blog dokter taura big ad

REVIEW FILM NGERI-NGERI SEDAP: BUDAYA BATAK, DANAU TOBA DAN PARENTING

Film Ngeri-Ngeri Sedap adalah sebuah film keluarga yang sangat relate dengan kehidupan keluarga zaman now. Walaupun dibalut dengan budaya batak yang cukup kental, namun Ngeri-Ngeri Sedap nyatanya bisa diterima oleh semua kalangan.

Sudah lama saya tidak menonton film Indonesia di bioskop. Sudah lama pula saya nonton di bioskop dan tidak mengantuk sama sekali sepanjang pemutaran film. Baru di film Ngeri-Ngeri Sedap inilah saya bisa sukarela membelalakkan mata sembari menikmati setiap dialog dan visual yang disajikan di sepanjang film.

Film Ngeri-Ngeri Sedap yang bergenre komedi tetapi bisa menguras air mata

Sutradara dan Pemeran

Film Ngeri-Ngeri Sedap merupakan film produksi perdana dari rumah produksi Imajinari yang didirikan oleh Ernest Prakarsa dan Dipa Andika.

Meskipun produksi perdana, film Ngeri-Ngeri Sedap bukan berarti film uji coba yang ala kadarnya. Justru sebaliknya, film ini sukses membuat penonton tertawa atau minimal tersenyum. Pada klimaks film, penonton dipaksa untuk meneteskan air mata. 

Film yang disutradarai oleh Bene Dion Rajagukguk dibintangi oleh Tika Panggabean dan Arsewndy Beningswara Nasution yang berperan sebagai sepasang suami istri dengan empat anak yang semuanya sudah mandiri. Tika dan Arswendy berhasil membangun chemistry yang solid dan apik. Sementara yang berperan sebagai anak adalah Boris Bokir, Gita Bhebhita Butar-butar, Lolox, dan Indra Jegel. Keenam pemeran utama film ini mempunyai darah Batak, dan empat nama terakhir adalah jebolan Stand Up Comedy. Mereka berenam berhasil menghidupkan cerita dengan chemistry yang sangat kuat. Ditambah lagi dengan peran Rita Matu Mona yang mencuri perhatian. Komplit deh.

Sinopsis

Film Ngeri-Ngeri Sedap berkisah tentang sepasang suami istri: Pak Domu (Arswendy) dan Bu Domu (Tika Panggabean) yang mempunyai 4 orang anak:

  1. Domu (Boris Bokir)
  2. Sarma (Gita Bhebhita)
  3. Gabe (Lolox)
  4. Sahat (Indra Jegel)
    Sebagai kepala keluarga, Pak Domu selalu menginginkan anak-anaknya menjadi seperti yang dia mau

Dari keempat anak, hanya Sarma yang masih tinggal bareng orang tuanya. Sedangkan ketiga anak lelaki yang lain merantau di kota-kota besar dan sibuk dengan karier masing-masing.

Suatu hari Pak Domu dan Bu Domu menginginkan anak-anaknya pulang dan berkumpul kembali di rumahnya di tepi Danau Toba. Selain karena rindu yang sudah menggebu, juga karena ada acara adat yang harus mereka hadiri. Namun, Domu, Gabe dan Sahat menolak pulang karena hubungan mereka tidak harmonis dengan Pak Domu, serta telah memiliki kesibukan masing-masing. 

Domu yang ingin menikahi pacarnya, seorang gadis Sunda, tidak mendapat restu dari Pak Domu. Gabe yang merantau ke Jakarta dan menjadi pelawak, tidak disetujui Pak Domu yang lebih menginginkan Gabe menjadi seorang hakim atau jaksa, sesuai dengan bidang pendidikan sarjananya. Sedangkan Sahat yang merantau ke Yogjakarta diharapkan Pak Domu untuk tinggal di rumah orang tuanya, karena menurut adat Batak anak lelaki terakhirlah yang akan mewarisi rumah orang tua, dengan syarat harus tinggal dan merawat kedua orang tuanya.

Karena ketiga anak lelakinya menolak untuk pulang, maka Pak Domu dan Bu Domu berpura-pura bertengkar dan ingin bercerai. Sarma yang menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar dan berniat cerai akhirnya membujuk ketiga saudaranya untuk segera pulang guna menggagalkan rencana perceraian bapak ibunya.

