blog dokter taura big ad

HARI GIZI NASIONAL 2024: MPASI KAYA PROTEIN HEWANI CEGAH STUNTING

Stunting masih menjadi masalah yang belum terselesaikan di seluruh dunia. Saat ini tercatat 149.2 juta balita menderita stunting. 

Bagaimana dengan di Indonesia? 

Sama. Di Indonesia stunting masih menjadi prioritas, masih menjadi masalah besar! Angka stunting di Indonesia masih tinggi: 21,8%

Tak heran jika stunting menjadi komoditi politik yang tidak akan pernah basi. Namun perlu diingat bahwa poin penting untuk mengatasi tingginya angka stunting adalah dengan "cegah stunting".

"Cegah stunting itu penting" bukan sekedar slogan yang manis di dengar, namun harus diimplementasikan secara masif, sistematis dan menyeluruh. 

Salah satu upaya pencegahan stunting yang sangat jitu dalam mengendalikan tingginya angka stunting yaitu dengan menggalakkan pemberian ASI eksklusif yang jelas-jelas low budget, perfect quality dan pemberian MPASI kaya protein hewani.

Mengingat pentingnya pencegahan stunting ini, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan bekerjasama dengan Persatuan Ahli Gizi (PERSAGI) Lamongan dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) menyelenggaarakan PODCAST yang berjudul "MPASI Kaya Protein Hewani Cegah Stunting", dimana saya menjadi salah satu pembicara.

podcast dalam rangka HGN (Hari Gizi NAsional) 2024 dengan tema MPASI berkualitas untuk generasi emas.

Selain itu, tim pengabdian masyarakat RS Muhammadiyah Lamongan juga menyelenggarakan podcast senada dengan tema: "MPASI Berkualitas untuk Generasi Emas"

Apakah Stunting itu?

Dilansir dari Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stunting yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bahwa stunting merupakan perawakan pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang/tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 Standar Deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO, disebabkan kekurangan gizi kronik yang berhubungan dengan status sosioekonomi rendah, asupan nutrisi dan kesehatan ibu yang buruk, riwayat sakit berulang dan praktik pemberian makan pada bayi dan anak yang tidak tepat. Stunting menyebabkan hambatan dalam mencapai potensi fisik dan kognitif anak. Kurva pertumbuhan yang digunakan untuk diagnosis stunting adalah kurva WHO child growth standard tahun 2006 yang merupakan baku emas pertumbuhan optimal seorang anak.

Sedangkan menurut WHO (2020), STUNTING adalah balita “stunted “(perawakan pendek) dengan panjang atau tinggi badan menurut usia dibawah -2 SD berdasarkan grafik pertumbuhan WHO yang disebabkan oleh Undernutrisi (kekurangan gizi) kronik (jangka lama) atau kekurangan gizi berulang yang disebabkan oleh : kemiskinan, kesehatan dan nutrisi ibu yang buruk , balita yang sering sakit (infeksi kronik atau akut berulang), pemberian ASI/MPASI yang tidak adekuat atau pola asuh dalam pemberian nutrisi yang tidak tepat, termasuk pemberian nutrisi anak sakit.

Dampak Stunting

Hal yang sangat ditakuti dari kejadian stunting adalah dampaknya sangat merugikan, tidak hanya bagi penderitanya, namun juga bagi pengembangan sumber daya manusia di suatu negara.

Stunting akan mempengaruhi perkembangan otak jangka panjang yang selanjutnya berdampak pada kemampuan kognitif dan prestasi sekolah. Selain itu, gangguan pertumbuhan linear akan memengaruhi daya tahan tubuh dan kapasitas kerja. 

Produktivitas kerja penderita stunting kelak di kemudian hari, lebih rendah dibandingkan tenaga kerja yang tidak stunting.

Berbicara tentang dunia kerja, saya merekomendasikan tips melamar kerja yang ditulis oleh rekan sesama bloger yang juga penyuka Shinbi House

Apakah MPASI itu?

