blog dokter taura big ad

UMUR BERAPA BAYI BOLEH DIAJAK NAIK PESAWAT?

Sejak Presiden Jokowi mengumumkan bahwa boleh membuka masker di area terbuka, ditambah fakta kasus Covid-19 sudah jauh berkurang (walaupun pandemi Covid-19 belum berakhir), banyak keluarga yang melakukan liburan ke luar  kota dengan dalih healing ataupun refreshing.

Apalagi saat ini adalah masa liburan sekolah. Rencana traveling pun sudah dicanangkan jauh-jauh hari. Tapi ada satu hal yang mengganjal. Kelahiran adik bayi dalam keluarga memang bisa mengubah pola hidup hingga keuangan keluarga. Tapi haruskah kehadiran bayi mengubah lifestyle dan traveling keluarga yang sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya?

Bolehkan seorang bayi diajak naik pesawat? kalau pun boleh, berbahayakah mengajak bayi naik pesawat? Apa saja yang harus dipersiapkan oleh orang tua saat mengajak bayi naik pesawat? 

Berapakah usia ideal bayi boleh naik pesawat?

Tulisan berikut akan mengulas tips traveling seputar mengajak bayi dan balita naik pesawat.

Umur Berapa Bayi Boleh Diajak Naik Pesawat?

Sebenarnya, hingga saat ini belum ada regulasi resmi yang mengatur usia ideal bayi naik pesawat. Selama bayi dalam kondisi sehat dan paling tidak berusia lebih dari dua hari, pihak maskapai biasanya memperbolehkan bayi naik pesawat dengan beberapa ketentuan yang harus dipenuhi.

Bayi yang lahir cukup bulan, tanpa kelainan sistem organ jantung dan pernapasan, umumnya mempunyai toleransi yang cukup baik terhadap perjalanan udara

Beberapa badan atau organisasi yang terkait dengan dunia penerbangan, memberikan rekomendasi tentang usia berapa bayi boleh diajak naik pesawat:

  • International Civil Aviation Organization
  • International Air Transport Association
  • British Thoracic Society,
  • Canadian Pediatric Society
Keempat organisasi merekomendasikan usia tujuh hari sebagai batas perizinan bayi naik pesawat.

Bila bayi harus menempuh perjalanan udara sebelum usia tersebut, orangtua diharuskan membawa surat keterangan dari tenaga medis yang menyatakan bayi diperbolehkan bepergian dengan pesawat udara.

Aerospace Medical Association merekomendasikan usia 2 minggu sebagai batas perizinan bayimenempuh perjalanan udara. Sedangkan CDC (Centers of Disease Control and Prevention) Amerika merekomendasikan usia 6 minggu sebagai batas perizinan bayi menempuh perjalanan udara. Hal ini didasarkan waktu yang diperlukan untuk perkembangan alveolus bayi yang diperkirakan dapat mengatasi tekanan udara yang rendah dalam kabin pesawat udara.

Bolehkah Bayi Prematur Diajak Naik Pesawat?

Bayi yang lahir kurang bulan (bayi prematur) dengan riwayat penyakit sistem pernapasan, berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan selama naik pesawat.

Bayi prematur dengan riwayat penyakit paru, dianjurkan untuk menunda perjalanan udara hingga berusia satu tahun. British Thoracic Society merekomendasikan usia koreksi 6 bulan sebagai batas perizinan bayi prematur dengan infeksi pernapasan untuk naik pesawat.

Perjalanan udara akan aman dan nyaman dengan persiapan yang matang

Rekomendasi Garuda Indonesia tentang Bepergian dengan Anak-Anak dan Bayi

Bayi berumur di bawah 2 tahun diperbolehkan melakukan perjalanan bersama Garuda Indonesia dengan ketentuan sebagai berikut:
  • Bayi harus didampingi oleh penumpang yang membayar tiket dewasa.
  • Bayi dan penumpang melakukan perjalanan dalam penerbangan, kelas, dan tujuan yang sama.
  • Satu bayi harus didampingi oleh satu penumpang dewasa yang bersedia dan mampu mengambil tanggung jawab penuh atas bayi yang didampingi.
Kondisi penerimaan bayi:
  • Bayi berumur di bawah 48 jam setelah lahir tidak diperbolehkan melakukan perjalanan udara
  • Bayi berumur di bawah 7 hari:
    • Diperbolehkan
    • Membutuhkan izin medis atau Formulir Informasi Medis alias Medical Information Form (MEDIF)
  • Bayi berumur antara 7 hari - 2 tahun:
    • Diperbolehkan
    • Tidak membutuhkan izin medis (MEDIF)
Bayi prematur diperbolehkan melakukan perjalanan dan dianggap sebagai MEDA (Medical Cases) dan akan ditangani sebagai penumpang yang memerlukan penanganan khusus.