Bujukan Sarma pun berhasil. Keluarga Pak Domu kembali berkumpul dan menghadiri acara adat demi membahagiakan Opung (Ibu dari Pak Domu). 

Namun, di balik berkumpulnya keluarga ini, terungkaplah permasalahan keluarga yang selama ini mengganjal. Dari sini penonton digiring ke suatu arah, bahwa akar penyebab masalah ada pada Pak Domu yang selama ini mengasuh anak-anaknya dengan gaya otoriter dan selalu memaksakan keinginannya, bukan hanya pada keempat anak-anaknya, tetapi juga pada Bu Domu.

Bu Domu akhirnya benar-benar minta cerai dan pulang ke rumah orang tuanya ditemani Sarma. Sedangkan Domu, Gabe dan Sahat pulang ke kota rantaunya dan sibuk dengan kariernya masing-masing.

Tinggalah Pak Domu sendiri di rumah. Dari sini Pak Domu merasakan bagaimana rasanya tinggal sendiri, ditinggal istri dan anak-anaknya. Pak Domu pun curhat ke ibunya. Mulanya hanya meminta makan siang. Namun sang ibu tahu beban yang menggelayut di pundang anaknya. Dialog antara ibu dan anak inilah yang sangat dalam maknanya. Tentang bagaimana menjadi bapak yang baik bagi anak-anaknya. Bahwa menjadi orang tua itu pekerjaan seumur hidup. Untuk itu orang tua harus selalu update tentang budaya yang sedang berkembang. 

Pada part ini, saya sangat terkesan dengan ibu Pak Domu yang diperankan oleh Rita Matu Mona. Dari sini Pak Domu sadar dan berniat menjemput istrinya. Dalam budaya Batak, jika istri yang pulang ke rumah orang tuanya (berarti sudah cerai), dan suami berniat rujuk kembali, maka suami harus menjemput istri ke rumah orang tuanya bersama keluarga besarnya seperti dulu saat upacara pernikahan.

Pak Domu pun berhasil membawa keluarga besarnya ke rumah orang tua Bu Domi dan mengajak Bu Domu pulang.

Film sudah selesai?

Ternyata belum, karena Bu Domu mengajukan satu syarat: Dia mau pulang ke rumah jika dijemput oleh suami dan ketiga anak lelakinya.

Pak Domu pun menjemput ketiga anak lelakinya satu per satu. Dari sinilah terjadi proses pemahaman mengapa anak-anaknya memilih jalannya sendiri. Dari sinilah Pak Domu sadar bahwa ketiga anaknya adalah "orang baik" yang menjalani kehidupannya dengan caranya sendiri.

Film pun berakhir dengan adegan makan bersama sembari bersenda gurau. Happy ending.

Hidup memang seperti itu. Happy hanya hasil akhir, tidak demikian dengan jalan yang ditempuh: penuh liku, penuh duri. 

Budaya Batak

Di film Ngeri-Ngeri Sedap, ada beberapa budaya Batak yang ditampilkan sebagai latar belakang konflik, antara lain: 

Orang Batak Harus Menikah dengan Orang Batak. 

Hal inilah yang diinginkan oleh Pak Domu kepada anak pertamanya: Domu. Dalam film itu dijelaskan jika keinginan Pak Domu itu karena ingin melestarikan budaya Batak di keluarganya. Namun keinginan itu ditolak oleh Domu yang ingin menikahi gadis Sunda. Bagi Domu, cinta itu urusan rasa, tak ada hubungannya dengan suku bangsa.

Orang Batak Kerjanya jadi Hakim.

Dalam film Ngeri-ngeri Sedap itu, konflik juga terjadi karena Pak Domu ingin anak ketiganya Gabe yang sarjana hukum untuk menjadi hakim. Namun ditolak oleh Gabe yang lebih memilih menjadi pelawak.

Anak Bungsu Harus Merawat Orang Tua di Rumah

Dalam film Ngeri-ngeri Sedap, Pak Domu meminta anak bungsunya bernama Sahat (diperankan Indra Jegel) untuk tinggal di rumah menjaga mereka.

Namun permintaan itu ditolak Sahat yang memilih tinggal di rumah Pak Pomo, seorang petani yang hidup sendiri di Pulau Jawa. Sahat menilai banyak belajar nilai kehidupan dari Pak Pomo sehingga senang tinggal dengannya.

