blog dokter taura big ad

PERTUSIS: BATUK REJAN SERATUS HARI YANG MAKIN EKSIS

Pertusis merupakan penyakit pada saluran napas yang sangat menular disebabkan karena infeksi bakteri Bordotella pertussis. Penyakit yang mendapat julukan "Batuk Seratus Hari" ini kelihatannya sudah mulai terkikis. Namun sesungguhnya, data dan fakta membuktikan bahwa Pertusis masih eksis!

Premis di atas adalah salah satu yang ingin saya tekankan saat saya memberikan kuliah tentang Ilmu Kesehatan Anak dengan materi "Pertusis". 

Seperti biasa, kuliah klasikal saya buka dengan beberapa pertanyaan receh yang random. Salah satu peserta didik saya panggil melalui pemilihan secara random dari daftar absensi yang berada di tangan saya.

Pertusis: batuk rejan yang bisa dicegah dengan imunisasi

"Apa yang ada dalam pikiran kalian ketika mendengar kata 'Pertusis'?" tanya saya setelah menyebut nama salah satu mahasiswa yang tertulis rapi di lembar presensi.

"Pertusis itu nama salah satu imunisasi selain Difteri dan Tetanus (maksudnya DPT)," jawab mahasiswa itu dengan penuh percaya diri.

Jawaban di atas bukan jawaban yang salah, namun sejatinya bukan itu yang saya tanyakan.

Jawaban di atas sekaligus membuat saya berpikir bahwa masyarakat di luar sana masih sangat awam dengan penyakit Pertusis, sebuah penyakit menular yang jika diderita oleh bayi dan anak, bisa berbahaya dan mengancamm nyawa.

Di saat yang hampir bersamaan, salah satu rekan saya yang seorang penulis Balikpapan mengirimkan pesan singkat melalui whatsapp, menanyakan beberapa hal terkait kondisi anaknya yang mengalami batuk lebih dari dua minggu.

"Sebenarnya kondisi anak saya, baik-baik saja sih, Dok. Tapi kalau pas kambuh batuknya, parah banget, gak berhenti-berhenti sampai mukanya biru bahkan muntah. Pernah juga hingga keluar air liurnya," tulis rekan saya sang owner sebuah Travel Blogger Balikpapan.

Kondisi seperti di atas, dimana seorang anak menderita batuk lebih dari 2 minggu, masuk dalam kriteria Batuk Kronik Berulang.

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) definisi Batuk Kronis Berulang (BKB) adalah keadaan klinis oleh berbagai penyebab dengan gejala batuk yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih dan/atau batuk yang berulang sedikitnya 3 episode dalam 3 bulan berturut, dengan atau tanpa disertai gejala respiratorik atau non-respiratorik lainnya.

Salah satu penyebab BKB, dimana penderita "relatif tampak sehat" adalah Pertusis.

Pertusis Masih Eksis

Pertusis adalah penyakit saluran napas yang sangat menular yang disebabkan karena infeksi kuman Bordotella pertussis.

Pertusis disebut juga batuk rejan atau "Whooping Cough". Beberapa orang menyebut Pertusis sebagai "Batuk Seratus Hari" 

Penyakit Pertusis ditularkan melalui "droplet" atau percikan air liur saat batuk atau bersin.

Bordotella pertussis sendiri merupakan bakteri gram negatif 

Laporan WHO menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2018 telah terjadi 151.074 kasus Pertusis di seluruh dunia.

Penyakit Pertusis sebenarnya bisa diderita oleh semua kelompok umur. Namun jika diderita oleh bayi di bawah usia 1 tahun, akan memberikan gejala yang berat (sesak, wajah membiru) dan berakhir dengan tingginya angka kematian.

Pertusis adalah salah satu dari PD3I atau Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imnunisasi. Selain pertusis, ada 11 penyakit menular yang masuk dalam squad PD3I, yaitu:

  1. Tuberkulosis (TBC)
  2. Polio
  3. Hepatitis B
  4. Difteri
  5. Tetanus
  6. Canpak
  7. Rubela
  8. Influenza
  9. Cacar Air
  10. Hepatitis A
  11. Typhoid

Perjalanan Alami Penyakit Pertusis

Seorang anak yang sehat bisa tertular oleh bakteri Bordotella pertussis melalu droplet aerosol. Sumber penularan bisa dari teman, saudara, orang tua, pengasuh, guru ataupun orang dewasa di sekitarnya.