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yang dimaksud dengan MPASI (Makanan Pendamping ASI) adalah Makanan padat atau makanan cair selain ASI yang diberikan pada periode penyapihan di saat ASI saja tidak dapat mencukupi kebutuhan nutrisi untuk tumbuh kembang optimal.

Pemberian MPASI harus memperhatikan 4 prinsip dasar, yaitu:

  1. Tepat waktu
  2. Adekuat baik secara kualitas maupun kuantitas
  3. Aman dan higienis
  4. Diberikan secara responsif

Strategi Pemberian MPASI

Pemberian MPASI dilakukan secara bertahap, baik jenis, jumlah, frekuensi maupun tekstur dan konsistensinya sampai seluruh kebutuhan nutrisi anak dipenuhi oleh makanan. Masa peralihan ini yang berlangsung antara 6 bulan sampai 23 bulan merupakan masa rawan pertumbuhan anak karena bila tidak diberi makanan yang tepat, baik kualitas maupun kuantitasnya, dapat terjadi malnutrisi.

PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Lamongan menyelenggarakan seminar tentang MPASI

1. Tepat Waktu

Pemberian MPASI dimulai saat pemberian ASI saja (ASI eksklusif) tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, yaitu umur 6 bulan.

Berikut adalah 4 ciri bayi yang sudah siap dimulai pemberian MPASI

  1. Kontrol kepala: Anak dapat duduk dengan leher tegak dan bisa mengangkay kepalanya sendiri tanpa memerlukan bantuan.
  2. Refleks menjulurkan lidah (extrusion reflex) dan refleks muntah (gag reflex) sudah berkurang
  3. Selera makan meningkat. Anak menjadi lebih lapar dan menunjukkan tanda lapar seperti gelisah dan tidak tenang walaupun ibu sudah memberikan ASI secara rutin (8-10 kali sehari)
  4. Anak meunjukkan ketertarikan terhadap makanan, misalnya mencoba meraih makanan yang ada di hadapannya.

2. Adekuat

Pemberian MPASI harus adekuat (memadai; memenuhi syarat) baik dari segi kualitas maupun kuantitas (frekuensi dan volume MPASI)

Secara kualitas, MPASI disebut adekuat jika mengandung zat gizi yang lengkap baik makronutien (karbohidrat, lemak dan protein) maupun mikronutrien (vitamin, mineral).
MPASI yang baik adalah MPASI yang komposisinya menyerupai ASI.

Lemak mutlak dibutuhkan oleh bayi dan batita sebagai sumber energi dan sumber asam lemak essensial. Dengan demikian, konsep MPASI empat bintang (karbohidrat, protein hewani, protein nabati dan sayuran) sudah tidak relevan karena tidak mengandung lemak.

Menu tunggal untuk awal MPASI juga tidak relevan karena tidak memenuhi kebutuhan nutrisi bayi (tidak adekuat secara kualitas).

Satu buah pisang (100 g) yang biasanya dijadikan menu tunggal di awal MPASI, hanya bisa memenuhi setengah dari kebutuhan energi dan protein, 6,3% dari total kebutuhan zinc dan hanya 5% dari total kebutuhan zat besi.

Jadi jelas, MPASI menu tunggal tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.

Pemberian MPASI sebaiknya secara bertahap dari segi tekstur dan volume. Pada awal pemberian MPASI, frekuensi pemberian bisa 2-3 kali sehari dan langsung diberikan menu lengkap yang mengandung protein hewani.

Bagaimana dengan serat (sayur, buah) untuk MPASI?

  • Serat dapat berikatan dan menghambat penyerapan beberapa mineral penting, seperti: kalsium, zat besi, magnesium, fosfor dan seng.
  • Serat dan faktor anti-nutrient di MPASI (misalnya tanin, saponin dan fitat) dapat menghambat bio-availabilitas nutrient dan enzim.
  • Jadi untuk bayi, serat hanya diperkenalkan.

Pemberian MPASI juga harus adekuat secara kuantitas.

