blog dokter taura big ad

BEGINI CARA MENGETAHUI PENYEBAB BATUK KRONIS BERULANG PADA ANAK

Batuk pada anak, sering kali menjadi keluhan utama atau keluhan yang menyebabkan orang tua membawa anaknya ke dokter atau rumah sakit. Batuk memang sering dikeluhkan oleh hampir semua manusia. Pernahkah di antara kita yang dalam hidupnya tidak pernah mengalami batuk?

Namun, jika yang menderita batuk itu adalah anak-anak kita dan batuknya berlangsung lama atau pun berulang, akan lain ceritanya bukan?

Pada anak, gejala batuk yang kronik atau berulang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, mengurangi nafsu makan, mengganggu proses belajar dan hafalan ayat Al Qur'an. Pada akhirnya dapat mengganggu proses tumbuh kembang anak. Orang tua juga akan terganggu terutama bila gejala batuk lebih sering dan lebih berat pada malam hari.

Penyebab batuk kronis berulang pada anak tidaak mudah untuk ditemukan, butuh strategi khusus.

Seperti yang diceritakan oleh salah satu Mom Blogger asal Semarang ini:

"Dok, anak saya batuk sejak 4 minggu ini. Sudah minum obat tapi gak berhenti batuknya. Makin lama  makin mengganggu karena anak jadi sulit tidur dan saya jadi terganggu istirahatnya."

Benar gak sih, batuk itu suatu gejala yang bersifat negatif? Lalu, kapan dikatakan sebagai batuk kronis dan berulang? Bagaimana cara mengurai penyebabnya?

Yuk kita belajar bersama tentang batuk pada anak ...

Batuk: Kawan atau Lawan?

Batuk merupakan salah satu keluhan klinis yang paling banyak membawa pasien mencari pertolongan medis.

Batuk sebenarnya merupakan suatu refleks yang bertujuan untuk membersihkan tenggorokan dari lendir atau iritasi akibat benda asing.

Menurut Wikipedia, Batuk adalah mekanisme pertahanan tubuh pada sistem pernapasan. Terjadinya batuk hanya merupakan gejala dari suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap gangguan pada saluran pernapasan oleh berbagai benda asing yang masuk ke dalamnya.

Dalam laman resminya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan penjelasan tentang pengertian batuk. Batuk adalah ledakan udara keluar dari dalam saluran napas yang berada di rongga dada yang menimbulkan bunyi yang khas. Ledakan udara ini menimbulkan efek mendorong keluar semua benda yang ada di sepanjang saluran napas. Proses pendorongan inilah merupakan fungsi utama batuk yaitu mendorong keluar lendir yang berlebihan di produksi pada saat saluran napas kita sedang mengalami radang akibat berbagai hal.

Sebuah studi yang mengukur batuk secara obyektif menemukan bahwa anak sehat dengan rerata umur 10 tahun biasanya mengalami 10x batuk (rentang hingga 34) dalam 24 jam, sebagian besar batuk terjadi pada siang hari.

Jadi, batuk berperan penting dalam mekanisme pertahanan saluran napas untuk menjaganya dari berbagai benda asing. 

Selain itu, batuk juga merupakan suatu gejala yang mengindikasikan adanya gangguan atau kelainan atau penyakit pada sistem pernapasan umumnya, dan sebagian di luar sistem pernapasan.

BKB adalah batuk yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih dan/atau batuk yang berulang sedikitnya 3 episode dalam 3 bulan berturut-turut.

Batuk Kronis dan Berulang

Kata "kronis" di sini merujuk pada lama (durasi) terjadinya batuk, dan tidak berhubungan dengan tingkat keparahan dari batuk.

Sebenarnya, pengertian batuk kronis dan batuk berulang (recurrent cough) itu berbeda, karena penyebab dari kedua kondiri tersebut juga berbeda.

Namun, dalam praktek sehari-hari seringkali sangat sulit membedakan kedua hal tersebut. 

IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) telah membuat suatu kesepakatan tentang definisi Batuk Kronis Berulang (BKB) alias Chronic Recurrent Cough

BKB adalah batuk yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih dan/atau batuk yang berulang sedikitnya 3 episode dalam 3 bulan berturut-turut.

BKB adalah keadaan klinis oleh berbagai penyebab dengan gejala batuk yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih dan/atau batuk yang berulang sedikitnya 3 episode dalam 3 bulan berturut-turut, dengan atau tanpa disertai gejala saluran pernapasan atau non-saluran pernapasan lainnya

Penyebab Batuk Kronis dan Berulang pada Anak

Untuk mengurai penyebab batuk kronis berulang pada anak, terlebih dahulu harus dilihat kondisi anak secara umum.