Perlu diketahui bahwa penyakit pertusis jika terjangkit pada orang dewasa, biasanya memberikan gejala yang ringan.

Setelah melawati masa inkubasi selama 7-14 hari (masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak tertular/terinfeksi hingga muncul gejala), akan timbul gejala yang khas yaitu batuk rejan (whooping cough) selama kurang lebih 100 hari.

Batuk rejan atau whooping cough adalah batuk berat yang panjang dan tidak terputus dan sesekali mengambil napas panjang diantara batuk. 

Video diunduh dari https://en.wikipedia.org/wiki/Whooping_cough

1. Fase Catarrhal

Fase Catarrhal merupakan fase awal dari penyakit pertusis yang berlangsung 1-2 minggu.

Pada fase ini, penderita menunjukkan gejala yang tidak spesifik, seperti: demam yang tidak terlalu tinggi, pilek, nafsu makan turun dan batuk.

Batuk mula-mula batuk ringan yang makin hari makin memberat

2. Fase Paroxysmal

Fase Paroxysmal terjadi pada awal minggu ketiga hingga minggu kedelapan (total 6 minggu).

Pada fase ini terjadi batuk yang makin lama makin memberat. Batuk bersifat paroxysmal yang artinya batuk berat yang datang secara tiba-tiba. Pada saat penderita tidak mengalami serangan batuk, tampak seperti anak sehat pada umumnya.

Pada fase ini terjadi batuk yang khas yaitu batuk sebanyak 5-10 kali, kemudian diselingi aktivitas "inspirasi" alias menghirup udara napas.

BAtuk rejan yang paroxymal merupakan gejala khas dari pertusis
Gambar diunduh dari https://en.wikipedia.org/wiki/Whooping_cough

Serangan batuk yang datang secara tiba-tiba bisa terjadi beberapa kali dalam satu jam, dan bisa menyebabkan beberapa kondisi di bawah ini:

  • Ssianosis (membiru)
  • Salivation (keluarnya air liur)
  • Keluarnya air mata
  • Post-tussive emesis (muntah di akhir serangan batuk)
  • Exhausting (kelelahan)
  • Penurunan berat badan
Pada bayi yang berusia < 6 bulan, gambaran klinis whooping cough jarang terlihat atau bahkan tidak muncul. Namun, seringkali terjadi sesak hebat hingga gagal napas. 

3. Fase Convalescent

Durasi fase Convalescent atau fase penyembuhan bervariasi, mulai seminggu hingga berbulan-bulan.

Pada fase ini terjadi peurunan gejala secara bertahap.

Perjalanan penyakit pertusis dibagi 3 fase: catarrhal, paroxysmal dan convalescent
Gambar diunduh dari https://www.cdc.gov/pertussis/about/signs-symptoms.html

Komplikasi Pertusis

Penyakit pertusis merupakan penyakit yang sangat berat jika terjadi pada bayi 0-6 bulan. Pada rentang usia ini, pertusis sering menyebabkan terjadinya komplikasi hingga kematian

Komplikasi yang ditimbulkan oleh Pertusis antara lain:

  1. Pneumonia (Data tahun 2000-2017 menunjukkan bahwa pneumonia terjadi pada 13,2% kasus pertusis)
  2. Komplikasi neurologis: kejang ataupun kesadaran menurun (encephalopathy)
  3. Otitis media (infeksi telinga bagian tengah)
  4. Dehidrasi
  5. Komplikasi yang berhubungan dengan fenomena meningkatnya tekanan: pneumothoraks (udara terjebak diantara 2 lapisan pleura-selaput yang menyelimuti paru-paru), mimisan, hernia dan wasir 

Penatalaksanaan Pertusis

Selain terapi suportif (memenuhi kebutuhan kecukupan nutrisi dan cairan, istirahat cukup dan minum vitamin), perlu diperhatikan penatalaksanaan berikut ini:

