blog dokter taura big ad

INI DIA 15 TIPS TURUNKAN NYERI KARENA IMUNISASI

Membawa buah hati ke pelayanan kesehatan atau pun ke praktik dokter spesialis anak adalah sebuah pengalaman yang memorable. Selalu saja ada interaksi antara pasien dan dokter (atau perugas kesehatan lain) yang bisa dijadikan bahan pembicaraan. Juga reaksi si kecil saat dilakukan pemeriksaan oelh dokter. 

Nyeri pasca penyuntikan imunisasi tidak bisa dihindari tapi bisa diturunkan

Yang tak kalah heboh adalah pengalaman mendampingi si kecil saat imunisasi. Ada yang baru sampai di depan praktik dokter spesialis anak saja, sudah menangis meraung-raung membayangkan pengalaman beberapa waktu yang lalu saat imuunisasi.

Seperti pengalaman yang disampaikan oleh Ibu Rina, seorang travel blogger yang anaknya kebetulan biasa diimunisasi di tempat praktik saya: 

"Duh, Dok ... Anak saya belum disuntuk sudah nangis kejer. Mungkin teringat akan rasa sakit saat diimunisasi bulan lalu."

Beda lagi dengan pengalaman Bu Mira yang tak pernah absen mendampingi anaknya imunisasi.

"Saya mah gak berani lihat anak saya disuntik. Saya selalu merem saat anak saya disuntik. Gak tega atuh," ungkap ibu muda yang juga seorang book reviewer yang asli sunda dengan malu-malu.

Salah satu hal yang menyebabkan balita menangis saat mengunjungi praktik dokter anak adalah pengalaman yang tidak menyenangkan saat dilakukan imunisasi pada kunjungan sebelumnya. Nyeri pada saat dan pasca-imunisasi adalah salah satu yang membuat balita kesakitan dan tidak nyaman.

Apakah rasa nyeri akibat imunisasi bisa direduksi atau diturunkan ambangnya? Bisa kok... Yuk kita bahas bersama.

Pentingnya Imunisasi

Tujuan utama program imunisasi adalah memberikan kekebalan terhadap penyakit menular tertentu, sehingga saat balita terinfeksi oleh mikro-organisme, dia sudah punya antibodi yang bisa melawan dan balita terhindar dari penyakit menular.

Selain itu, program imunisasi juga akan meurunkan akan kejadian penyakit menular tertentu di suatu populasi.

Tujuan utama program imunisasi adalah memberikan kekebalan terhadap penyakit menular tertentu

Tujuan akhir dari imunisasi adalah membuat suatu penyakit menular tertentu enyah dari muka bumi alias tereliminasi

Inilah 5 alasan mengapa imunisasi itu penting buat bayi

Ada lima alasan utama mengapa bayi harus dimunisasi
  1. Imunisasi adalah hak setiap bayi/ anak
  2. Respon imun bayi masih belum matang, sehingga mudah tertular penyakit menular
  3. Anak yang terjangkit penyakit menular, berisiko meninggal dan berisiko menjadi sumber penularan bagi anak-anak disekitarnya
  4. Imunisasi akan mengubah bayi rentan menjadi kebal. Bilamana jumlah bayi yang kebal sangat banyak, maka penularan akan berhenti dan penyakit akan musnah
  5. Imunisasi mencegah anak tertular dan melindungi anak-anak disekitarnya.
Jadi, penting sekali mengajak imunisasi si kecil sesuai jadwal imunisasi yang berlaku di Indonesia.

Nyeri Pasca-imunisasi: KIPI Bukan Efek Samping

Nyeri pasca imunisasi sering disebut sebagai salah satu efek samping imunisasi DPT. 

Efek samping imunisasi ini sebenarnya bukan merupakan "efek samping" tapi lebih tepatnya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

Selain nyeri, efek samping imunisasi DPT yang sering dialami adalah demam. Demam pasca imunisasi DPT bisa diatasi dengan kompres hangat ataupun minum obat paracetamol. 

Selain itu, saat ini sudah tersedia "vaksin DPT yang tidak menimbulkan demam", atau efek demamnya sudah direduksi karena menggunakan komponen vaksin pertusis yang aseluler

Pada beberapa balita (terutama yang mempunyai riwayat kejang), demam pasca imunisasi bisa menyebabkan kejang demam

Jadwal imunisasi selalu di-update berdasarkan penelitian terbaru. Berikut jadwal terkini imunisasi anak Indonesia

15 Tips Turunkan Nyeri Akibat Imunisasi

Meskipun mempunyai banyak manfaat, vaksin tidak disukai karena banyak menyebabkan “trauma” pada anak dan mungkin juga pada orang tua.

