blog dokter taura big ad

TEXT CLAW: AKIBAT PENGGUNAAN GAWAI YANG BERLEBIHAN

23 komentar

Sedih gak sih, saat mendengar keluhan emak-emak yang anaknya mengalami gangguan kesehatan akibat penggunaan gawai yang berlebihan bahkan termasuk kategori adiksi gawai?

Hampir tiap hari, ada saja orang tua yang membawa anaknya ke tempat praktik saya dengan keluhan utama yang berhubungan dengan adiksi gawai alias kecanduan smartphone. Mulai dari kasus keterlambatan berbicara atau speech delay, prestasi belajar anak yang menurun gegara kecanduan game online, sikap yang "anti sosial" karena terlalu fokus pada gawainya, pandangan kabur disertai pusing dan leher kaku, hingga -yang terakhir pagi tadi- keluhan nyeri disertai kesemutan di jari jemari tangan kanan akibat adiksi gawai.

"Dokter, jari-jari kedua tangan saya terasa nyeri seperti kram. Kadang terasa kesemutan, bahkan terasa mati rasa di beberapa bagian," keluh Dhimas, anak SMP kelas 11 yang sepulang sekolah hingga tengah malam hanya ditemani oleh gadget kesangannya. 

"Sudah berapa lama keluhan itu Dimas derita?" tanya saya dengan pandangan penuh selidik.

"Hampir dua  minggu ini, Dok," timpal ibunya Dhimas yang sehari-hari bekerja sebagai karyawati sebuah bank BUMN yang paling cepat pulang ke rumah jam tujuh malam. Sedangkan Ayah Dhimas bekerja di luar kota dan hanya saat weekend pulang ke rumah.

"Dalam sehari, berapa lama Dhimas beraktivitas menggunakan gawainya?" tanya saya lagi.

"Mulai pulang sekolah jam dua siang hingga jam sepuluh malam, Kira-kira 8 jam sehari, itu pun kalau tidurnya gak kemalaman, Dok."

Setelah melakukan pemeriksaan fisik berfokus pada kedua tangan Dhimas, saya berkesimpulan bahwa dia menderita Cubital Tunnel Syndrome atau dalam bahasa non-medisnya sering disebut sebagai Text Claw

Apa itu text claw? Apa saja gejalanya? Bagaimana penanganannya?

Sabar ya, nanti juga kita ulas satu per satu
Text Claw: Gara-gara overdosis gawai

Adiksi Gawai pada Anak: Kenapa Bisa Terjadi?

Fenomena seperti di atas, sejujurnya tidak hanya terjadi pada Dhimas. Di luar sana, banyak Dhimas-Dhimas yang lain yang merasa kesepian sepulang sekolah dan menyalurkan energi, emosi serta hasratnya melalui gadget.

Apa yang tidak bisa didapatkan dari gadget?

Dari mulai media sosial, belanja online, dompet digital, aplikasi belajar mengajar, game, hingga update berita terkini, semuanya tersedia dengan mudahnya di benda gepeng yang bisa dibawa kemana-mana.

Belum lagi, para orang tua yang sudah kelelahan setelah bekerja seharian di kantor, mengisi waktu di rumah dengan "me time" ditemani gawai kesayangannya. 

Kondisi ini membuat anak menilai bahwa menghabiskan waktu dengan memainkan gawai adalah sesuatu yang biasa, adalah gaya hidup kekinian yang lumrah dilakukan oleh semua orang, semua umur.

Mari kita bersama melakukan instropeksi terhadap diri kita sendiri, berapa lama kita menghabiskan waktu di depan layar smartphone? Berapa lama waktu yang kita habiskan untuk menonton drama korea di gawai? Main sosial media, scrolling, browsing ataupun typing melalui gawai kesayangan?

Pernahkah kita menyadari bahwa beraktivitas dengan gawai di depan anak, sama dengan memberikan contoh kepada mereka? Masih ingat kan, bahwa anak adalah peniru ulung? Apa yang kita contohkan adalah apa yang kita semai...