  • Umur 6-8 bulan, berikan MPASI 2-3 kali sehari dengan total 200 kkal sehari (21% dari total kebutuhan nutrisi, sedangkan 79% didapatkan dari ASI). Berikan MPASI mulai dari 2-3 sendok makan, kemudian tingkatkan secara bertahap hingga 125 ml.
  • Umur 9-11 bulan, berikan MPASI 3-4 kali sehari dengan total 300 kkal sehari (55% dari total kebutuhan nutrisi, sedangkan 45% didapatkan dari ASI). Berikan MPASI dengan volume 125 ml per sajian.
  • Umur 12-23 bulan, berikan MPASI 3-4 kali sehari dengan total 550 kkal sehari (71% dari total kebutuhan nutrisi, sedangkan 29% didapatkan dari ASI). Berikan MPASI dengan volume 175-250 ml per sajian.

3. Aman dan Higienis

Proses penyajian MPASI untuk bayi harus aman (tidak mengandung zat berbahaya bagi kesehatan bayi) dan terjamin kebersihannya mulai dari proses memilih bahan baku hingga penyajian MPASI, termasuk peralatan makan (mangkuk, piring, sendok).

Pastikan kebersihan tangan dan peralatan makan yang digunakan untuk menyiapkan serta menyajikan MPASI.

Cuci tangan ibu dan bayi sebelum makan. Selalu cuci tangan ibu dengan sabun dan air mengalir setelah ke toilet dan membersihkan kotoran bayi, termasuk setelah mengganti popok bayi.

Simpan makanan yang akan diberikan kepada bayi di tempat yang bersih dan aman.

Pisahkan talenan yang digunakan untuk memotong bahan makanan mentah dan bahan makanan matang.

Cara Menyimpan MPASI dengan Aman

Proses persiapan dan pembuatan MPASI menggunakan cara, bahan dan alat yang aman dan higienis.

Berikut tips menyimpan MPASI dengan aman:

  • Bakteri penyebab kontaminasi dapat tumbuh di makanan-makanan seperti daging, ikan, telur, susu, kedelai, juga nasi, pasta dan sayur-sayuran. Oleh karena itu, makanan-makanan tersebut harus disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu < 5 derajat celsius
  • Simpan daging dan ikan dalam wadah plastik, dan letakkan terpisah dengan makanan yang telah dimasak dan bahan-bahan siap makan.
  • Seluruh bahan makanan harus disimpan sesuai dengan petunjuk penyimpanan yang tertulis pada kemasan, dan tidak boleh digunakan setelah melewati tanggal kadaluwarsa
  • Makan yang seharusnya disimpan di lemari pendingin tidak boleh digunakan kembali setelah berada di luar lemari pendingin selama 2 jam atau lebih.
  • Cairkan makanan beki (frozen foods) yang ada di lemari pendingin menggunakan microwave. MAkanan yang telah dicairkan harus segera dimasak. Makanan beku yang telah dimasak tidak baik untuk dibekukan kembali.

4. Responsive Feeding 


"MPASI berkualitas untuk Generasi Emas" adalah tema podcast HKN 2024 di RS Muhammadiyah LAmongan

Pemberian MPASI secara responsive feeding maksudnya proses makan yang memerlukan
interaksi bayi & ibu/pengasuh. Berikan MPASI secara konsisten sesuai dengan sinyal lapar dan kenyang dari anak.

Orangtua harus peka terhadap bahasa tubuh anak, terutama dalam hal tanda lapar dan kenyang. 

Perlu diketahui oleh para orangtua bahwa anaklah yang menentukan jumlah makanan yang dibutuhkannya. 

Lakukan kontak mata dan berbicaralah dengan anak. Berikan motivasi pada anak untuk mencoba makan sendiri. Damping anak selama proses makan berlangsung. Anak dapat diajak makan bersama keluarga sehingga dia belajar bagaimana seharusnya makan dengan mencontoh orang di sekitarnya.

Mengapa Harus Protein Hewani?

Syarat utama MPASI adalah mengandung zat nutri makro atau makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan zat gizi mikro (mikronutrien) seperti mineral dan vitamin. Jadi, pemberian MPASI empat bintang (karbohidrat, protein hewain, protein nabati dan sayuran) tidak memenuhi syarat sebagai MPASI yang tepat untuk bayi karena tidak mengandung lemak.