Penyebab batuk kronis berulang pada anak, dimana anak tampak sehat atau baik-baik saja, akan berbeda dengan penyebab batuk kronis berulang pada anak yang kkondisi secara umumnya tampak sakit berat dan lemah.

Kemungkinan penyebab batuk kronis berulang pada anak yang kondisinya tampak sehat:

  1. Bronkitis karena infeksi virus
  2. Batuk pasca infeksi 
  3. Pertussis and pertussis like cough 
  4. Asma 
  5. Postnasal drip
  6. Refluks gastro-esofagus 
  7. Psikogen
Kemungkinan penyebab batuk kronis berulang pada anak yang kondisinya tampak sakit:

  1. Aspirasi paru berulang 
  2. Adanya benda asing di sepanjang saluran pernapasan
  3. Bronkiektasis 
  4. Defisiensi imun 
  5. Diskinesia silia primer Lesi respiratorik 
  6. Trakeobronkomalasia 
  7. Tuberkulosis 
  8. Tumor paru

Penyebab Batuk Kronis Berdasarkan Umur

IDAI, tahun 2017 membgeluarkan rekomendasi penyebab batuk kronis pada anak berdasakan umur, sebagai berikut:

Penyebab Batuk Kronis Bayi

Kemunginan penyebab batuk kronis pada bayi adalah:

  • Kongenital  (Trakeomalasia , Vascular ring)
  • Infeksi (Pertusis, virus, Chlamydia)
  • Asma 
  • Pneumonia aspirasi 
  • Refluks gastro-esofagus 
  • Perokok pasif

Penyebab Batuk Kronis Anak Pra-sekolah

Kemungkinan penyebab batuk kronis pada anak usia pra-sekolah adalah sbb:

  • Aspirasi 
  • Pasca-infeksi virus 
  • Asma 
  • Tuberkulosis 
  • Pertusis 
  • Otitis media kronik supuratif 
  • Refluks gastro-esofagus 
  • Bronkiektasis 
  • Perokok pasif

Penyebab Batuk Kronis Anak Usia Sekolah

Pada anak-anak usia sekolah, penyebab batuk kronis bisa disebabkan karena:

  • Asma 
  • Perokok aktif 
  • Sinusitis 
  • Pasca-infeksi virus 
  • Infeksi 
  • Tuberkulosis 
  • Otitis media kronik supuratif 
  • Bronkiektasis 
  • Psikogenik 
  • Tumor

Untuk mengurai penyebab batuk kronis dan berulang pada anak, sebaiknya kita lakukan mulai dari anamnesis (wawancara tentang perjalanan penyakit), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang (laboratorium, radiologi dll)
keadaan umum pasien dan usia pasien, adalah hal yang sangan penting dalam menentukan penyebab batuk kronis pada anak

1. Anamnesis

Langkah awal penguraikan penyebab batuk kronis berulang pada anak adalah dengan menentukan karakteristik batuk. Untuk itu, sebaiknya ditanyakan beberapa hal terkait batuk yang sedang diderita anak:

  • Apakah batuk produktif atau kering?
  • Apakah batuk bersifat tunggal atau berturutan?
  • Kapan biasanya anak batuk? pagi/siang/malam?
  • Apakah batuk mengganggu tidur? 
  • Bagaimana bunyi batuk? 
  • Apakah ada gejala penyerta (demam, mengi, sesak)?
  • Apakah sebelumnya pernah terjadi dengan pola yang sama?
  • Apakah ada hal yang memperberat atau meringankan batuk?
  • Apakah ada pencetus  pencetus yang lazim pada asma (aktivitas, tertawa, menangis, pajanan udara dingin, perubahan cuaca, debu, asap rokok, asap dapur, asap obat nyamuk, atau rontokan bulu binatang) dan apakah memperburuk gejala?
  • Terapi apa yang pernah didapat, dan bagaimana hasilnya?
  • Apakah anak mengalami gangguan tumbuh kembang?
  • Apakah batuk mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup anak?