Gawai: Teman atau Lawan?

Ada berbagai hal yang bisa kita dapatkan dalam sebuah benda yang bernama GAWAI. Mulai dari media sosial, game, kamera, kalkulator, perekam suara, televisi, movie hingga aplikasi berbasis GPS. Wajar jika benda ini bisa membuat anak kecanduan gadget.

Para orang tua dengan ikhlas memfasilitasi keberadaan gadget di tangan si kecil, dan dengan bangganya memamerkan kepiawaian mereka dalam memainkan gadget di depan umum.

Orang tua mungkin berpikir bahwa sudah selayaknya anak mereka berkenalan dengan kemajuan teknologi masa kini agar tidak ketinggalan jaman, tidak ketinggalan dengan teman-teman sebayanya. Alasan lain dari orang tua memperkenalkan gadget sejak dini adalah agar anak bisa duduk manis di rumah, sehingga sang mama-papa bisa bebas beraktifitas baik di dalam maupun di luar rumah.

Menurut para ahli tumbuh kembang anak, gadget hanya memberikan stimulasi visual, pendengaran dan logika, TANPA melibatkan beberapa eleman penting dalam proses STIMULASI, yaitu interaksi dengan orang lain, kemampuan bicara atau kemampuan bahasa, motoric dan emosi

Selain “mal-stimulasi” diatas, gadget bisa menyebabkan beberapa dampak negatif, antara lain: 

  • Gangguan tidur, 
  • Obesitas,
  • Radiasi, 
  • Adiksi, 
  • Mendorong perilaku agresif, 
  • Penurunan kemampuan psikomotorik, 
  • Gangguan belajar dll.

Seputar Text Claw

Text Claw adalah non-medis untuk mendeskripsikan suatu kondisi dimana terjadi kram dan nyeri pada jari tangan akibat penggunaan smartphone yang berlebihan, termasuk gaming, scrolling dan texting.
Istilah yang mirip dengan Text Claw dalam dunia medis adalah Cubital Tunnel Syndrome atau sering juga disebut sebagai Cell Phone Elbow.

Pada kondisi yang berat, Text Claw bisa memberikan gejala kesemutan hingga mati rasa, terutama pada jari kelingking dan jari manis. Rasa kesemutan dan mati rasa ini terjadi saat sendi siku dalam kondisi menekuk dalam waktu yang cukup lama.

Pada saat kita beraktivitas dengan mengansalkan telepon seluler, perhatikan posisi sendi siku. Sering kali dalam posisi menekuk atau membentuk sudut, bukan? Posisi kita pada saat asyik memainkan gawai cenderung menyebabkan tekanan pada pergelangan tangan, jari, dan bahkan lengan bawah. 

Rasa nyeri, kram, kesemutan dan mati rasaa alias baal ini sering kali baru kita sadari saat sudah sangat mengganggu kenyamanan. Setelah itu baru sadar bahwa kita sudah over dosis dengan gawai!

Tips Atasi Text Claw

Jika kondisi yang tidak mengenakkan ini menyerang Anda, jangan risau, jangan galau. Ikuti beberapa tips berikut, InsyaAllah keluhanAnda akan berangsur membaik:

1. Istirahatkan

Untuk beberapa waktu, jauhkan diri Anda dari smartphone untuk mengistirahatkan otot jari ataupun pergelangan tangan. Karena berdasarkan penelitian sebelumnya, nyeri pada Text Claw berhubungan dengan gerakan berulang dari tangan atau jari, sehingga dengan mengistirahatkan sementara waktu dapat mengurangi nyeri yang jika kita cuekin bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

2. Gunakan kompres dingin atau hangat pada bagian yang nyeri

Menggunakan kompres hangat adalah sesuatu yang bisa dilakukan siapa saja di rumah, baik dengan handuk atau bantalan . Dalam kasus tendinitis kronis, di mana rasa sakit dialami lebih dari seminggu untuk jangka waktu yang lama, kompres hangat dapat membantu merelaksasikan otot.