Meminimalkan rasa sakit selama vaksinasi pada masa kanak-kanak dapat membantu untuk mencegah trauma, mulai dari trauma akan jarum suntik ketika anak tumbuh besar, perilaku menghindari perawatan kesehatan termasuk ketidakpatuhan terhadap jadwal imunisasi.

Nyeri pasca sunytikan imunisasi memang menjadi sesuatu yang tidak bisa kita hindarkan, tapi bisa kita turunkan dengan berbagai cara.

1. Breastfeeding

Berdasarkan penelitian yang ada, proses menyusui dapat meminimalkan nyeri yang ditimbulkan oleh vaksin. Hal ini disebabkan adanya interaksi antara ibu dan anak yang akan membuat anak merasa nyaman, seperti memegang anak, kontak kulit ke kulit dan mengisap puting ibu, dengan sendirinya dapat melemahkan respon nyeri.

Menyusui harus dimulai sebelum, selama dan setelah suntikan vaksin, sampai beberapa menit setelah suntikan selesai.

Awal menyusui yang baik setidaknya dibutuhkan waktu minimal satu menit sebelum vaksin.

Memberi susu formula tidak dapat mengantikan menyusui dengan ASI untuk mengurangi nyeri saat imunisasi.

2. Larutan Gula

Pemberian cairan manis hanya diberikan apabila menyusui (direct breastfeeding) tidak dapat dilakukan.
Cara kedua untuk mengurangi nyeri pada saat vaksin adalah dengan memberikan larutan manis (sukrosa). Mekanisme anti nyerinya adalah dengan pengeluaran opioid endogen.

Dari beberapa penelitian menunjukkan kesimpulan bahwa sukrosa efektif memberikan efek anti nyeri untuk anak kurang dari 12 bulan. 

Pemberian cairan manis hanya diberikan apabila menyusui (direct breastfeeding) tidak dapat dilakukan. Hal ini dikarenakan memberikan ASI memiliki 3 manfaat yaitu manfaat bagi bayi, hemat secara finansial, dan  dapat memberikan efek analgetik (anti nyeri).

Sukrosa dapat dibuat dengan mencampurkan gula 1/4 sendok teh dilarutkan dengan air sebanyak 2 sendok teh. Dapat diberikan melalui sendok, atau dot. Pembuatan larutan ini harus segera sebelum imunisasi dilakukan.

Efek antinyeri dari sukrosa timbul setelah 10 menit pemberian. Jangan lupa membersihkan mulut bayi setelah pemberian sukrosa agar tidak menyebabkan kerusakan pada gigi bayi.

Sebaiknya pemberian larutan gula ini diberikan pada bayi yang belum mempunyai gigi, karena efek yang dapat ditimbulkan oleh larutan gula adalah karies gigi.

3. Merek Vaksin

Beberapa vaksin yang dipasarkan oleh setiap produsen mungkin berbeda. Hal ini disebabkan formulasi farmasi untuk setiap merek adalah unik dan rasa sakit yang disebabkan pada saat injeksi juga mungkin berbeda, meskipun pada dasarnya isi vaksinnya juga sama. 

Hal ini diakibatkan adanya perbedaan faktor farmasi seperti pH , adjuvan, dan eksipien lainnya.

4. Posisi saat di imunisasi

Posisi bayi saat dilakukan suntikan imunisasi juga menentukan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, posisi bayi yang digendong lebih sedikit menyebabkan nyeri saat di vaksin daripada yang dibaringkan di tempat tidur.

Ini disebabkan adanya interaksi antara ibu dan anak dapat membuat anak merasa nyaman yang pada akhirnya dapat mengurangi persepsi nyeri saat divaksin.

5. Teknik Penyuntikan 

Penelitian yang ada menyebutkan injeksi tanpa aspirasi dan secara cepat, dapat menurunkan nyeri saat imunisasi meskipun belum ada bukti secara ilmiah.

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa vaksinasi secara intramuskular (sudut penyuntikan 90º) maupun subcutan (sudut penyuntikan 45º) memiliki tingkat nyeri yang sama.

