blog dokter taura big ad

INI DIA SOLUSI MASALAH ANAK SULIT MAKAN

Masalah "anak sulit makan" merupakan keluhan yang hampir setiap hari didengar oleh dokter anak. Bahkan sehari bisa lebih dari tiga hingga empat keluhan dalam sehari. 

Keluhan yang berhubungan dengan "anak sulit makan" pun beragam, mulai dari "anak tidak mau makan", anak pilih-pilih makanan, hingga "Gerakan Tutup Mulut" alias GTM.

Seperti yang dikeluhkan oleh seorang ibu bernama Shynta, seorang bloger sekaligus seorang Cancerian garis keras, mengeluhkan anak semata wayangnya mengalami kesulitan makanan sejak dua minggu yang lalu, namun si anak baik-baik saja dan tetap aktif. Berat badannya pun tidak menurun.

Beberapa orang tua seringkali menganggap masalah "anak sulit makan" itu suatu hal yang "It's Okay Not To Be Okay!" alias tidak perlu dirisaukan, asalkan si anak tetap aktif dan berat-badannya tidak turun. Padahal sesungguhnya, masalah "anak sulit makan" itu bukanlah masalah sepele.

Sering kali problem "anak sulit makan" ini akar penyebab masalahnya bukan terletak pada si anak, namun jutru pada orang tuanya. 

Di era global, dimana sosial media menjadi hal yang tidak bisa dihindari, orang tua cenderung terjebak menjadi toxic parent yang selalu membanding-bandingkan antara anaknya sendiri dengan anak influencer.

Ada serentetan solusi yang harus orang tua lakukan untuk mengembalikan kondisi anak menjadi sehat dan doyan makan seperti anak pada umumnya.

Ada problem apa dibalik keluhan "anak sulit makan"? 

Solusi apa yang harus orang tua terapkan?

Yuk kita bedah pelan-pelan mulai dari awal...

Untuk tumbuh kembang anak yang optimal, kebutuhan nutrisi harus dipenuhi

Pentingnya Pemenuhan Gizi pada 1000 HPK

Pemenuhan gizi yang optimal merupakan hal yang penting bagi setiap anak. Masalah makan pada anak harus menjadi perhatian khusus bagi orang tua, karena pemenuhan gizi yang baik akan mempengaruhi tumbuh dan kembang anak sesuai tahapan usia mereka. 

Pada 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) sangat menentukan arah tumbuh kembang anak. 

Masa 1000 HPK terhitung sejak terbentuknya embrio hingga anak berusia 2 tahun. 

Pemberian ASI eksklusif dan MPASI sejak usia 6 bulan, dengan cara yang benar, menjadi salah satu kunci keberhasilan pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi. Selain masalah nutrisi, stimulasi tumbuh kembang anak pada 1000 HPK juga menjadi kunci penting agar tumbuh kembang berjalan optimal sesuai potensi genetik yang dimilikinya.

Gangguan makan pada masa tersebut, akan berpengaruh pada perkembangan intelektual, kemampuan fokus, fungsi memori, kemampuan mengambil keputusan, serta kecerdasan emosi anak di kemudian hari.

Proses Pemberian Makan pada Bayi

Pemberian makan merupakan bagian penting dari kehidupan bayi dan anak di bawah tiga tahun (batita). Aktivitas pemberian makanan bayi juga merupakan kegiatan bonding yang kuat karena interaksi orangtua dan anak terjadi pada saat pemberian makan. 

Pemberian makan pada bayi dan batita dianggap sebagai proses yang natural, namun demikian, 50-60% orangtua melaporkan terjadinya masalah "anak sulit makan". 

Setelah dievaluasi lebih lanjut, didapatkan bahwa anak yang memang memiliki masalah makan adalah 20-30% dan hanya 1-2% mengalami masalah makan yang serius dan berkepanjangan.