Akan tetapi, jika rasa sakit atau nyeri dirasa akut dimana rasa nyeri baru dirasakan selama kurang dari atau sama dengan satu minggu, lebih baik menggunakan kompres dingin di lokasi yang dirasa nyeri.

3. Lakukan peregangan pada jari atau pergelangan tangan

Meregangkan pergelangan tangan menggunakan beberapa latihan sederhana setiap hari dapat mengurangi beberapa rasa sakit. Latihan ini dapat dilakukan masing masing selama 15-30 detik dengan 2-4 kali pengulangan.

Latihan sederhana yang bertujuan untuk relaksasi otot-otot jari tangan meliputi:

  1. Wrist Strech
  2. Finger Raises
  3. Palm Press
  4. Arm Roll

Latihan sederhana yang bertujuan untuk relaksasi otot-otot jari tangan

Text Claw and the Gengs

Selain fenomena Text Claw, ada 3 efek negatif  akibat adiksi gawai terutama yang terkait kesehatan fisik, pada anak dan remaja, yaitu: 

1. Phubbing

Phubbing adalah tindakan acuh seseorang dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gawai ketimbang berinteraksi atau melakukan percakapan langsung dengan orang lain. Phubbing merupakan gabungan dari 2 kata berbahasa Inggris, yaitu “Phone” dan “Snubbing”. Snubbing sendiri menurut Kamus Besar Inggris Indonesia bermakna “mencerca”

2. Nomophobia

Adalah kondisi dimana anak merasa takut jika tidak ada gawai di tangannya atau merasa cemas karena tidak memiliki koneksi seluler.

3. Computer Vision Syndrome

Adalah sekumpulan gejala pada mata dan leher yang timbul akibat penggunaan komputer dalam waktu lama. Semakin lama menggunakan komputer maka akan semakin meningkat rasa ketidaknyamanan pada mata.

Text Claw merupakan salah satu akibat adiksi gawai

Kesimpulan 

Adiksi gawai tidak hanya menyebabkan gangguan kesehatan fisik, tapi juga mental health lho. Salah satu gangguan fisik yang sangat mengganggu dan menyebabkan ketidaknyamanan sepanjang hari, adalah text claw.

Text Claw adalah kumpulan gejala nyeri, kram, kesemutan hingga mati rasa pada jari tangan terutama kelingking dan jari manis. Keluhan diatas berhubungan dengan penggunaan gawai yang berlebihan.

DokterTaura
I am a pediatrician, writer dan blogger

Related Posts

23 komentar

  1. Wah kayaknya bukan anakku yang mengalami text claw. Emaknya Dhimas sih mengalami text claw Dok wkwk
    Anak-anak sudah jarang main gadget, mereka mainnya Sama kucing tetangga sekarang Dok.
    Celakanya emaknya yg malah keasikan main gadget, berakibat text claw. Makasih lho tips ya ku coba yang akan datang menjauhkan gadget dari pandangan. Tapi gimana ya Pekerjaan ku semua ada di gadget. Mohon solusi Dok?

    BalasHapus
  2. Tips nya cuman satu mbak: jangan main gadget di depan anak

    BalasHapus
  3. Dampaknya bisa sampai sedemikian rupa ya dok. Ngeri juga. Dulu pernah menangani kasus anak yg kecanduan gadget juga, butuh dijauhkan dulu dgn gadget minimal 6 bulan baru sembuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul mbak Windi. Dampak negatif dari gadget (terutama jika berlebihan) sangat membuat tidak nyaman. Yuk, kita cegah yuk...