  1. Observasi ketat diperlukan pada bayi, terutama untuk mencegah atau mengatasi terjadinya gagal napas, sianosi atau kekurangan oksigen (hipoksia) dan dehidrasi
  2. Penderita sebaiknya diisolasi (khususnya bayi) selama 4 minggu. Isolasi dilakukan hingga 5-7 hari selesai pemberian antibiotik.
  3. Gejala batuk paroksismal setelah terapi antibiotik tidak berkurang, namun terjadi penurunan transmisi setelah pemberian terapi hari ke-5
  4. Antibiotik yang dianjurkan: azithromycin, clarithromycin, erythromycin dan juga cotrimoxazole
Antibiotik yang dianjurkan untuk pertusis adalah azithromycin, clarithromycin, erythromycin dan cotrimoxazole

Pencegahan Pertusis

Pencegahan yang sudah terbukti mengurangi angka kejadian pertusis adalah dengan imunisasi.

selain itu pencegahab juga dilakukan dengan pemberian antibiotik pada semua orang yang termasuk "kontak erat" dengan penderita

Kesimpulan

Pertusis merupakan penyakit yang sangat menular 

Pertusis merupakan penyakit yang sangat berat terutama jika terjadi pada bayi 0-6 bulan

Perjalanan penyakit pertusis dibagi 3 fase: Catarrhal, paroxysmal dan convalescent.

Gejala khas pertusis adalah terjadinya batuk rejan selama kurang lebih 100 hari

Pengobatan pertusis meliputi: suportif, isolasi dan antibiotik

Pertusis merupakan penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi

Referensi

  1. Snyder J, Fisher D, 2012. Pertussis in Children. Ped in rev 33:412-20
  2. Daniels HL, Sabella C, 2018. Bordotella pertusisi (Pertussis). Peds in rev 39:247-55
  3. Havers FP, Moro PL, Hariri S, Skoff T, 2021. Pertussis. diunduh dari: https//www.cdc.gov/vaccine/pubs/pinkbook/pert.html
  4. Setyanto DB, 2004. Batuk Kronik pada Anak: masalah dan tata laksana. Sari Pediatri 6:64-70.



DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

36 komentar

  1. Mungkin kalau pertanyaan yang sama diajukan ke saya, apa Pertusis, saya bakal jawab sama seperti jawabannya mahasiswa Dokter Taura, salah satu vaksin dari DPT.
    Ternyata separah ini bisa terjadi Pertusis, batuk rejan seratus hari.
    Dan syukurnya bisa dicegah dengan cara imunisasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Pertusis adalah salah satu penyakit menular berbahaya yang bisa dicegah dengan imunisasi

      Hapus
  2. sedih banget jika anak batita kita terkena batuk rejan 100 hari ya dok?
    Pastinya kan dia jadi malas makan, minimal terganggu makannya
    sementara waktu tersebut merupakan golden age
    jadi lebih baik preventif daripada kuratif ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Ambu. Semua penyakit (apalagi kronis hingga 100 hari) sedikit banyak pasti mengganggu tumbuh kembang anak

      Hapus
  3. Duh sedih banget lah kalau anak batuk itu dok. Yang dengar rasanya juga ikutan tersiksa.
    Tapi benar sih, Pertusis ini eksis tapi kurang didengungkan eksistensinya. Contoh dilingkungan saya, dibanding Pertusis ini banyak yg lebih khawatir kalau anak batuk berkepanjangan itu karena TB paru. Mungkin karena lebih sering digaungkan ya dok..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertusis dan tb paru sama-sama penyakit menular, sama-sama bahayanya... Keduanya termasuk penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi

      Hapus
  4. Duuh kalau lihat anak2 batuk bawaannya sedih dan pingin tukar aja ke emaknya.
    Badan kurus, ngga bisa tidur dan kegiatan apapun ngga nyaman.
    Apalagi 100 hari kasiaan ngga tega.
    Untung ada imunisasinya yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Batuk adalah salah satu alarm tubuh anak... Bahwa anak sedang tidak baik-baik saja.
      Segera bawa ke dokter jika batuk tak kunjung membaik atau bahkan makin parah

      Hapus
  5. Duhh kasiannya kalau anak kita terkena penyakit menular satu ini ya. Kita sebagai orang tua juga kudu waspada banget. Aku juga punya anak usia 20 bulan ni. Alhamdulillah belum pernah ngalami batuk sampe 2 hingga 3 mingguan gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga anak-anaknya selalu sehat ya kak... Jangan lupa imunisasi ya... "Aku anak sehat, tubuhku kuat, karena ibuku rajin dan cermat... "