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang benar merupakan kunci menemukan diagnosis yang tepat. Untuk menguraikan penyebab batuk kronis pada anak, ada beberapa hal penting yang tidak boleh dilupakan saat melakukan pemeriksaan fisik, antara lain:

  • Status tumbuh kembang anak
  • Status nutrisi 
  • Adanya jari tabuh (clubbing fingers) 
  • Adanya tanda-tanda sinusitis 
  • Adanya tanda-tanda alergi: geographic tongue, allergic shiners, Dennie crease 
  • Toraks: asimetri, kelainan bentuk (pectus excavatum, pectus carinatum), hipersonor, redup, ronki, mengi

3. Pemeriksaan Penunjang

Foto rontgen dada atau foto thoraks perlu dibuat untuk menentukan penyebab batuk kronis pada anak. Jika sudah ada foto thoraks sebelumnya, foto l ama juga harus ikut dievaluasi

Uji fungsi paru dilakukan pada semua anak dengan BKB yang berusia di atas lima tahun).

Angka kejadian tuberkulosis di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia; oleh karena itu skrining tuberkulosis dengan uji tuberkulin perlu dilakukan untuk mengurai penyebab batuk kronis pada anak.

Bila dicurigai adanya refluks gastro-esofagus, perlu dilakukan pemeriksaan monitoring 24 jam pH esofagus, bila perlu dilakukan pemeriksaan endoskopi.

Foto sinus paranasalis terindikasi pada pasien dengan ISPA disertai sekret purulen, batuk yang bertambah pada posisi telentang, nyeri daerah frontal, dan nyeri tekan / ketok di atas sinus.

Pemeriksaan imunologis (IgG, IgE, IgM, IgA) perlu dilakukan pada kasus batuk yang berhubungan dengan otitis berulang, bronkiektasis, atau batuk produktif yang tidak responsif dengan antibiotik.

Pendekatan Diagnosis Melalui Gejala dan Tanda Spesifik

Untuk menentukan penyebab batuk kronis pada anak, selain dilihat dari kondisi umum pasien, umur pasien, dan juga pemeriksaan pasien, bisa juga dilakukan pendekatan berdasarkan keberadaan gejala dan tanda spesifik yang mengarah pada suatu diagnosis tertentu yang lebih definitif dan bisa membantu dokter menentukan pengobatan selanjutnya.

  1. Ditemukannya suara wheezing (suara mengi pada pemeriksaan menggunakan stetoskop), ditambah gejala batuk kronis yang episodik, kambuh terutama pada malam hati, bisa sembuh sendiri, adanya pencetus, juga adanya riwayat alergi pada keluarga, merujuk pada diagnosis ASMA
  2. Jika gejala batuk kronis berulang disertai demam lama, adanya riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis, berat badan yang makin turun dan uji tuberkulin positif, maka besar kemungkinan diagnosisnya Tuberkulosis
  3. Diagnosis BKB mengarah pada Rinosinusitis jika ditemukan gejala dan tanda: Morning sneeze, Post nasal drip, hidung tersumbat, nyeri tekan sinus (sinus pain) dan throat clearing.
  4. Terjadunya suatu Laringotrakeobronkomalasia patut dicurigai apabila terjadi: Failure to thrive (gagal tumbuh), stridor inspirasi, pectus excavatum, tracheal tug.
  5. Jika terjadi gejala Paroxysmal/whooping cough dan subconjunctival bleeding, maka hampir bisa dipastikan bahwa pasien sedang menderita Pertusis
  6. Jika BKB terjadi pada anak usia pra sekolah, dengan gambaran rontgen dada pneumoni, namun secara klinis tergolong ringan, maka diagnosis bisa mengarah pada suatu Pneumonia Atipik.
  7. Diagnosis GERD (Gastroesophageal reflux disease) sebagai penyebab BKB bisa ditentukan berdasarkan petunjuk klinis adanya Failure to thrive (gagal tumbuh), muntah berulang dan sandifer position.