6. Imunisasi Simultan

Imunisasi simultan adalah pemberian lebih daei satu imunisasi pada saat yang hampir bersamaan di dua lokasi penyuntukan yang berbeda.

Pada anak yang diberikan imunisasi dua kali dalam satu waktu, akan terasa lebih sakit pada saat di vaksin yang kedua daripada yang pertama.

7. Stimulasi Taktil

Stimulasi taktil dapat mengurangi rasa nyeri terutama pada anak-anak yang berusia diatas 4 tahun.

Stimulasi taktil diberikan dengan menggosok atau menekan sekitar kulit yang akan di vaksin. Menggosok area yang akan divaksin dan setelah divaksin dapat menurun nyeri saat imunisasi tetapi menggosok area yang telah divaksin dapat meningkatkan risiko vaksin reactogenicity.

8. Peran serta orang tua dalam imunisasi

Sugesti yang dilakukan oleh orang tua berpengaruh besar terhadap persepsi nyeri yang didapat anak saat imunisasi. 

Beberapa sugesti yang tidak direkomendasikan antara lain: mengatakan bahwa imunisasi tidak sakit dan meminta maaf seteah dilakukan imunisasi, hal ini malah menyebabkan tingkat kepercayaan terhadap orang tua berkurang karena divaksin tetap terasa nyeri, selain itu tingkat kecemasan anak meningkat dan tidak efektif.

Yang disarankan: mengalihkan perhatiaan anak dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan imunisasi, misalnya bicara tentang humor, atatu menenangkan anak secara verbal.

9. Anastesi lokal.

Pemberian anastesi lokal masih menjadi kontroversi, sebab belum ada penelitian pasti yang menunjukkan efektifitas anastesi lokal untuk mengurangi rasa nyeri. 

Hasil penelitian menunjukkan hasil 50:50 antara dapat mengurangi nyeri dibandingan tidak. Tetapi sebagai langkah antisipasi, penggunaan anastesi lokal sebelum dilakukan vaksin dapat diberikan minimal 1 jam sebelum vaksin dilakukan (tergantung merk krim/salep anestesinya).

10. Distraksi klinisi

Yang dimaksud dengan "distraksi klinisi" adalah cara mengalihkan perhatian yang dilakukan klinisi, baik dokter anak, dokter umum ataupun bidan.

Distraksi klinisi yang dimaksud disini adalah perhatian yang dilakukan klinisi untuk meminimalisasi nyeri saat imunisasi. Dapat dilakukan dengan menggunakan mainan, baik yang ada di tempat praktik maupun yang dibawa oleh pasien.

11. Distraksi Anak

Distraksi anak dapat dilakukan pada anak berumur lebih dari 3 tahun. Distraksi anak dilakukan oleh anaknya sendiri yang akan diimunisasi dengan cara stimulus baik melalui suara, menyanyi, melihat gambar, bermain maupun keduanya tanpa menggunakan alat bantu.

12. Teknik Pernapasan

Relaksasi dapat dilakukan dengan teknik bernapas yang dalam kemudian buang nafas secara perlahan. Teknik bernafas ini dapat dilakukan pada anak lebih dari 3 tahun.

13. Sugesti sederhana dengan kalimat “ini tidak akan sakit”

Penggunaan kalimat “ini tidak akan sakit” ternyata tidak efektif dalam mengurangi rasa nyeri setelah vaksin.

14. Teknik Mendinginkan Kulit

Mendinginkan kulit dengan es setelah penyuntikan vaksin, efektif pada anak lebih dari 6 tahun. Karena rasa nyeri setelah vaksin dapat dikaburkan dengan rasa dingin meskipun masih terjadi kontroversi pada penggunaan es ini. 

Pada anak kurang dari 3 tahun, rasa dingin sering diartikan sebagai rasa sakit atau malah membuat anak fokus di tempat diberikannya rasa dingin.

15. Pemberian Obat Minum Anti Nyeri

Penggunaan antinyeri seperti asetaminofen atau ibuprofen dapat mengurangi rasa nyeri akut saat vaksin.

Kesimpulan

Rasa nyeri akibat penyuntikan imunisasi tidak bisa kita hindari, namun bisa kita upayakan untuk berkurang.

Rasa nyeri akibat penyuntikan imunisasi bukan merupakan alasan untuk tidak melakukan imunisasi terhadap buah hati kita tercinta, karena manfaat imunisasi justru jauh lebih besar.