      Hapus
  6. Jangankan anak-anak ya orang dewasa klo batuk aja suka sedih, soalnya batuk emang lebih lama daripada pilek biasanya. Ternyata ada istilah pertusis ya, sedih ya biasanya anak klo batuk suka disuruh tarik nafas n tahan, jadi ga luka dan cepat sembuh batuknya klo ditahan tapi klo bayi mana bisa ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Pertusis pada bayi 0-1 th sangat berbahaya! So complicated dan bisa meninggal lho

      Hapus
  7. Kasian bgt klo denger org yg sedang batuk2 dengan frekuensi lama, apalagi klo pas kena batuk 100 hari. Ternyata menurut kedokteran sakit ini ada ya dok. Memang butuh tahapan dlm proses sembuhnya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat sakit, apalagi sakitnya lama... Baru nyadar jika "mencegah" itu jauh lebih baik dari pada mengobati.
      Yuk lengkapi imunisasi si kecil sesuai jadwal

      Hapus
  8. Terakhir berada dalam perbincangan yang membahas soal batuk rejan secara mendalam itu pas masih punya anak bayi. Saat kontrol ke dok SpA di RS. Anak saya ga sakit batuk rejan saat itu, tapi dokter menjelaskan detail. Momen mau imunisasi kalau ga salah. Herannya, dulu saya ga yang sampe mencamkan bahwa pertusis itu merupakan penyakit yang sangat menular. Baru sekarang menjadi lebih tahu, kalau pertusis tuh sebahaya itu. Alhamdulillah dulu anak-anak gak ada yang kena.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam sehat selalu ya bu. Jangan lupa menepati jadwal imunisasi si kecil ya...

      Hapus
  9. Ada referensi batuk rejan dokter bagi pembaca untuk mengatasinya

    BalasHapus
  10. Wih serem juga ya gejalanya batuk sampai keluar air mata gitu.
    Apalagi kalau menyerang anak-anak.
    Jangankan batuk rejan 100 hari ya, batuk yang biasa aja saya parno kalau terjadi ke anak saya, untungnya sejak pandemi ini, kebiasaan pakai masker masih melekat di anak saya, terutama yang kecil, jadi Alhamdulillah lebih kuat ketimbang kakaknya yang udah sering nggak tahan maskeran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, masker adalah salah satu upaya untuk mencegah tertular dari penyakit yang ditularkan melalui droplet. Salam sehat ya bu

      Hapus
  11. Sebagai ortu kudu benar-benar memahami kondisi kesehatan anak nihm kalau anak batuk sebaiknya segera dibawa ke dokter ya. dok.

    BalasHapus
  12. Saya pernah mengalami batu rejan 100 hari ini di 2019 dok. Rasanya enggak enak banget. Itu kalau kena ke anak-anak sakit banget bacanya ... bisa sampai membiru wajahnya. Ah ya imunisasi memang penting banget untuk menjaga kesehatan anak-anak

    BalasHapus
  13. Dok, bedakah antara Pertusis dengan TBC?
    Rasanya salah satu saudara saya ada dok yang mengalami batuk rejan begini.. Gak selesai-selesai dan kalaupun sembuh, nanti ada lagi.

    Beliaunya juga sudah periksa ke dokter dan sudah diresepkan obat.
    Tapi ya..begitu lagi, Dok.

    Rasanya menyiksa sekali kalau sudah kambuh sakit Pertusis ini yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertusis bukan termasuk penyakit kambuhan. Hanya 100 hari saja umurnya. Batuk kronis berulang pada anak, apalagi kambuhan...sering disebabkan karena alergi. Diskusikan lagi dengan dokter anaknya ya

      Hapus
  14. Terimakasih banyak atas uraiannya dok, jadi inget dulu kecil, aku pernah dibilang sakit batuk 100 hari, batuk rejan, bikin sakit nyeri di bagian dada, tapi kata ibu aku udah dapet imunisasi lengkap, itu gimana ya? Udah gede gini jadi aware ke anakku..