Danau Toba

Seperti layaknya film korea ataupun film Bollywood yang selain menyajikan konflik yang tak terduga, juga disuguhi pemandangan elok di negeri ginseng, dalam film Ngeri-Ngeri Sedap, kita akan menyaksikan pemandangan nan indah di seputar Danau Toba. 

Pemandangan yang elok pun terpampang nyata di film Ngeri-Ngeri Sedap

Perlu diketahui bahwa Danau Toba merupakan salah satu dari 5 destinasi superprioritas Indonesia. Danau ini merupakan yang terluas di Asia Tenggara dengan panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer.

Selain itu, kita juga dijejali oleh visual yang menawan di Bukit Holbung yang juga dikenal sebagai bukit Teletubbies. Lokasi Bukit Holbung ini berada di Desa Hariara Pohan, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Kawasan perbukitan ini merupakan salah satu spot terbaik untuk menikmati keindahan Danau Toba

Ketinggian Bukit Holbung mencapai 900 meter dari atas permukaan laut. Di kalangan warga setempat beredar mitos: apabila seseorang mampu mendaki Bukit Holbung hingga puncak atau bukit ke delapan, maka perjalanan cintanya bakal berjalan mulus. Namun, untuk menaklukkan delapan bukit tersebut butuh waktu dan tenaga ekstra. Warga setempat juga menyebut Bukit Holbung sebagai bukit cinta.

Nilai Parenting

Film yang baik tak cukup hanya menyajikan gambar yang indah, dialog yang mengena dan akting para aktor dan aktris yang menjiwai. Namun harus ada pesan moral yang disampaikan. Dalam film Ngeri-Ngeri Sedap, ada beberapa nilai parenting yang coba ditanamkan kepada para penonton, dan itu nyatanya berhasil. Apa saja nilai parenting yang dimaksud?

Jadi Orang Tua itu Pekerjaan Seumur Hidup

Mengasuh dan mendidik anak itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun begitu tidak ada pendidikan atau pelatihan khusus untuk mempersiapkan kita menjadi orang tua yang baik di masa depan. Padahal seiring perkembangan zaman yang semakin dinamis, orang tua dituntut untuk senantiasa mendampingi tumbuh kembang anak.

Banyak orang tua yang menerapkan pola asuh yang sama dengan apa yang diterimanya di masa lalu, padahal dunia yang sudah berkembang sedemikian cepatnya, sudah tidak bisa menerima pola asuh yang dianggap kuno. Itulah mengapa menjadi orang tua yang baik itu sulit. Salah satu sebabnya harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sedikit saja orang tua melakukan kesalahan, akan membuat anak jadi terlalu bebas atau malah terasa terkekang.

Pola Asuh Otoriter akan Membuat Keluarga Terluka

Banyak orang berpendapat bahwa sebagai kepala keluarga, seorang ayah mempunyai hak menentukan dan memutuskan semua hal dalam keluarga. Sementara istri dan anak hanya perlu diam dan patuh.

Namun, banyak yang lupa bahwa anak pun mempunyai hak untuk menentukan masa depannya sendiri, hak untuk menentukan pilihannya dengan segala tanggung jawab serta konsekuensinya.
Pola asuh yang otoriter bisa melukai istri yang juga memiliki peran penting di dalam keluarga dan mencederai anak yang memiliki hak untuk didengarkan, diarahkan dan dibimbing.

Tak mudah memang untuk menjadi ayah yang baik, tapi setidaknya menjadi ayah harus belajar seumur hidup.

Tak gampang memang menjadi ayah yang bijak, tapi setidaknya belajarlah untuk memahami anak, karena tak semua anak akan memilih jalan sesuai apa yang diinginkan ayah.

Kesimpulan

Film Ngeri-Ngeri Sedap bukan film komedi biasa. Sepanjang film kita akan tersenyum bahkan tertawa. Namun di beberapa part tak jarang membuat kita terharu hingga larut dalam emosi para pemain film dan tak terasa air mata sudah mengucur deras.

Dalam film ini, para pemeran utama terutama Tika Panggabean, Arswendy dan Rita Matu Mona berperan dengan sangat apik. Pada saat adegan Bu Domu menderita demam, Tika memerankannya dengan sangat bagus. Saya tidak kaget jika ketiga pemain diatas akhirnya menyabet penghargaan di dunia perfilman

Selain disuguhi pemandangan indah danau Toba dan Bukit Holbung, kita juga dimanjakan oleh soundtrack dan musik latar yang sangat pas dengan alur cerita.