Peran protein sangat penting dalam mempertahankan proses fisiologi tubuh. Selain sebagai cadangan energi, protein berperan dalam membentuk antibodi (zat kekebalan tubuh), memeperbaiki jaringan tubuh, sintesis hemoglobin dan plasma darah, menyusun enzim, membentuk hormon, menjaga keasaman tubuh, menyeimbangkan cairan tubuh dan menjaga kelenturan tubuh.

Protein tersusun atas ratusan atau ribuan senyawa kecil yang disebut asam amino. Ada 20 jenis asam amino yang saling mengikat untuk membuat protein di dalam tubuh. Dari 20 jenis asam amino, 9 diantaranya disebut asam amino esensial, yaitu asam amino yang tidak bisa disintesis oleh tubuh manusia, sehingga mutlak harus didapatkan dari nutrisi.

Salah satu kelebihan protein hewani adalahkandungan asam amino esensialnya yang sangat lengkap.

Selain itu komposisi protein hewani mirip dengan ASI yaitu mengandung 50-60% lemak.

Dalam protein hewani juga mengandung semua vitamin (A, B, D, E) dan mineral (Natrium, Calsium, kalium dll) yang diperlukan untuk proses metabolisme tubuh bayi dan anak, kecuali vitamin C.

Zinc dan zat besi banyak terkandung dalam MPASI. Kedua mineral ini adalah zat gizi mikro yang diperlukan untuk proses pembentukan antibodi.

Dalam melaksanakan metabolisme, manusia mempunyai protein complex yang disebut mTORC-1  (mammalian target of rapamycin complex-1) yang merupakan sensor khusus yang bertujuan untuk mengontrol sintesa protein.

Jika bayi mendapatkan protein hewani yang mengandung tinggi asam amino essensial akan mengkatifkan sensor mTORC-1 yang akan meningkatkan sintesis protein, sintesis lemak dan menghambat proses pemecahan cadangan protein maupun cadangan lemak.

Kesimpulan

  1. Hari Gizi Nasional (HGN) Indonesia diperingati tiap tanggal 25 Januari. Kemenkes RI menetapka tema HGN 2024 adalah "MPASI Kaya Protein Hewani Cegah Stunting" dengan slogan "MPASI Berkualitas untuk Generasi Emas"
  2. Pemberian ASI eksklusif dan MPASI yang tepat dan benar, bisa mencegah terjadinya kekurangan gizi terutama stunting
  3. Pemberian MPASI harus memperhatikan 4 strategi yaitu: tepat waktu, adekuat, aman & higienis serta diberikan sevara responsive feeding
  4. Kualitas MPASI yang baik adalah yang mengandung MPASI hewani.
  5. Selain mengandung asam amino esensial yang lengkap, multivitamin, dan mineral, protein hewani juga bisa mengaktifkan sensor asam amino yang bernama m-TOC1 yang akan mengaktifkan proses sintsis protein dan lemak serta menghambat pemecahan cadangan lemak/ protein. Hal ini akan mendukung pertumbuhan fisik anak.

Referensi

  1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/1928/2022 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Stunting.
  2. Widjaja NA. 2023. Early Detection and Management of Weight Faltering to Prevent Stunting. Materi workshop dalam Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan ke-50.
  3. Hanindita MH. 2023. Praktik Pemberian Makan Bayi dan Ana Untuk Mencegah Faltering. Materi workshop dalam Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan ke-50.
  4. UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2018. Booklet: Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI)
  5. Nasar S S. Pentingnya Mengatur Jadwal Makan Anak. Dapat diakses di https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pentingnya-mengatur-jadwal-makan-anak