      Hapus
  4. Penting banget nih.. Saya sendiri saja sekarang ini mulai mengurangi melihat layar hp, tv, maupun laptop.. Entah kenapa akhir" ini sering pusing kalau melihay layar terlalu lama..
    Alhamdulillah masih dberi ksempatan jadi ibu rumah tangga yg bisa menemani anak bermain setiap saat, jd bisa menjauhkan hp dr anak.. Makasih tipsnya dok..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes bu Fadmala. Selain meningkatkan bonding, bermain dengan anak juga meningkatkan kemampuan berinteraksi dan bersosialisasi

      Hapus
  5. Separah itu ya akibat yang ditimbulkan oleh gadget jika kita menggunakannya dg berlebihan

    BalasHapus
  6. kuncinya orangtua ya Dok?
    bagaimana mengkondisikan agar mereka tidak kecanduan gadget
    Sekarang tinggal di kampung, membuat saya bisa merasakan bedanya anak-anak di sini dan anak2 perkotaan.
    Akses mereka ke gawai gak separah anak kota, karena gawai ortunya pun terbatas
    Sehingga mereka bisa bermain layaknya "anak2 normal"

    Alhamdulilah, terimakasih backlinknya ya dokter, barakallah

    BalasHapus
  7. Tau ga mas, begitu aku baca ini seketika langsung tanganku melakukan peregangan. Walaupun ga lama juga sih aku pegang hp nya. Tapi karena scrolling dan texting sambil tiduran jadi agak capek dikit. Begitu udah di istirahat kan dan diregangkan bentaran lumayan membantu sihh
    Aku baru tau sih ini mas mengenai Cell Phone Elbow

    BalasHapus
  8. Acuh nih yang bikin saya menyita hp anak2. Sekarang mereka ngga lagi pegang hp sama sekali. Biarin dah ketinggalan info dari sekolahannya daripada jadi acuh. Sebel sih haha..

    Auto skrinshoot gambar latihan sederhananya. Soalnya bukan cuma hp, kebanyakan ngetik di keyboard jg biki jari2 pegel.

    thanks dok artikelnya okee...

    BalasHapus
  9. Saya pernah mengalami ujung jari kesemutan karena tangan lama ke tekuk, hiks. Kudu istirahat dan terapi, padahal kalau bisa mengatur waktu, text claw dan efek gawai lainnya dapat dihindari ya, Dok.
    Orang dewasa aja perlu diingatkan agar tersadar, apalagi anak-anak yg masih perlu contoh. Semangat.

    BalasHapus
  10. Ini sempat terjadi pada anak bungsu saya Mas Taufiq saat sekolah di rumah selama pandemi. Karena waktu itu sudah kelas XII banyak sekali tugas-tugas yang dilimpahkan oleh guru. Termasuk tugas akhir dan project-project ilmiah yang mendukung nilai kelulusan. Dan itu semua tergantung pada gadget serta laptop. Ke dokter pun luar biasa perjuangannya. Harus melewati serangkaian tes, bikin appointment, baru bisa ketemu dokternya. Sedihnya lagi, semakin ditunda pembuatan tugasnya, semua jadi menumpuk.

    BalasHapus
  11. berasa tersindir banget abis baca artikelnyaaa... kerasa emang sekarang sehari-hari dua tangan ini kepakenya di depan laptop dan emang iya pegel banget... mau istirahat rasanya kayak ada kerjaan belum beres...

    BalasHapus
  12. Daku pernah sampai tangan kesemutan, apalagi waktu itu pas kebetulan juga punya hape yang belum minimalis seperti sekarang, jadi karena baterai nya besar maka berat pula bobotnya.
    Sejak itu, gak mau lagi sih kelamaan, kudu diimbangi dengan bebas tanpa hape hehe

    BalasHapus
  13. Kalau paling parah lagi yang bisa diakibatkan dari Text Claw nih apa Dok? (Kadang kita juga bablas megahg gadget nuh kalau anak2 dah tidur).

    BalasHapus
  14. Kebetulan banget ini, saya udah lama pengen cari artikel yang membahas ini, tapi bukan anak-anak sih, tapi mamaknya wakakakak.
    Kalau saya kayaknya text claw, tapi gejalanya di ujung jari Dok.
    semua ujung jari saya tuh, nggak bisa dibuat ngetik lama, apalagi kalau jari saya habis kena air, terus saya buat ngetik baik di keyboard laptop atau smartphone, kayak kesetrum atau ketusuk jarum gitu dong.
    terutama tangan kanan.
    Jadi, sering saya akalin dengan jarinya saya bungkus tisue baru deh saya kerja.