Tak hanya itu, ada beberapa nilai penting yang bisa kita petik dari film ini: budaya batak dan pelajaran parenting

Rating IMDB 8,5/10

Buat yang hobi nonton drama korea, atau sekedar membaca blog review drakor, saya sarankan untuk segeera ke bioskop dan menonton film Ngeri-Ngeri Sedap. Saya jamin, Anda akan puas. 

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

56 komentar

  1. Jadi penasaran saya dok, apalagi ada indra jegel komedi nya pasti lucu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Indra Jegel di film ini perannya serius. Tapi tetap mengundang senyum

      Hapus
  2. Terima kasih dokter atas informasinya, dari review panjengan, saya jadi ingin menonton filmnya, ternyata banyak yang dapat dipelajari dari filmnya khususnya parenting yang sangat penting bagi saya sebagai calon orangtua👍👍.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film yang sangat menghibur... Melebihi ekspektasiku...

      Hapus
  3. Terima kasih dokter atas review film beserta penjelasannya tentang parenting. Jadi pengen segera nonton filmnya dengan keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dong malam minggu nonton di NSC lamongan.... Murmer

      Hapus
  4. Saya lihat dari trailernya sepertinya menarik.. jadi masuk watch list saya dok👍🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk ramaikan bioskop indonesia... NSC lamongan di Lamongan plaza masih buka kok

      Hapus
  5. Terbayang kehangatannya ketika menonton Film Ngeri-Ngeri Sedap.
    Jenis film keluarga yang meng-hilite salah satu suku yang sudah familiar betul di masyarakat, menambah bumbu komedi sekaligus tak menghilangkan makna dari film yang dibintangi aktris dan aktor ternama INdonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di awal kita disuguhi film komedi, di pertengahan hingga akhir berubah jadi drama menguras emosi hingga tak terasa mata jadi basah.

      Hapus
    2. Wah, sungguh film Ngeri-Ngeri Sedap bisa banget dijadikan renungan dari sisi pengasuhan dan dari sisi sang anak. Jadi memahami cara berkomunikasi ketika anak-anak mulai tumbuh dewasa dengan sejuta impian mereka.

      Hapus
  6. Lagi booming banget nih dok film ngeri-ngeri sedap ini. Pemainnya asli orang batak mostly, jadi sangat natural aktingnya. Pesan dalam film ini juga sangat kuat, betapa keluarga sangat berarti bagi kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul pak... Saya seneng kalau ada film indonesia yang bagus dan pesan moralnya oke.

      Hapus
  7. Waktu liat trailer ny , Tutik kira akan ngakak, trnyt waktu liat film nya malah baper alias mewek..hehe
    Filmnya related sekali dengan kehidupan sehari hari terutama bagi orang tua yang anak2 nya merantau, dimana bukan uang yang di nanti oleh mereka, tapi kepulangan anak anak nya
    Setuju sekali dok, bahwa pola asuh jaman dulu tidak bisa di terap kan secara mentah2 ke anak sekarang,
    Harus di sesuaikan dg perubahan zaman, apa yg baik buat kita dl, belum tentu masih baik buat mereka sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya aku kira juga film komedi biasa. Ternyata bisa menguras air mata... Dan pesan moralnya bagus

      Hapus
  8. Ini lagi tayang sekarang? Waaah...pengeeeen. Meski tak berdarah Batak, tapi ibu sambung saya asli orang Batak. Jadi sedikit banyak, paham adat sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penontonnya sudah 1,5 juta bund... Hayuk ah segera ditonton bareng keluarga

      Hapus
  9. Kalau film yang digagas oleh Ernest Prakarsa pasti yahud deh. Dengan mengangkat budaya Lokal, aku jadi tertarik nonton film Ngeri-Ngeri sedap ini. Akhirnya si Domu direstui ga pak? Ah psti disuruh nonton ini jawabannya. Wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini relate banget kayak Mom Queen dulu waktu masih pacaran... Gak percaya? Tanya ke Ernest sana...