13 Rekomendasi IDAI tentang Tata Laksana Batuk pada Anak

  1. Madu dapat diberikan pada anak dengan batuk yang berusia lebih dari 1 tahun
  2. Mukolitik dapat diberikan pada anak berusia lebih dari 2 tahun dengan batuk akut, dan dapat diberikan bersama dengan antibiotik bila terindikasi. 
  3. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk jenis obat herbal yang memiliki efek mukolitik dalam tata laksana batuk pada anak. 
  4. Guaifenesin, sebagai ekspektoran, tidak terbukti efektif dalam mengubah reologi mukus pada anak.
  5. Bronkodilator efektif diberikan sebagai obat pereda dalam tata laksana asma
  6. Kortikosteroid dapat digunakan secara terbatas pada anak dengan batuk, yaitu secara sistemik pada serangan asma, croup, dan secara topikal pada tata laksana jangka panjang asma sebagai pengendali, rinitis alergi dan rinosinusitis.
  7. Anthistamin tidak direkomendasikan untuk tata laksana batuk, kecuali pada kondisi rinitis alergi.
  8. Antibiotik tidak efektif diberikan pada anak dengan batuk akut, yang diduga kuat disebabkan oleh virus dan bersifat swasirna. 
  9. Antibiotik harus diberikan pada pasien anak dengan pneumonia, faringitis streptokokus, dan otitis media akut bakterial.
  10. Antitusif tidak direkomendasikan sebagai tata laksana batuk akut pada anak. 
  11. Kodein dilarang diberikan pada anak sebagai tata laksana batuk.
  12. Masih diperlukan bukti yang mendukung efektivitas dan keamanan obat-obatan alternatif dan komplementer dalam tata laksana batuk pada anak.
  13. Obat OTC (over the counter; obat yang dijual bebas) tidak direkomendasikan dalam tata laksana batuk pada anak karena tidak lebih efektif dibanding placebo dan terdapat bahaya polifarmaka.

Kesimpulan

  1. Batuk bisa jadi lawan dan lawan. Saat batuk menjalankan peran sebagai alat pertahanan saluran napas, saat itu batuk adalah kawan. Tetapi, saat batuk menjadi bagian gari gejala suatu penyakit, dia harus dilawan.
  2. Untuk mengurai penyebab batuk kronis berulang pada anak, yang pertama kali harus dilihat kondisi anak secara umum: tampak sehat atau sakit?
  3. Selain itu, faktor UMUR juga penting dalam menentukan penyebab batuk kronis pada anak
  4. Adanya gejala dan tanda klinis yang spesifik bisa menentukan atau mengarahkan pada suatu diagnosis.
  5. Anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tetap harus dilakukan untuk menentukan penyebab batuk kronis pada anak.

Referensi

  1. Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2017. Rekomendasi Diagnosis dan Tata Laksana Batuk pada Anak
  2. Setyanto D B, 2004. Batuk Kronik pada Anak: Masalah dan  Tata Laksana. Sari Pediatri 6:64-70
  3. Setyanto D B, 2015. Batuk: kawan atau lawan?. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/batuk-lawan-atau-kawan
  4. Munyard P, Bush A. How much coughing is normal? Arch Dis Child 1996; 74:531-4

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

20 komentar

  1. Dokter saya izin bertanya, saya masih bingung dengan kata periode pada pengertian batuk kronis berulang itu sendiri. Apakah per 1 periode itu bisa diklasifikasikan dari batuk selama 2 minggu lebih itu sendiri atau bagaimana nggih dokter ?

    BalasHapus
  2. batuk kronik dan / atau berulang memang sangat meresahkan bagi para orang tua. maka penting sekali untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya dan sebisa mungkin menghindari pencetusnya

    BalasHapus
  3. Delly Safira Hedaputri16 Januari 2023 pukul 07.58

    Orang tua perlu mengenali kapan batuk dianggap kawan dan kapan dianggap lawan seperti yang sudah dijelaskan secara lengkap dalam artikel ini. Batuk adalah keluhan klasik pada hampir semua anak-anak namun butuh perhatian lebih untuk penanganannya berdasarkan jenis, sifat, maupun penyebab batuknya.

    BalasHapus
  4. Fenny Retno Ningrum16 Januari 2023 pukul 08.18

    Memang batuk ini sudah bersahabat sekali dengan manusia sejak dini sampai dewasa. Apalagi bila batuk terjadi dalam waktu yang lama, dan berulang (BKB). Perlu anamnesis mendalam mengenai batuk itu sendiri, lebih-lebih apabila terjadi pada anak. Dalam pemeriksaan fisik ternyata juga bisa ditemukan clubbing finger nggih dok? Saya baru tahu,selama ini saya kemana saja. Untung saja saya berkesempatan membaca blog dokter Taura yang sangat informatif ini. Oh iya dok, saya juga mau bertanya, mengapa pemberian madu baru boleh diberikan pada anak usia >1 tahun nggih dok? Mohon pencerahannya dokter. Matur nuwun

    BalasHapus
  5. Sedih banget ketika lihat anak-anak batuk
    ternyata madu bisa digunakan ya dok?
    Selama ini saya memilih obat dari dokter dibanding obat tradisional
    Pertimbangannya, karena obat tradisional belum ada bukti ilmiahnya dan gak tau dosis tepatnya

