka ngorok, apakah turunan? Hehehe takutnya malah ada kaitan sama pneumonia nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Stridor tidak ada kaitannya dengan pneumonia. Coba ubah posisi tidur anak untuk mengurangi stridor. Iya betul, tidur ngorok alias stridor bisa jadi karena faktur keeturunan

      Hapus
  9. anak sulung saya dok, pernah ngalamin sewaktu masih 1,5 tahun
    Duh kalo ingat lagi rasanya dadak sesak karena terulang lagi rasa sedihnya
    nafasnya sesak, satu persatu, saya ketakutan, nafas itu tiba tiba berhenti
    Namun rupanya keluarga saya masih dipercaya merawat anak sulung saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Turut prihatin, Ambu. memang kalau menyaksikan buah cinta mengalami sesak napas itu rasanya kayak berada di titik yang paling rendah... Sedih banget. Makanya, yuk kita cegah pneumonia...

      Hapus
  10. Ya Allah iya
    Pneumonia ini emang salah satu ancaman serius bagi anak anak ya dok
    Orang tua perlu tahu langkah preventif sekaligus upaya yg tepat untuk menghadapi pneumonia ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul kak... Langkah preventif harus dilakukan oleh semua orang tua, mengingat kekejaman penyakit pneumonia ini

      Hapus
  11. Alhamdulillah mendapatkan informasi yg menarik dari blog Dokter Taura lagi, Pencegahan paling efektif adalah dengan imunisasi terutama imunisasi HiB, pneumokokkus, pertussis dan campak. Selain itu Point yang penting untuk menghindari pneumonia ini dengan ASI eksklusif dilanjutkan MPASI yang benar serta supplementasi vitamin A dan seperti biasa lagi lagi PHBS juga dapat menghindari dari pneumonia ini. Terima kasih dokter atas informasinya👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali atas atensinya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk semua orang...

      Hapus
  12. Wah ternyata pneumonia ini berbahaya bgt ya, bahkan penularannya aja air borne. Harus saling jaga nih, apalagi anak yang mulai sekolah. Harus ajarin PHBS dan protokol kesehatan huhu. Bayangin aja masa 34 detik ada 1 kasus kematian balita akibat Pneumonia. So sad :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul Kak Widya. Pneumonia ini jahat bangat. Kitanya yang harus tahu diri, harus pintar-pintar melakukan upaya pencehagan

      Hapus
  13. Sanagt perlu edukasi seperti ini, Oh iya, dok kalau menurut WHO tiap 34 detik ada 1 kasus kematian balita akibat Pneumonia ini apakah termasuk tinggi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dong, Pak. Itu tinggi banget.... Makanya harus ada edukasi yang massive biar masyarakat sadar dan akhirnya melakukan upaya pencegahan....

      Hapus
  14. Oh the forgotten killer, ngeri juga ya pneumonia ini.. Rupanya BBLR juga be resiko terjadinya penyakit ini ya Dok, duh catatan aku banget ini punya pengalaman anak BBLR. Pneumonia ini ada faktor ke turunan juga ga Dok?

    BalasHapus
  15. Pneumonia ternyata memang bahaya sekali ya.. Jadi ingat dulu adek saya waktu kecil terkena pneumonia dan langsung dirawat di RS.. Saat itu blm terlalu tau tentang penyakit ini.. Alhamdulillah skrng sudah baikan, tp stelah baikan apakah pneumonia menyebabkan asma jg atau tdk ya dok?

    BalasHapus
  16. Nabilah Fauziyah1 Juli 2022 23.07

    Terima kasih banyak dokter untuk ilmu nya yang bermanfaat ini. Izin bertanya dokter, apakah anak yang saat ini sudah terkena pneumonia beresiko lebih besar untuk terkena pneumonia kembali di masa depan didibandingkan anak yang belum pernah terkena pneumonia? Terima kasih banyak dokter

    BalasHapus
  17. Terima kasih banyak dokter atas informasinya, menambah pengetahuan kami semua. Dokter ijin bertanya, apakah dengan anamnesis dan pmx fisik saja kita dapat membedakan mana dx pneumonia dan ISPA? Terima kasih banyak dokter

    BalasHapus

Posting Komentar