      Hapus
  10. Cocok buat merelakskan otot2 yg tegang dikejar DL ya pak. Pengen juga merasakan nuansa bisa haha hihi dan ketawa sepuasnya dibioskop. Tapi anak gimana ini, usia dibawah 5, th gk bisa masuk. Adakah solusi? pengen nonton tapi keadaan yg sulit meninggalkan anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tunggu DVD nya mbak... Asli bagus banget, no debat

      Hapus
  11. Film yang memadukan banyak hal ya, Dok. Aalagi ada nilai berhubungan dengan dunia parenting, sungguh sangat bagus muatan dalam film ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah nonton belum, pak Ustadz? Kalau belum, buruan....

      Hapus
  12. Waktu lihat poster film ini di bioskop, aku nggak begitu tertarik. Alhasil nonton yang lainnya. Eh pas kapan hari lihat jadwal film, kaget lihat film ini masih bercokol di layar bioskop. Lama jugaa, biasanya film Indonesia non horor jarang tayang lama di bioskop. Eh ternyata sebagus ini ya jalan ceritanya. Kalau masih tayang, mau nonton juga aah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Surabaya masih tayang lo mbak... Lebih tertarik nonton KKN di desa penari ya? Menurutku pesan moralnya bagus ngeri-ngeri sedap

      Hapus
  13. Film ini pemainnya bukan yang wow banget, tapi ternyata cerita dan actingnya bagus banget ya :') Aku banyak baca review dan lihat sinopsisnya jadi makin pingin nonton. Jadi banyak tau adat dan banyak belajar parenting juga. Mau nonton langsung tapi belum bisa bawa anak-anak huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Iya kak, tunggu DVD nya aja. Kudu ditonton sih ini... Bagus banget soalnya

      Hapus
  14. Ini film batak kedua yang bikin aku nangis selain toba dream.

    oiya saking sukanya aku nonton NNS ini dua kali. Di medan dan jakarta. Wktu di medan, itu penonton ketawanya sampe ngakak. Tapi pas nonton di jkt ketawanya biasa aja.

    udah beda budaya kalia ya, hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sih kayanya biasa aja, tapi pas adegan sedih, gak tahan... Langsung mewek

      Hapus
  15. gak nyangka rating Ngeri Ngeri Sedap lumayan tinggi,
    Rating IMDB 8,5/10 berarti bagus, nonton ah
    Apalagi ada Boris Bokir, komedian Batak yang lama tinggal di Bandung

    BalasHapus
  16. Iya kak katanya film ini bagus. Soalnya aku lihat juga temen facebook yang bukang dari kalangan blogger review film ini di facebooknya. Bkin aku ambil kesimpulan berarti film ini berisi. Jadi penasaran aku. Karena menurut aku jarang film indonesia ada yang mengedukasi *ini menurut aku ya ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak kok film indonesia yang mengedukasi... Film "Cinta Subuh" juga sangat recommended. Yuk cintai produk-produk indonesia

      Hapus
  17. Dennise Sihombing1 Juli 2022 pukul 22.05

    Hai dokter sebagai keturunan Batak budaya otoriter memang masih ada. Walaupun tidak terjadi di keluarga saya tetapi di oom yang tinggal di kampung. Persis seperti cerita si Pak Domu maunya orangtua harus dituruti anak tidak punya pilihan. Sampai sekarang budaya itu masih ada dok

    BalasHapus
  18. Betuuuul, pola asuh otoriter itu melukai. Tapi masih banyak aja sih yang menerapkan pola begini, Entahlah, mungkin ada pertimbangan sendiri. Mungkin kalau udah nonton film ini, bisa tercerahkan dan memperbaiki pola asuh di rumah.

    BalasHapus
  19. Ulaalaaaa pilem ini banyak review positif ya
    Kearifan lokalnya bagus bgt.
    Mupeeenggg nonton euy

    BalasHapus
  20. Saya juga baru nonton film ini Mas. Yang sangat berkesan bagi saya adalah pengambilan gambar dan spot-spot pengambilan adegannya. Rumah di pinggir laut, desa adat tempat terlaksananya upacara adat, bahkan rumah tempat tinggal Mamak Domu sebelum dijemput kembali pulang oleh Bapak Domu.

    Kebersamaan lelaki Batak pun terurai dengan baik saat mereka berkumpul di Lapo. Minum tuak putih, ngobrol (deep talk) dan dilengkapi dengan menyanyi bersama. Khas orang Batak bener itu.

    Meski ada beberapa "kebocoran logat" ala Medan jadi ala Jakarta, secara keseluruhan film ini sangat menarik untuk disimak. Tema tentang budaya, hubungan kekerabatan dan adat tuh selalu menggelitik untuk diangkat.