Ketidakmampuan orang tua untuk memberi makan secara benar dapat mengakibatkan masalah makan. Ketidakmampuan ini dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan mengenai empat aspek cara pemberian makan yang benar, yaitu :

  1. Tepat waktu
  2. Kuantitas dan kualitas makanan
  3. Penyiapan dan penyajian yang higienis
  4. Pemberian makan yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak dengan menerapkan feeding rules.
    Waktu dan durasi pemberian makan pada anak harus tepat dan terjadwal

Feeding Rules

Feeding Rules merupakan aturan dasar pemberian makan yang benar pada anak.

Feeding Rules (Aturan Pemberian Makan) menurut IDAI adalah sebagai berikut:

Jadwal

Pemberian makan pada bayi tidak bisa dilakukan sembarang waktu, namun sebaiknya terjadwal secara disiplin

  • Ada jadwal makanan utama dan makanan selingan (snack) yang teratur, yaitu tiga kali makanan utama dan dua kali makanan kecil di antaranya.
  • Susu dapat diberikan dua – tiga kali sehari.
  • Waktu makan tidak boleh lebih dari 30 menit.
  • Hanya boleh mengonsumsi air putih di antara waktu makan.
    Faktor lingkungan merupakan faktor penentu kesuksesan pemberian makan bagi bayi

Lingkungan

Salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap proses pemberian makan bayi adalah lingkungan.

  • Lingkungan yang menyenangkan (tidak boleh ada paksaan untuk makan)
  • Tidak ada distraksi (mainan, televisi, gadget, perangkat permainan elektronik dll) saat makan.
  • Jangan memberikan makanan sebagai hadiah.

Prosedur

Hal yang tak kalah penting adalah prosedur pemberian makan secara benar.

  • Dorong anak untuk makan sendiri
  • Bila anak menunjukkan tanda tidak mau makan (mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menangis), tawarkan kembali makanan secara netral, yaitu tanpa membujuk ataupun memaksa. Bila setelah 10-15 menit anak tetap tidak mak makan, akhiri proses makan.
    Jangan ada paksaan selama proses pemberian makan

Penyebab Masalah Makan pada Bayi

Penyebab anak sulit makan sangat bervariasi sehingga memunculkan berbagai klasifikasi masalah makan dengan kelebihan dan keterbatasan masing-masing. Berdasarkan IDAI, terdapat tiga temuan utama yang menjadi acuan penegakan diagnosis masalah makan pada anak, yaitu: 

  1. Keluhan orang tua, 
  2. Status gizi
  3. Penerapan feeding rules. 
Berdasarkan tiga temuan utama ini, masalah makan dapat diklasifikasikan menjadi:

  1. Inappropriate Feeding Practice, 
  2. Small Eaters,
  3. Parental Misperception.

Inappriate Feeding Practice

Inappropriate feeding practice adalah masalah makan yang disebabkan oleh perilaku makan yang salah ataupun pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia. 
Tawarkan kembali makanan secara netral setelah anak melakukan penolakan

Inappropriate feeding practice dapat terjadi primer karena kurangnya pengetahuan orang tua mengenai pemberian makan yang benar atau sekunder sebagai respons terhadap small eaters, parental misperception, dan food preference

Penatalaksanaan inappropriate feeding practice adalah edukasi feeding rules yang benar sebagai bagian dari penerapan asuhan nutrisi pediatrik.

Orang tua, baik ibu maupun ayah dapat diberikan edukasi mengenai pemberian makanan yang sesuai usia (age-appropiate food) serta kualitas dan kuantitas makanan. Pemberian makanan sesuai usia mencakup aspek tekstur dan rasio makanan padat dan cair. 

Rasio makanan padat dan cair juga harus diperhatikan, untuk anak usia 1 tahun, dianjurkan makanan padat sebanyak 70% dan makanan dalam bentuk cair (susu) sebanyak 30% dari total kebutuhan kalori dalam sehari.

Kualitas dan kuantitas makanan juga perlu dievaluasi. Kuantitas makanan yang cukup akan menghasilkan status gizi yang baik, namun tidak otomatis menyatakan kualitas makanan yang baik.

Kualitas makanan dinilai dari kelengkapan konsumsi empat kelompok utama makanan, yaitu:

  1. Karbohidrat
  2. Protein
  3. Sayur dan buah
  4. Susu

Small Eaters

Small eaters adalah terminologi yang dipakai untuk anak dengan keluhan makan sedikit, status gizi kurang, dan feeding rules benar. 