    Mungkin jenis keyboard juga sih ngaruh, karena kalau saya pakai keyboard yang agak menonjol gitu, jari saya baik-baik aja.

    Tapi gimana dong, orang mamaknya kerjanya pakai laptop dan hape, wkwkwkwk.

    Kalau masalah leher kaku mah, mata makin minus, udah sering banget, mamak Rey workaholic lebay sih, saya sejak tahun 2005 suka banget nggak tahu waktu pantengin komputer maupun laptop, kadang sampai 12 jam cuman di sela sholat atau makan aja, ckckckckck.

    Masih untung sekarang, setelah punya anak, saya kerjanya juga kadang 12 jam lebih, tapi yang KO laptopnya, soalnya yang kerja, baru duduk ngetik 1 paragraf, udah berdiri lagi urus anak wakakakak

    BalasHapus
  15. Walah dok, aku kayaknya pernah kena ini. Inget banget pas jaman blogspedia, demi bisa ngumpulin tugas tepat waktu, terpaksa ngeblog dari HP sambil ngasuh anak. Pergelangan tangan sering sakit. Terus beres BP, aku coba menghindari HP, perlahan sakitnya menghilang.

    Dulu pas jaman sekolah juga pernah sampai ke dokter saraf karena leher kaku dan kepala pusing. Ternyata membaik setelah melakukan kebiasaan yang lebih baik terhadap penggunaan HP.

    Memang semua harus ada batasnya, ya. Seperti penggunaan HP, jangan sampai malah membuat badan sakit

    BalasHapus
  16. dalam sehari, anakku lumayan lama durasi pegang handphone-nya, lebih lama lagi di akhir pekan. Ini pe er besar buat saya dan suami mencari bagaimana cara agar anak gak kelamaan pegang hape, selain rentan terkena text claw, kesehatan matanya juga bisa terganggu

    BalasHapus
  17. Kadang emang jadi dilema ya, terutama yang kerjaannya memang butuh handphone. Saya pun mulai berusaha mengurangi intensitas penggunaan hp ini. Update dan nengok IG dan FB udah jarang. Walau bisa aja sih buka dari laptop, tapi kayak udah ngerasa jenuh gitu.

    Nah menjauhkan anak-anak dari hp ini yang mulai agak susah, orang tua mesti kreatif membuat kegiatan bersama anak yang nggak melibatkan hp.

    BalasHapus
  18. Aku sepertinya sudah termasuk kecanduan gawai deh dok. Bangun tidur yg dicari hp duluan. Di rumah hp juga hampir selalu di tangan huhu.

    BalasHapus
  19. Menarik sekali ini dok..
    Karena orangtua kerap merasakan anaknya baik-baik saja. Namun ketika diperiksa, ada sesuatu yang terjadi terkait syaraf yaa..
    Dan langkah awal untuk pentingnya membatasi gawai dari aktivitas anak-anak juga orangtuanya yang memberi teladan.

    Haturnuhun, dok..penjelasannya.

    BalasHapus
  20. Muhammad Haris Firdausi1 Oktober 2022 pukul 21.43

    Terimakasih banyak dokter atas ilmunya. Sepertinya saya juga sudah masuk ke tahap kecanduan menggunakan HP dan teman-temannya. Terimakasih juga tips dan triknya bagaimana meninggalkan penyakit ini

    BalasHapus
  21. Ya Alloh dokter, saya berasa sedang konsultasi dengan dokter saat baca tulisan ini.
    Btw saya ibu dengan anak yang sudah remaja, kelalaian saya ketika pandemi melanda waktu itu, kami loss banget ngelepas anak dengan gadget.
    Kami baru sadar saat emosionalnya dia sebagai remaja yang terdampak.

    Terima kasih sharingnya dokter, tulisan-tulisannya sangat menginpirasi (baik tentang ilmu kedokteran maupun sudut pandang tentang film).

    BalasHapus

Posting Komentar