Garuda Indonesia membuat regulasi seputar bayi naik pesawat
Sumber: www.garuda-indonesia.com

Pengaruh Ketinggian terhadap Kesehatan Bayi

Perubahan sifat atmosfer pada ketinggian tertentu (pesawat udara modern pada umumnya beroperasi pada ketinggian sekitar 25.000-40.000 kaki di atas permukaan laut) dapat mempengaruhi fisiologis tubuh yaitu akibat penurunan tekanan parsial oksigen, penurunan tekanan atmosfer, dan penurunan suhu atmosfer. Beberapa kondisi berikut bisa terjadi pada bayi akibat faktor ketinggian:

Hipoksia

Menipisnya udara pada ketinggian menyebabkan penurunan tekanan parsial oksigen dalam udara sehingga dapat mengakibatkan hipoksia. Penurunan tekanan parsial oksigen ini tidak akan mengganggu penumpang yang relatif sehat, tetapi dapat mengganggu penumpang penderita penyakit yang rentan dengan keadaan hipoksia seperti penyakit jantung (gagal jantung), anemia berat, gangguan sirkulasi darah otak, gangguan fungsi paru terutama pada bayi.

Gejala hipoksia meliputi peningkatan frekuensi pernapasan dan nadi, peningkatan curah jantung, gangguan kognitif dan penurunan konsentrasi, gangguan gerakan koordinatif, mengantuk, malas, sianosis, lemas, kejang, bahkan sampai pingsan.

Sindroma Disbarisme

Penurunan tekanan atmosfer akan mempengaruhi fisiologis tubuh. Semua kelainan yang terjadi akibat perubahan tekanan di sekitar tubuh disebut sindroma disbarisme. Perubahan tekanan udara di luar tubuh akan mengganggu keseimbangan tekanan antara rongga tubuh yang mengandung gas dengan udara di luar, terutama organ pencernaan dan organ pendengaran.

Pencegahan agar gas tidak banyak terkumpul dalam saluran pencernaan adalah dengan tidak minum air soda atau minuman lain yang mengandung gas CO2, serta tidak mengonsumsi bawang merah, bawang putih, kubis, kacang-kacangan, ketimun, dan semangka sebelum naik pesawat.

Aerotitis atau Barotitis

Penambahan ketinggian menyebabkan tekanan dalam telinga tengah menjadi lebih besar dari tekanan di luar tubuh, sehingga terjadi aliran udara dari telinga tengah ke luar tubuh melalui tuba eustachius. Bila penambahan ketinggian terjadi dengan cepat, maka tidak cukup waktu untuk mengadakan keseimbangan. Hal ini dapat menimbulkan rasa nyeri pada telinga tengah karena selaput gendang teregang, dan berisiko mengalami robekan. Kelainan ini disebut aerotitis atau barotitis.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menyusui bayi, memberikan minuman atau makanan sewaktu pesawat lepas landas dan mendarat, menelan ludah pada waktu pesawat udara naik agar tuba eustachius terbuka dan mengadakan gerakan Valsava pada waktu pesawat turun, serta melarang bayi yang mengalami infeksi saluran pernapasan bagian atas untuk naik pesawat.

Perubahan kkadar oksigen, kelembapan dan suhu di ketinggian tertentu akan mempengaruhi kesehatan bayi

Dehidrasi dan Gangguan Saluran Pernapasan

Penurunan suhu absolut diikuti dengan penurunan humiditas (kelembaban) absolut dapat mempengaruhi fisiologi tubuh. Humiditas dalam kabin pesawat adalah rendah, biasanya kurang dari 20% (humiditas dalam rumah biasanya melebihi 30%).

Penurunan humiditas dapat menyebabkan kulit kering, rasa tidak nyaman pada mata, mulut, hidung, dan kulit yang terpapar.