Anak yang termasuk ke golongan small eaters adalah anak yang aktif, memiliki tumbuh kembang yang normal, seringkali lebih tertarik pada lingkungan dibandingkan makanan, dan tidak memiliki masalah medis yang mendasari. 

Prosedur pemberian makanan bayi itu sangat penting

Umumnya orang tua yang memiliki anak dengan masalah ini akan menjadi cemas dan memberikan camilan kepada anaknya, yang justru menurunkan selera terhadap makanan utama dan pada akhirnya menyebabkan orang tua memaksa anak makan. Anak dengan small eaters risiko mengalami gagal tumbuh, jika tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu, pertumbuhan harus dipantau berkala dan berat badan harus naik sesuai grafik pertumbuhan.

Tujuan utama dalam tata laksana anak dengan small eaters adalah untuk meningkatkan nafsu makan dengan menciptakan rasa lapar, sehingga anak dapat menikmati makan. Hal tersebut dapat dicapai dengan penerapan feeding rules, terutama dengan adanya jadwal makan yang terstruktur dan teratur sehingga menciptakan rasa lapar dan kenyang. Perlu diingat agar orang tua tidak tergoda memberikan makanan maupun susu di luar jadwalnya, walaupun anak hanya makan sedikit.

Food preference

Terminologi food preference mencakup keluhan pilih-pilih makan atau penolakan terhadap makanan tertentu. Anak normal dapat mengalami neofobia dalam fase perkembangannya, yaitu penolakan terhadap makanan baru. 

Neofobia yang merupakan fase normal dalam perkembangan seorang anak dapat berlanjut menjadi penolakan berkepanjangan dan konsisten terhadap makanan tertentu sehingga menimbulkan masalah makan berupa food preference, yang memiliki spektrum mulai dari picky eater sampai selective eater.

Picky eater

Picky eater adalah anak yang menolak makanan tertentu atau pilih-pilih makan, namun masih mengonsumsi minimal satu macam dari setiap kelompok makanan, yaitu karbohidrat, protein, sayur/buah, dan susu. 

Picky eater umumnya didefinisikan sebagai anak yang mau mengonsumsi berbagai jenis makanan baik yang sudah maupun belum dikenalnya tetapi menolak mengonsumsinya dalam jumlah yang cukup.

Picky eater berhubungan dengan kuantitas makanan yang tidak adekuat. Selain itu, picky eater juga mencakup masalah rasa dan tekstur pada makanan. Sedangkan, saat anak menyatakan  penolakan terhadap jenis makanan yang belum dikenal, disebut sebagai food neophobia

Perbedaan antara picky eater dan food neophobia berdasarkan novelty makanan (apakah makanan tersebut baru bagi sang anak).

Selective eater

Selective eater adalah anak yang menolak semua jenis makanan dalam kelompok makanan tertentu, misalnya menolak semua makanan sumber protein. 

Selective eater umumnya terjadi pada anak dengan gangguan perkembangan tertentu, misalnya autistic spectrum disorder, posttraumatic feeding disorder, gangguan menelan, keterlambatan oromotor, dan kelainan gastrointestinal. 

Picky eater masih merupakan fase normal dalam perkembangan seorang anak, sedangkan selective eater merupakan food preference yang patologis karena menyebabkan hilangnya asupan salah satu dari keempat kelompok makanan sehingga anak berisiko mengalami defi siensi makronutrien atau mikronutrien tertentu.