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

21 komentar

  1. Dinda Alifia Darmajik31 Januari 2024 pukul 21.20

    Wahh ternyata konsumsi protein hewani sangat penting untuk pencegahan stunting ya dok, sayapun baru tahu setelah membaca informasi dari dokter, sedangkan saya pernah membaca literatur yang menyebutkan bahwa konsumsi daging penduduk Indonesia masih di bawah 40 gram atau masih jauh dibandingkan negara-negara yang nilai stuntingnya rendah. Konsumsi ikan di Indonesia juga masih belum maksimal padahal Indonesia negara yang kaya hasil laut, semoga pemahaman mengenai pencegahan stunting khususnya pemenuhan gizi protein hewani tersampaikan kepada masyarakat, agar angka stunting di indonesia dapat berkurang dan teratasi dengan baik, terimakasih atas ilmunya dokter

    BalasHapus
  2. Sebelum mencalonkan sebagai ketua RT-RW alangkah baiknya memahami setiap ulasan dari blog dokter taura. seperti yang kita ketahui bahwa kondisi stunting ini merupakan ancaman untuk induvidu itu sendiri, keluarga bahkan Negarapun ikut terancam keamanannya dikarenakan kondisi stunting. bayangkan jika suaau negara diisi oleh orang orang yang stunting dan malnutrisi. apakah negara itu dapat bertahan? "Tentu tidak". tidak hanya sekedar pemberian susu gratis dan makanan gratis. namun ketepatan waktu, sajian berkualitas yang aman higienis dan adekuat. allahmdulillah dengan informasi yang dokter berikan dapat menangkis dan meluruskan mispersepsi yang bertebaran. keren semoga dokter sehat selalu amin...

    BalasHapus
  3. Selama ini kalau perihal makanan anak selalu berpikir agar memperbanyak kandungan sayuran supaya nantinya ketika dewasa mau makan sayur. Ternyata tidak tepat ya dok, buat MPASI malah bagusnya di perbanyak kandungan prohe nya, sayuran cukup diperkenalkan saja. Alhamdulillah membaca blog dokter wawasan saya jadi terupdate.

    BalasHapus
  4. Sebagai orang tua harus tau untuk gizi anaknya , alangkah baiknya menguasai tiap pembahasan dari web dokter taura. semacam yang kita tahu kalau keadaan stunting ini ialah ancaman buat induvidu itu sendiri, keluarga yang ada di sekitar kita yang kita cintai . turut terancam keamanannya disebabkan keadaan stunting. Alhamdulillah dengan web ini semua keluarga yg kita cinta ini terbebas dari bahaya stunting aamiinn..

    BalasHapus
  5. Wah baru tahu kalau stunting bisa dicegah dengan protein hewani. Makasih infonya dok. Kasus stunting ini memang selalu ada ya tiap tahun. Gemes kalau liat anak stunting di depan umum. Mau kasihan tapi ya gimana juga gitu. Memang harus diedukasi sih anaknya. Peran orang tua nih yang perlu ditingkatkan biar anaknya gak stunting lagi

    BalasHapus
  6. Ternyata buat MPASi itu nggak hanya sekadar perbanyak sayuran juga ya dok, protein hewaninya juga harus diperhatikan...
    Aku malah selama ini mikirnya, MPASi itu kayak membiasakan anak makan sayur, biar waktu besar dia suka sama sayuran. asumsi yg salah kaprah ya ampuuuunn..
    Makasiiih dok utk sharingnya, ini artikelnya sangat bermanfaat.. Membuka mata saya ttg bagaimana MPASi yg sebenarnya

    BalasHapus
  7. Mantap nih dok artikelnya... lengkap, detail dan penuh manfaat. terbuat juga akhirnya kenapa masih harus kaya protein hewan...

    BalasHapus
  8. Beruntungnya tinggal di Indonesia, protein hewani itu mudah banget didapat. Dan ya bisa dibilang masih cenderung murah, tinggal pintar-pintar orang tua aja memilih hewan apa yang cocok dengan budget.

    Zaman sudah sedemikian modern, Indonesia udah lama merdeka, tapi kalau dengar kasus stunting (yang ada di Jawa, pulau terpadat dan udah lebih maju dan eksis ketimbang pulau lain ini), aku sedih banget. Makanya semoga gerakkan pencegegahan stunting yang digalakkan pemerintah dapat berjalan sukses. Amiiin.