Pada individu sehat, humiditas yang rendah tidak menyebabkan dehidrasi. Namun kehilangan cairan tubuh pada bayi perlu diperhatikan karena bayi rentan mengalami dehidrasi selama perjalanan. Oleh karena itu, orangtua diminta menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat, serta memberikan minuman
atau menyusui bayi selama menempuh perjalanan udara.

Tips Aman Bagi Bayi Saat Naik Pesawat

Melakukan perjalanan udara bersama si kecil yang masih bayi atau balita, adalah pengalaman yang menarik, baik bagi orang tua maupun bagi si kecil. Namun, jika persiapannya kurang, bisa saja perjalanan udara berubah menjadi pengalaman yang memalukan, bahkan membahayakan bayi.

Berikut adalah beberapa tips tips aman naik pesawat sambil membawa buah hati anda yang masih bayi atau balita:

  1. Lakukan persiapan dengan matang. Jangan lupa untuk membawa barang-barang yang dibutuhkan dalam perawatan bayi, seperti: diapers atau popok, minuman bayi, makanan bayi, selimut, persiapan untuk menyusui (termasuk ASI perah jika dibutuhkan), mainan bayi, buku cerita bergambar dll.
  2. Pilih rute penerbangan yang tanpa transit atau direct flight. Jika transit tidak bisa dihindari, pilih proses transit yang tidak terlalu lama atau terlalu pendek agar perjalanan anda bersama si kecil tetap nyaman.
  3. Pahami peraturan maskapai penerbangan tentang bepergian sambil membawa anak.
  4. Pastikan bayi dan balita anda sedang tidak menderita infeksi telinga tengah
  5. Menutup lubang telinga dapat dilakukan untuk mengurangi kebisingan akibat suara pesawat saat lepas landas, namun tidak memengaruhi perubahan tekanan udara.
  6. Beberapa orangtua memutuskan untuk memberi obat “tidur” agar anak tenang selama naik pesawat. Praktik ini tidak disarankan tanpa rekomendasi dari dokter, karena berisiko menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan yang bisa mengganggu tumbuh kembang anak.

Kesimpulan

Bayi normal yang lahir cukup bulan umumnya menunjukkan toleransi yang lebih baik terhadap penerbangan dibandingkan bayi yang lahir kurang bulan (prematur).

Usia ideal bayi untuk naik pesawat adalah minimal 1 bulan atau lebih baik minimal 6 minggu sesuai anjuran CDC

Bayi kecil yang mengalami infeksi saluran pernapasan perlu mendapat pengobatan terlebih dahulu dan sebaiknya menunda penerbangan untuk mencegah barotitis atau komplikasi infeksi saluran pernapasan yang lebih berat.

Bayi diusahakan sedang diberikan susu/makanan atau menetek sewaktu pesawat lepas landas maupun mendarat

Dengan persiapan yang cermat, perjalanan udara bersama si kecil akan menjadi momen yang sangat berkesan sekaligus nyaman dan aman.


DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

26 komentar

  1. Assalamualaikum wr.wb wahh terima kasih banyak dokter atas informasi dan ilmunya, dijaman sekarang ini banyak keluarga-keluarga baru yang masih muda yang khawatir tidak bisa berpergian karena ada si kecil, apalagi dijaman ini istilah "healing" sudah menjadi bagian dikalangan ibu muda nantinya, dengan ini saya bisa mengedukasi saudara saya yang baru menjadi ibu muda kalo berpergian dengan bayi nantinya. Terima kasih banyak dokter sekali lagi

    BalasHapus
  2. Artikel yg bermanfaat nih karna memang banyak sekali ibu" muda stelah melahirkan langsung pergi kmna".. Kalau saya sendiri karna masih anak pertama, setelah 3 bulan baru berani ngajak jalan"..