    BalasHapus
  21. Pelajaran hidup yang tidak akan ditemukan bangku sekolah justru ada pada film ini ya. Mereka semua totalitas dalam memerankan perannya. Saya yg orang Sunda jadi tahu bagaimana budaya Batak di sana

    BalasHapus
  22. Wah bagus nih film, mengangkat kearifan lokal dan budaya di Sumatera Utara. Film2 semacam ini yang saya suka karena banyak hikmah dan juga wawasan kebudayaan/adat setempat. Makasih rekomendasi filmnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget pak. Film ini sangat kental budaya bataknya. Nilai positif pun banyak yang bisa kita ambil hikmahnya

      Hapus
  23. Kalau pengen tahu bagaimana pengasuhan anak-anak, coba tanya bagaiaman pola pengasuhan orang tua/mertua saat mendidik anaknya.

    BalasHapus
  24. Setuju banget sama nilai yang ditanamkan pada film ini di bagian "Mengasuh dan mendidik anak itu bukanlah pekerjaan yang mudah dan ini adalah pekerjaan seumur hidup" . Baru bisa merasakan hal ini setelah punya anak, perjuangan orang tua itu memang gak mudah

    BalasHapus
  25. Jujur, aku pengen banget nonton ini tapi dari kemarin kehalang sama kegiatan di tempat kerja yang banyak. Padahal, review2 singkat tuh udah banyak yg lewat di TL

    BalasHapus
  26. Beberapa waktu lalu pernah nonton thriller filmya. Udah niat banget mau nonton tapi belum sempet trs hiks
    Setelah baca ini semakin penasaran pengen nonton. Terbayang kehangatan & keseruan keluarga ibatak ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komedinya gak dipaksakan, dialognya renyah tapi nyentuh banget. Jangan lupa bawa tissue, atau sekalian handuk sama ember ya

      Hapus
  27. Wah pak dokter,,reviewnya lengkap banget membuatku tertarik menonton.. Drama keluarga selalu menarik ya pak, apalagi relate dengan jaman now dan dibumbui komedi..
    Terakhir film yang ku tonton itu film nussa rara..wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini relate banget sama kaum bapak dan ibu. Parenting nya ngena banget! Bikin terhura-hura

      Hapus
  28. aaaa pengen nonton
    tapi kayaknya akan tayang di disney hotstar+ ya
    gapapa, sabar menunggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rugi lho kalau gak nonton. Seru banget... Apalagi kalau ditonton bareng keluarga...

      Hapus
  29. Mantep dokter tulisan NNS dan keragaman ceritanya. Nusantara banyak kearifan lokal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak hanya kearifan lokal, edukasi parenting nya juga ngena banget, relate sama bapack-bapack macam saia

      Hapus
  30. Wah, ratingnya 8,5 ya pasti memang keren banget donk film ngeri-ngeri sedap tersebut. Dari sebuah film gini belajar juga ya tentang kekeluargaan dan cara mendidik makanya ada sisi parentingnya yang bisa diambil dari film ini. Sedihnya belum nonton sampe sekarang nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari pada nonton film horor yang gak jelas, mending nonton film edukasi ini kak... Ada lucunya, ada terharu nya

      Hapus
  31. Sudah lama tidak ke Bioskop nonton film nih Kak. Kalau baca review nya, nih film rekomdedlah untuk weekend pekan depan. Apalagi nilai edukasi yang bisa dipetik ada pada parenting nya.

    BalasHapus
  32. Saya pikir film ngeri-ngeri sedap itu adalah list film yang ngeri tapi ada sedapnya juga, ehh ternyata judul filmnya memang itu ya? Seru kayaknya ya? Film keluarga gitu.

    BalasHapus
  33. Keluarga saya kebetulan multietnis. Jadi, ceritanya sepupu saya yg Batak banget, Kak Vera Situmorang ikut nonton pas premiernya dan ketangkap kamera dia. Ada di IGnya Ernest. Wkwkwwk. Sekeluarga bangga lah kita. Bagus sekali ini filmnya. Sukses kali Ernest.

    BalasHapus
  34. Danau Toba dengan segala keindahannya. Ya baru ngeh ternyata kalau orang Batak pekerjaan yang digadang² itu hakim ya?

    BalasHapus

Posting Komentar