    BalasHapus
  15. batuk itu adalah salah satu sakit yang paling menyiksa. Saya kalo batuk, biasanya perut jjuga ikutan sakit, apalagi bila intensitas batuknya sering dan lama. Gak kebayang kalo anak-anak menderita pertusis, pasti sakit dan tersiksa banget, hiks

    BalasHapus
  16. Sedih ya sekarang banyak orang sakit, harus rajin rajin minum vitamin, antibiotik supaya aman dan sehat semuanyaaa

    BalasHapus
  17. sekarang batuk suka bikin cemas ya. Padahal bisa jadi cuacanya juga pengaruh nggak sih? serem kalo ngomongin penyakit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Batuk sebenarnya salah satu mekanisme pertahanan diri manusia, untuk mengeluarkan "benda asing" (lendir dll) di sepanjang saluran napas atas

      Hapus
  18. Muhammad Haris Firdausi27 Agustus 2022 21.03

    MasyaAllah terimakasih dokter atas ilmu dan informasi yang diberikan. Ada dua pertanyaan saya dokter. Apakah ada kemungkinan relaps pada anak yg mengalami pertusis pada saat dewasa nanti? Pertanyaan kedua apa vaksin pertusis untuk orang dewasa sangat direkomendasikan atau boleh ditinggal karena vaksin pada saat anak anak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertusis pada dewasa tidak separah pada bayi. Dengan imunisasi pertusis, kambuhan tidak terjadi. Salam sehat ya

      Hapus
  19. Hani Mufidatul Khoiriah28 Agustus 2022 19.25

    Maturnuwun sanget dokter untuk paparan materinya, sangat bermanfaat sekali.. saya banyak belajar dari tulisan-tulisan di blog njenengan.
    Pertusis ini perlu dapat perhatian lebih juga.. karena jika sudah terinfeksi maka sakitnya akan sangat lama.. apalagi pada anak-anak gejala nya akan lebih berat. Lebih-lebih pada bayi usia 0-6 bulan. Izin bertanya dokter, untuk antibiotik yang diberikan pada orang yang 'kontak erat' apakah dosis nya sama dengan orang-orang yang bergejala dan terkonfirmasi pertusis ?

    BalasHapus
  20. Hani Mufidatul Khoiriah28 Agustus 2022 19.25

    Maturnuwun sanget dokter untuk paparan materinya, sangat bermanfaat sekali.. saya banyak belajar dari tulisan-tulisan di blog njenengan.
    Pertusis ini perlu dapat perhatian lebih juga.. karena jika sudah terinfeksi maka sakitnya akan sangat lama.. apalagi pada anak-anak gejala nya akan lebih berat. Lebih-lebih pada bayi usia 0-6 bulan. Izin bertanya dokter, untuk antibiotik yang diberikan pada orang yang 'kontak erat' apakah dosis nya sama dengan orang-orang yang bergejala dan terkonfirmasi pertusis ?
    Terimakasih banyak dokter...

    BalasHapus
  21. Terima kasih dokter sudah sharing ilmunya. Saya mau bertanya dokter. Pada fase penyembuhan durasinya berbeda-beda ada yang hitungan minggu dan bulan, apa faktor yang memengaruhi hal tersebut nggih dokter? Apakah telatnya penatalaksanaan termasuk hal yang memengaruhi fase penyembuhan?

    BalasHapus
  22. Saya pikir batuk 100 hari itu hanya guyonan masyarakat umum lho Dok, ternyata di dunia medis emang ada ya dok, btw kalau sering terpapar polusi udara karena sering naeik kendaraan umum apa jadi penyebab batuk 100 hari juga ya dok??

    BalasHapus
  23. Terima kasih atas sharing ilmunya dokter. Memang saat ini musimnya batuk nggih dokter. Mohon izin bertanya dokter, untuk pemberian antibiotik sendiri diberikan berapa lama nggih dokter? Jika setelah diberikan antibiotik selama waktu tersebut tapi masih belum juga membaik, apakah pemberian antibiotiknya tetap dilanjutkan atau bagaimana nggih dokter?

    BalasHapus
  24. Izzatun Nafis ZP29 Agustus 2022 22.55

    Alhamdulillah terimakasih atas sharing ilmunya, dokter. sepertinya keadaan bayi pada usia <6bulan dengan tidak adanya reflek batuk itu yang menyebabkan gejala whooping cough sering seperti tidak ada tetapi justru lebih membayakan karena dapat menyebabkan sesak dan sianosis nggih, dok..

    BalasHapus

Posting Komentar