    BalasHapus
  3. Lebih baik menunda dulu ya dok bepergian naik pesawat bawa bayi. Takut juga, dan lumayan ribet ya harus pake Surata keterangan dokter dan bla BLA BLA , so far, berguna banget ini siapa tahu ke depan dihadapkan pada pilihan ini

    BalasHapus
  4. Artikel ini sangat penting buat orang tua yang mau membawa bayi/balita naik pesawat. Oh ya, penting juga untuk mempersiapkan fisik terbaik orang tua karena kadang sebaik apapun orang tua mempersiapkan barang2 untuk bayi, tetep rewel dan memerlukan perhatian penuh orang tua atau bahkan perlu digendong. Dan tetap diperlukan kesiapan mental menghadapi anak rewel di tempat tertutup hehe. Semangat untuk orang tua yg mau membawa bayi/balita naik pesawat

    BalasHapus
  5. Owh rupanya boleh toh KURANG dari 1 bulan. Tahunya terakhir itu min 1 bulan Baru boleh naik pesawat. Aku ga pernah ajak anak KURANG dari setahun sih, terakhir perjalanan mudik itu anak usia 18 bulan. So far tips ngasih makan or susu selama take off dan landing itu beneran ampuh.

    BalasHapus
  6. Terima kasih banyak dok, artikel nya membantu para ayah bunda yang ingin bepergian membawa si kecil. Izin bertanya dok, kalau pada bayi BBLR, apakah ada peraturan khusus nggih? Atau sama saja bergantung usia kandungannya (aterm atau preterm)? Terima kasih dok

    BalasHapus
  7. Menark sekali dok. Beberapa teman yang baru jadi ibu dan merantau biasanya sih suka tanya ttg hal ini. Btw tipsmya praktikable nih

    BalasHapus
  8. Terima kasih banyak dokter atas informasinya. Saya baru mengetahui dokter, ternyata banyak sekali regulasi untuk membawa bayi saat naik pesawat. Dan tiap regulasi ini memiliki dasarnya masing2. Informasi ini akan sy sampaikan ke keluarga supaya engga bingung lagi saat berlibur

    BalasHapus
  9. Aku baru tahu kalau di atas 7 hari bayi sudah boleh naik pesawat ya dok. Aku pikir harus berusia beberapa bulan dulu.

    BalasHapus
  10. Nabilah Fauziyah8 Juli 2022 11.45

    Terima kasih banyak dokter atas informasinya. Ternyata untuk membawa bayi saat naik pesawat tidak bisa sembarangan ya dan sudah banyak regulasi yang mengatur mengenai hal ini

    BalasHapus
  11. Gini ini jadi pingin punya bayiikk lagiii 😆 supaya bs ngerasain sensasi ajak bayi naik pesawat

    Yg penting paham tipsnya ya Dok

    Makasiii bgt

    BalasHapus
  12. Baca ini jadi inget persiapannya Raditya Dika sama istrinya waktu ngajak anaknya naik pesawat. Sebulan sebelumnya udah mulai simulasi biar anaknya nggak kaget dan tantrum waktu naik pesawat.

    BalasHapus
  13. Ternyata regulasinya lumayan ketat dan rumit ya?
    Tapi saya sih paham, organ tubuh bayi kan belum tumbuh sempurna
    Saya ingat ucapan seorang dokter: Jangan menganggap balita sebagai orang dewasa dalam tubuh kecil

    BalasHapus
  14. Dennise Sihombing9 Juli 2022 23.29

    Selalu suka deh baca tulisan dokter Taura banyak pengetahuan yang aku dapatkan. Memang ya dok lebih aman bayi dibawa naik pesawat di umur sebulan atau lebih aman 40 hari ya. Lagipula kalau umur masih seminggu tingkat bahayanya lebih dek dok

    BalasHapus
  15. Terima kasih tips seputar bayi dan balita naik pesawatnya, Dokter Taura. Bermanfaat sekali ini.
    Saya punya pengalaman, sesudah lahiran sesar pertengahan April 2009, pada akhir Juni, suami, saya, si sulung (4 tahun, 6 bulan) dan si bungsu ( 2 bulan, 2 minggu) terbang ke New Orleans, Amerika untuk tugas belajar suami saya.
    Alhamdulillah total perjalanan dari rumah di Jakarta sampai tempat menginap di New Orleans (transit di Singapura, Moskow, Houston) selama sekitar 30 jam bisa lancar jaya kami jalani. Bayi saya minum ASI jadi memang memudahkan sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbak Dian. Testimoni yang sangat mencerahkan. ASI (direct breastfeeding) memang the best sih.. no debat

      Hapus
  16. Ternyata efeknya banyak ya Mas jika membawa bayi naik pesawat terbang tanpa persiapan yang dibutuhkan atau sesuai aturan. Kok saya merinding bacanya. Lagian menurut saya sih, selama bayi belum berusia cukup, setidaknya 40 hari, ada baiknya orang tua juga menunda perjalanan jauh.