Tata laksana picky eater maupun selective eater adalah mengatasi ketidaksukaan terhadap makanan dengan pengenalan sistematik terhadap makanan baru (systematic introduction of new food), menggunakan prinsip berikut :

  1. Sajikan makanan dalam porsi kecil
  2. Pilihan makanan orangtua akan memengaruhi menu yang disajikan bagi anak. Oleh karena itu, perlu diperhatikan agar orangtua menyajikan berbagai jenis makanan walaupun makanan tersebut bukan kesukaan orangtua.
  3. Paparkan anak terhadap makanan baru sebanyak 10-15 kali. Penelitian menunjukkan 10 atau lebih paparan dibutuhkan untuk mening katkan penerimaan terhadap makanan pada anak usia 2 tahun, sedangkan untuk anak usia 4-5 tahun dibutuhkan 8 sampai 15 kali paparan. Untuk pengenalan awal, makanan dapat disajikan di piring orangtua.
  4. Sajikan makanan di meja pada jarak yang terjangkau oleh anak, tanpa menawarkan ke anak. Batita umumnya lebih tertarik mencoba makanan baru bila mereka memegang kendali, namun bila mereka diminta atau disuruh memakan sesuatu, maka umumnya mereka secara spontan akan menolak.
  5. Orangtua memberikan contoh makan yang menyenangkan tanpa menawarkan makanan sampai ketakutan anak menghilang dan anak mengekspresikan ketertarikan pada makanan. Semakin banyak orang di sekitar anak yang makan makanan serupa, maka anak akan makin tertarik.
  6. Jika paparan terhadap makanan menyebabkan anak ingin muntah atau bahkan muntah, hentikan makanan tersebut dan cobalah makanan yang lebih mendekati makanan yang disukai anak.
  7. Campurlah sedikit makanan baru dengan makanan yang sudah disukai anak dan perlahan-lahan tingkatkan proporsi makanan baru (food chaining).
  8. Orangtua harus tetap bersikap dan berpikir netral dan tenang dalam menyikapi asupan makanan anak

Parental Misperception

Parental misperception didefinisikan sebagai anak yang menurut pendapat orangtua memiliki masalah makan, namun setelah dianamnesis lebih lanjut orangtua/pengasuh sudah menerapkan feeding rules dengan benar dan anak memiliki status gizi baik. 

Pada kasus ini, diberikan reassurance dan apresiasi pada orangtua bahwa status gizi anak sudah baik dan orangtua sudah menerapkan feeding rules dengan benar.

Kesimpulan

Masalah "anak sulit makan" merupakan masalah umum yang sering dikeluhkan orang tua. Penerapan feeding rules diharapkan dapat membantu orang tua dalam mengatasi anak sulit makan, sehingga anak bisa mencapai tumbuh kembang yang optimal. 

Namun, apabila anak tetap sulit makan, maka disarankan untuk berkonsultasi langsung kepada ahli gizi atau dokter spesialis anak.

Sebagai orang tua, dituntut untuk mau mengerti anak, sehingga 


Daftar Pustaka

https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/sulit-makan-pada-bayi-dan-anak
https://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id/wp-content/uploads/2017/03/Rekomendasi-Pendekatan-Diagnosis-dan-Tata-Laksana-Masalah-Makan-Pada-Batita.pdf
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/adaptasi-bayi-terhadap-rasa-dan-makanan
https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/penangan-kesulitan-makan-feeding-difficulty-pada-si-kecil
https://www.herminahospitals.com/id/articles/masalah-makan-pada-anak




DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

15 komentar

  1. Muhammad Haris Firdausi6 September 2022 13.52

    Terimakasih banyak dokter atas informasi dan ilmu yang diberikan saya izin bertanya mengenai dewasa ini dimana orang tua memberikan gadget supaya anak tenang di semua kegiatan salah satunya makan. Menurut dokter apakah ini termasuk salah satu gangguan makan kalau si anak tidak mau makan kalau belum menonton youtube di hp?

    BalasHapus
  2. Terima kasih nggih dokter atas sharing ilmunya. Saat ini memang masih banyak orang tua yang mengeluh anaknya sulit makan terutama GTM (Gerakan Tutup Mulut), tapi saat ini sudah ada berbagai cara nggih dokter agar anak mau makan, salah satunya yang lagi marak adalah pembuatan bekal-bekal yang lucu nggih dokter. Saya ingin bertanya dokter, apakah memang efektif nggih dokter bekal yang dibuat menarik, dibentuk yang sedemikian lucu untuk anak-anak?