    BalasHapus
  9. Ternyata Pemberian ASI dan MPASI yang tepat juga bisa mencegah terjadinya kekurangan gizi terutama stunting ya dok. Selain itu, MPASI juga ternyata harus ada protein hewani juga wah jadi pengetahuan baru nih buat aku, makasih yaa dok artikelnya bermanfaat banget buat nnti ketika menjadi seorang ibu.

    BalasHapus
  10. 21.8%? Wow lumayan tinggi loh itu Mas menurut saya. Jadi gak ada alasan lain untuk tidak memperhatikan isu stunting mulai dari lingkungan keluarga sendiri hingga mereka yang ada di dekat kita. Jangan sampai dengan semakin tingginya stunting, masa depan generasi penerus limbung dan tidak berkualitas. Wajib banget memperhatikan nilai gizi asupan, khususnya protein hewani.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Standar WHO untuk angka stunting adala < 20%. Betul Mbak Annie, stunting memang menjadi PR besar kita semua. Yuk ikutan ambil peran yuk....

      Hapus
  11. Penyajian MPASI gak bisa sembarangan gitu aja ya Kak, kudu higienis dan kandungannya aman. Perlu ini disebarkan lebih lanjut sebagai langkah efektif juga meminimalisir kasus stunting

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget. Syaratt pemberian MPASI yang baikdan benar adala: Tepat waktu, adekuat, aman dan higienis serta responsive feeding. Susah-susah gampang kan ya?

      Hapus
  12. Pembarian asupan nutrisi sesuai dengan kebutuhan dan usianya ini penting sekali yaa, Dok..
    Biasanya gemes karena pada ngasih MPASI sebelum usianya dengan alasan anaknya laper teruuss.. anaknya rewel dan nangis teruuss..

    Padahal konsepnya ga gituu..

    Semoga dengan edukasi yang tepat, para orangtua tetap bisa memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang anak dan cegah stunting.

    BalasHapus
  13. Jadi inget anak2 sekolah yg pendek dan kurus. Ini bisa jadi faktor kurang nutrisi juga ya, dok. Kalo stunting ngaruh banget ke perkembangan anak harusnya ortu mulai perhatiin konsumsi makanan anaknya ya.

    BalasHapus
  14. Jadi inget capres/cawapres yang getol kampanye mengatasi stunting dengan minum susu dan makan siang gratis
    Beruntung saya jadi alumni Danone Blogger Academy yang rajin ngasih materi tentang stunting
    Kalo enggak, bakal percaya bahwa stunting bisa diatasi "hanya" dengan minum susu dan makan siang gratis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Program kampanye mencerminkan kualitas paslon. Salam perubahan....

      Hapus
  15. Hari Gizi Nasional bisa jadi pengingat buat para orang tua untuk memperhatikan nutrisi dan gizi pada setiap asupan makanan pada anak ya kak

    BalasHapus
  16. Responsif feeding zaman sekarang agak langka karena banyakan para ibu menyuapi anak sambil pegang HP atau malah anaknya dipegangi HP atau nonton TV.
    Ini perlu banyak disosialisasikan. Zaman dulu, anak makan adalah waktu yang diistimewakan dan proses transfer budaya dilakukan.

    BalasHapus
  17. Huhu, stunting ini masih aja jadi permasalahan dunia kesehatan kita ya. Sedih deh. Kasusnya masih aja banyak. Padahal sudah sejak lama orang-orang concern dengan ini. Semoga ya, moment Hari Gizi Nasional 2024 ini bisa membuat stunting segera tertangani, teratasi, dan hilang di kita. Semoga semua pihak bisa turun tangan dalam mengatasinya. Tak hanya dari pihak medis aja. Semua lapisan masyarakat. Aamiin.

    BalasHapus
  18. Edukasi tentang MPASI ini memang harus digencarkan agar bisa memberikan pengetahuan terutama bagi new mom. Untuk kandungan MPASI tidak hanya dipikirkan karbonya yang banyak biar anak kenyang, malah justru yang harus banyak adalah protein hewaninya ya dok. Selain memikirkan kandungan MPASInya jangan lupa higenitasnya juga

    BalasHapus

Posting Komentar