    Dulu sekali, saat sulung saya berusia 1 tahun, dia pernah saya bawa dinas ke Bali. Waktu konsul ke dokter, alhamdulillah kondisinya baik. Dokter mengusulkan agar anak saya dikenyangkan sebelum take-off. Jadi selama perjalanan dia bisa tertidur. Atau jikapun tidak tertidur, baik juga mengajak dia ngemil, makan atau ngedot. Jadi bayi lebih tenang. Alhamdulillah it worked well.

    BalasHapus
  17. Kemarin aku juga baru terbang ke bali, lihat tempat sebelah bawa bayi naik pesawat, tapi anehnya bayi tersebut anteng ga rewel. bayi nya tidur, dipesawat memang aman kalo tidur.

    BalasHapus
  18. Berarti dilihat kondisi bayinya juga ya. Kayak cek kesehatan biar dapat ijin terbang. Karena untuk antisipasi agar tidak berdampak hal yang tidak diinginkan

    BalasHapus
  19. Berarti ada saatnya usia anak memenuhi persyaratan dan atau diijinkan sesuai petunjuk informasi dokter ketika naik pesawat

    BalasHapus
  20. INget banget perjalanan pertama bersama anak bayi, karena dokter anak kami mengijinkan usia 6 bulan, dok.
    Dan itu untuk jarak pendek sekali, hanya perjalanan Surabaya-Bandung.
    Alhamdulillah~
    Setelah itu dilatih agak jauh dan anaknya, tentunya sudah lebih besar dan besar lagi.
    Memang penting banget ya, Dok.. mengetahui kapan waktu sebaiknya bayi bisa ikutan terbang. Agar orangtua aware dan gak nekat membawa bayi terbang kalau usianya belum cukup ((kadang kan ada tuh dok, yang malsuin usia bayi agar lulus cek di bandara)).

    BalasHapus
  21. dimana-mana atau mau kemana pun kalau bawa anak memang harus hati-hati ya, apalagi kalau di pesawat gini, harus ekstra cari info. nah ini bermanfaat sekali infonya untuk ibu-ibu maupun calon ibu. terimakasih dok.

    BalasHapus
  22. Terima kasih ilmu dan tips / persiapan membawa bayi naik pesawatnya Dok, berguna banget ini langsung kucatatin, siapa tahu nanti ada keperluan mendesak ke suatu tempat yang harus naik pesawat dan bawa bayi

    BalasHapus
  23. Anak sulung saya pertama kali naik pesawat tuh usia 11 bulan. Sedangkan adiknya, waktu itu sudah lebih besar sih, kalau tidak salah, sudah usia 1 tahun lebih. Nah, justru saya alias mamanya ini yang lebih awal melakukan perjalanan udara. Jadi usia 1 minggu dulu, udah naik pesawat dari Denpasar ke Banjarmasin. Wow.. hahahha..

    BalasHapus
  24. Membawa bayi naik pesawat tuh emang mesti ada persiapan khusus ya, selain memahami regulasi tiap maskapai dalam membawa bayi naik pesawat.

    beberapa kali saya naik pesawat dan merasa terganggu dengan tangisan bayi sepanjang perjalanan. kasihan pada bayinya, dan juga kedua orang tuanya yang lelah berusaha membujuk dan membuat tangis bayi berhenti

    BalasHapus
  25. Efeknya bisa buruk untuk bayi prematur ya mas.. dulu saya naik pesawat pertamakali usia sebulan kata mama. Dari JKT ke Aceh Krn papa tugas di sana. Untungnya ga ada kejadian aneh2. Suami saya yg pengalaman terbang pertamanya cukup ribet. Dulu mertua diplomat, dan pas suami lahir, papa mertua ditugaskan ke Korea Utara . Suami yg umurnya baru 2 bulan, dibawa, tapi rute yg mereka tempuh jadi lebih panjang krn menginap beberapa hari di negara2 transit. Apalagi rute Korut saat itu (bahkan sampai skr sih) ga bisa sembarangan , hanya negara tertentu yg bisa terbang langsung kesana. Tapi syukurnya ga ada kenapa2 buat pak suami yg waktu itu masih bayi banget 😅

    BalasHapus

Posting Komentar