Upaya menurunkan rasa nyeri pasca penyuntikan imunisasi sebisa mungkin yang alamiah seperti menyusui, menggendong bayi dan distraksi serta sugesti sederhana.

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

27 komentar

  1. Delly Safira Hedaputri13 November 2022 pukul 21.20

    Dengan ini orang tua tak perlu khawatir lagi untuk membawa anaknya pergi imunisasi karena beberapa tips di atas bisa dicoba 👍🏻 Semoga tidak ada lagi yang menunda-nunda atau bahkan menghindari imunisasi dengan alasan takut anak sakit hehe

    BalasHapus
  2. ternyata banyak tips yang bisa dilakukan untuk mengurangi nyeri setelah imunisasi. namun dari banyaknya tips yang ada, tetaplah peran ibu yang sangat sangat direkomendasikan karena sederhana, hemat, mudah dan nyaman untuk si kecil dan ibu, seperti contohnya memangku / menggendong bayi saat imunisasi, menyusui bayi sebelum-selama-sesudah imunisasi, dan mengajak anak bernyanyi / berbicara untuk mengalihkan fokusnya pada imunisasi.

    BalasHapus
  3. Memang melakukan tindakan yang cenderung 'invasif' terutama kepada anak kecil adalah hal yang sangat membuat bingung. Di satu sisi memang imunisasi harus dilakukan, namun disisi lain sebagai seorang calon ibu terkadang ada rasa tidak tega ketika melihat anak kecil berteriak kesakitan dan meminta pertolongan. Beberapa teknik seperti pengalihan perhatian dan sugesti positif tanpa harus berbohong mungkin terlihat mudah namun tidak semudah itu untuk dilakukan hehehe.

    BalasHapus
  4. Beberapa tips yang bisa dicoba untuk orang tua terutama pada anak anak yang rewel saat diajak imuniasasi. Memang anak cenderung takut ketika disuntik saat dilakukan imunisasi, namun manfaatnya untuk si kecil jauh lebih besar jika sudah di lakukan imunisasi. Karena dengan imunisasi mencegah anak agar tidak tertular dan dapat melindungi anak-anak disekitarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berdasarkan pengalaman, ada bayi yang nangisnya hanya sebentar, ada yang samapi nangis kejer dan berhenti-berhenti. Orang tua harus bijak dalam menyikapinya.

      Hapus
  5. Tips yg mantuulll banget
    Utamanya buat para ibu mudaaaa
    Supaya bs berdaya mendampingi buah hati saat imunisasi yak

    BalasHapus
  6. Anakku dua2nya lengkap imunisasi, DPT sempet demam dan rewek mungkin karena nyeri. Tapi Alhamdulillah gak lama, karena nenen juga jadi agak anteng. Buat para calon ibu dan yg punya baby tipsnya patut dicoba supaya baby gak rewel saat diimunisasi

    BalasHapus
  7. Lebih tepatnya KIPI ya, tapi awam didengar efek samping.
    Pentingnya untuk mengetahui trik di atas biar saat mendampingi si kecil imunisasi orangtua sudah paham

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, betul kak Fenni. Jadi orang tua itu harus rajin menggali informasi seputar kesehatan anak... Biar layak disebut emak-emak gahul

      Hapus
  8. Wah, alhamdulillah saya jadi tercerahkan mengapa kadang nyeri paska imunisasi. Langsung dijelaskan oleh Pak Dokternya langsung, pasti sumbernya lebih kredibel dari pada "katanya" . Maturnuwun dokter ...

    BalasHapus
  9. baru tau bahwa imunisasi merupakan hak bayi/anak
    dengan kata lain, ortu jadi zalim kalo gak mau mengimunisasi anaknya ya?
    Andai anak gak dapat imunisasi polio dan terserang, duh!
    Ada nih kerabat yang terserang polio dan kakinya kecil sebelah, gara2 ayahnya melarang imunisasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Ambu... Seperti ASI, imunisasi juga hak bayi. Kita sebagai orang tua harus memenuhinya

      Hapus
  10. Kita aja yang dewasa kalau kipi meringis juga dok apalagi baby ya, semoga imun seluruh bayi di Indonesia kuat-kuat ya dok jauh-jauh deh penyakit berbahaya

    BalasHapus
  11. Dulu pernah sekali anakku ga nangis waktu divaksin gegara diajak main dulu sama dokternya pakai stetoskop
    Padahal pas suntik dia ngeliat loh tapi ga nangis

    Aku juga pernah liat alat anti sakit suntik, bentuknya semacam kayak sikat cuci rambut
    Mungkin untuk stimulasi taktil

    BalasHapus
  12. Iya sih dok, dulu anak pertama saya kalau udah nangis pas masuk ruang DSA saat jadwal imunisasi, DSAnya langsung bilang "Suntiknya sambil mengASIhi saja Bu".