    BalasHapus
  3. Hani Mufidatul Khoiriah6 September 2022 13.55

    Alhamdulillah.. setelah saya pahami, ternyata ada banyak sekali ya dok, faktor-faktor yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan seorang anak pada 1000 hari pertama kehidupan, Terimakasih dokter atas informasinya, sangat bermanfaat sekali dokter.

    BalasHapus
  4. Masyaallah, terima kasih banyak dokter sharing ilmunya. Pada anak yang sedang GTM memang memerlukan perhatian khusus dari orang tua dan tentunya kesabaran agar nutrisi anak tetap terpenuhi sehingga tumbuh kembangnya optimal. Sangat bermanfaat sekali dokter informasinya untuk para orang tua

    BalasHapus
  5. Izzatun Nafis ZP6 September 2022 14.00

    Alhamdulillah, terimakasih atas ilmunya dokter. sangat berguna bagi saya yang punya adik kecil juga, sepertinya saya harus kirimkan link kepad ibu saya😄

    BalasHapus
  6. Masalah anak susah makan ini kayanya dialami banyak orang tua ya. Hehehe ... Termasuk saya. Dulu saya suka bingung, tapi semakin ke sini, saya gak pernah dibawa perasaan.anak mau makan, siapkan, enggak ya gak saya paksa. Pada saat dia lapar, toh minta juga. Hehehe

    BalasHapus
  7. Betul 1000 hari pertama kehidupan asupan gizinya perlu diperhatikan keluarga agar anak sehat, tinggi dan cerdas

    BalasHapus
  8. dulu saya terjebak di sini, dok
    akibat ketakutan anak kurang gizi, saya menyajikan makanan full gizi yang sayapu gak mau memakannya! Seperti blenderan bubur, hati ayam, wortel dan bubur.
    Mereka saya beri makanan tsb sehari 3 kali
    hiks, kacaunya saya sebagai ibu

    BalasHapus
  9. Berarti anak yang sulit makan itu pengaruh besarnya dari orangtuanya juga ya. Maka orangtua perlu paham tata cara dan bagaimana mengantisipasinya

    BalasHapus
  10. Sore dok. Jadi ingat dengan ponakanku, Oya 10 bulan, makannya sudah mulai pilih-pilih. Kemarin aku kasih makan cukup lama karena dia tidak mau dikasih kalau gak didongengin. Akhirnya ada 1 jam makan sambil dongeng terkadang di lepeh. Thanks sharing yang bermanfaat dok

    BalasHapus
  11. Distraksi ini yang susah ya dihindari. Kalau jaman sekarang gangguannya gadget dan juga TV. Kalau jaman dulu, anak diajak keluar rumah, lihat kendaraan lewat sambil bawa piring berisi makanan. Pulang-pulang piring sudah kosong.

    BalasHapus
  12. Wah pas banget ketemu sama artikel ini. Karena baby saya saat ini lagi mulai GTM apalagi pas tumbuh gigi.
    Makasih ya artikel dan tips nya akan coba saya terapkan, semoga bisa berhasil...

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah hampir seluruh anak-anak saya tidak mengalami Gerakan Tutup Mulut (GTM), cuma memang PR banget buat kita sebagai orang tuanya untuk membuat makanan yang bisa menarik perhatian mereka untuk tertarik buat makan dan juga memberi contoh kepada mereka untuk feeding rulesnya

    BalasHapus
  14. Suka banget sama artikelnya, Dok.
    Memang kalau anak sudah GTM tuh rasanya dunia jungkir balik. Padahal mencoba mematuhi feeding rules ini bagus banget.
    Disiplin saat makan, disiplin orangtuanya juga memenuhi kebutuhan gizi anak.

    BalasHapus
  15. Duh, dua bocilku nih selalu begini, picky eaters. Maunya daging-daging terus. Sayur susah. Kalo buah masih mending, tapi harus yang manis. Tapi untung takut sama bapaknya. Jadi kalo makan sayur harus sama bapaknya. Jadi mereka makan. Kalo cuma ada aku, mereka gak mau banget. Huhu nurun dari bapaknya sih, agak susah makan sayur. Padahal kalo aku, doyan banget sayur. Sampe sering dibilang domba sama mama. :D

    BalasHapus

Posting Komentar