    BalasHapus
  6. Kalau anak-anak batuk tuh emang nggak cuma dia yang tersiksa, tapi orang tuanya jadi ikut was was juga. Apalagi kalau batuknya berulang, jadi parno dan menduga-duga, jangan-jangan kena TBC. Tapi ternyata untuk muncul diagnosis itu, ada proses yang harus dijalani ya

    BalasHapus
  7. Dulu anak saya yang kedua lumayan sering batuk. Dokter pun mengatakan kalau anak saya ada asma. Memang ada riwayat asma juga dari keluarga suami. Alhamdulillah, sekarang udah lama gak kambuh. Setelah pencetusnya ketahuan dan berusaha dihindari.

    BalasHapus
  8. Anak saya waktu awal masuk sekolah juga sering batuk, tapi Alhamdulillah sekarang udah lebih jarang, mungkin juga imunnya menyesuaikan ya, sekarang udah lebih kuat, padahal ya kebiasaan pake masker mulai kendor, saking teman-teman dan gurunya nggak disiplin

    BalasHapus
  9. Mantab sekali Pak Dokter Taufiq atas ulasan dan postingannya. Ini konten yang sangat penting, khususnya untuk para parents agar tahu apa sih penyebab, latar belakang dan indikasi dari batuk kronis berulang. Keren!

    BalasHapus
  10. Masyallah penjelasannya lengkap dok. Berarti batuk itu sama kayak demam ya. Sama sama sebnernya tujuannya baik. Jadi kayak demam alarm bahwa tubuh sedang melawan virun atau bakter. Begitu juga batuk tujuannya untuk membersihkan lendiri atau benda asing di dalam tubuh ya

    BalasHapus
  11. Batuk memang menjadi suatu mekanisme pertahanan saluran nafas untuk menjaga adanya paparan dari benda asing, namun ayah bunda harus tau dan harus waspada mana batuk yang mengarah ke arah sebuah penyakit terutama jika anak mengalami batuk kronis berulang. Membedakan kapan batuk menjadi kawan maupun lawan tidaklah mudah, namun semua penjelasan oleh dokter taura di artikel ini cukup mudah dipahami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menentukan penyebab batuk kronis seperti mengurai benang kusut, harus sabar dan telaten.

      Hapus
  12. Terimakasih dokter atas penjelasannya yang lengkap, benar-benar mengedukasi. Sebagai orangtua kalau anak kena batuk beneran sedih apalagi ngaruh ke kualitas tidur dan makannya. :-( ditambah lagi anak juga nggak bisa bebas bermain seperti biasanya..

    BalasHapus
  13. Sama seperti flu ya berarti batik ini, gak bisa disepelekan. Harus cepat ditangani dan diperhatikan. Apalagi kalau anak-anak yang menderita batuk, karena mereka dalam masa tumbuh kembangnya

    BalasHapus
  14. Wah iya nih. Harus dicek dulu lebih detail ya, dok. Apalagi pemicu sakit batuk pada anak bisa berbagai hal. Bisa juga karena ortunya ada yang perokok, jadi anak kena asap atau sisa2 abu rokok yang nempel di baju. Atau ada turunan asma dari ortunya.

    BalasHapus
  15. Aku butuh banget artikel ini dok, soalnya anakku dua bulan lalu sempat berada di fase ini. Batuknya berulang dan parah sampai diinfus di rumah sakit tiga hari. Ternyata karena bakteri jahatnya berlebih, 2x lipat lebih banyak. Thank you artikel kerennya.

    BalasHapus
  16. Kalau anak sakit memang sedih, jadinya kita harus selalu menjaga kesehatan keluarga dengat rajin.

    BalasHapus
  17. Dari penyakit, kita semua diberi pemahaman bahwa ada yang sedang berjalan tidak baik di dalam tubuh, sehingga perlu jalani pengobatan.
    Sepupuku ada, dok.. yang sering batuk. Kaya dalam setahun tuh, batuknya lebih banyak daripada sehatnya. Katanya alergi.

    BalasHapus
  18. kalo anak batuk orang tua juga jadi gak tenang yaa. Tidur jadi gak nyenyak karena napasnya jadi pendek-pendek

    BalasHapus
  19. sangat bermanfaat, terimakasih atas infonya ya kak :D

    BalasHapus

Posting Komentar