    Untung adiknya yg rezekinya imun di posyandu, anteng aja. Karena kan kalau di posyandu di ruang terbuka yg rame-rame.

    BalasHapus
  13. Baru tahu posisi saat imunisasi juga menentukan sakit atau nggaknya. Aku liat kebanyakan anak digendong ibu. Cuma mungkin anaknya ada yang takut juga, jadi nggak rileks ya, dok. Yang penting setelah imunisasi tetap asi dan istirahat juga ya.

    BalasHapus
  14. Wah, ternyata banyak ya cara mengatasi nyeri pasca imunisasi
    Terima kasih ya dok, kebetulan Senin besok anak-anak mau imunisasi

    BalasHapus
  15. Kalau di daerahku, ada yang bener-bener gak mau imunisasi, dok.
    Karena melihat dari kehalalannya, katanya.
    Jadinya kalau ada petugas kesehatan yang datang ke rumah-rumah (saat Pekan Imunisasi), si tetangga ini sampai bela-belain gak di rumah seharian.

    Edukasi yang baik untuk mengurangi nyeri pasca imunisasi ya, dok..
    Agar sang Ibu tidak panik.

    BalasHapus
  16. Nah itu yang membuat saya tidak memberikan imunisasi lengkap kepada anak bungsu saya, dan sekarang nyesal banget karena sudah lewat waktunya kan ya? Soalnya dulu kakaknya kan pakai imunisasi yang mahal dan nggak demam, sedangkan adiknya pakai imunisasi dan bikin demam karena kondisi ekonomi pas adiknya itu sedang nggak stabil, jadinya saya hentikan imunisasinya karena nggak tega lihat dia nangis semalaman kesakitan, mana demam.

    BalasHapus
  17. Jadi ingat waktu imunisasi anak kemaren, dia aku peluk sambil bilang, "Gpp. Sakit dikik, kok, Nak. Rendra kan kuat. Biar sehat yaa"

    Nah kalau yang begitu boleh nggak ya dok ngomongnya ke anak?

    Oya, satu lagi. Sebenarnya kalo anak bengkak di bekas suntikannya, itu baiknya di kompress makai air dingin atau hangat ya biar bengkaknya berkurang?

    BalasHapus
  18. Imunisasi ini tentunya penting banget ya buat anak. Memang sih kadang justru nyeri dan buat anak pada nangis karena merasakan rasa nyeri tersebut. Tips yang diinfokan ini pastinya bermanfaat banget donk,dokter.

    BalasHapus
  19. Nah ini cocok banget buat kita para orang tua yang masih gak tega anaknya kesakitan disuntik. Padahal sakitnya suntik gak semahal bandinganya dengan manfaat yang diberikan waktu anak kita mendapat imunisasi yang lengkap. Apalagi imunisasi adalah hak dari bayi dan anak anak. Kalau yang baik yaa leboh baik mencega daripada mengobati, lebih baik diimunisasi daripada menyesal dikemudian hari nghih dokter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget. RAsa sakit akibat imunisasi terbayar dengan terhindarnya anak dari penyakit menular

      Hapus
  20. Imunisasi memang penting banget yaa. Sedih deh sekarang muncul berita ada anak yang terkena polio karena gak diimunisasi, hiks

    Kalo saya, saat anak mau disuntik, biasa anaknya saya peluk. Alhamdulillah walau saat disuntik tetap nangis, tapi nangisnya gak lama. Setelah pulang ke rumah, biasanya di bekas suntikan saya kompres pakai air hangat dan digosok-gosokkan bawang merah (ini biasanya mertua yang lakukan, katanya biar anaknya gak demam)

    BalasHapus
  21. Pelukan ibu saat anak disuntik, memang terbukti bisa mengurangi rasa nyeri sekaligus menenangkan bayi

    BalasHapus
  22. Makasih untuk backlinknya Mas Taufiq. Semoga berkah untuk kita semua.

    BalasHapus
  23. Baru tau aku kalau bisa pakai larutan gula dok. Untuk anak yg lebih besar bisa diwakilin sama eskrim nggak sih hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar